Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Perawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Perawan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Mei 2016

Cerita Sex Liburan Bersama Perawan

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Liburan Bersama Perawan. Aku mempunyai keluarga yang aku cintai tetapi aku juga mempunyai simpanan yang mana aku sering memanggil dia dengan nama istri, dia pernah mengatakan bahwa dia ingin melihat aku bercumbu dengan wanita lain , maka dari itu cerita ini aku tuliskan dan aku sebarkan, suatu hari kalau gak salah hari sabtu saat aku mengendarai dengan menyalakan AC karena memang waktu itu udara panas banget diluar.

Cerita Dewasa Liburan Bersama Perawan

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Dewasa Liburan Bersama Perawan
Seperti telah direncanakan, kubelokkan mobil ke arah pom bensin di Sentul. setelah tadi tak sempat aku mengisinya. Dalam setiap antrian mobil yang cukup panjang terlihat ada gadis-gadis penjaja minuman berenergi. Sekilas cukup mencolok karena seragamnya yang cukup kontras dengan warna sekelilingnya.

Dari sederetan gadis-gadis itu tampak ada seorang yang paling cantik, putih, cukup serasi dengan warna-warni seragamnya. Ia terlalu manis untuk bekerja diterik matahari seperti ini walaupun menggunakan topi.

Tatkala tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi kalau di sini bukanlah tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Aku sempat khawatir kalau ia tidak berada di deretanku dan aku masih hanyut dalam berbagai terkaan tentangnya, aku tidak sempat bereaksi ketika ia mengangguk, tersenyum dan menawarkan produknya.

Akhirnya dengan wajah memohon ia berkata, "Buka dong kacanya.." Segera aku sadar dengan keadaan dan refleks membuka kaca jendelaku. Istriku hanya memperhatikan, tidak ada komentar.

Meluncurlah kata-kata standar yang ia ucapkan setiap kali bertemu calon pembeli. Suaranya enak didengar, tapi aku tak menyimaknya. Aku malah balik bertanya, "Kamu ngapain kerja di sini?"

"Mom, kita kan masih perlu sekretaris, kenapa tidak dia aja kita coba."

"Ya, boleh aja", jawab istriku.

"Gimana mau?" tanyaku kepada gadis itu.

"Mau.. mau Mas", katanya.

Setelah kenalan sebentar dan saling tukar nomor telepon, kulanjutkan perjalananku setelah mengisi bensin sampai penuh. Istriku akhirnya tahu kalau maksudku yang utama hanyalah ingin 'berkenalan' dengannya. Ia sangat setuju dan antusias.

Malam sekitar jam 20:00 HP istriku berdering, sesuai pembicaraan ia akan datang menemui kami. Setelah diberi tahu alamat hotel kami, beberapa saat kemudian ia muncul dengan penampilan yang cukup rapi.

Ia cepat sekali akrab dengan istriku karena ternyata berasal dari daerah yang sama yaitu **** (edited), Jawa Barat. Tidak sampai setengah jam kami sudah merasa betul-betul sebagai suatu keluarga yang akrab.

Ia sudah berani menerima tawaran kami untuk ikut menginap bersama. Ia sempat pamit sebentar untuk menyuruh sopir salah satu keluarganya untuk pulang saja, dan telepon ke saudaranya bahwa malam itu ia tidak pulang.

Setelah cerita kesana-kemari akhirnya obrolan kami menjurus ke masalah seks. Setelah agak kaku sebentar kemudian suasana mencair kembali. Kini dia mulai menimpali walau agak malu-malu. Singkat cerita dia masih perawan, sudah dijodohkan oleh keluarganya yang ia belum begitu puas.

Keingintahuannya terhadap masalah seks termasuk agak tinggi, tapi pacarnya itu sangat pemalu, termasuk agak dingin dan agak kampungan walau berpendidikan cukup. Kami ceritakan bahwa dalam masalah seks kami selalu terbuka, punya banyak koleksi photo pribadi, bahkan kali ini kami ingin membuat photo ketika 'bercinta'.

"Udah ah, kita sambil tiduran aja yuk ngobrolnya", ajak istriku.

"Nih kamu pakai kimono satunya", kata istriku sambil memberikan baju inventaris hotel. Sedangkan aku yang tidak ada persiapan untuk menginap akhirnya hanya menggunakan kaos dan celana dalam. Ia dan istriku sudah merebahkan badannya di tempat tidur, kemudian aku menghampiri istriku langsung memeluknya dari atas.

Kucumbu istriku dari mulai bibir, pipi, leher, dan buah dadanya. Istriku mengerang menikmatinya. Aku menghentikan cumbuanku sejenak kemudian meminta tamu istimewaku untuk mengambil photo dengan kamera digital yang selalu kami bawa. Tampak ia agak kikuk, kurang menguasai keadaan ketika aku menolehnya.

Setelah aku mengajarinya bagaimana menggunakan kamera yang kuberikan itu, kemudian kuteruskan mencumbu istriku. Dengan telaten kucumbu istriku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kini tamuku tampaknya sudah menguasai keadaan, ia dengan leluasa mengintip kami dari lensa kamera dari segala sudut. Akhirnya istriku mencapai klimaksnya setelah liang senggamanya kumainkan dengan lidah, dengan jari, dan terakhir dengan batang istimewaku. Sedangkan aku belum apa-apa.

"Sekarang gantian Rin, kamu yang maen aku yang ngambil photonya", kata istriku.

"Ah Mbak ini ada-ada aja", kata Rini malu-malu.

Sebagai laki-laki, aku sangat paham dari bahasa tubuhnya bahwa dia tidak menolak. Dalam keadaan telanjang bulat aku berdiri dan langsung memeluk Rini yang sedang memegang kamera. Tangan kirinya ditekuk seperti akan memegang pinggangku, tapi telapaknya hanya dikepal seolah ragu atau malu. Kuraih kamera yang masih di tangan kanannya kemudian kuberikan kepada istriku.

Kini aku lebih leluasa memeluk dan mencumbunya, kuciumi pipi dan lehernya, sedang tanganku terus menggerayang dari pundak sampai lekukan pantatnya. Pundaknya beberapakali bergerak merinding kegelian.

Kedua tangannya kini ternyata sudah berani membalas memelukku. Kemudian aku memangkunya dan merebahkannya di tempat tidur. Kukulum bibir mungilnya, kuciumi pipinya, kugigit-gigit kecil telinganya, kemudian kuciumi lehernya punuh sabar dan telaten. Ia hanya mendesah, kadang menarik nafas panjang dan kadang badannya menggelinjang-gelinjang.

Tidak terlalu susah aku membuka kimononya, sejenak kemudian tampak pemandangan yang cukup mempesona. Dua bukit yang cukup segar terbungkus rapi dalam BH yang pas dengan ukurannya. Kulitnya putih, bersih dengan postur badan yang cukup indah.

Sejenak aku menoleh ke bawah, tampak pahanya cukup menawan. Sementara itu onggokan kecil di selangkangan pahanya yang terbungkus CD menambah panorama keindahan.

Ia tidak menolak ketika aku membuka BH-nya, demikian juga ketika aku melepaskan kimononya melewati kedua tangannya. Kuteruskan permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu. Seluruh titik di bagian atasnya telah kutelusuri tidak ada yang terlewatkan, kini kedua bukti itu kuremas perlahan. Ia mendesah, "Eeehhh.."

Tatkala kukulum puting susunya, badannya refleks bergerak-gerak, desahnya pun semakin jelas terdengar. Kuulangi lagi cumbuanku dari mulai mengulum bibirnya, mencium pipinya, kemudian lehernya. Kemudian kuciumi lagi bukit-bukit indah itu, dan kemudian kupermainkan kedua puting susunya dengan lidahku. Gelinjangnya semakin terasa bergerak mengiringi desahannya yang terasa merdu sekali.

Petualanganku kuteruskan ke bagian bawahnya. Ia mencegah ketika aku akan membuka CD-nya yang merupakan pakaian satu-satunya yang tersisa. "Ya nggak usah dibuka" ujarku, "Aku elus-elus aja ya bagian atasnya pakai punyaku", bujukku.

Ia tidak bereaksi, tapi aku langsung saja menyingsingkan CD-nya ke bawah. Tampaklah dua bibir yang mengapit lembah cintanya dihiasi bulu-bulu tipis. Kupegang burungku sambil duduk mengangkang di atas kedua pahanya, kemudian kuelus-eluskan burung itu ke ujung lembah yang sebagian masih tertutup CD. Agak lama dengan permainan itu, akhirnya mungkin karena ia juga penasaran, maka ia tidak menolak ketika kulepaskan CD-nya.

Kini kami sama-sama telanjang, tak satu helai benang pun yang tersisa. Kuteruskan permainan burungku dengan lebih leluasa. Tak lama kemudian cairan kenikmatannya pun sudah meleleh menyatakan kehadirannya. Burungku pun lebih lancar menjelajah. Tapi karena lembahnya masih perawan agak susah juga untuk menembusnya.

Ketika kucoba untuk memasukkan burungku ke dalam lembah sorganya, tampak bibir-bibir kenikmatannya ikut terdorong bersama kepala burungku. Menyadari alam yang dilaluinya belum pernah dijamah, aku cukup sabar untuk melakukan permainan sampai lembah kenikmatannya betul-betul menerimanya secara alami.

Gelinjang, desahan, dan ekspresi wajahnya yang sedang menahan kenikmatan membuatku semakin bersemangat dan lebih percaya diri untuk tidak segera ejakulasi. Ia sudah tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Akhirnya kepala burungku berhasil menembus lubang kenikmatan itu.

Kuteruskan permainanku dengan mengeluarkan dan memasukkan lagi kepala burungku. Ia merintih kenikmatan, ia pasrah saja dengan keadaan yang terjadi, karena itu aku yakin bahwa rintihan itu bukan rintihan kesakitan, kalaupun ada, maka akan kalah dengan kenikmatan yang diperolehnya.

Selanjutnya kulihat burung yang beruntung itu lebih mendesak ke dalam. Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh burungku ke tempatnya yang terindah.

Kemudian kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah, kuciumi pipinya sambil pantatku kugerakkan naik turun. Sementara burungku lebih jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya. Akhirnya seluruh berat badanku kuhempaskan ke tubuh mungil itu.

Dan.., "Blesss." seluruh burungku masuk ke dalam surga dunia yang indah. Ia mengerang, gerakan burungku pun segera kuhentikan sampai liang kewanitaannya menyesuaikan dengan situasi yang baru.

Setelah agak lama aku pun mulai lagi memainkan gerakan-gerakanku dengan gentle. Kini ia mulai mengikuti iramaku dengan menggerak-gerakkan pinggulnya.

Selang berapa lama kedua tangannya lekat mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku. Kemudian muncul erangan panjang diikuti denyut-denyut dari lembah sorganya.

"Eeehhh" desahnya. Aku pun sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan seluruh kenikmatan, segera kucabut burungku kemudian kumuntahkan di luar dengan menekan ke selangkangannya. "Eeehhh" erangku juga. Kami berdua menarik nafas panjang.

Setelah agak lama kemudian aku duduk, kuraih kaos dalamku kemudian aku mengelap selangkangnya yang penuh dengan air kenikmatanku.

Tampak tempat tidurnya basah oleh cairan-cairan bercampur bercak-bercak merah. Ia pun segera duduk, sejenak dari raut wajahnya tampak keraguan terhadap situasi yang telah dialaminya. Aku dan istriku memberi keyakinan untuk tidak menyesali apa yang pernah terjadi.

Besok paginya aku sempat bermain lagi dengannya sebelum check out. Betul-betul suatu akhir pekan yang susah dilupakan. Akhirnya ia kutitipkan bekerja di perusahaan temanku.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Minggu, 17 April 2016

Cerita Sex Akhirnya Takluk Juga

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Akhirnya Takluk Juga. Umurku yang sudah 25 tahun sampai saat ini masih belum selesai kuliah, aku akui dalam akademis aku termasuk orang gagal, tapi kalau meluntuhkan hati wanita aku jagoannya, kali ini aku akan menceritakan kisahku yang nyata dimana aku menikmati memek perawan , kisah ini terjadi saat aku mendapat kos kost san baru, dari pagi sampai sore berputar putar UGM akhirnya aku mendapatkan tempat kost kostan yang aku dambakan.

Cerita Dewasa Akhirnya Takluk Juga

 Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Akhirnya Takluk Juga
Awalnya gak begitu suka, karena tempat kosnya terpisah jauh dari temen2 aku yang lain. Tempatnya juga terlalu masuk ke lorong-lorong. Tapi ada satu hal yang membuat aku mutusin buat ngambil kosan disana, yaitu anak ibu kosnya yang cakep alang kepalang. Namanya Yani, mahasiswi semester 3 di UGM.

Pertama kali aku ngeliat dia, jantung aku langsung berdesir karena doi manis banget. “iya, kosan yang disebelah ada kok kak, tapi Cuma satu kamar.” Begitu suaranya ramah ketika pertama kali aku komunikasi sama doi. Ibu kosnya juga baik.

Namun ibu kos nya yang berprofesi pedagang di Sleman belum pulang. Yani mengatakan kalau ibu dan bapaknya berdagang pergi pagi pulang malam. Akhirnya sore besoknya aku mutusin untuk ngambil kamar kosan yang bersebelahan langsung dengan rumah ibu Kosnya.

Walau tinggal terpencil jauh dari temen2, gak masalah lah.. yang penting aku bisa dapetin nih si bidadari khayangan. Malam itu aku udah ready untuk tinggal di kosan baru aku. Begitu keluar, ehh.. ternyata gebetan aku Yani lagi telponan diluar sambil duduk santai di teras rumahnya.

“wah.. kesempatan buat pdkt nih..” dalam hati aku. Setelah nungguin dia selesai telponan lumayan lama, akhirnya aku keluar kamar dan samperin doi.

“Hai.. lagi ngapain?” sapa aku sambil melempar senyum.

“Eh, lagi santai aja kak.” Balasnya membalas senyum aku. “Telponan sama siapa?” “Sama pacar kak” jawabnya.

Plaaakk.. aku serasa kena tampar. Ternyata doi udah punya pacar. Habis deh! Namun, pembicaraan tetap berlanjut. Walau Yani sudah punya pacar, aku tetap pengen akrab sama dia. Siapa tau ntar dia putus, siapa tau ntar dia bosen sama pacarnya..

Siapa tau.. siapa tau.. aku menghibur diri. Aku perhatikan wajah manis Yani. Bener-bener wajah bidadari! Kulitnya halus tanpa jerawat. Ternyata ada tai lalat mungil di pipinya. “Kak kok ngeliatin Yani gitu sih?” tanya Yani risih.

Aku tersadar. “Ehh.. gak. Ternyata Yani punya tai lalat di pipi yah?” tanya aku. “Orang yang punya tai lalat di pipi itu beruntung lho..” ucap aku keumudian.

“Emang kenapa kak?” tanya nya penasaran.

“Iyalah beruntung! untung aja tai lalat, kalo tai kebo gimana coba?” seloroh aku. Yani langsung ketawa. Manis banget ngeliat dia ketawa. Akhirnya malam itu aku berhasil ngobrol panjang lebar dan ketawa ketiwi bareng Yani.

Bahkan setelah cerita tai lalat itu, Yani bahkan nunjukin kalau dia punya tanda lahir di lengannya.

“Mana mungkin itu tanda lahir! Itu tatto tuh!” aku langsung aja nuduh.

“Sumpah kak ini tanda lahir!” balasnya.

“Gak percaya! Pasti kamu orangnya tattoan yah! Harus diperiksa nih!” tuduh aku.

Dia malah tertawa cekikikan. Aku senang.. Paginya, aku sempetin dulu olahraga pagi. Angkat barbel dan push up ringan sudah jadi rutinitas pagi buat aku.

Punya badan atletis dan berotot memang kharakteristik aku. Alah.. Tiba-tiba aku denger suara cebar-cebur dari kamar mandi. Aku selidiki asal suara tersebut, ternyata persis bersebelahan dengan dinding disebelah kamar aku.

Ternyata disebelahnya kamar mandi! Aku coba dengerin suara gemercik air tersebut. Ternyata suara berikutnya adalah lantunan nyanyian seorang gadis. Tidak salah lagi, itu suara Yani! Aku begitu menikmati suara nyanyiannya.

Merdu banget! Akhirnya timbul pikiran kotor aku. Dinding tembok yang sebenarnya tidak terlalu tinggi itu bisa aku panjat! Akhirnya dengan secepat kilat, otak aku berfikir keras. Bagaimana caranya untuk memanjat dinding yang tingginya dua setengah meter ini.

Setelah yakin orang tua Yani sudah berangkat pergi berdagang dan Yani pasti sendirian di rumah, aku nekat untuk ngintipin Yani mandi. Dengan bantuan kursi, akhirnya aku bisa mencapai ujung tembok paling atas.

Pelan-pelan aku angkat kepala untuk melihat pemandangan disebelah sana. Ternyata benar! Yani sedang mandi sambil bernyanyi. Cerita Panas: Nikmatnya Memek Perawan Anak Ibu Kost | Yani dengan wajah manis itu ternyata punya tubuh yang sangat seksi.

Dari ujung rambut hingga ujung kakinya dapat aku liat secara jelas. Payudaranya yang montok bergelantungan. Kulitnya putihnya yang dibalut busa-busa sabun. Hingga rambut-rambut halus yang tumbuh didaerah kemaluannya dapat terlihat jelas.

Hal itu tanpa sadar sudah membuat batang kemaluan aku langsung mengeras. Yani masih asyik menggosok-gosok bagian tubuhnya dengan sabun. Yang membuat aku gak tahan yaitu terkadang tangannya meremas payudaranya sendiri.

Kilauan sabun dari payudaranya yang putih licin oleh sabun membuat aku serasa mau pingsan. Sejurus kemudian, Yani membilas sabunnya dengan menimba air. Kulitnya makin terlihat putih bercahaya. Berikutnya bagian selangkangannya yang dicuci dengan air.

Diluar dugaan aku, ternyata Yani mengelus-elus bagian kemaluannya. Awalnya aku berfikir Yani melakukan pembersihan di daerah vaginanya. Ternyata, ia begitu keasyikan mengelus-elus daerah yang berbulu tersebut.

Aku liat matanya sudah merem-merem keenakan. “Ohh tidaakk.. Yani sedang masturbasi!” Baru kali ini aku melihat secara langsung dengan mata kepala sendiri ada seorang cewek yang masturbasi. Secara jelas aku menonton Yani yang tengah keasyikan memainkan jarinya di bibir kemaluannya.

Secara tak sadar aku jadi lupa diri kalau sebenarnya posisi aku sangat rawan. Bisa bahaya kalau sampai ketahuan oleh Yani. Malu banget lah, baru satu hari ngekos ditempat orang sudah berlaku kurang ajar. Ternyata bata yang menjadi pijakan aku tak sanggup lagi menahan pijakan aku.

Akhirnya salah satu batu bata tersebut terjatuh. Yani jadi kaget dan menghentikan adegan masturbasinya. “Mati aku kalo Yani sampai tau!” batin aku terus cemas. Aku langsung menghentikan tontonan langka nan sangat istimewa tersebut.

Aku segera turun dari dinding yang aku panjat buru- buru. Ternyata Yani menyadari dirinya diintip. Yani segera memakai handuknya dan buru-buru keluar kamar mandi. Aku segera menuju pintu kamar mandi untuk menghalangi dan menenangkan Yani, kalau-kalau ia berteriak. Bisa mampus aku kalau dia ngadu ke ortunya.

Ternyata aku yang buru-buru melintasi pintu kamar mandi langsung bertabrakan dengan Yani yang baru saja keluar kamar mandi. Handuk Yani langsung tersibak, ia terjatuh. “Maaf.. maaf..” Cuma itu yang bisa terlontar dari mulut aku sambil membantu Yani untuk berdiri.

Aku langsung mengambil handuknya. Yani tampak kelabakan ketika handuknya hampir saja copot. Yani tidak memakai apa-apa selain handuk yang membuat payudaranya menyembul kelihatan.

“Kak, ngintipin Yani barusan yah?” tanya Yani dengan menundukkan kepalanya.

 Ia menunduk mungkin karena ia malu. Karena baru saja ia melakukan masturbasi. Aku jadi ngerasa bersalah.

“Maafin kakak ya.. Kakak menyesal banget” aku ucapin itu dengan nada memelas. Yani cuma mengangguk tapi masih menunduk. Tangannya masih memegang handuknya erat-erat. Tak lama setelah itu dia berjalan pelan kedalam rumahnya sambil terisak.

Matanya berkaca-kaca. Aku jadi tambah merasa bersalah. “Blum ada lho yang ngeliat Yani gitu, kok kakak tega sih?” suaranya lirih. Akhirnya aku anterin Yani ke kamarnya. Aku bimbing dia menuju kamarnya.

Dibenak aku semuanya campur aduk. Perasaan bersalah udah membuat dia trauma. Mungkin saja bagi cewek hal seperti itu bisa membuatnya trauma. Sesampainya dikamar Yani, aku malah memeluknya.

Terlintas dipikiran aku, kalau cewek sedih atau nangis untuk menenangkannya dengan di peluk. “Yani maafin kakak ya..” aku bisikin itu ke telinganya. Sekali lagi Yani mengangguk. Dari pelukan, aku beralih mendekap Yani.

Aku cium pipinya kemudian bibirnya. Serentak tangan aku juga ikut memainkan perannya meremas dada Yani dari luar handuknya.

“Kakak! Ngapain sih ini!” ucap Yani kaget. Dalam fikiran aku, kepalang basah mandi aja!

Tanggung ketahuan ngintipin Yani mandi, kenapa gak aku tidurin aja sekalian? Mumpung kesempatan ada! Aku dorong Yani ke tempat tidurnya.

Pintu kamarnya segera aku kunci. Handuknya dengan mudah aku lepas. Bibir Yani aku lumat dan kulum sejadi-jadinya. Tangan aku menjamah payudaranya yang montok. Yani berontak dan kakinya menghentak-hentak gak karuan.

“Kakaaaakk..” Yani berteriak. Aku mulai cemas. Nanti kalau ada warga yang dengar gimana? Aku bisa dihajar masa.

Akhirnya aku menghentikan aksi brutal aku. Aku mutusin untuk membujuk Yani pelan-pelan.

Sambil mengelus-elus bahunya dan membelai rambutnya aku ngomong pelan-pelan “Yani, tenang aja yaa.. kakak gak bermaksud nyakiti Yani. Kakak gak mungkin menyakiti Yani karena kakak sayang banget sama Yani..” bisik aku pelan-pelan ke Yani.

Aku cium leher Yani, tangan aku mulai lagi main-main mengelus payudaranya, meremas, kemudian turun ke daerah kemaluannya.

“Kakak, Yani mohon jangan kak” Yani memelas ketakutan. “Yani tenang aja yaa.. Kakak gak akan nyakitin Yani.

Kakak Sayang sama Yani.” Bujuk aku pelan-pelan sambil terus memainkan daerah kemaluannya. Tangannya terus mendorong-dorong aku. Yani ketakutan setengah mati. Aku terus memberikan rangsangan dengan terus menciumi leher Yani.

Kemudian turun dan menjilati puting susunya yang memerah. Sementara tangan kanan aku mengelus-elus daerah vaginanya. Jari tengah aku mulai masuk ke lipatan bibir vaginanya. Aku terus mainkan itu pelan-pelan.

“Kakak.. Yani mohon, Yani masih perawan kak.. Yani takut..” Yani masih memelas. Tangannya terus memegangi tangan kanan aku yang bergerilya didaerah bibir vaginanya. Aku cuma jawab permohonan Yani dengan ciuman dan kuluman dibibirnya.

Aku terus lumat bibir Yani dan bibir vaginanya dilumat jari tengah aku. Perlahan aku masukin jari tengah aku dengan pelan-pelan. Terasa daerah vagina Yani sudah basah. Mengetahui daerah vagina nya sudah basah dan licin, aku jadi yakin kalau sebenarnya Yani juga menikmati permaikan aku.

Yani juga sudah tidak menunjukkan perlawanan yang kuat. “Yani, kak masukin jari kakak pelan-pelan ya.. gak sakit kok.. Yani tenang aja yaa..” Belum lagi Yani memberikan persetujuannya, jari tengah aku sudah menikam masuk ke vaginanya.

Akhirnya jawaban Yani Cuma erangan dan rintihan. Aku terus mainkan dengan memasukkan jari tengah aku kedalam vaginanya sedikit demi sedikit. Akhirnya bisa masuk semua jari aku! “Kakak.. Yani takut kak..” Yani terus menceracau.

Tapi kakinya malah membuka lebar dan sesekali nafasnya mendesir berat. Aku yakin Yani sebenarnya mungkin saja sering bermasturbasi. Cewek-cewek seperti Yani mungkin saja cewek hyperseks yang sering memuaskan dirinya dengan masturbasi.

Seperti yang aku liat barusan di kamar mandi. Aku makin sibuk. Tangan kiri aku membelai rambutnya, mulut aku sesekali mengisap dan menjilati putingnya, dan tangan kanan aku memasukkan jari kedalam liang vagina Yani yang makin banjir dengan cairan dan licin.

Akhirnya aku gak tahan lagi. Dengan sekejap segera aku lucuti semua pakaian aku hingga kami berdua sudah benar-benar telanjang bulat. Segera aku tindih tubuh Yani yang terkapar. “Yani, kita coba masukin yuk..

Tahan sedikit ya.. mungkin agak sakit.” Yani dengan lugunya mengangguk. Tampaknya ia sudah diliputi gejolak syahwat yang sangat. Aku makin bersemangat. Perlahan aku gosok-gosokin penis aku yang udah tegang dari tadi ke bibir kemaluan Yani. Yani yang makin terangsang gak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Jiwa raganya sudah diliputi kenikmatan seks.

Setelah penis aku licin dengan cairan Yani, perlahan aku tusukin penis aku ke dalam liang kemaluan Yani. Walaupun pekerjaan aku halus dan pelan, tetap saja Yani merintih kesakitan. Sekarang penis aku bercampur dengan cairan licin dari Yani dan darah keperawanannya. Yani menangis.

Namun bibirnya terus mengeluarkan suara “ahhh.. ahhhh.. kakak..” Aku gak mau ambil pusing. Aku sibuk dengan mendobrak vagina Yani yang sangat sempit agar batang kemaluan aku bisa masuk lebih dalam lagi.

Dibantu dengan cairan pelicin Yani yang sudah banjir, penis aku bisa masuk semuanya. Aku terus menggenjot dengan memaju mundurkan batang kemaluan aku. Sesekali aku cium dan jilatin leher Yani hingga ke payudaranya.

Kemudian putinya aku hisap sekuat-kuatnya. Akhirnya aku liat tanda-tanda Yani akan orgasme. Segera aku pacu kecepatan goyangan aku. Aku pun pengen keluar dan klimaks. Akhirnya Yani lebih dahulu mencapai klimaks dan berteriak “Kakakk…” Berurutan setelah itu aku juga keluar menyemprotkan cairan sperma aku didalam memeknya.

“ahhh.. Ahhhh.. Yani..” Aku **kan beberapa kali semburan dengan menekan penis aku sedalam-dalamnya kedalam liang vaginanya. Yani pun menjepitkan pahanya. Akhirnya untuk beberapa saat kita terbuai merasakan nikmatnya orgasme.

Beberapa saat setelah itu terasa kedutan dan denyutan dari vaginanya. Penis aku belum aku cabut. Batang kemaluan aku itu aku biarin sampai lemas didalam vaginanya Yani. Aku terus perhatikan wajah cantik Yani yang termenung sayu.

Sesaat aku jadi kasihan telah melakukan ini semua kepada Yani. Kembali aku elus-elus dan benerin rambutnya yang berantakan. Aku tatap matanya dalam-dalam sambil berkata pelan “Yani, mau gak jadi pacar kakak?” Yani hanya diam.

Aku tau dia udah punya pacar. Tapi aku sama sekali gak tau apa yang mau aku katakan selain itu kepada Yani. Aku pasang kembali celana dan keluar dari kamar Yani. Yani masih termenung sayu diranjangnya dan belum memakai pakaiannya. Aku udah siap dengan segala konsekwensi dari perbuatan aku barusan.

Setelah itu aku langsung berkemas di dalam kamar kos aku. “Mungkin setelah ini Yani akan mengadukan semua itu ke orang tuanya dan aku bakal di usir” pikir aku. Siang harinya, aku sudah selesai beres-beres barang-barang.

Aku pengen cabut duluan sebelum aku di usir sama orang tuanya Yani. Atau mungkin saja hal yang lebih buruk bakal terjadi ke aku. Ternyata pintu kamar kos aku diketuk. Setelah aku buka ternyata Yani. Aku persilahkan Yani masuk.

Yani pun masuk kedalam kamar aku. Dia liat aku sudah packing barang-barang siap-siap mau kabur. “Kakak mau kemana?” tanya Yani. Aku cuma diam. “Kakak gak boleh pergi! Yani takut.. gimana kalau Yani sampai hamil? Kakak harus tanggungjawab untuk semua ini!” kata Yani lirih.

“Baiklah kakak gak akan pergi. Kakak akan tanggungjawab kalau terjadi apa-apa. Tapi kakak mohon jangan kasih tau orang tua Yani ya..” pinta aku. Yani hanya mengangguk. Matanya masih sembab karena menangis.

Aku jadi kasihan, akhirnya Yani aku peluk lagi. Seminggu setelah itu, aku dan Yani Cuma diam-diam dan tak ada tegur sapa. Tapi akhirnya aku beranikan diri lagi untuk menyapanya dan mengajaknya bercanda lagi.

Akhirnya, aku bisa ngajakin Yani untuk berhubungan badan lagi. Kadang dikamar aku, kadang dikamar dia. Bahkan dia sempat tidur di kamar aku, padahal orang tuanya ada dirumah. Ternyata Yani selalu diliputi gairah.

Permainan seks kami semakin hari semakin fariatif. Dalam waktu tak kurang dari seminggu, Yani sudah berani menelan habis sperma yang aku semburin didalam mulutnya. Seks lagi dan lagi.. kami berdua sama-sama diliputi gairah yang membara.

Walaupun status hubungan aku belum jelas hingga saat ini, aku tetap menjalani ini sama Yani. Yani tetap pacaran dengan pacarnya, tapi kalo soal ranjang Yani lari ke aku. Hampir setiap malam Yani mampir ke kamar aku buat gituan.

Kadang setelah gituan dia balik ke kamarnya, kadang tidur di kamar aku. Sejak saat itulah, Yani ternyata diam-diam juga main sama pacarnya. Aku pernah nanya ke Yani, apa dia pernah melakukan hubungan badan dengan cowoknya? Awalnya Yani bilang belum.

Tapi setelah aku selidiki sms dari cowoknya, ternyata mereka juga udah ngelakuin hal begituan. Setelah perawannya hilang, dia malah jadi hyperseks dan pengen ngelakuin hal itu terus. Suatu sore, pembicaraan aku sama Yani sampai ke sesuatu yang bahkan gak aku duga.

Yani bilang kalau dia membayangkan dientotin dua orang, yaitu aku dan pacarnya. Hehehee… kadang aku gak habis pikir, mengapa cewek yang dulu pemalu dan lugu ini bisa jadi liar kayak gini? Buat sobat2 yang pengen tau atau pengen kenalan sama Yani, PM aku dan kasi aku cendol dulu.. nanti aku kasi tau fesbuknya dia. Setuju ?
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Jumat, 01 April 2016

Cerita Sex Memeknya Becek

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Memeknya Becek. Tanpa mengurangi cerita ini aku ingin berbagi pengalaman probadi saya, perkenalkan namasaya antok, umurku sudah berkepala 3. Rumahku dekat dengan kampus tekemukan di Jogja, cerita yang aku jabarkan dibawah ini nyata cumin namanya aku samarkan takutnya ada yang membaca jadi tersinggung, aku bekerja sebagai karyawan posisiku lumaya tinggi yaitu sebagai General Manager sehingga aku mendapatkan fasilitas perumahan dan sebuah mobil sedan.

Cerita Dewasa Memeknya Becek

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Memeknya Becek
Aku masih lajang sehingga sehabis pulang kerja hobiku jalan-jalan cari pengalaman dan refresing. Cerita ini berawal saat aku pulang kerja sekitar jam 11 malam, mobilku menabrak seorang anak yang digandeng ibunya sedang menyeberang jalan.

Untung saja aku cepat menginjak rem sehingga anak itu lukanya tidak parah hanya sedikit saja dibagian pahanya. Ketika aku tawarkan untuk ke rumah sakit, Ibu itu menolak dan katanya lukanya tidak parah.

“Ya udah bu, sekarang aku antar Ibu pulang, dimana rumah Ibu?” “Nggak usah den, si Mbok nggak usah diantar”. “Kenapa Mbok, inikan sudah malam, nggak apa-apa Mbok aku antar ya?” Si mbok ini tidak menjawab pertanyaanku dan hanya menunduk lesu dan ketika dia mau menjawab, dari arah ujung trotoar mencul anak kecil sambil membawa bekicot.

“Ini Mbok bekicotnya, biar luka Mbak Tika cepat sembuh”. Ibu itu menerima bekicot dari gadis itu, memecahnya dibagian ujung dan mengoleskannya diluka gadis yang ternyata namanya Tika. Tapi, Setelah selesai mengoleskan, simbok itu mengandeng Tika dan adiknya mau pergi. Sebelum melangkah jauh, aku hadang dan berusaha untuk mengantarnya pulang.


“Simbok mau pulang.., aku antar ya Mbok, kasihan Tika jalannya pincang”.

“Ngaak usah den, simbok..”.

“Kenapa Mbok, nggak sungkan-sungkan, ini kan sudah malam, kasihan Tika Mbok..”.

“Simbok ini nggak punya rumah den, sombok cuma gelandangan”.

Aku sempat benggong mendengar jawaban simbok ini, akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya ke rumahku walaupun hanya untuk malam ini saja.

Terus terang aku kasihan kepada mereka. “Ya sudah Mbok, kamu dan kedua anakmu itu malam ini boleh tidur dirumahku”

“Tapi ndoroo..”. “Sudahlah Mbok, ini juga kan untuk menebus kesalahanku karena menabrak Tika”. Dari informasi yang aku dapatkan didalam mobil selama perjalanan pulangp, simbok ini ternyata ditinggak suaminya saat mengandung adiknya Tika, yang akhirnya aku ketahui namanya Intan.

Simbok ini yang ternyata namanya Inem, usianya sekitar 42 tahun, dan anaknya si Tika umurnya 14 tahun sedangkan Intan baru 11 tahun. Tika sempat lulus SD, sedangkan Intan hanya sempat menikmati bangku SD kelas 4.

Setelah sampai dirumah, Mbok Inem dan kedua anaknya langsung aku suruh mandi dan makan malam. Ternyata simbok, Tika dan Intan tidak membawa baju ganti sehingga setelah mandi baju yang dipakainya ya tetap yang tadi.

Padahal baju yang dipakai ketigany sudah tidak layak untuk dipakai lagi. Simbok memakai daster yang lusuh dan sobek disana-sini sedangkan Tika dan Intan sama saja lusuh dan penuh jahitan disana sini. Besok yang kebetulan hari minggu, aku memang mempunyai rencana membelikan baju untuk mereka bertiga.

Aku memang tipe orang yang nggak bisa melihat ada orang lain menderita. Kata temen-temen sih, aku termasuk orang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. “Tika dan juga kamu Intan makan yang banyak ya.. biar cepet gede..”.

“Inggih Ndoro.., boleh nggak kalau Intan habiskan semuanya, karena Intan sudah 2 hari nggak makan”.
“Boleh nduuk.., Intan dan Tika boleh makan sepuasnya disini”.

Mulai dari sinilah awal dari petualangan seksku. Setelah acara makan malam selesai, ketiganya aku suruh tidur di kamar belakang. Sekitar jam 1 malam setelah aku selesai nonton acara TV yang membosankan, aku menuju kekamar belakang untuk meneggok keadaan mereka.

Ketika aku masuk kekamar mereka, jantungku langsung berdeguk cepat dan keras saat aku melihat daster Mbok Inem yang tersingkap sampai ke pinggang. Ternyata dibalik daster itu, Mbok inemku ini memiliki paha yang betul-betul mulus dan dibalik CD nya yang lusuh dan sobek dibagian depannya terlihat dengan jelas jembutnya yang tebal dan hitam.

Pikiranku langsung melayang dan kontolku yang masih perjaka ini langsung berontak. Setelah agak tenang, tanganku langsung bergerilnya mengelus paha mulus Mbok inemku ini. Setelah puas mengelus pahanya, aku mulai menjilati ujung paha dan berakhir dipangkal pahanya.

Aku sempat mau muntah ketika mulai menjilati klitorisnya. Di depan tadi kan aku sudah bilang kalau CD Mbok ku ini sobek dibagian depan.., jadi clitnya terlihat dengan jelas. Sedangkan yang bikin aku mau muntah adalah bau CDnya. Ya.. mungkin sudah berhari-hari tidak dicuci.

Setelah sekitar 13 menit aku jilati clitnya dan ternyata Mbok inemku ini tidak ada reaksi.. ya mungkin terlalu capek shingga tidurnya pulas banget, aku mulai keluarkan kontolku dan mulai aku gesek-gesekkan di clitnya.

Aku tidak berani melapas CDnya takut dia bangun. Ya.. aku hanya berani mengocok kontolku sambil memandangi clit dan juga teteknya. Ternyata Mbok inemku ini tidak memakai BH sehingga puting payudaranya sempat menonjol di balik dasternya.

Aku tidak berani untuk memeras teteknya karena takut Mbok Inem akan bangun. Sedang asyik-asyiknya aku mengocok kontolku, si Tika bangun dan melihat ke arahku. Tika sempat mau teriak dan untung saja aku cepat menutup mulutnya dan memimta Tika untuk diam.

Setelah Tika diam, berhubung aku sudah tanggung, terus saja aku kocok kontolku. Tika yang masih terduduk lemas karena ngantuk, tetap saja melihat tangan kiriku yang mengocok kontolku dan tangan kananku mengusap-usap paha mulus ibunya.

Sambil melakukan aktivitasku, aku pandangi si Tika, gadis kecil yang benar-benar polos, dan aku lihat sesekali Tika melihat mataku terus berpindah ke paha ibunya yang sedang aku elus-elus berulangkali.

Setelah sekitar 8 menit berlalu, aku tidak tahan lagi, dan akhirnya “.. croot.. crrott.. croot..” ada 6 kali aku menembakkan pejuhku ke arah clit Mbok inemku ini. Saat aku keluarkan pejuhku, si Tika menutup matanya sambil memeluk kedua kakinya.

Pada saat itulah aku tanpa sengaja melihat pangkal pahanya dan ternyata.., tikaku ini tidak memakai CD. Saat aku sedang melihat memeknya Tika, dia bilang.. “Ndoro.. kenapa pipis di memeknya simbok”. aku sendiri sempat kaget mendengarnya.

“Nduuk.. itu biar ibumu tidur nyenyak..”. “Ndoroo.. Tika kedingingan.., Tika mau pipis.. tapi Tika takut ke kamar mandi..”.

“Ya.. sudah Nduk.. ayo aku antar ke kamar mandi”. Tika kemudian aku ajak pipis ke toilet di kamar tidurku. Aku sendiri juga pengen pipis, terus Tika aku suruh jongkok didepanku. Tika kemudian mengangkat roknya dan.. suur.. banyak sekali air seni yang keluar dari memeknya. Aku sendiri hanya sedikit sekali kencingku.

Setelah acara pipisnya selesai, Tika aku gendong dan aku dudukkan di pinggir ranjangku. Lalu aku peluk dan aku belai lembut rambut panjangnya yang sampai ke pinggang.

“Ndoro.. Tika belum cebok.. nanti memeknya Tika bau lho.. Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. biar nanti Ndoro yang bersihin memeknya Tika.. Tika bobok disini ya.. sama ndoromu ini..”.

Kemudian Tika aku angkat dan mulai aku baringkan di ranjang empukku ini. Tangganku mulai aktif membelai rambutnya, pipinya, bibirnya.. dan juga payudaranya yang lumayan montok. Pada saat tanganku mengelus pahanya..

“Ndoro.. kenapa mengusap-usap kaki Tika yang lecet..”. “Oh iya Nduk.. Ndoro lupa..”. Tahu sendirilah, aku memang benar-benar sudah horny untuk mencicipi Tika, gadis kecilku ini. Bayangkan pembaca, disebelahku ada gadis 14 tahun yang begitu polos, dan dia diam saja ketika tanganku mengelus-elus seluruh tubuhnya.

Pembaca.. gimana udah belum ngebayanginya.. udah belum..! udah yaa.. aku terusin ceritanya. Kemudian aku jongkok diantara kakinya dan mulailah aku singkap rok yang dipakai Tika sampai ke pinggang.

Sekarang terpampanglah dihadapanku seorang gadis kecil usia 14 tahun denga bibir kemaluan yang masih belum ditumbuhi bulu. Setelah pahanya aku kangkangkan, terpangpanglah segaris bibir memek yang dikanan-kirinya agak mengelembung.., eh maksudku tembem.

Dengan jari telunjuk dan Ibu jari aku berusaha untuk menguak isi didalamnya. Dan ternyata.. isinya merah muda, basah karena ada sisa pipisnya yang tadi itu lho dan juga agak mengkilap. Tangankupun mulai mengelus memek keperawanannya, dan sesekali aku pijit, pelintir dan aku tarik-tarik clitorisnya.

Ake sendiri heran clitnya tikaku ini ukurannya nggak kalah sama ibunya. “Aduuh.. Ndoro.. memeknya Tika diapain.. Ndoro..”.

“Tenang Nduk.. nggak apa-apa.. Ndoro mau nyembuhin luka kamu kok.. Tika diam saja yaa..”.

“Inggiih.. Ndoro..”.

Setelah Tika tenang, akupun mulai menjilati memeknya dan memang ada rasa dan bau pipisnya Tika.

“Ndoro.. jangaan.. Tika malu ndoroo.. memek Tika kan bau..”. Aku bahkan sempat memasukkan jariku ke liang perawannya dan mulai aku kocok-kocok dengan pelan.

Tikapun mulai menggelinjang dan mengangkat-angkat pantatnya. Aku pun mulai menyedot memeknya Tika dengan kuat dan aku lihat Tika menggigit bibir bawahnya sambil kepalanya digoyang kekanan kiri.

“Ndoroo.. geli Ndoro.. memeknya Tika diapain sih ndoroo..”. Akupun tidak peduli dengan keadaan Tika yang kakinya menendang-nendang dan tangannya mencengkeram seprei ranjangku sampai sobek disana sini.

Dan akhirnya.. “Ndoroo.. sudah Ndoro.. Tika mau pii.. piis dulu Ndoro..”. Dan tidak lama kemudian “Ssuur.. suur.. suur..” Banyak sekali cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menelan semua cairan memeknya yang mungkin baru pertama kali ini dikeluarkannya.

Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul tikaku ini. “Ndoro.. maafin Tika ya.. Tika tadi pipis di mulutnya Ndoro.. pipis Tika bau ya Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. tapi Tika harus dihukum.. karena udah pipis dimulut Ndoro..”

“Tika mau dihukum apa saja Ndoro.. asalkan Ndoro nggak marahin Tika..”. “Hukumannya, Tika gantian minum pipisnya Ndoro.. mau nggak..”.

“Iya Ndoro..”. Akhirnya aku keluarkan kontolku yang sudah tegang. Begitu kontolku sudah aku keluarkan dari CDku, Tika yang masih terlalu polos itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku lihat wajah Tika agak memerah. Setelah aku lepaskan kedua tangannya, aku sodorkan kontolku kedepan wajahnya dan aku suruh Tika untuk memegangnya.

“Nduk.. ayo dipegang dan dielus-elus..! “Inggih Ndoro.. tapi Tika malu Ndoro.. Tika takut Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. ini nggak nggigit kok.. ini namanya kontol Nduk..”.

Kemudian gadis kecilku ini mulai memegang, mengurut, meremas dan kadang-kadang diurut. “Nduk.. kontolnya ndoromu ini diemut ya..”.

“Tapi Ndoro.. Tika takut Ndoro.. Tika jijik Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. diemut saja seperti saat Tika ngemut es krim.. ayo nanti Tika Ndoro kasih es krim.. mau ya..”.

“Benar Ndoro.. nanti Tika dikasih es krim..”.”Iya Nduk..”. Tika pun jongkok diantara pahaku dan mulai memasukkan kontolku ke mulutnya yang mungil. Agak susah sih, bahkan kadang-kadang kontolku mengenai giginya.

“Nah gitu nduuk.. diisep ya.. yaa.. ya gituu.. nduuk..”. Sambil Tika mengoral kontolku, kaos lusuhnya Tika pun aku angkat dan aku lepaskan dari tubuh mungilnya. Aku elus-elus teteknya dan kadang aku remas dengan keras.

“Aku gemes banget sih sama payudaranya yang bentuknya agak meruncing itu”. Sekitar 12 menit kemudian, aku rasakan kontolku sudah berdenyut-denyut. Aku tarik kepala Tika dan aku kocok kontolku dimulut mungilnya.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya “.. croot.. croot.. croot.. cruut..!” Cairan pejuhku sebagian besar tertelan oleh Tika dan hanya sedikit yang menetes keluar dari mulutnya.

“Ndoroo.. pipisnya banyak banget.. Tika sampai mau muntah..”.

“He.. eh.. nduuk.. tapi enak kan.. pipisnya Ndoro..”.

“Inggih Ndoro.. pipis Ndoro kental banget.. Tika sampai nggak bisa telan.. agak amis Ndoro..”. Aku memang termasuk laki-laki yang suka merawat tubuhku. Hampir setiap hari aku fitnes. Menuku setiap hari: susu khusus lelaki, madu, 6 butir telur mentah, dan juga suplemen protein produk Amerika.

 Jadi ya wajar kalau spermaku kental dan agak amis. Kemudian aku peluk bidadariku kecilku ini dan sesuai janjiku dia aku kasih es krim rasa vanilla. Setelah habis Tika memakan es krimnya, dia aku telentangkan lagi diranjangku.

Terus aku kangkangkan lagi pahanya dan aku mulai lagi menjilati memek tembemnya. terus terang saja aku penasaran sebelum membobol selaput daranya. “Ndoro.. mau ngapain lagi.. nanti Tika pipis lagi lho Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. pipis lagi aja Nduk.. Tika mau lagi khan es krim..” “Mau Ndoro..”. Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan lagi lebih lebar, dan aku mulai memasukkan kepala kontolku ke lubang surgawinya. Baru masuk sedikit, tikaku meringgis.

“Ndoro.. memek Tika diapain.. kok sakit..” Aku sempat tarik ulur kontolku di liang memeknya. Dan setelah kurasa mantap, aku tekan dengan keras. Aku rasakan ujung kontolku merobek selaput tipis, yang aku yakin itu adalah selaput daranya.

“Ndoorroo.. sakiit..” Langsung aku peluk Tika, kuciumi wajah dan bibir mungilnya. “Nggak apa-apa Nduk.. nanti enak kok.. Tika tenang saja ya..”. Setelah kudiamkan beberapa saat, aku mulai lagi memompa memeknya dan aku lihat masih meringis sambil menggigit bibir bawahnya.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli Ndoro.. ahh..” itulah yang keluar dari mulutnya Tika. “Auuhh.. oohh.., Ndoro.., periih.., aahh.. gelii Ndoro.. aahh..,”. SAmbil aku terus meusuk-nusuk memeknya, aku selalu perhatikan wajah imutnya Tika.

Sungguh pemandangan yang luar biasa. Wajahnya memerah, bibirnyapun kadang-kadang menggigit bibir bawahnya dan kalau aku lihatnya matanya terkadang hanya terlihat putihnya saja. Kedua kaki Tika pun sudah tidak beraturan menendang kesana-kesini dan juga kedua tangannya menarik-narik seprei kasurku hingga terlepas dari kaitannya.

“Auuhh.. oohh.., ndoroo.., aahh.. ooh.. aahh, ndoroo..”. Aku mulai rasakan ada denyutan-denyutan vaginanya di kontolku, pertanda tikaku sebentar lagi orgasme. Kepala Tika pun mulai menengadah ke atas dan kadang-kadang badannya melengkung. Sungguh pemandangan yang sensasional, gadis 14 tahun yang masih begitu polos, tubuhnya mengelinjang dengan desahan-desahan yang betul-betul erotis.

Aku yakin para pembaca setuju dengan pendapatku, tapi tangannya pembaca kok megang-megang “itu” nya sendiri, hayo udah terangsang ya. Aku tahu kok, nggak usah malu-malu, terusin aja sambil membaca ceritaku ini.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli ndoroo.. ahh..” “Ndoroo.. Tika mau pipiiss.. ndoroo..” “Seerr.. suurr.. suurr.., kontolku seperti disiram air hangat..”.

Aku peluk sebentar tikaku untuk memberikan kesempatan gadis kecilku menuntaskan orgamesme. Setelah agak reda, aku lumat-lumat bibir mungilnya.

“Maapin Tika ya Ndoro.. Tika pipis dikasurnya Ndoro..”.

“Tika malu Ndoro.. udah gede masih ngompol di kasur..”. “Nggak apa-apa Nduk.. (lugu sekali gadisku ini).. Ndoro juga mau pipis di kasur kok..”.

Aku sendiri sudah nggak tahan. Kakinya aku angkat, lalu kuletakkan di pundakku. Dengan posisi ini kurasakan kontolku menyentuh dinding rahimnya. Memeknya jadi becek banget, dan aku mulai mempercepat sodokan kontolku.

“Ndooro.. Tika capek.. Tika mau bobok.. ndooroo..”. “Iya nduuk.. Tika bobok saja yaa..”. “Memeek Tika periih.. ndooroo..”.

Kutekan keras-keras kontolku ke liang kenikmatannya dan kutarik pantatnya dan “croot.. cruut.. croot.. croot.. cruut.. croot..!”. Aku muntahkan pejuhku kedalam rahimnya. Aku cabut kontolku dari memek tembemnya, terlihat lendir putih bercampur dengan darah segar mengalir keluar dari liang kemaluannya.

“Ndoro.., kenapa Ndoro pipis diperutnya Tika.., perut Tika jadi hangat Ndoro..”.

“Iya nduuk.., biar kamu nggak kedinginan.., ayo sekarang Tika bobok ya.., sini Ndoro kelonin..”.

“Inggih Ndoro.., sekarang Tika capek.., Tika pengen bobok..”.

Aku perhatikan memeknya sudah mulai melebar dan agak membelah dibandingkan sebelum aku perawanin. Aku peluk dia dan aku cium dengan mesra Tika, si gadis kecilku. Aku dan tikapun akhirnya tertidur dengan pulas. Nikmaat.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Kamis, 31 Maret 2016

Cerita Sex Aku Tak Tahan Lagi

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Aku Tak Tahan Lagi. Dengan nada sinis aku memanggil Laras “kenapa lagi kamu ras?? Gini kak karena aku jarang latihan jadi nadanya gak masuk Maafin ya Kak, “dengan tanpa latihan kamu pasti susah untuk mengikuti dan memaninkan seksofon yang bagus”ujarku. Wajah yang penuh kasih Laras hanya diam kepalanya menunduk kebawah, jujur saja aku sebagai guru agak sebal karena muridku susah untuk dibilangi dan tidak bisa mengikuti pelajaran karena jarang berlatih dirumah.

Cerita Dewasa Aku Tak Tahan Lagi

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Aku Tak Tahan Lagi
Ditambah lagi, ketika aku sedang pusing mengerjakan tesis s2ku, dimana mengajar saksofon adalah satu2nya hiburanku, murid yang satu ini membuat hatiku kesal. Laras, 19 tahun, seorang mahasiswi yang kebetulan satu universitas dengan tempatku mengambil kuliah s2, menurutku sangat berbakat bermain saksofon.

Tapi dia jarang sekali latihan. Terdengar dari nadanya yang melenceng, dan tiupannya yang tidak statis, pertanda dia jarang menyentuh alat musik itu. Sebagai mahasiswa S2 yang membiayai kuliahnya sendiri, bermain musik dan mengajar musik adalah tulang punggung utama yang membiayai kuliahku.

Ayahku tidak bisa membiayai lagi kuliahku karena beliau sudah lama meninggal. Uang yang ibuku berikan setiap bulannya hanya cukup untuk membayar kos saja. Uang untuk kuliah, juga disokong oleh beasiswa. Tetapi beasiswanya tidak penuh.

Itulah mengapa aku menggunakan bakatku dalam bermain alat tiup saksofon untuk mencari uang, mengajar maupun bermain di acara2 musik. Dari yang kulihat lewat situs pertemanan facebook, Laras tampak senang sekali bermain dengan teman2nya entah itu nongkrong di kafe, jalan2 ke mall, maupun berkunjung ke Bandung dengan teman2nya.

Itu tidak masalah sebenarnya, tetapi jika dia meninggalkan latihan saksofonnya, itu masalah buatku. Ada orang yang bilang kalo muridnya ngaco, berarti gurunya yang ga bener. Itu membuatku menjadi gemas ketika Laras selalu membuat kesalahan ketika bermain.

“udah ya, hari ini sampai disini saja” aku membereskan saksofonku dan buku musik ku. “tapi kak…” Laras memotong ucapanku “tapi kenapa… pokoknya minggu depan saya tes lagi yang tadi ya, jangan sampe ga bisa kayak sekarang.

” Aku segera bergegas keluar, memakai jaket, mengisi absen guru di meja resepsionis, dan keluar untuk menyalakan mesin motorku. Sudah mau maghrib rupanya. Laras menyusulku keluar.

“Kak… maafin aku ya…. Aku emang lagi banyak kegiatan akhir2 ini, jarang latihan….” Ucapnya. “yaudah… minggu depan perbaikin oke” aku memakai helmku.

“saya pulang dulu ya” aku mengendarai motorku menjauhi tempat les itu. Dari spion aku bisa melihat Laras masuk ke dalam city car nya. Pertemuanku dengan Laras bermula ketika aku mengisi acara yang diadakan oleh BEM kampusnya.

Dia menjadi panitia, LO band yang beranggotakan diantaranya aku sendiri. Berawal dari ngobrol2 Laras rupanya bermain saksofon juga dan dia ingin belajar dariku. Karena aku mengajar di salah satu sekolah musik yang mentereng di Jakarta, kusuruh saja dia daftar, dan dia pada akhirnya mendaftar untuk menjadi muridku.

Sebenarnya Laras menyenangkan, senang melucu dan mudah akrab. Tetapi kekurangannya ya itu, malas berlatih, entah hari2nya dihabiskan oleh apa selain kuliah. Apakah itu main, pacaran, aku tidak terlalu tahu, karena obrolan antara aku dan Laras hanya berkisar musik, lokal maupun musik global.

Aku kembali ke kosanku, kunyalakan laptop hasil tabungan sendiri itu. Sebenarnya aku bukan dari keluarga yang kurang mampu, hanya saja ayahku orangnya disiplin dan tidak memanjakan anaknya.

Waktu aku kuliah s1 di bandung dulu, ketika mampu mencari uang sendiri, aku sudah mulai meringankan beban orang tuaku dengan tidak meminta uang jajan. Ketika sebelum aku lulus s1, ayahku meninggal dan wasiat terakhirnya adalah agar aku terus meneruskan sekolah.

Kujalani pesan ayahku, dan nyatanya, walaupun hanya dari mengajar dan bermain musik, aku bisa menabung, membayar uang kuliah, dan menyicil motor, walaupun uang untuk kos masih dibantu oleh ibuku. Sedangkan Laras, bisa dilihat hidupnya amat mudah.

Orang tua yang kaya, dan memanjakan anaknya, terlihat dari saksofonnya yang terlihat baru dan kinclong, beda dengan saksofon tua ku yang hasil nabung sendiri itu. Naik mobil kemana, jalan2, pacarnya pun aku kenal, walau hanya sebatas tahu sama tahu saja.

Anak orang kaya juga. Kehidupan mereka berbeda jauh denganku. Tampaknya apa2 saja yang mereka inginkan mudah didapat. minggu depan Jam 4 sore. Aku menunggu hujan reda di kosanku. Jam 5 harusnya aku sudah di sekolah musik itu.

Tapi karena aku memakai motor, maka aku hanya bisa menunggu. Waktu terus berlalu. Hujan tidak reda. Maghrib sudah tiba, dan aku sudah menelpon ke sekolah musik itu untuk membatalkan les hari ini. Aku tidur2an di kasurku, malas untuk keluar kemana2 lagi.

Tiba2 handphoneku berbunyi. Aku melihat layar handphoneku. Ternyata nomor Laras. “Halo kak….” Laras mengawali pembicaraan “Eh kamu, ada apa ? udah tau kan lesnya ga jadi ? “ jawabku “Aku ada di depan kosan kakak” lanjutnya “Eh…. Ngapain ? “ aku heran.

Laras memutus telponnya. Aku bergegas keluar dari kamar kosanku, dan kulihat Laras dengan basah kuyup terguyur air hujan, berdiri di depan gerbang kosanku. Tanpa pikir panjang aku mengambil payung, lari dan membuka pintu gerbang.

“Lho kamu kenapa ? kok kehujanan ? mobil kamu mana ? “ tanyaku bertubi2. Laras hanya diam saja. DIa menggigil menahan dingin, sekilas kulihat matanya memerah dan ada bekas tangisan. Untung saja tidak ada orang yang lihat, jadi Laras bisa masuk ke kamarku. Karena kamar mandinya ada di dalam kamar, kusuruh Laras untuk mandi.

Tak lupa kuberikan t shirt ku yang ukurannya agak kecil dan celana pendek, juga handuk yang biasa kupakai. Aku agak khawatir sebenarnya. Karena di kosan ini tidak boleh membawa tamu perempuan ke dalam kamar.

Aku tidak tahu apa yang bakal terjadi kalau orang2 kosan mengira aku dan Laras melakukan hal2 yang tidak senonoh. Aku hanya diam menatap pintu kamar mandi. Suara air mengalir dari shower bisa kudengar dengan jelas.

Tak berapa lama Laras keluar, dengan memakai baju yang tadi kusiapkan. Dia sedang berusaha mengeringkan rambutnya dengan menggosok2annya dengan handuk. Bisa kulihat matanya masih merah.

“Kenapa sih kamu ?” aku memberanikan diri bertanya “Ceritanya panjang kak….” Katanya sembari duduk disampingku, di pinggir ranjang. “kalo ga mau cerita ga usah dipaksa” aku lalu berdiri dan memakai jaket “Saya beli makan ya, kamu diem disini dulu, jangan ikut keluar, soalnya di kosan ini ga boleh ada tamu cewek masuk ke dalam kamar”

“ dan jangan ribut, nanti dikirain saya nyelundupin kamu ke dalem” kataku mengingatkan Aku tidak habis pikir. Apa yang ada di pikiran Laras sehingga dia nekat datang ke kosan guru musiknya. Aku berjalan dengan payung di tengah hujan, menuju tukang nasi goreng untuk memesan 2 porsi, dibawa pulang. Aku kembali ke kamar kosan.

Hujan telah reda. Aku membuka kunci kamar, dan menemukan Laras sedang menerima telpon dengan air mata yang menetes. Aku segera menutup pintu kamar dan menyiapkan makanan. Laras hanya diam saja, dan dia serta merta menutup telponnya.

“Eh… makan dulu…” aku menegurnya Laras hanya diam. Sejenak kami berdua terdiam beberapa saat.
“Kak… ada tisu ?” Laras akhirnya membuka mulut. Aku segera mengambilkan tisu dari laci meja belajarku. Laras mengusap air matanya dan menarik nafas panjang.

“Maaf ya kak aku ngerepotin” Laras mengambil makanannya dan mulai makan.

 “Gapapa kok, santai aja” “Ntar kalo bajunya dah kering saya anter kamu pulang ya” jawabku.

“Ga usah kak…. Aku mau disini aja” pernyataan Laras membuatku kaget.

“Tapi, saya kan udah bilang, kosan disini ga boleh nerima tamu cewek sebenernya “ Aku sengaja mempertegas kata2ku.

“Aku gak akan ribut kak. Janji” jawabnya Aku hanya menghela nafas sambil ogah2an menyantap nasi gorengku.

Apa sih maunya dia, begitu pikirku. “Kalo mau minum ambil tuh gelasnya di rak di deket pintu kamar mandi” ucapku setelah Laras menyelesaikan makanannya. Laras menurut dan mengambil gelas, dan menuangkan air dari dalam dispenser.

Aku tidak menghabiskan makananku, dan menyalakan laptopku. Jujur saja aku bingung bagaimana harus menghadapi Laras. Aku jarang pacaran, ketika kuliah aku malah tidak sempat pacaran. Sibuk oleh kuliah dan musik.

Apalagi sekarang, kuliah, musik, ngajar. Itulah yang menyebabkanku agak canggung hanya berdua di kamar dengan seorang perempuan. “Kalau mau baca2 majalah itu ada di rak di atas kasur” Aku berkata seperti itu karena Laras terlihat hanya duduk di tepi ranjang dan memandang lantai dengan tatapan kosong Tapi Laras seakan tidak menggubris ucapanku.

Dia masih melamun “Laras. Kenapa sih ?” Aku makin penasaran. Laras tampak kaget mendengar pertanyaanku.

“Hmmm…. Aku heran kak… apa sih yang dimauin sama laki2” dia membuka dialog “Kenapa gitu ?” aku turun dari kursi dan duduk di karpet. Laras pun turun dari pinggir ranjang dan duduk di hadapanku.

“Tadi aku rencananya bolos les kak….” jawab Laras “Terus ?” “Aku jalan2 sama pacarku tadi. Pas jam 5, jam harusnya aku les, aku di dalem mobil pacarku, dia lagi nyetir, rencananya mau jalan cari makan terus nonton” Laras melanjutkan ceritanya.

Entah kenapa handphone dia ditaruh di dashboard. Aku pinjem, mau main game yang ada di hapenya. Dia ngebolehin, tapi entah kenapa aku tiba2 pingin buka inbox smsnya” Halah. Pasti cowoknya selingkuh, begitu pikirku dalam hati.

“Aku ngeliat sms2 mesra kak. Gak cuman satu tapi beberapa cewek” Buset. Pikirku. Jagoan banget tuh cowok.

“Aku kurang apa sama dia coba ? bela2in bolos les, bela2in dia, selalu aku temenin, kok dia begitu sama aku ?” dia mulai menangis lagi.

“Jijik liat sms2 itu, sayang2an segala macem orang pacaran aja” Aku mengambilkan Laras tisu lagi karena airmatanya mengalir deras. “Terus gimana ?” aku memintanya melanjutkan ceritanya. “Aku marah kak.

Tapi dia cuman diem aja ga ngomong apa2. Akhirnya di lampu merah aku keluar dari mobil” “Kan ujan” jawabku sedikit tidak antusias. Entah mengapa kasus ini sangat klasik pada orang2 yang pacaran. Tapi tampaknya Laras sangat terpukul oleh kejadian tersebut.

“Biarin aja kak. Aku jalan, ngejauh dari mobil, aku bisa denger sih dia nglakson terus….. tapi setelah jauh dari mobilnya, aku bingung mau kemana. Tapi aku inget kalo tempat tadi deket sama kosan kakak.

Makanya aku kesini” Memang dulu Laras pernah kesini diantar oleh pacarnya, mengambil partitur lagu.

“Terus ? kok kamu malah kesini ? ga pulang aja ?” tanyaku sambil berusaha meyakinkan dia agar pulang.

“Males nanti ditanyain sama orang tua…. kemana si pacar, kok pulang sendiri. Ribet “ jawabnya “Lah kalo dicariin gimana ?” aku makin bingung “Aku udah bilang sama orang tua aku… mau tidur di rumah temen”

“Tenang aja, mereka percaya kok…..” Aduh. Entah mengapa menurutku Laras berlebihan dalam menghadapi masalah ini. Kenapa gak putusin aja cowok itu, cari taksi, pulang, tidur, besok lupa. Tapi dia malah repot2 pergi ke kosanku.

“Terus kamu mau ngapain disini ?” tanyaku dengan malas “Aku mau nenangin diri dulu kak…..” Eh. Bukannya lebih enak di rumah ? disitu kan bisa nangis bombay di depan orang tua. Dijamin bakal ditenangin, abis nangis besoknya lega deh.

Aku bingung melihat kerapuhannya menghadapi masalah ini. “yaudah lah terserah” kataku “tapi inget, jangan ribut, jangan keluar kamar, besok pagi saya anterin ke rumah” “Iya kak” jawabnya… Jam2 berikutnya diisi dengan obrolan2 yang biasa kami lakukan, soal musik, teknik bermain saksofon.

Tak lupa aku menyetel musik keras2 dari laptop dan menyalakan tv agar suara kami tidak terdengar. Tanpa terasa sudah jam 11 malam “Aku ngantuk kak….” Kata Laras “Hmm…. kamu tidur di atas aja, saya biar tidur di karpet” jawabku sekenanya.

“Enggak kak… aku kan tamu. Aku aja yang tidur di karpet” malah enak di gw. Aku pikir. Aku mengiyakannya dan menggelar selimut cadangan di karpet, untuk alas tidur agar agak empuk, dan memberinya selimut tipis serta bantal yang berlebih di ranjang. Aku mematikan lampu, dan juga naik ke ranjang, bersiap untuk tidur.

“Jangan dimimpiin kejadian yang tadi ya..” kataku mengingatkan “Iya kak….” Sepi. Aku hanya menatap langit2 sambil memikirkan caranya besok pagi keluar tanpa ketahuan yang jaga kos. Kebetulan aja tadi hujan besar sehingga penjaga kos tidak memperhatikan pintu gerbang.

Aku agak kesal dengan sikap Laras. Sudah malas latihan, dan tidak berpikir panjang. Sebenernya muncul rasa kasihan yang besar dalam diriku. Dia belum dewasa, belum bisa mengambil keputusan dengan matang, dan akibatnya seperti ini.

Ada di kos2an guru musiknya, dan tidur di lantai. Yasudahlah. Mungkin Laras butuh teman malam ini, begitu pikirku. Entah kenapa aku tidak bisa tidur malam ini, harus kuakui kehadiran Laras malam ini merusak pikiranku.

Bukan jadi buruk, tetapi pikiranku menjadi kotor. Aku pernah melakukan seks, sekali2nya waktu baru kuliah dulu. Pengalaman itulah yang membuatku sedikit membayang2kan bagaimana kalau aku bermain cinta dengan Laras.

Laras memang cantik, kulitnya putih dan mukanya manis. Dan fakta2 itulah yang membuat pikiranku menjadi kotor. Coba kalau dia laki2. pasti aku santai2 saja. Lama aku tidak bisa tidur. Aku sengaja menghadap ke tembok agar tidak melihat Laras.

Tiba2.. Jleg. Aku merasa ranjangku dinaiki orang. Aku kaget, sedikit terkesiap tapi aku berhasil mehanannya. Rupanya Laras menaiki ranjangku. “Kak… aku tidur sama kakak ya……” katanya dengan nada merajuk.

Damn Aku tidak bisa menolak karena dia sudah naik ke atas ranjang. “Ehh… ni kalau mau pake selimut. Aku memberikan bagian selimutku pada Laras. Dia tampak agak malu, dan segera mengambil bagian selimutnya, dan tidur membelakangiku.

Sial. Apa2an ini. Kenapa dia naik ? apa karena kedinginan ? atau keras ? atau kenapa ? Aku merasakan gerakan di sebelahku. “Kak… maaf… aku sebenernya masih pengen ngobrol” “gapapa kan ?” Aku membalik badanku dan mendapati bahwa jarak mukaku dan muka Laras tidak lebih dari 2 jengkal.

Matanya yang memerah menatapku penuh harap. “Kamu ya… Dengerin. Kenapa sih mesti gini ? kamu sekarang ada di kamar cowok, tidur bareng satu kasur. Ga pantes tau. Apa saya tidur di bawah aja ya” Aku berusaha bangkit.

“Ini yang aku suka dari kakak…” tiba2 Laras berkata seperti itu. “Eh……..” Aku heran dan mematung sejenak “Kakak orangnya tegas…”

“gak kayak dia…. egois… udha gitu ga pernah bisa tegas dan ga punya pilihan”

“Manda… tapi” Kata2ku terhenti ketika tangannya menyentuh pipiku lembut. “Aku suka sama kakak” pengakuannya membuatku terhenyak. Apakah benar ? apa Laras Cuma terbawa perasaan akibat baru mengalami kekecewaan dalam berpacaran ? Aku mematung.

Terdiam. Dalam hati aku mengakui bahwa sosok Laras yang manis membuatku tertarik. Tetapi selama ini aku selalu me-ignore perasaan itu karena 1, dia sudah punya pacar, dan 2, aku tidak ada waktu untuk perempuan ditengah kesibukan tesis, musik dan ngajar.

“Kak” tangannya terus mengelus pipiku. Aku pun luluh. Tiba2 kami berdua saling memajukan wajah kami masing2. kami menutup mata dan bibir kami pun bersentuhan. Kami berciuman dengan pelan dan lembut. Laras terus maju ke dalam pelukanku.

Aku meraih pinggangnya, dan menggenggam tangan satunya. Telapak kaki kami saling bersentuhan dan saling bertautan.di dalam selimut itu. kami berciuman dengan hangat. Kami melupakan batas antara guru dan murid.

Walaupun umur kami tidak berbeda jauh, hanya enam tahun, namun rasanya ini seperti affair yang aneh antara guru dan murid. Walaupun guru dan muridnya hanya di sekolah musik saja. Kami berciuman sangat lama.

Entah kenapa kami berdua tidak berciuman dengan nafsu dan tergesa2. Tangan kiriku yang menyentuh pinggang Laras, tiba2 mulai nakal. Tanganku masuk ke dalam t shirt yang dia pakai. Menyentuh kulit halusnya. Laras tidak berontak.

Dia malah terus menciumiku. Laras pun tidak protes ketika tanganku masuk kedalam celana pendeknya dan memegang pantatnya. Damn. Rupanya dia tidak memakai celana dalam dan BH.

Aku melepaskan ciumanku, dan mulai menciumi telinga dan lehernya. “Ahh… Kak… ‘ Laras tampak menikmati perbuatanku. Tanganku terus bermain mencoba membuka celana pendeknya. Laras tidak berontak, kakinya malah beringsut membantuku melepas celana pendek itu.

Pada akhirnya aku melempar celana itu ke lantai. Aku mulai menyentuh pahanya yang sangat mulus. Aku memeluknya erat, menempelkan perutnya di perutku.

“Kak….. “ Laras memanggilku “Kenapa ?” Aku menghentikan ciumanku di leher “Kalau mau itu’… pelan2 ya…. aku belum pernah…” jawabnya pelan dengan nada pasrah dan tatapan penuh harap. Apa. Masih perawan ? aku kaget.

Kupikir setidaknya dia pernah tidur dengan pacarnya. Pantas saja dia tidak bisa menyikapi kelakuan pacarnya dengan benar, pengalamannya sangatlah minim. Aku terdiam. Mematung. Tidak dapat berpikir dengan jernih.

“Laras… kalau kamu gak mau, jangan….” aku mundur “Gak apa2 kak. Kalau sama kakak aku mau..” Laras meraih tanganku. “Kamu belum pernah…. jangan dipaksa kalau gak mau….” aku berusaha berpikir jernih.

Laras terdiam, tetapi dia malah masuk ke pelukanku kembali. “Aku mau….” jawabnya pelan “Aku Cuma minta kakak perlakukan aku dengan lembut”

“Tapi” aku masih bertahan “Kak…. aku mau kasih ke kakak malem ini”

“itu karena aku suka sama kakak” “dari pertama ketemu, tapi kakak tampaknya cuek sama aku…. tapi aku makin suka karena tau kakak orangnya tegas, dewasa, “

 “Laras, itu cuman perasaan pelarian aja…” jawabku Laras hanya diam. Tetapi dia menjawab dengan semakin masuk ke dalam pelukanku. Dia memelukku dengan erat, dan tidak mau melepasku. “Aku mau ngelakuinnya cuman sama kakak” Laras tetap gigih.

Kami berpandangan sangat lama. Hingga akhirnya aku menciumnya kembali. Pertahanan akal sehatku runtuh. Tanganku terus melingkari pinggangnya yang ramping itu. Laras perlahan2 bergerak menindih tubuhku. Badannya naik ke atas badanku.

Tangannya mencoba membuka t shirt ku tapi tampaknya dia agak canggung melakukannya. Aku melepaskan tanganku dari pinggangnya dan membantunya membuka atasanku. Setelah itu aku berusaha bangkit dan duduk.

Laras memegang bahuku dan mencoba maju menciumku. Aku menahannya dan memegang kedua tangannya. Aku menatap matanya lekat2. Laras menatapku malu2. Aku sedikit tegang. Malam ini kedua kalinya aku berhubungan seks.

Dan ini yang pertama bagi Laras. Jantungku berdetak hebat. Aku menggenggam ujung t shirt yang dia pakai. Pelan2 kutarik keatas. Laras menurut dengan mengangkat tangannya. Laras sudah telanjang bulat di pangkuanku.

Kedua tangannya disilangkan, menutupi buah dadanya yang kecil. Dia sedikit menunduk dan tampak sangat malu. Pasti ini pertama kalinya dia telanjang bulat di depan laki2. Aku memegang dagunya dan mengangkat wajahnya.

Tak berapa lama kucium bibirnya lembut. Aku menggenggam kedua tangannya dan mulai menciumi lehernya, terus sampai ke buah dadanya yang kecil Aku menciumi putingnya. Kurasakan badannya agak gemetar, entah karena geli atau agak takut.

Uhh….. Kak… geli…..” Laras mendesah kecil. Aku berbisik kepadanya “Jangan terlalu berisik ya… nanti bisa gawat kalau ketahuan penjaga kos…” Laras mengangguk pelan. Aku melanjutkan menciumi buah dadanya.

Sempat kulihat Laras menggigit bibirnya. Menahan agar dia tidak ribut. “Ngggh…. mmmhhh…” Laras terus mendesah. Aduh, bagaimana nanti ketika kami sampai ke inti permainan ?. Aku menyuruh Laras untuk turun dari pangkuanku.

Aku segera melepaskan celanaku. Laras nampak agak kaget ketika melihat penisku. Ini pertama kalinya juga dia melihat penis lelaki langsung. Laras duduk di sampingku. “Laras, kalau kamu emang ga siap, mendingan gak usah….” Aku menatap wajahnya yang tampak malu bersemu merah, “ Ga apa2 kak…. udah sampe sini….” dia tersenyum kecil walau aku bisa merasakan bahwa dia merasa gugup dan deg2an.

Aku memegang lembut tangannya dan mencium keningnya. Lalu aku menariknya pelan agar kembali duduk di pangkuanku. Laras duduk membelakangiku. Punggungnya sungguh mulus dan bersih. Aku mulai menciumi bahunya, terus sampai keleher.

Kupeluk erat pinggangnya dan bisa kurasakan tangan Laras memeluk erat leherku. Lama kuciumi bagian belakang leher dan punggungnya. Tak tahan lagi, pelan2 kubimbing Laras untuk berbaring di kasur.

Aku memegang lututnya dan kulebarkan pahanya. Aku menindih badannya. Tangan Laras menahan bahuku. Aku sejenak mematung memandangi Laras. Patutkah kurenggut keperawanan perempuan manis ini ? Haruskah dia melakukannya denganku ? Laras balik menatapku dan berkata “Kak….. pelan2 ya… aku tau pasti sakit pada awalnya”

“Kalau kamu gak mau, bisa kita hentiin sekarang kok….. “ aku menjawabnya. Laras menggeleng pelan. “Aku siap kak………..” Kepala penisku menyentuh bibir vaginanya yang telah basah. Pelan2 kugesekkan kepala penisku di bibir vaginanya.

Laras mengejang2 geli. Aku memperbaiki posisi dengan menggenggam tangannya. Kurasakan pelan, penisku memasuki bibir vaginanya. Sempit sekali. Aku berkonsentrasi penuh memasuki vaginanya.

“Nggggh…….Ahhh….. “ Laras menahan sakit. Bisa kulihat dia menggigit bibirnya dan matanya sedikit berkaca2. “Uhhhh…..” dia menarik napas lega ketika penisku masuk penuh kedalam vaginanya. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan pelan.

Laras tampak menutup matanya, dan meringis seperti menahan sakit. Aku mencabut penisku. Kulihat penisku berlumur darah perawan Laras. “Sakit? Kalau kamu ga tahan sakitnya ga usah dilanjutin…” Aku khawatir “Gapapa kak…..” Laras tersenyum dengan mata agak berkaca2.

Aku menarik nafas panjang, kuputuskan untuk tidak merubah2 posisi bercinta kami, terlalu dini untuk kami berdua. Ditambah lagi pengalaman kami berdua sangat minim. Aku kembali memasukkan penisku ke lubang vaginanya.

Sudah lebih mudah, walau masih sempit. Kurasakan dinding vaginanya yang hangat mengapit penisku erat. “Mmmhhhh….kak.. “ Laras mendesah pelan, dia sudah tidak meringis atau menggigit bibir lagi seperti sekarang.

Aku terus memaju mundurkan penisku dengan pelan namun temponya stabil. “Uhhh…..” Laras tiba2 mencengkram erat bahuku. Seakan ingin mencakarnya. “Mmmmhhh” Kaki Laras mencengkram erat pinggangku.

Aku tahu dia akan orgasme. Terlalu cepat mungkin. Tetapi wajar. Karena ini pengalaman pertama bagi Laras. Dia belum tahu bagaimana mengatur tempo, merubah posisi, ditambah lagi malam ini semuanya aku yang mengendalikan. Laras terus bersuara kecil mengikuti tempo goyanganku.

“Nggg… mmmmhh….” Tiba2 aku menghentikan gerakanku. Aku tak ingin aku bablas keluar di dalam. Kaki Laras kuat mencengkram pinggangku. Malam ini adalah pengalaman pertamanya. Wajar jika dia tampak tegang atau gugup. Aku tak mau jika ketegangannya mengakibatkan kecelakaan yang tidak diinginkan.

“ah…. kenapa kak ?” tanyanya polos dengan nafas tidak teratur “Enggak… tadi kamu ngejepit pingganggku terlalu keras… aku takut kalau nanti aku keluar di dalem…” jawabku. “oh…. “Laras “kamu santai ya sayang….” aku mengelus rambutnya lembut dan dia hanya mengangguk pelan.

Pelan2 aku mengisyaratkan agar Laras tidur tengkurap. Dari belakang aku memposisikan kepala penisku tepat di lubang vaginanya. Pelan2 aku masukkan kembali. “hmmhhh… aaahhhh…” Laras kembali mendesah ketika kumasukkan penisku.

Aku memeluk pinggangnya dan membimbingnya naik. Kami bercinta dalam posisi doggy style. Tangan Laras bertumpu pada kasur. Aku menggerakkan penisku maju mundur sembari memegang erat pinggangnya.

“Uuuuuh…. Ahhh….. “ Laras tidak bisa menahan lagi suaranya. Entah karena kesakitan atau keenakan. Tapi kalaupun kesakitan, dia tidak berontak. Laras terus mengerang. Entah berapa lama kami melakukannya.

“Kak…. aku… ahhh” Aku tau Laras akan segera orgasme. Tapi aku tidak mencebut penisku. Aku malah makin bernafsu menggerakkannya. Tumpuan tangannya semakin lemas. Aku secara refleks malah menarik tangannya kebelakang agar posisi tubuhnya tetap stabil. Aku merasakan tubuhnya menegang dan vaginanya menjepit erat penisku.

“Aaaaah….. aaaahh….. nggghh….” Laras mengerang tanpa mempedulikan keadaan kamar kosku yang mungkin saja suara malam itu bisa bocor ke kamar sebelah. “Ngggghh… aaaaaaaaaah”. Tak berapa lama aku langsung mencabut penisku dan spermaku lalu muncrat berantakan di luar vaginanya.

Laras langsung dengan lunglai menjatuhkan diri ke kasur. Aku pun merebahkan diri di sebelahnya. Kami berpandangan dengan cukup lama dan berpelukan sampai kami tertidur. Kini, kami bukan murid dan guru lagi. Tapi lebih dari sekedar itu.

Kami sering menghabiskan waktu bersama di luar les, karena kami sekarang menjadi sepasang kekasih. Kejadian malam itu, tidak pernah terulang lagi sampai sekarang. Dan kami tidak pernah mengungkitnya lagi. Biarkan malam itu ada untuk dikenang saja dalam hati kami masing2.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Senin, 21 Maret 2016

Cerita Sex Perawan Yang Hilang

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Perawan Yang Hilang. Panggil saja namaku Monik aku msih sekolah dibangku SMA di kawasan Jakarta dimana aku tinggal disini dengan kakekku soalny aku berasal dari medan, jadi setiap bulannya aku selalu dikirim tranferan oleh ortuku,

Cerita Dewasa Perawan Yang Hilang

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Perawan Yang Hilang
"....Awal mula cerita,aku bertemu seorang cwok ganteng sebut saja namanya (arga),dia kuliah di univ,di jkrt.

Saat itu aku pulang skolah pas pertama ktemu aku mau tertabrak mobil yg di tumpanginya,untung aku gk knapa" cuma kesenggol bgian skutku saja.

"...ckiiiittt"mobil yg di tumpangi arga ngerem mendadak.

"....aduh"aku kget dan mrintih kesakitan.

"..arga langsung keluar dri mobil dan lngsung menghampiriku.

"...Mba gak knapa-napa??tanyanya..

...aku hanya trdiam dan kesakitan.

"...Aku anter ke rumah sakit ya??ujarnya.

"...hmmpp!!jwbku simpel.

...Aku langsung di bpong ke dalam mobilnya.

"...sesampainya di rumah sakit,aku langsung di perban yah untung cuma luka lecet saja.

"...mba aku minta maaf ya,gak sengaja?ujarnya.

...aku hanya terdiam,pdhl dlam hatiku mash marah tp aku coba untuk tenang.

"...Ya udahlah gpp,ini jg gk knapa-napa ko cuma lecet ja.."jwbku.

"..iya tp aku gk enak nich,tlong jangan di tuntut ya??arga smbil memelas.

"...iya..iya gak."jwbku.

"..ya udah aku anter pulang ya!"tawarnya.

"..hmmm,boleh deh.."jwbku.

"..aku langsung di anter pulang,selama di jalan menuju pulang aku ngobrol bnyak smbl kenalan,sling tkar no hp,kmipun lngsung akrb.

"...beberapa saat kemudian,akupun sampai di rumahku.

"..owh,dah smpai ya? Tanyanya.

"..iya,mampir dlu yuk di rumah cuma ada neneku aja.."jwbku.

"..lain x ja ya,alya aku tkut di marahin nenek kamu.."ujarnya.

"..ya gak lach neneku orngnya baik gk prnh marah.."jwbku.

"...ya udah.."blaznya.

...Diapun mampir dan ngbrol sma nenekku dan meminta maaf atas kejadian yg menimpaku.

..."Beberapa saat kemudian arga pamitan untuk pulang.

"..nek,mon aku pamit pulang dlu ya,alya msh bnyak tgas yg hrus di selsaikan.."ujarnya.

"..owh iya.."jwb nenek dan aku.

"..sexali lgi minta maaf..." ujarny berulang x minta maaf.

"iya udah,dri tadi jga di maafin"..jwbku.

...arga langsung salaman,trus menuju mobilnya.

"...Tar aku tlpn ya,bwt nanyain kbrmu.."ujarnya.

"..iya "...jwbku.

"owh,ok sippt"...blznya..

...Setelah beberapa minggu kami sling sms'n dan tlpn'n,kami merasa kaya pacaran.ntah kapan jadiannya,kmi berhubungan.

"..Saat itu hari minggu aku di ajak jalan-jalan,dan makan.hari demi hari,minggu demi minggu terlewati kami ngerasa smakin dekat dan ngerasa cocok bersmanya..

"...Beberapa waktu kemudian,arga ada acara pernikahan temannya di daerah puncak bogor.

"..ay aku ada acara di puncak,temenku mwu nikahan.."ujarnya.

"owh,mang brapa lama?tanyaku.

"..paling cuma 1hri." jwbnya.

"..ya trus?tanyaku.

"..ay aku lagi bingung,masa temenku yang lain pda bwa pasangan aku nggak.!!ujarnya,

"..ya trus aku hrus ikut gtu maksdnya?tanyaku.

"ya kalo boleh ma nenek.."ujarnya.

".boleh sich asal jngan nginep.."jwbku.

".iya aku janji gak nginep,"ujarnya.

..Pdahal ortunya arga punya vila di daerah puncak,seandainya kemalaman jg.

...kamipun berangkt sama-sama menuju acara tmennya itu.

...stelah itu wktupun tk terasa udah mulai menjelang sore.

.."Tak di sangka cuaca di daerah puncak gk bisa di tebak begitu buruk cuaca di sana.hujan yang di sertai angin menghalangi untuk kembali pulang.

"..aduh ay cuaca di sini buruk bngt,pdhl tdi pas brngkt terang bnget,kayanya kita gak pulang alya aku gk brani dngan cuaca gni.."ujarnya.

"..ya trus nginep dimana,kn kita gk punya saudara disini msa mau nginep di rmah pengantin."jwbku.

"..tenang ja ortuku punya vila di daerah sini.."ujarnya.

..."kami pun branjak pergi ke vila punya ortunya arga.

.."ko sepi bnget vilanya,apa gak ada yg nempatin?"tanyaku.

"ada ko mang udin yg jaga disini."jwbnya.

.."argaptn mencari mang udin penjaga vila itu.

"eh den arga,ko gak blang dlu kalo mwu ksini tumben banget,."ujar mang udin.

"..iya mang aku ke sorean abiz ada acara tmen,mana ni cuacanya kaya gini jd gk brani pulang.."jwbnya.
..."stelah itu kmi msuk,tak menyangka vila sebagus ini gak di tempatin.

"..ay km tdur di kmr,aku di dlam ja"ujarnya.

"owh,iya dech trus kmr mandinya dmana?ujarku.

"owh,di kmarkan ada kmar mndi."jwbnya.

"iya dech"ujarku.

.."aku pun bergegas ke kamar mandi krna tkut mens'ku tembus.

..."Sementara aku lagi di kamar mandi,ganti baju dan pembalu aku lupa gak menutup pintu kmar mandi aku biarkan terbuka lebar,aku tak tau kalau arga masuk.

.."Ay "..arga menghampir ke kmr mandi yg pintunya trbuka lebar.

"aduuh"..aku kaget smbil mnutupi tetekku dan memekku yg tak terbungkus sehelai bnang pun.

"..Maaf..maaf,gk sengaja aku kira gk lgi di kmar mandi,alya pintunya kebuka lebar.."jwbnya.

"..iya aku lupa krna buru-buru mwu ke kmar mandi"jwbku.

"..Aku cuma mwu nwari makan sma mau mnum apa??tanyanya.

"terserah aja"..jwbku.

"owh ya udah nasi goreng ma teh manis ja ya??tanyanya.

"ya udah"..jwbku.

..arga mnuju kluar dn aku mlanjutkan pakai pembalut dan bjuku.

...stelah selesai mkan,matapun mulai ngantuk aku sempat berpikir dri tadi arga gk bnyak ngomong cuma ngelirik-ngelirik bagian tetekku,dan aku menyangka arga lgi mikirin kejadian tdi di kmar mandi.

"..aku ngantuk bget nich,bobo dlu ya!ujarku.

"owh iya,alya kita pulang pagi-pagi bget."ujarnya.

".aku masuk kmar dan merebahkan bdanku di kasur.

..Sementara itu ku dengar arga msh ngbrol sma mang udin,kedengaranya sedang ngomongin aku tapi aku cu'x ja.

..tak terasa aku tdr trlelelap,tak kusangka aku ntah mimpi apa kenyataan,badanku trasa berat pas aku melek sontak aku kget,buah dadaku lagi di hisap arga aku langsung branjak.

"..Apa..apaan nich,?km jht bgt tega ya bikin aku kya gni."ujarku kget.

".maaf ay aku gak tahan liat kjadian tadi,aku kpikiran trus"..jwbnya.

..Sementara itu aku lngsng branjak dri tmpt tdr,brencana mwu kluar kmr tak di sangka pintu pun di kuncinya.

"..plizz tlong hargain aku,aku gk mau kmu prlakukan aku kya gini"ujarku smbil menangis.

.."arga lngsung menghampiriku,"ya udah maafin aku,anggap ja ni gk pernah trjadi".jwbnya smbl memeluku.

..aku trbujuk ucapannya,trus arga merebahkanku di kasur,tak kusangka lagi arga malah lebih ganas,dia merusak bajuku dn clanaku di tariknya hingga sobek,aku tak menyangka di balik wajahnya yang alim dia maniak seks.

Dia menciumiku dari ujung rambut hingga ujung kaki,wlwpun aku brusaha brontak arga tak menghraukanku di trus menciumiku dan menghisap pyudaraku,aku gak kuat hingga aku pasrah apapun yg akn terjdi.

Dia smakin gila,tngannya menggerayangi sluruh tbuhku,mengobok" memekku dia blm tau kalo aku lg menstruasi,tp ttp aja namanya lg nafsu dia tak menghiraukan,dia langsung menjilati memekku yg bau amis darah,aku tak kuasa.

.."ach.ach.ach"aku mengerang.

Arga trus memainkan lidahnya,di memekku.

.."Tak lama kemudian arga membuka bju dan clananya,ku lihat kontolnya yg sudah mengeras,langsung di tancapkanlah ke memekku yang bsah brcmpur darah,ludah,dan air memekku.

..oooh..sakit pelan" ..ujarku kesakitan.

Namun arga ttp menghantamkan kntolnya ke memekku."auuuww sakitt,"jeritku mrasakan memekku trasa perih.

..dan trnyata arga tak bisa memasukan kontolnya,karna mungkin aku mash prawan.

..arga memegang kontolnya lalu mengarahkn ke lubang memekku,"aduuuh sakiit"jritku.smakin aku mnjerit arga semakin menekan kontolnya msuk.

"..Ay memekmu ko keset bnget??tanyanya.

"..aku langsung jwb,wlwpun merasa ksakitan.

"..iyalah aku lgi mens tau"jwbku.

Arga,malah meluluri kontolnya dengan ludhnya.bleez kntolnya agak msuk, yg aku rasakan enak dan perih,lagi" aku menjrit ksakitan.

Setelah msuk ke memeku,arga smakin kencang genjotannya "..ach.ach.ah.ah.ahah."dan arga pun tak kuat menahan "crot..crot..crot" kluarlah tak lamapun kami terkulai lemas,aku smpt menangis melhat darah berceceran di atas kasur.

Di sinilah keperawananku di renggut arga dalam keadaan menstruasi.

Inilah pengalaman prtamaku merasakan memekku di masukin kontol.

Sampai akhirnya aku ketagihan hingga aku yg meminta untuk menyetubuhi tubuhku,dan merasakan kenikmatan walaupun hanya sesaat.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Selasa, 01 Maret 2016

Cerita Sex Itu Darah Perawan

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Itu Darah Perawan. Dulu tinggalku di Jakarta dan sekarang aku pindah ke Bali, mungkin ini pengalaman pertamaku yang mengesankan bagiku pertama aku kenal namanya ngentot dan merakana langsung, saat itu umurku masih 16 tahun, dimana aku punya teman cewek yang bernama Cloria panggilannya Ria, umurnya bareng denganku .

Cerita Dewasa Itu Darah Perawan

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan

Anaknya tomboy banget. Temennya banyakan cowo, tp aku bukan temen biasa, aku sahabatnya dari kecil. Dia ama keluarganya deket ama keluarga aku, soalnnya emang bokap nyokap kita juga uda temenan lama. Kakak " kakak kita juga uda temenan lama.

Keluarga dia ama keluarga aku sering jalan2 bareng ke Puncak. Soalnnya keluarga Cloria punya villa di Puncak. Waktu itu, aku inget banget, hari minggu, semuanya lagi pergi, tinggal aku ama dia aja maen di komplek villa ampe sore.

Pas uda agak sore, kita sama " sama takut masuk villa, soalnnya lampu villa belom ada yang dinyalain, sering kedengeran suara tokek.

Kita sendiri uda nanya " nanya, kmana bokap " nyokap kita. Akhirnnya sekitar jam 5 an, dia punya ide gila, katanya: "Mandi bareng yuk!".

Kita waktu itu masi agak polos " polos lugu. Aku kaget: "Hah, gila luh!!! Kita kan beda jenis".

"Trus knapa" Bokap nyokap aku aja kalo mandi barengan.

"Dia motong omongan aku. Trus aku uda ga bisa ngomong apa " apa lg, akhirnya yah aku iyahin aja.

Trus kita masuk villa en ambil handuk masing " masing di jemuran. Tapi handuk aku agak basah soalnnya pas siangnya aku pake buat ngeringin badan aku abis berenang. Trus dia bilang pake anduknya barengan aja.

Terus kita kunci villa, dan masuk ke kamar mandi utama. Di dalem, awalnya kita sama " sama ga mau buka baju, nyurur masing - masing buka baju duluan, masi malu " malu.

Trus aku ngasi ide, "Gini aja deh, kita sama " sama balik badan, trus buka baju, bajunya dilempar ke luar kamar mandi supaya kita ga ada yang bo"ong." Eh" ga taunya dia setuju.

Kita balik badan dan ngerjain ide aku. Setelah kita sama " sama telanjang, kita balik badan lagi dan saling nutupin bagian " bagian "sensitif" kita. Trus muka kita sama " sama agak merah.

Baru trus aku buka tangan aku, ngeraih tangan dia di dadanya, aku bilang: "yuk mandi". Aku sendiri sebenrnya agak kaget ngeliat dada dia uda mulai tumbuh, soalnnya ga pernah nyangka, di balik tomboynya dia, ternyata badannya cakep juga.

Awalnya kita Cuma sabunan biasa sendiri " sendiri, sampe bagian punggung baru aku minta dia gosokin, soalnnya kan aku ga sampe. Dia mau, dia gosokin dari baru ampe pinggang aku. Waktu itu aku pikir uda selesai, makanya aku balik badan.

Ternyata tangannya yang masi nempel di badan aku terpeleset megang kemaluan aku. Aku reflek, badan aku gemeter bentar, trus batang aku agak mengeras. Dia dengan polosnya bilang:

"Sorry, ga sengaja, tapi kenapa ama punya lu" Kok tiba2 gerak?" Rupanya dia ga belom tau, kalo cowo kena rangsang, batangnya bakal gemeter, trus agak mengeras.

Aku bales dengan agak nakal: "Ga sengaja apa emang mau nyobain megang?" Dia jadi malu trus baik badan sambil nyuruh gentian gosokin punggungnya.

Libido aku saat itu uda mulai naik, apalagi saat aku ngelus punggungnya dia, mulai bahu, punggung ampe ke pinggang, aku ngerasain kiuilit dia aluuusss" banget. Waktu itu aku ga sadar, tangan aku uda sampe di pantatnya dia (tapi bukan di lobangnya).

Dan itu ngebangkitin nafsunya dia, walau aku ga sadarin betul. Tiba " tiba dia balik badan, trus ngedekep di badan aku, ampe aku sendiri ngerasa payudaranya kejepit antara dada dia ama dada aku" oh" my" Trus dia ngomong pelan"

"Tangan kamu juga nakal yah?" Trus aku yang uda ga tau mau ngapain lagi langsung aja nyium bibir dia. Dia pun ngebales ciuman aku, dan tangan aku mulai tamasya dari pinggang dia naik ke punggung, ke bawak ketek dia

Terus ke dadanya" Dia pun mulai ngegerayangin badan aku, mulai dari punggung aku trus turun ke pantat aku. Rupanya dia lebih dulu pernah nonton film BF ketimbang aku. Jadi dia uda lebih ngerti yang namanya nyedot batang, ngocok batang dsb.

Sedikit demi sedikit aku ngerasa batang aku mulai tegak, sampe akhirnya ga tau mentok sesuatu, tapi ga keras. Ternyata mentoknya ke bibir Ms V punya dia. Dia langsing geli dikit gitu. Trus tangan kanan aku buka air pancuran, biar sabun di badan kita turun semua.

Tapi batang aku belom pol, jadi masi bisa manjang lagi. Waktu aku maenin payudaranya, dia ngelepasin mulutnya dari bibir aku dan dia ngerang dikit, aku awalnya ga tau knapa, tapi aku sadar, tiap aku maenin, aku cubit dikit, ato batang aku ngegesek Ms V-nya, dia ngerang dikit ato ngerasa geli " geli gimana gitu.

Ga lama trus dia nyium aku lagi. Batang aku makin jadi waktu dia ngeluarin lidahnya di mulut aku, sampe kepala batang aku akhirnya masuk ke Ms V-nya. Dia ngerang lagi, tapi kali ini aga kerasan, trus dia bilang kalo itu sakit.

Waktu itu, kita uda mulai dingin, soalnnya kita uda basah " basahan sekitar 1 jam, jadi kita udahan trus handukan. Kali ini uda ga malu " malu lagi, aku ngelap badan dia ampe ke Ms. V-nya. waktu itu, belom banyak bulunya, masih dikit banget, hampir ga ada. Waktu aku ngelap, aku jongkok, jadi muka aku pas didepan Ms V-nya. dan dia sengaja, dia tiba " tiba majuin pinggulnya sampe Ms V-nya mendarat di mulut aku, tapi akhirnya dia sendiri yang kegelian. He"he"he"

Abis mandi kita lari ke kamar aku, soalnnya ga ada yang bawa baju, di kamar kita maen sambil telanjang, aku disuru duduk diatas pinggang dia. Ternyata dia uda ga sabar pengen dimasukin. Bener aje" dia nyuruh masukin batang akuke dalemnya

Tapi aku ga ngedengerin malah aku maenin dulu, soalnnya aku belom pernah ngeliat sedeket ini sebelomnya, warnanya masih merah muda. "Dy" kok kamu punya wangi yah?" aku bilang sambil memperhatikan punya dia.

Trus dia bilang rasanya manis, makanya aku disuru coba jilat. Trus aku coba jilat, dan dia ngerang, seolah keenakan, tapi rasanya asin. Rupanya cairannya uda keluar dikit. Trus aku maenin pake lidah aku sampe dia ngeremes bantal " bantal di kepala dia, rupanya uda ga tahan. Sambil ngegereng, dia juga mendesis, persis kaya yang di film BF.

Trus, dia bangun, dia bilang mau gantian. Kali ini aku yang terlentang, dan dia yang masukin batang aku ke mulutnya. Aku cuma bisa ngomong: anjing gila" oh" sssttt" aaahhh" Clau?" Rupanya suara aku bikin dia tambah On" dia makin kenceng keluar masukin batang aku ke mulutnya" kali ini aku yang inisiatif megang kepalanya dia dan aku tahan, sampe batang aku aku rasa mentok di tenggorokan dia.

Setelah sekitar 5 menitan dia maen ama batang aku, dia bilang: "aku ud ga tahan" coba gituan deh yuk?" Kita berdua tau, masing " masing dari kita belom pernah negelakuin ini sebelonnya. Dia masi perawan, dan aku masi perjaka tulen.

Aku pegang barang aku yang uda kenceng banget, trus aku duduk bentar di pojok luar tempat tidur buat ngambil nafas sesaat, tapi dia dari depan langsung duduk di pangkuan aku dengan posisi ngebuka kakinya dan badannya ngadep ke badan aku.

Aku langsung lahap dadanya dia dan dia makin jadi, kepala aku di bekep di dadanya, ampe aku sendiri ada susa nafas. Aku beruntung, dia itu tipe cewe tomboy tapi sering disuru minum jamu ama nyokapnnya, soalnnya nyokapnnya itu apoteker, katanya buat ngejaga kulit. Jadi dadanya itu lembut banget, wangi lagi"

Trus dia mengang batang aku dan diarahin ke lobangnya dia, aku Cuma ngeliatin aja dari atas. Bless" masuk dikit batang aku ke lobangnya" dan dia langsung nindi badan aku, dia bilang: "aauuh" sakit ternyata?" mungkin karena ini yang pertama kali.

Tapi ngedenger suara dia, aku makin ngegenjot dikit, aku ngangkat pinggang aku, jadinya batang aku makin masuk, kira " kira masuk setengah. Trus dia makin merintih, ga tau sakit apa enak. Abis keangkat aku puter badang, jadinnya sekarang dia yang di bawah dan aku yang diatas.

Dengan posisi itu, aku mulai masukin pelan " pelan, dan dia makin merintih: "aahh" sssttt" Lex" sssttt" uda" oohhh?" Aku takut dia triak, aku bilang bentar lagi" trus aku cium dia supaya dia diem"

Akhirnya setelah sekitar setengah jam, jw sodok terakhir dan masuk semuanya" dia kali ini ga minta uda, malah keasikan, sambil mengerang, dia mulai senyum, trus dia lanjutin ngerang lagi" sesekali aku liat batang aku, kalo " kalo masuknya salah, tapi ternyata bener dan aku liat ada darah di antara batang aku ama Mr V-nya dia.

Dia bilang ga apa, itu darah perawannya" trus aku mulai maen, aku keluar masukin batang aku, dan dia pun mengerang keenakan sambil sekali " sekali mendesis. Setelah setengah jam-an, aku ngerasa ujung batang aku berdenyut di dalem lobangnya dia, dan mulut lobangnya dia juga bergetar dan makin ngejepit batang aku, aku bilang "Klimaks" Dy" Mau kuar?".

Dia bilang lagi: "Cabut Lex", aku juga mau klimaks" tapi karena badan uda aga lemes, akhirnya kita klimas barengan dan" crot"crot"crot" ternyata muncrat di dalem"

Cloria sempet kaget juga, aku numpahinnya di dalem, apalagi dia nyadar kalo waktu itu dia belom dapet, soalnnya masih awal bulan, sedangkan dia biasanya dapet katanya di minggu " minggu ke tiga. Tapi mau gimana lagi" uda ga ketahan.

Trus aku ciuman lagi ama dia, dia bilang: "kenapa ga ditarik keluar" aku belom dapet, tar kalo ampe knapa " knapa gimana?" Aku sendiri ga tau, yah uda kejadian" trus kita ngelakuin hal gila lagi" dengan batang masih nancep dilobang, kita coba turun pelan " pelan dari tempat tidur, trus jalan ke kamar mandi, kita berencana mandi lagi soalnnya badan kita uda keringetan. Trus kita mandi dengan keadaan masi 1 badan. Seru deh" sambil lucu2an.

Abis mandi baru kita ngelepasin masing " masing punya, trus pake baju dan nontot Tv sambil rangkulan. Ga lama abis itu, bokap " nyokap kita pulang, tapi kita uda ketiduran disofa, untungnya rangkulan kita uda lepas.

Pulang dari puncak, kita sering banget telpon " telponan, aku maen ke rumah dia, tapi ga pernah sampe ML lagi, paling cium " ciuman, saling jamah. Soalnnya kita masi nunggu waktu dia mens. Kita berdua ada sedikit ketakutan kalo dia ampe pregnant.

Untungnya pas akhir minggu ke-3, dia dapet. Waktu itu dia lagi mandi, orang rumahnya ga ada semua, dan aku lagi di rumahnya. Tiba " tiba dia teriak manggil " manggil aku, dan dia keluar kamar mandi sambil telanjang melok aku.

Katanya dia uda dapet. Trus kita ciuman dan besok " besoknya setelah dia selesai mens-nya kita jadi sering sering gituan. Kalo ga di rumah dia, di rumah aku ato di tempat rahasia kita. Sekarang sayangnya dia uda pindah ke Amerika.

Terakhir ketemu pas kakanya ada yang merried, dia makin cakep, body-nya makin ajubilai ditutup dengan gaun. Sebelom dia berangkat balik ke Amerika, kita gituan lagi dan lupa pake kondom lagi. Tapi diapun bersih kok. Soalnnya biasanya dia pake kondom, buat aku katanya ada pengecualian.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Rabu, 17 Februari 2016

Cerita Sex Nakal Penuh Nafsu 2st

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Nakal Penuh Nafsu 2st. Berlanjut cerita sebelumnya Jantungku berdegup kencang juga saat melakukan itu, soalnya  bagaimanapun juga seumur hidup belum pernah aku telanjang di depan cewek sambil mempertontonkan alat vitalku sendiri, apalagi sampai dipegang-pegang segala.

Cerita Dewasa Nakal Penuh Nafsu 2st

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Nakal Penuh Nafsu 2st
Wheeh... seperti mimpi rasanya saat jemari kedua tangan Aufa mulai menyentuh kepala penisku yang sedang ereksi. Apalagi batang penisku masih tetap manggut-manggut nggak bisa diam, Maklumlah the first time.

Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat menyentuh batang penisku yang ereksi namun karena aku memegang kedua tangannya dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang benda kesayanganku itu, akhirnya ia hanya menurut saja saat kurayu dia agar mau melakukannya.

Pertama kali Aufa hanya mau memegang dengan kedua jemarinya yang mungil. "Aah... terus sayang pegang erat dengan kedua tanganmu dik", rayuku penuh nafsu.

"Iiih... keras sekali Mas", bisik Aufa sambil tetap memejamkan matanya. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.

"Iya sayang, itu tandanya Mas sedang ereksi sayang, ayo dik genggam dengan kedua tanganmu, aahh..." aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Aufa bukannya malah menggenggam lagi tapi malah meremas kuat. Ia terpekik kaget.

"Iiih sakit mass..." tanyanya melihatku berteriak dan menggelinjang geli dan nikmat, remasan kedua jemari tangannya yang halus itu seolah membuat diriku kesetrum keenakan. Aufa menatapku gugup. Kini secara bergantian jemari tanganku meremas kedua buah dadanya dengan lebih lembut.

Aufa menatapku dengan senyumnya yang mesra. Ia membiarkan tanganku menjamah dan meremas-remas kedua buah dadanya sampai puas. Hanya sesekali ia merintih dan mendesah lembut bila aku meremas susunya sedikit keras.

Kami saling berpandangan mesra, kupandangi sepuasnya wajah manisnya, sampai akhirnya aku sudah tak kuat lagi menahan desakan batang penisku yang sudah tegang, aku takut alat vital kesayanganku itu bisa patah gara-gara salah posisi.

"Auuggghh.." aku menjerit lumayan keras. Aku meloncat berdiri. Aufa yang tadinya sedang menikmati remasanku pada buah dadanya jadi ikutan kaget.

"Eeehh... kenapa Mas?"

"Aahh anu sayang... punya Mas sakit nih", sahutku sambil buru-buru kubuka celana panjangku di hadapannya. Aku tak peduli, toh bagaimanapun dia pasti melihat juga nanti alat kelamin kesayanganku itu. Sruuut.... celana panjangku melungsur ke bawah, sementara Aufa yang tak menyangka aku berbuat demikian hanya memandangku dengan terbelalak kaget.

Cuek... daripada batang penisku kram nggak bisa bergerak mending kubuka saja sekalian CD-ku dan "Tooiiing", batang penisku yang sudah tegang itu langsung mencuat dan mengacung keluar mengangguk-anggukan kepalanya naik turun persis burung kutilang kalau sedang menari-nari.

"aawww... Mas Ari jorok", Aufa menjerit kecil sambil memalingkan mukanya ke samping. Jemari kedua tangannya di tutupkan ke mulut dan wajahnya. "He... he..." aku terkekeh geli batang meriamku sudah kelihatan tegang berat, urat-urat di permukaan batang penisku sampai menonjol keluar semua.

Kepala penisku terasa cenut-cenut melepas kebebasan setelah kurang lebih 1 jam terpenjara di dalam CD-ku yang sempit dan sumpek, maklum CD-ku memang sejak kemarin belum kuganti jadi baunya yaa... tahu sendirilah.

Batang penisku ini nggak panjang-panjang benar kok cuma sekitar 14 centi-lah kurang sedikit, tapi yang membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip punya bintang film Tarzan-X Rocco Siffredi, montok dan berurat, diameternya aku nggak pernah ngukur tapi yang jelas cukup memuaskanlah buat ngesex kupikir.

Sementara Aufa masih menutup muka tanpa bersuara, kukocok batang penisku dengan tangan kananku, "Uuuaahh... nikmatnya", sambil melepaskan ketegangan urat-urat yang menonjol keras di permukaan batang penisku akibat tergencet CD-ku tadi. Batang penisku itu tampak berkeringat basah, mungkin karena hawa di dalam CD-ku yang panas atau mungkin karena CD-ku yang belum kuganti.

Ketika tanganku yang kupakai ngocok tadi kucium. Wweeeghh... huuuekkk, baunya ampun... sialan pikirku.

"Aufa sebentar yaa... Mas mau cuci punya Mas dulu yaa... bau nih soalnya", sahutku tanpa kupedulikan dirinya lagi, aku segera ngibrit ke belakang, batang penisku yang sedang "ON" tegang itu jadi terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sana ke mari ketika aku berlari.

Aku geli sendiri sekaligus tak sabar ingin segera kembali ke hadapannya lagi. Dalam kamar mandi segera kubasahi rudal patriotku dengan air dingin. Wiihh... dingin saat kepala rudalku kusiram air dari cebok, lalu kuambil sabun Claudia mengandung hand body yang masih baru kubuka tadi pagi dan kusabuni batang penisku sampai bersih mulai dari 2 butir telurku sampai kepala penisku yang semakin tambah ereksi saja.

Teng... teng... teng rasanya aliran darah yang mengalir makin banyak ke batang penisku. Aduuh... maak, geli-geli nikmat saat air yang bercampur sabun itu kuusapkan dan kukocok-kocokkan ke batang penisku itu.

Ngeres pikirku, dan aku mulai membayangkan sebentar lagi batang penisku yang masih perjaka ini akan berjuang untuk menembus liang vagina milik Aufa yang sempit dan hangat, merobek selaput dara keperawanannya dan bersarang di dalam vaginanya lalu kugesekkan keluar masuk sampai penisku ejakulasi dan memuntahkan air mani sepuasnya, aahh nikmatnya.

Apalagi aku yakin selama satu minggu ini aku tak ber-onani-keke. Waah.. bisa muncrat banyak sekali nih, mm.. teng... teng...teng, batang penisku bergerak naik turun sendiri. Lho... aku geli sendiri melihatnya. Lalu segera kubasuh lagi rudal patriotku dengan air sampai bersih, dan sebelum kubasuh sempat pula kucukur beberapa helai rambut kemaluanku dengan Gillette biar agak lebih ganteng sedikit, sebab aku khawatir Aufa ogah melihat bulu kemaluanku yang amat sangar saking lebatnya.

Lagian kalau bulu kemaluanku sedikit kanlebih asyik waktu merasakan jepitan liang vagina milik Aufa nantinya. Aku ngibrit keluar dari kamar mandi sambil setengah berlari kembali ke ruang tamu. Seperti tadi batang penisku kembali terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sanakemari.

Di ruang tamu kulihat kekasihku Aufa masih terduduk di atas sofa dan begitu melihatku keluar berlari tanpa pakai celana jadi terkejut lagi melihat batang penisku yang sedang tegang bergerak manggut-manggut naik turun.

"aawww..." teriaknya kembali sembari mulut dan mukanya ditutup lagi dengan kedua jemari tangannya. Aku tersenyum senang penuh nafsu yang ingin meledak rasanya.

Melihat tubuhnya yang masih memakai baju dan celana ketat itu aku jadi gemas kepingin segera melucutinya satu persatu sampai bugil. Aahh... aku ingin segera menyetubuhinya saja rasanya. Tapi aku berusaha menahan diri, itu tidak adil, aku ingin kami berdua harus bisa merasakan kenikmatan yang sama.

Aku tidak mau terjadi... nantinya salah satu merasa rugi. kalau aku sih pasti puass tapi bagaimana dengan Aufa? Dia pasti kesakitan nanti saat kusetubuhi karena dia masih perawan. Waah... aku harus merangsangnya dulu sampai dia orgasme sebelum kuperawani, perkara nanti saat kusetubuhi dia bisa orgasme lagi yah bagus bisa sama-sama puas.

Waahh, ini benar-benar detik-detik yang mendebarkan dan menegangkan. Satu perjaka dan satunya perawan. Sama-sama belum punya pengalaman seks selain cuma pakar di bidang film-film BF. Ingin rasanya hatiku bersorak saking nggak percayanya bahwa hari ini kesempatan emas itu telah datang tanpa kurencanakan sebelumnya.

"Iiihh... Dik Aufa... takut apa sih, kok mukanya ditutup begitu", tanyaku geli.

"Itu Mas, punya Mas", sahutnya lirih.

"Lhoo... katanya sudah sering nonton film BF kok masih takut, Dik Aufa kan pasti sudah lihat di film itu kalau alat vital punya cowok itu bentuknya gini, nah ini yang asli dik, the real thing sayang", sahutku geli. Dalam hati nih cewek barangkali kepingin tahu bagaimana rasanya digampar pakai penis cowok,

"Iya... m..Mas, tapi punya Mas mm besar sekalii", sahutnya masih sambil menutup muka.

"Yaach... ini sih kecil dik dibanding di film nggak ada apa-apanya, itu khan film barat, punya mereka jauh lebih gueedhee... kalau punya Mas kan ukuran orang Indonesia sayang, ayo sini dong punya Mas kamu pegang sayang, ini kan milik Dik Aufa juga", sahutku nakal.

"Iiih... malu aah Mas, jorok."

"Alaa.. malu-malu sih sayang, Mas Ari yang telanjang saja nggak malu sama kamu, masa Dik Aufa yang masih pakaian lengkap malu, ayo dong sayang punya Mas dipegang biar Dik Aufa bisa merasakan milik Dik Aufa sendiri", sahutku sembari kuraih kedua tangannya yang masih menutupi muka, pada mulanya dia menolak sambil memalingkan wajahnya ke samping, namun setelah kurayu-rayu akhirnya mau juga kedua tangannya kubimbing ke arah selangkanganku, namun kedua matanya masih dipejamkan rapat.

Dalam hati malu-malu tapi mau, jangan-jangan kalau sudah diberi, batang penisku malah diobok-obok, Joshua kali ngobok-obok air. Jantungku berdegup kencang juga saat melakukan itu, soalnya bagaimanapun juga seumur hidup belum pernah aku telanjang di depan cewek sambil mempertontonkan alat vitalku sendiri, apalagi sampai dipegang-pegang segala.

Wheeh... seperti mimpi rasanya saat jemari kedua tangan Aufa mulai menyentuh kepala penisku yang sedang ereksi. Apalagi batang penisku masih tetap manggut-manggut nggak bisa diam, Maklumlah the first time.

Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat menyentuh batang penisku yang ereksi namun karena aku memegang kedua tangannya dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang benda kesayanganku itu, akhirnya ia hanya menurut saja saat kurayu dia agar mau melakukannya.

Pertama kali Aufa hanya mau memegang dengan kedua jemarinya yang mungil. "Aah... terus sayang pegang erat dengan kedua tanganmu dik", rayuku penuh nafsu.

"Iiih... keras sekali Mas", bisik Aufa sambil tetap memejamkan matanya. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.

"Iya sayang, itu tandanya Mas sedang ereksi sayang, ayo dik genggam dengan kedua tanganmu, aahh..." aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Aufa bukannya malah menggenggam lagi tapi malah meremas kuat. Ia terpekik kaget.

"Iiih sakit mass..." tanyanya melihatku berteriak dan menggelinjang geli dan nikmat, remasan kedua jemari tangannya yang halus itu seolah membuat diriku kesetrum keenakan. Aufa menatapku gugup. Dan di sekitar situ aku tak melihat sehelai rambut kemaluan pun. Begitu bersih dan putih alat kelamin milik Aufa itu.

Aku hanya bisa melongo menyaksikan keindahan bukit kemaluannya dan tanpa terasa kedua tanganku sampai gemetar menyaksikan pemandangan yang baru pertama kalinya ini. "Oohh.. Aufa, indahnya..." Hanya kalimat itu yang sanggup kuucapkan saat itu, selanjutnya aku masih melongo menikmati keindahan sorga dunia milik kekasihku Aufa.

Bau yang keluar dari alat kelamin miliknya membuat hidungku jadi kembang kempis menikmati aroma aneh namun terasa menyenangkan buatku. Sesaat aku tiba-tiba mendengar suara sreek... sreeek... di atasku ketika aku mendongak ternyata kekasihku itu sedang membuka baju kaosnya, belum habis rasa kagetku setelah melemparkan kaosnya sekenanya kedua tangannya lalu menekuk ke belakang punggungnya hendak membuka BH-nya dan tesss... BH itupun terlepas jatuh di mukaku.

Puk, langsung aku jatuh terduduk dan hanya bisa melongo menyaksikan pemandangan indah yang lain. Selanjutnya Aufa melepas juga celana dan CD-nya yang masih tersangkut di mata kakinya, lalu sambil tetap berdiri di depanku mulutnya tersenyum manis kepadaku, walaupun wajahnya sedikit memerah karena malu ia berusaha untuk tetap tersenyum.

Alamak... buah dadanya itu ternyata memang berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira sebesar dua kali bola tenis, warnanya putih bersih hanya puting-puting kecilnya saja yang tampak berwarna merah muda kecoklatan. aah, cantiknya kekasih kecilku ini apalagi kalau sedang telanjang bulat seperti ini, aku tak menyangka tubuhnya yang sedang mekar ini sudah memiliki keindahan yang sangat sempurna. " Aufa kamu cantik sekali sayang", bisikku lirih.

Batang penisku semakin cenat-cenut tegang tak karuan. Lalu Aufa mengulurkan kedua tangannya kepadaku mengajakku berdiri lagi. Kini rasanya kami seperti Adam dan Hawa saja. Bertelanjang bulat satu sama lain seperti kaum nudis saja.

"Mass... Aufa sudah siap, Aufa sayang sama Mas, Aufa akan serahkan semuanya seperti yang Mas inginkan", bisiknya mesra. Aku merangkul tubuhnya yang telanjang merasa terharu. Badanku seperti kesetrum saat kulitku menyentuh kulit halusnya yang hangat dan mulus apalagi ketika kedua payudaranya yang bulat menekan lembut dadaku yang bidang. aah... aku merintih nikmat. Jemari tanganku tergetar saat mengusap punggungnya yang telanjang, begitu halus dan mulus.

Aku tak sanggup menahan gejolak nafsuku. Setan-setan burik di belakangku seakan menggelitik batang penisku agar aku segera menyetubuhinya.

"Aahh.. Aufa kita lakukan di kamar yuk, Mas sudah kepingin begituan sayang", bisikku tanpa malu-malu lagi. Aufa tersenyum dalam pelukanku. "Terserah Mas saja, mau melakukannya dimana", sahutnya mesra.

Tooiinng... batang penisku langsung manggut-manggut seolah sangat setuju. Dengan penuh nafsu aku segera meraih tubuhnya dan kugendong ke dalam kamar. Saat itu aku sempat melirik jam didinding ruangan sudah setengah tiga sore.

Waah harus cepat nih, bisa kemalaman nanti. Kurebahkan tubuh Aufa yang telanjang bulat itu di atas kasur busa di dalam kamar tengah, tempat tidur itu tak terlalu besar, untuk 2 orang pun harus berdempetan.

Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena memang aku sengaja menutup semua gorden agar tak kentara dari luar, walaupun gorden yang berada dalam kamar ini sama sekali tidak menghadap ke jalan umum namun menghadap ke kebun di belakang, jadi sebenarnya sangat aman.

Aku segera membuka gorden agar sinar matahari sore dapat masuk, dan benar saja begitu kusibakkan sinar matahari dari arah barat langsung menerangi seluruh isi kamar. Kulihat tubuh Aufa yang telanjang bulat kelihatan mengkilap karena pantulan sinar matahari namun tak sampai menyilaukan mata.

Jantungku berdegup kencang saat kunaiki ranjang dimana tubuh Aufa yang telanjang berada, ia memandangku tetap dengan senyumnya yang manis. Aku merayap ke atas tubuhnya yang bugil dan menindihnya, aku tak sabar ingin segera memasuki tubuhnya.

"Buka pahamu sayang, hh... Mas ingin menyetubuhimu sekarang", bisikku bernafsu. Aku merasakan kehangatan saat kulitku bersentuhan dengan kulitnya yang halus mulus. Buah dadanya kelihatan sangat kencang dan bundar dengan puting-putingnya yang kemerahan sangat menawan hatiku, namun kutahan sementara keinginanku untuk menjamah buah terlarangnya itu.

"Mass..." ia hanya melenguh pasrah saat aku setengah menindih tubuhnya dan batang penisku yang tegang itu mulai menusuk celah bukit kemaluannya, mencari liang vaginanya. Kurasakan bukit kemaluannya terasa lunak dan hangat. "Aahh..." tanganku tergetar saat kubimbing alat vitalku mengelus bukit kemaluannya yang empuk lalu menelusup di antara kedua bibir kemaluannya.

"Sayang... Mas masukkan yaah... kalau sakit bilang sayang.. kamu kan masih perawan."

"Pelan-pelan Mas ....", bisiknya pasrah. Lalu dengan jemari tangan kananku kuarahkan kepala penisku yang sudah tak sabar ingin segera masuk dan merobek selaput daranya itu. Aufa memeluk pinggangku mesra, sementara kulihat ia memejamkan kedua matanya seolah menungguku yang akan segera memasuki tubuhnya.

Aku mencari liang vaginanya di antara belahan bukit kemaluannya yang lunak, aku tak dapat melihat celah vaginanya karena posisi tubuhku yang memang tak memungkinkan untuk itu namun aku berusaha untuk mencari sendiri.

Kucoba untuk menelusup celah bibir kemaluannya bagian atas namun setelah kutekan ternyata jalan buntu. "Agak ke bawah Mas, aahh kurang ke bawah lagi Mas... mm.. yah tekan di situ Mas... aawww pelan-pelan Mas sakiiit", Aufa memekik kecil dan menggeliat kesakitan, namun segera kupegang pinggulnya agar jangan bergerak.

Akhirnya aku berhasil menemukan celah vaginanya itu setelah kekasihku itu menuntunku, akupun mulai menekan ke bawah, "Hhggkkghh..." kepala penisku kupaksa untuk menelusup ke dalam liang vaginanya yang sempit, terasa hangat dan sedikit basah. Kukecup bibir Aufa sekilas lalu aku berkonsentrasi kembali untuk segera dapat membenamkan batang penisku sepanjang 14 centi itu seluruhnya ke dalam liang vaginanya.

Aufa mulai merintih dan memekik-mekik kecil ketika kepala penisku yang besar mulai berhasil menerobos liang kemaluannya yang sangat-sangat sempit sekali.

"Tahan sayang... Mas masukkan lagi, hhggghh.... ahh sempit sekali sayang aahh", erangku mulai merasakan kenikmatan dan "sssrrrtt" kurasakan kepala penisku berhasil masuk dan terjepit ketat sekali dalam liang vaginanya.

 "aawwww.... masss sakiit..." teriak Aufa memelas, tubuhnya menggeliat kesakitan. Aku berusaha menentramkannya sambil kukecup mesra bibir mungil yang basah merekah dan kulumat dengan perlahan.

"mm... cuupp... cuuppp." Lalu, "Hhgghh... tahan sayang, baru kepalanya yang masuk sayang, Mas tekan lagi yaah", bisikku di antara rasa pedih dan nikmat karena jepitan liang vaginanya itu begitu ketat seolah-olah kepala penisku diremas oleh sebuah daging yang sangat kuat cengkeramannya walaupun terasa hangat dan lunak.

Waah, ini harus diminyaki dulu nih pikirku, kalau aku langsung memperawaninya bisa-bisa batang penisku ikut-ikutan lecet. Akhirnya sambil menahan keinginan seks-ku yang sudah menggelora kucabut kembali alat vitalku yang baru masuk kepalanya saja itu dengan perlahan. mm... nikmatnya saat penisku menggesek celah vaginanya.

"Ah... sayang, Mas masukin nanti saja deh... hh.. liang vaginamu masih sangat sempit dan kering sayang."

"Kemaluanku sakit Mas", erang Aufa lirih.

"Yahh... Mas tahu sayang kamu kanmasih perawan, kita bercumbu dulu sayang, Mas kepingin melihat Dik Aufa orgasme", bisikku bernafsu. Segera kurebahkan badanku di atas tubuhnya dan memeluknya dengan kasih sayang,

"aahh..." aku menggelinjang nikmat merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya, apalagi saat dadaku menekan kedua buah payudaranya yang montok rasanya begitu kenyal dan hangat, puting-puting susunya terasa sedikit keras dan lancip, mm.. mm. Kemudian kurasakan pula perut kami bersentuhan lembut dan yang paling merangsang adalah saat batang penisku yang kucabut tadi kini menekan nikmat bukit kemaluannya yang empuk.

Ingin rasanya aku mencoba untuk memasuki liang vaginanya lagi dan mengeluarkan air maniku sebanyak-banyaknya di dalam situ tapi aahh, aku tak ingin hanya diriku saja yang merasakan kenikmatan, aku ingin mencumbu kekasihku ini dulu

Mengulum bibirnya, meremas dan mengenyot-enyot kedua buah payudaranya dan terakhir akan kucumbu seluruh tubuhnya dari atas sampai ke kaki, kukecup dan kucumbu alat kelaminnya, kujilati bibir vagina dan clitorisnya sampai Aufa kekasih kecilku ini merasakan kenikmatan seks sesungguhnya dan orgasme sepuasnya. "Aufa... hh.. bagaimana perasaanmu sayang", bisikku mesra. Ia memandangku dari jarak yang kurang dari 10 centi dan tertawa renyah.

"mm... Aufa bahagia sekali bersama Mas seperti ini, rasanya nikmat ya Mas berpelukan sambil telanjang kaya gini", ujarnya polos.

"Iyaa sayang, anggaplah Mas suamimu saat ini sayang", bisikku nakal.

"Iih.. Mas Ari, mm... mm.. Mas cumbui isterimu dong, beri istrimu kenik... mmbhh", belum sempat ia selesai ngomong, aku sudah melumat bibirnya yang nakal itu, Aufa membalas ciumanku dan melumat bibirku dengan mesra.

Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan Aufa langsung mengulumnya hangat, begitu sebaliknya. Semua terasa indah. Kurayapkan jemari tangan kiriku ke bawah menelusuri sambil mengusap tubuhnya mulai pundak terus ke bawah sampai ke pinggulnya yang hangat padat dan kuremas gemas,

Ketika tanganku bergerak kebelakang ke bulatan bokongnya yang bulat merangsang bersamaan dengan itu aku mulai menggoyangkan seluruh badanku menggesek tubuh Aufa yang bugil terutama pada bagian selangkangan dimana batang penisku yang sedang tegang-tegangnya menekan gundukan bukit kecil milik Aufa yang empuk, kugerakkan pinggulku secara memutar sambil kugesek-gesekkan batang penisku di permukaan bibir kemaluannya yang empuk sambil sesekali kutekan-tekan nikmat.

Aufa ikut-ikutan menggelinjang kegelian namun ia sama sekali tak menolak walaupun beberapa kali kepala penisku yang tegang salah sasaran memasuki belahan bibir kemaluan atau labia mayoranya seolah akan menembus liang vaginanya lagi. Ia hanya merintih kesakitan dan memekik kecil kalau aku salah menekan.

"Aawwww... Mas saakiit", erangnya membuatku makin terangsang saja.

"Aahh.. Aufa... kemaluanmu empuk sekali sayang, ssshh", aku melenguh keenakan. Setan-setan burik di belakangku semakin gila berjoget dangdut, seolah-olah bernyanyi, "Hangat terasa... terlenaa".

Beberapa menit kemudian setelah kami puas bercumbu bibir, aku menggeser tubuhku kebawah sampai mukaku tepat berada di atas kedua bulatan payudara yang bundar bak buah apel, kini ganti perutku yang menekan bukit kemaluannya yang empuk itu, woooww enakk.

Jemari kedua tanganku secara bersamaan mulai menggerayangi gunung "Fujiyama" miliknya itu, seolah hendak mencakar kedua payudaranya kelima jemari masing-masing tanganku kurenggangkan satu sama lain dan membentuk seperti cakar burung dan aku mulai menggesekkan ujung-ujung jemariku mulai dari bawah payudaranya di atas perut terus menuju gumpalan kedua buah dadanya yang kenyal dan montok.

Aufa merintih dan menggelinjang antara geli dan nikmat. "Mass... mm... iih geli Mas", erangnya lirih. Beberapa saat kupermainkan kedua puting-puting susunya yang kemerahan dengan ujung jemariku. Aufa menggelinjang lagi, kupuntir sedikit putingnya dengan lembut.

"mm Mas..." Aufa semakin mendesah tak karuan. Aku tak tahan, secara bersamaan akhirnya kuremas-remas gemas kedua buah dadanya dengan sepenuh nafsu.

"Aawww... Mas... nngggg", Aufa mengerang dan kedua tangannya memegangi kain sprei dengan kuat. Aku semakin menggila tak puas kuremas lalu mulutku mulai menjilati kedua buah dadanya secara bergantian.

Lidahku kujulur-julurkan menjilati seluruh permukaan susunya itu sampai basah, mulai dari payudara yang kiri lalu berpindah ke payudaranya yang kanan, kugigit-gigit puting-puting susunya secara bergantian sambil kuremas-remas dengan gemas sampai Aufa berteriak-teriak kesakitan.

"Maass.... ssshh... shh... oohh.... oouwww... masss", erangnya. Lima menit kemudian lidahku bukan saja menjilati kini mulutku mulai beraksi menghisap kedua puting-puting susunya sekuat-kuatnya. Aku tak peduli Aufa menjerit dan menggeliat kesana-kemari

Sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meremasi rambut kepalaku yang bergerak liar, sementara kedua tanganku tetap mencengkeram dan meremasi kedua buah dadanya bergantian sambil kuhisap-hisap dengan penuh rasa nikmat.

Bibir dan lidahku dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap kedua payudaranya yang kenyal dan padat. Di dalam mulut puting susunya kupilin-pilin dengan lidahku sambil terus menghisap sampai pipiku terasa kempot, aku menghayal meminum air susunya.

Aufa hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat ketika gigiku menggigiti putingnya dengan gemas, hingga tak heran kalau di beberapa tempat di kedua bulatan susu-susunya itu nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitanku.

Mm... mm... ini benar-benar nikmat, susu asli cap Nona pikirku dalam hati. Cukup lama sekali aku menetek susunya, mungkin sekitar 15 menit, sampai setelah cukup puas bibir dan lidahku kini merayap menurun ke bawah.

Kutinggalkan kedua belah payudaranya yang basah dan penuh dengan lukisan bekas gigitanku dan juga cupangan berwarna merah bekas hisapanku, sangat kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih. Ketika lidahku bermain di atas pusarnya,

Aufa mulai mengerang-erang kecil keenakan, bau tubuhnya yang harum bercampur dengan keringatnya yang kas menambah nafsu seks-ku semakin memuncak, kukecup dan kubasahi seluruh perutnya yang kecil sampai basah.

Ketika aku bergeser ke bawah lagi dengan cepat lidah dan bibirku yang tak pernah lepas dari kulit tubuhnya itu telah berada di atas gundukan bukit kemaluannya yang indah mempesona. "Buka pahamu Din.." teriakku tak sabar, posisi pahanya yang kurang membuka itu membuatku kurang leluasa untuk mencumbu alat kelaminnya itu. "Oooh... masss", Aufa hanya merintih lirih, kelihatannya dia sudah lemas kupermainkan sejak tadi, tapi aku tahu dia belum orgasme walaupun sudah sangat terangsang semenjak kuhisap kedua buah dadanya.

Sekarang ini aku ingin merasakan kelezatan cairan kewanitaan dari liang vaginanya, sebab pernah sohibku bilang terus terang kepadaku kalau ia sangat ketagihan untuk selalu meminum cairan lendir pacarnya ketika mereka sedang melakukan oral seks, katanya rasanya aneh tapi membuat dirinya bergairah.

Aku membetulkan posisiku di atas selangkangan kekasihku. Aufa membuka ke dua belah pahanya lebar-lebar, ia sudah sangat terangsang sekali. Kini wajahnya yang manis kelihatan kusut dan rambutnya tampak awut-awutan. Kedua matanya tetap terpejam rapat namum bibirnya kelihatan basah merekah indah sekali. Kedua tangannya juga masih tetap memegangi kain sprei, kelihatannya dia tegang sekali.

"Sayang... jangan tegang begitu dong sayang", kataku mesra.

"Lampiaskan saja perasaanmu, jangan takut kalau Dik Aufa merasa nikmat, teriak saja sayang biar puass...." kataku selanjutnya. Sambil tetap memejamkan mata ia berkata lirih.

"I... iya mass eenaak sih mass", katanya polos. Aku tersenyum senang,

"Sebentar lagi kau akan merasakan kenikmatan yang luar biasa sayang", bisikku dalam hati, dan setelah itu aku akan merenggut kegadisanmu dan menyetubuhimu sepuasnya.

Kupandangi beberapa saat keindahan bentuk alat kelaminnya itu, baru pertama kali ini aku menyaksikan alat kelamin wanita. Ternyata di samping baunya sangat khas dan merangsang hidungku, keringat yang membasahi di sekitar selangkangannya pun berbau harum dan khas.

Dari yang sering aku lihat di VCD ataupun di majalah, bentuk alat kelamin milik Aufa ini termasuk masih Fresh, maksudnya di samping masih belum ditumbuhi sehelai rambutpun namun juga kulit di bibir vagina dan di sekitar alat kelaminnya itu tidak tampak keriput sedikitpun, masih kelihatan halus dan kencang.

Labia mayoranya kelihatan gemuk dan padat berwarna putih sedikit kecoklatan, sedangkan celah sempit yang berada di antara kedua labia mayoranya itu tertutup rapat sehingga aku tidak bisa melihat lubang vaginanya sama sekali.

Benar-benar gadis perawan asli pikirku bangga. Aahh, betapa nikmatnya nanti saat celah kemaluan dan liang vaginanya menjepit batang penisku, akan kutumpahkan sebanyak-banyaknya nanti air maniku ke dalam liangnya sebagai tanda hilangnya keperjakaanku.


Aku juga ingin nantinya Aufa bisa merasakan semprotan air maniku yang hangat dan banyak agar ia dapat pula merasakan kenikmatan yang sedang kurasakan. Cukup lama aku melamun sambil memandangi keindahan alat kelaminnya sembari menikmati aroma khas yang keluar dari celah vaginanya yang rapat, saat tiba-tiba Aufa berbisik lirih menyadarkanku.

"Mas... ngapain sih kok ngelamun, bau yaa Mas?" tanyanya sambil tersenyum manis. Wajahnya walaupun sedikit kusut berkeringat tapi tetap manis sekali.

"Nnngghh... abisnya punyamu lucu sih, bau lagi", balasku nakal.

"Iiihh... jahat", Belum habis berkata begitu tangan Aufa bergerak memegang kepalaku dan mengucek-ucek rambut kepalaku. Aku tertawa geli. Selanjutnya tanpa kuduga kedua tangannya itu menekan kepalaku ke bawah, sontak mukaku terutama hidung dan bibirku langsung nyosor menekan bukit kemaluannya, "mffmffphh..." hidungku menyelip di antara kedua bibir kemaluannya, empuk dan hangat.

Kuhirup sepuas-puasnya bau alat kelaminnya penuh perasaan, sementara bibirku mengecup bagian bawah labia mayoranya dengan bernafsu. Kuputar kepalaku sekitar 40 derajat, sementara jemari kedua tanganku merayap ke balik pahanya dan meremas bokongnya yang bundar dengan gemas.

Aku mulai mencumbui bibir kemaluannya yang tebal itu secara bergantian seperti kalau aku mencium bibir Aufa. Puas mengecup dan mengulum bibir bagian atas, aku berpindah untuk mengecup dan mengulum bibir kemaluannya bagian bawah.

Rasanya, mm ada sedikit manis dan asin bercampur bau vaginanya yang memabukan, pokoknya dari Sabang sampai Merauke sudah nggak bisa diungkapkan.

Nggak heran karena ulahku Aufa sampai menjerit-jerit karena nikmatnya, tubuhnya menggeliat hebat dan terkadang meregang kencang, beberapa kali kedua pahanya sampai menjepit kepalaku yang lagi asyik masyuk bercumbu dengan bibir kemaluannya.

Kupegangi kedua belah bokongnya yang sudah berkeringat agar tidak bergerak terlalu banyak, bagaimanapun juga aku tak rela melepaskan pagutan bibirku pada labia mayoranya yang merangsang. Salah sendiri pikirku siapa dulu yang mulai.

"mm.. masss... aauuuwwww... auuuwwww... aawwww... hggghhkkhh... mass... aduuh.... enaak masss... aahh aduhh... oouuhh", Aufa mengerang-erang dan tak jarang memekik cukup kuat saking nikmatnya. Kedua tangannya bergerak meremasi rambut kepalaku sampai kacau, sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya yang seksi.

Kadang pantatnya Aufaikkannya sambil mengejan nikmat atau kadang digoyangkan memutar seirama dengan jilatan lidahku pada seluruh permukaan alat kelaminnya yang montok itu. "Masss... oouhh... yaahh... yaahah... mass huhuhu.. huhu..."

Aufa berteriak makin keras, dan terkadang seperti orang menangis mungkin saking tak kuatnya menahan kenikmatan yang kuciptakan pada alat kelaminnya. Tubuhnya menggeliat hebat dan kulihat sambil mulutku tetap memagut bibir kemaluannya, kepala kekasihku dipalingkan ke kiri dan ke kanan dengan cepat, mulutnya mendesis dan mengerang tak karuan.

Aku semakin bersemangat melihat tingkahnya, sebentar lagi Aufa pasti orgasme, kini mulutku semakin buas, dengan nafas setengah memburu kusibakkan bibir kemaluannya yang menawan dengan jemari tangan kananku, mm.. hangat dan empuk, kini kulihat daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurku bercampur dengan cairan lendir kewanitaannya

Agak sebelah bawah dagingnya itu barulah aku dapat melihat celah liang vaginanya yang amat sangat kecil dan berwarna kemerahan pula, aku mencoba untuk membuka bibir kemaluan Aufa agak lebar agar aku dapat mengintip ke dalam liang vagina mungilnya bagaimana bentuk selaput daranya, namun Aufa tiba-tiba memekik kecil ternyata aku terlalu lebar menyibakkan bibir kemaluannya itu sehingga ia mengerang kesakitan.

"aawww... iiih... mass.. sakiit", pekiknya kesakitan. Aku jadi terkejut dan menyesal. "Eeeh... maaf sayang, sakit yaa..." bisikku khawatir. Kuusap dengan lembut penuh kemesraan bibir kemaluannya agar sakitnya hilang, sebentar kemudian lalu kusibakkan kembali pelan-pelan bibir nakalnya itu

Celah merahnya kembali terlihat, agak ke atas dari liang vaginanya yang sempit itu aku melihat ada tonjolan daging kecil sebesar kacang hijau yang juga berwarna kemerahan, inilah clitorisnya bagian paling sensitif dari alat kelamin wanita.

Mmm... ini dia biang kenikmatan bagiperempuan pikirku, lalu secepat kilat dengan rakus lidahku kujulurkan sekuatnya keluar dan mulai menyentil-nyentil daging clitorisnya. Benar saja karena tiba-tiba Aufa memekik sangat keras sambil menyentak-nyentakkan kedua kakinya ke bawah.

Aufa mengejan hebat, aku sampai kaget dibuatnya karena pinggulnya bergerak liar dan kaku, jilatanku pada clitorisnya jadi luput. Dengan gemas aku memegang kuat-kuat kedua belah pahanya yang putih mulus lalu kembali kutempelkan bibir dan hidungku di atas celah kedua bibir kemaluannya

Kujulurkan lidahku keluar sepanjang mungkin lalu kutelusupkan lidahku menembus jepitan bibir kemaluannya dan kembali menyentil nikmat clitorisnya dan, "Hgghggh... hghghghgh... shshhsh...." Aufa memekik tertahan dan mendesis panjang tubuhnya kembali mengejan sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya yang kecil

Pantatnya diangkat ke atas sehingga memberi keuntungan bagiku untuk lebih dalam memasuki celah labia mayoranya menyentil-nyentil clitorisnya. Begitu singkat karena tak sampai 1 menit tiba-tiba kudengar Aufa terisak menangis dan kurasakan di dalam mulutku terasa ada semburan lemah dari dalam liang vaginanya berupa cairan hangat agak kental banyak sekali.

Aku menyentil clitorisnya beberapa saat sampai kurasakan tubuh Aufa mulai terkulai lemah dan akhirnya pantatnya pun jatuh kembali ke kasur.

Aufa melenguh panjang pendek meresapi kenikmatan yang baru ia rasakan, kenikmatan sorga dunia miliknya, sementara aku masih menyedot sisa-sisa lendir yang keluar hasil orgasmenya yang terasa asin manis dari celah kemaluannya yang kini tampak agak memerah.

Seluruh selangkangannya itu tampak basah penuh air liur bercampur lendir yang kental. mm... mm... aku menjilati seluruh permukaan bukit kemaluannya sampai agak kering, cairan lendirnya itu membuatku semakin bergairah.

 Perasaanku benar-benar fresh setelah menghirup dan menelan cairan lendir vaginanya. Aku tak tahu apa memang cairannya itu mengandung vitamin atau obat perangsang, masa bodoh yang jelas kini nafsu seks-ku telah memuncak, aku akan melakukan tugasku sebagai seorang laki-laki.

"Sayaang... puas kan..." bisikku lembut namun Aufa sama sekali tak menjawab, matanya terpejam rapat namun mulutnya kelihatan tersenyum bahagia.

"Giliranku sayang, Mas mau masuk nih... tahan sakitnya sayang", bisikku lagi tanpa menunggu jawabannya.

Aku segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuhnya yang telanjang berkeringat. Buah dadanya yang penuh lukisan hasil karyaku kelihatan turun naik mengatur napas. Sebodoh pikirku, dengan agak kasar kutarik kakinya ke atas dan kutumpangkan kedua pahanya pada pangkal pahaku sendiri sehingga kini selangkangannya menjadi terbuka lebar mempertontonkan alat kewanitaannya yang merangsang itu.

Kutarik bokongnya ke arahku sehingga batang penisku yang sudah sengsara cukup lama hampir 1 jam itu langsung menempel di atas bukit kemaluan milik Aufa yang masih basah. Kuusap-usapkan kepala penisku pada kedua belah bibir kemaluannya yang lunak dan lalu beberapa saat kemudian dengan nakal batang penisku kutepuk-tepukkan dengan gemas ke alat kelamin Aufa.

Puk... puk... puk... puk... puk... Aufa menggeliat manja dan tertawa kecil, dirinya sudah kembali normal setelah dengan susah payah ia mendaki puncak kenikmatan.

"Mas... iiih.. gelii.. aah", jeritnya manja. Giginya yang putih kelihatan cerah, secerah wajah manisnya yang kembali bersinar lagi.

"Sayaang, penis Mas mau masuk nih... tahan yaa sakitnya", bisikku nakal penuh nafsu.

"Iiihh... jangan kasar ya mass... pelan-pelan saja masukinnya, Aufa takut sakiit", sahut Aufa polos penuh kepasrahan.

Aku jadi terharu mendengarnya, aku jadi tak tega untuk merenggut kegadisannya tapi sayang batang penisku ini tak bisa diajak kompromi. Aku kasihan pada milikku yang sudah sengsara sejak seminggu lalu belum juga kulampiaskan.

Ah, sebodoh. Sedikit kusibakkan bibir kemaluan miliknya dengan jemari kiriku, lalu ku arahkan kepala penisku yang besar ke liang vaginanya yang sempit, teng... teng... teng.. batang penisku semakin tegang melihat liang vaginanya itu.

Aku mulai menekan dan Aufa pun meringis, aku tekan lagi... akhirnya perlahan-lahan mili demi mili liang vaginanya itu membesar dan mulai menerima kehadiran kepala penisku. Aufa menggigit bibir. Kulepaskan jemari tanganku dari bibir kemaluannya dan plekk... bibir kemaluannya langsung menjepit nikmat kepala penisku.

"Tahan sayang..." bisikku bernafsu. Aufa hanya mengangguk pelan, matanya lalu dipejamkan rapat-rapat dan kedua tangannya kembali memegangi kain sprei. Agak kubungkukkan badanku ke depan agar pantatku bisa lebih leluasa untuk menekan ke bawah.

"Heekkgh..." aku menahan napas sambil memajukan pinggulku dan sssrrrtt... crrkk... akhirnya kepala penisku mulai tenggelam di dalam liang vaginanya. Wow, nikmatnya saat liang vaginanya menjepit kepala rudalku

Daging vaginanya terasa hangat dan agak licin, namun cengkeramannya begitu kuat seakan-akan kepala penisku seperti diremas-remas saja, kulihat urat-urat batang kemaluanku makin menonjol keluar saking banyaknya darah yang mengalir ke situ, aku kembali menekan,

"hhgghgggghh", dan Aufa mulai menjerit kesakitan, aku tak peduli, mili demi mili batang penisku secara pasti terus melesak ke dalam liang vaginanya dan tiba-tiba setelah masuk sekitar 4 centi seperti ada selaput lunak yang menghalangi kepala penisku untuk terus masuk, aku terus menekan dan "tesss" aku merasa seperti ada yang robek, bersamaan dengan itu Aufa melengking keras sekali lalu menangis terisak-isak.

"aauuwwww... huk.. huk... huu... huu", Wah selaput daranya robek nih pikirku, sebentar lagi pasti keluar darah, namun aku tak begitu peduli karena aku terus menekan, "Hgggghhgghgh..." batang penisku dengan ngotot terus memaksa memasuki liang vagina milik Aufa yang luar biasa sempit itu.

Kulihat bibir kemaluannya mekar semakin besar, kulihat betapa ketatnya liang kemaluannya itu menjepit batang penisku yang sudah masuk sekitar 6 centi,

"Aagghh.." aku menahan rasa nikmat jepitan vaginanya. Kupegang pinggul Aufa yang seksi mungil, dan kutarik kearahku "srrrtt... crrkrtt..." batang penisku masuk makin ke dalam, "Ooouhh", nikmatnya setengah mati.

Aufa terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara aku sendiri malah merem melek keenakan. Aku harus cepat, kalau tidak Aufa kekasihku terlalu lama menderita, kupegang pinggul Aufa lebih erat lalu aku mengambil nafas dan ancang-ancang, ini harus segera dibenamkan seluruhnya.

Dan, "hhghgghghk..." aku menghentak keras ke bawah, "Sssrt ccrrtt... crrtt..." dengan cepat batang penisku mendesak masuk liang vagina Aufa, "Waahhghh..." aku mengerang nikmat hampir saja air maniku muncrat saking kuatnya gesekan dan jepitan vagina milik si Aufa ini.

"Oouughhgh..." aku mengatur nafas agar air maniku nggak keburu muncrat, kulihat tinggal sedikit kira-kira 3 centi yang belum masuk. Kuhentakkan lagi pantatku ke bawah dan "Crrreet.. set.." akhirnya batang penisku sepanjang 14 centi secara sempurna telah tenggelam sampai kandas terjepit di antara bibir kemaluan dan liang vaginanya.

"Oooggghh..." aku berteriak keras saking nikmatnya, mataku mendelik menahan jepitan ketat vagina Aufa yang luar biasa. Sementara Aufa hanya memekik kecil lalu memandangku sayu. Bibirnya tergetar namun ia mencoba untuk tersenyum kepadaku.

Wajahnya yang manis menatap sayu kepadaku. "Mass... Aufa sudah nggak perawan lagi sekarang", bisiknya lirih sambil tersenyum. Akupun begitu, aku menatap bangga kekasihku itu, ia rela mengorbankan keperawanannya demi aku yang baru dikenalnya kurang dari satu minggu. "Aufa sayang, Mas sekarang juga nggak perjaka lagi", balasku mesra. Kami sama-sama tersenyum.

Kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang telanjang, aku memeluknya penuh kasih sayang, payudaranya kembali menekan dadaku, nikmat. Tubuh kami telah menyatu, dalam suatu persetubuhan indah.

Kurasakan vagina Aufa menjepit dan meremas kuat batang penisku yang sudah amblas semuanya. Kami saling berpandangan mesra, kuusap mesra wajahnya yang masih menahan sakit menerima tusukan alat vitalku.

Setan-setan burik di belakangku seolah memproklamirkan kemerdekaannya. "Mas... bagaimana rasanya", bisik Aufa mulai mesra kembali, walaupun sesekali kadang ia menggigit bibir menahan sakit.

"Enaak sayang.. dan nikmaat... oouhh Mas nggak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sayang... selangit pokoknya", bisikku. Ia tersenyum senang dan mencubit pipiku. Kukecup mesra hidungnya yang bangir.

"Mass... bagaimana kalau Aufa sampai hamil?" bisiknya sambil tetap tersenyum.

"Oke... nanti setelah bersetubuh kita cari obat di apotik, obat anti hamil", bisikku gemas.

"Iihh... nakal..." sahutnya sambil kembali mencubit pipiku.

"Biariin..."

"Maasss..." Aufa agak berteriak.

"Apaan sih..." tanyaku kaget. Lalu sambil agak bersemu merah pipinya ia berkata lirih.

"Goyaang dong..." bisiknya hampir tak terdengar.

"Iiih Dik Aufa kebanyakan nonton film porno, kan itunya masih sakiit", jawabku sekenanya.

"Pokoknya, goyang dong Mas..." sahutnya manja. Aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dan iapun membalas dengan tak kalah bernafsu. Kami saling berpagutan lama sekali lalu sambil tetap begitu aku mulai menggoyang pinggul naik turun.

Batang penisku mulai menggesek liang vaginanya dengan kasar, "ccrrrtt.. crrttt..." pinggulku menghunjam-hunjam dengan cepat mengeluar masukkan batang penisku yang tegang. Aufa memeluk punggungku dengan kuat, ujung jemari tangannya menekan punggungku dengan keras.

Kukunya terasa menembus kulitku. Tapi aku tak peduli, aku sedang menyetubuhi dan menikmati tubuhnya. Batang penisku seakan dibetot dan disedot oleh liang vaginanya yang benar-benar super sempit itu.

Aufa merintih dan memekik kesakitan dalam cumbuanku. Beberapa kali malah ia sempat menggigit bibirku, namun itupun aku tak peduli. Aku hanya merasakan betapa liang vaginanya yang hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat batang penisku, seakan mengenyot nikmat, ketika kutarik keluar terasa daging vaginanya seolah mencengkeram kuat alat vitalku, sehingga betapa aku memaksa untuk keluar daging vaginanya terasa ikut keluar.

"Aggghh..." nikmatnya luar biasa sekali, aku sampai mendesis panjang saking nikmatnya. Aku mengira tak lebih dari 2 centi saja batang penisku yang bergerak keluar masuk menggesek liang vaginanya, itupun susahnya setengah mati, walaupun sangat nikmat. Aufa melepaskan ciumannya dan mencubit pinggangku sakit sekali.

"Awww... aduuh Mass... sakit Masss... aduuhh... ngilu Mas.... iiihh..." ia berteriak kesakitan. Aku jadi kasihan melihatnya, habis enaak sih.

"Maaf sayang... Mas mainnya kasar yaah? Mas nggak tahan lagi sayang aahhgghghh", bisikku sambil menahan rasa nikmat pada alat vitalku. Air maniku kurasakan sudah mendesak ingin muncrat keluar,

"Oouuhhggh..." air maniku mau keluar. Desahku sambil menyemprotkan air mani yang banyak di liang vaginanya. Kami pun berpelukan puas atas kejadian tersebut. Dan tanpa terasa kami ketiduran sambil berpelukan telanjang bulat karena kecapaian dalam permainan tadi, sungguh suatu kenikmatan yang tiada terkira.

Tamat.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil