Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Selingkuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Selingkuh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2016

Cerita Sex Jerita Rintih Ibu Dera

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Jerita Rintih Ibu Dera.  Terlihat Dera yang sedang di praktek Dokter Kandungan, dia seakan akan masih ada rasa takut setelah kejadian yang menimpanya, di atakut kalau hamil karena sperma oranglain pastinya suaminya juga bertanya Tanya jika dia hamil, kebutalan suaminya lagi keluar kota selama 3 minggu, Dera sedang mendatangi tempat praktek ke dokter kandungan untuk memastikan dia hamil atau tidak.

Cerita Dewasa Jerita Rintih Ibu Dera

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan
Cerita Mesum Jerita Rintih Ibu Dera
Dia ingin cepat-cepat berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk memastikan alat kontrasepsi apa yang cocok untuk dia, karena Dera ingin segera merasakan kepuasan bersenggama kembali, hampir lebih dari 2 minggu, Dera tidak dapat menikmati sodokan-sodokan ******-****** perkasa yang dapat memberikan kepuasan kepada dirinya, karena ia takut akan hamil.

bu Dera,

Dera mendengar namanya dipanggil.

Yach, betul, Dera menjawab, dan menengok kearah siempunya suara yang ternyata suster di tempat praktek ini.

Sekarang giliran ibu, kata suster tersebut, mari ikut saya, bu.!!

Oh..yach, jawab Dera, sambil berdiri dan mengikuti suster itu menuju keruangan praktek.

Dera baru menyadari tempat praktek dokter kandungan yang tadi lumayan penuh dengan pasien, sekarang telah kosong, Dera menyadari bahwa ia adalah pasien terakhir.

Dok, ini ibu Dera pasien terakhir kita malam ini, Kata suster itu kepada lelaki yang berada didalam ruangan praktek itu

Dalam hati Dera membatin,masih muda nih dokter, dan wajahnya lumayan ganteng, Dera memperkirakan dokter ini seumuran dia.

Malam, dok, Dera menyapa si dokter.

Malam, juga Bu! Silahkan duduk bu! Apa yang bisa saya bantu??, si dokter menjawab sambil bertanya dan mempersilahkan Dera duduk.

Sebelum sempat Dera menjawab pertanyaan sang dokter, ia mendengar si suster berkata, Dok, ibu Derakan pasien terakhir, dan saya kebetulan ada keperluan keluarga, boleh saya pulang lebih dulu,

Oh..ok,  jawab si dokter sambil beranjak dari tempat duduknya.

Sebentar yach bu,kata si dokter ke Dera, lalu dokter itu keluar dari ruangan mengikuti si suster.

Tak lama kemudian dokter itu kembali dan berkata kepada Dera, maaf yach bu, soalnya saya harus mengunci pintu depan, kalau tidak nanti ada orang dating lagi untuk berobat atau berkonsultasi, padahal ibu Dera-kan pasien saya terakhir apalagi suster saya sudah pulang

Oh..gak apa-apa kok, balas Dera

Nach, sekarang apa keluhan ibu, mudah-mudahan saya bisa bantu, tanya si dokter.

Begini dok, saya ingin memakai alat kontrasepsi, tapi saya tidak mau kalau suami saya itu memekai kondom, jadi kira-kira alat kontrasepsi apa yang bagus untuk saya, Dera menjelaskan maksud tujuannya datang ketempat praktek ini.

Oh itu, memang ibu dan suami sudah tidak berkeinginan untuk mempunyai anak lagi, ngomong-ngomong sudah punya berapa anak? tanya sang dokter lagi.

yach begitulah, saat ini kami mempunyai satu anak,  jawab Dera sedikit berbohong, karena tidak mungkin ia menjelaskan kedokter bahwa ia ingin lebih puas dalam menikmati ******-****** perkasa tanpa takut akan hamil.

Baru satu?? Memang tidak berkeinginan nambah, bu?? si dokter memastikan.

Hmmhhbetul, Dera menjawab sambil tersenyum.

Lalu ibu mau yang sementara atau selamanya, tanya sidokter.

maksudnya?? Dera balik bertanya.

Begini loh, Bu!. Kalau sementara saya sarankan ibu untuk menggunakan spiral, tapi kalau ibu dan suami ingin untuk selamanya tidak mempunyai anak lagi, yach! Saya menyarankan ibu untuk disteril, maksud saya saluran indung telur ibu harus saya tutup rapat, jadi kalau ibu berhubungan dengan suami,

Sperma suami ibu tidak dapat lagi menerobos kesaluran indung telur ibu, dengan begitu saya jamin tidak ada satupun indung telur ibu yang dapat dibuahi oleh sperma suami ibu, jelas sang dokter panjang lebar.

Ooohhh begitu,gumam Dera,Kalau gitu saya pilih yang sementara saja, siapa tahu nanti kita ingin mempunyai anak

Ibu mengambil keputusan yang tepat, nach sekarang ibu silahkan berbaring disana, saya akan mempersiapkan peralatannya, kata si dokter sambil menunjuk kearah ranjang.

Bajunya dan CDnya tolong dilepas, Bu!!, terus ibu kenakan ini lanjut sidokter sambil memberikan jubah berwarna biru muda.

wah, bu!! terbalik pakai jubahnya, dokter itu berkata sambil tersenyum saat melihat Dera mengenakan jubah itu dengan bagian yang terbukanya berada didepan.

Bagian yang terbukanya itu untuk dibelakang, kalau ibu pakai seperti itu nanti saya gak akan selesai-selesai memasang alat kontrasepsinya, karena mata saya akan melihat kedada ibu terus, lanjut sidokter sambil bercanda ke Dera.

Ohhhhe..he..dokter bisa aja, Dera tersipu malu mendengar guyonan si dokter, sambil membetulkan jubah tersebut, kemudian iapun berbaring diranjang.

Dera bingung melihat ranjang tersebut karena panjang ranjang tersebut tidak sepanjang ranjang-ranjang yang biasa ada ditempat-tempat praktek dokter, panjang ranjang ini hanya sampai sebatas pantatnya saja, sehingga kedua kakinya terjuntai kebawah, Derapun melihat adanya keanehan dengan ranjang ini, dimana disamping kiri dan kanan kedua kakinya ada bantalan cekung dan letaknya lebih tinggi dari ranjangnya.

Setelah selesaimempersiapkan peralatannya, sang dokter menghampiri ranjang tersebut, melihat posisi rebahan Dera diatas ranjang, dokter itupun tersenyum simpul,

Ibu, baru pertama kali yach datang kedokter kandungan??,tanya sidokter tersenyum.

Tanpa menunggu jawaban Dera, sang dokterpun mulai mengangkat kaki Dera satu persatu dan menempatkan dibantalan cekung yang berada disamping kiri kanan kaki Dera itu, perbuatan sidokter membuat Dera terhenyak,

Dera tahu dengan posisinya dimana kedua kakinya terangkat dan terbuka lebar ini, kemaluannya akan Nampak jelas didepan sidokter, mukanyapun menjadi merah karena menahan malu, melihat Dera yang tersipu-sipu malu dan wajahnya menjadi merah, sidokter hanya tersimpul dan diapun merasa yakin sekali bahwa ini adalah kunjungan yang pertama Dera ke dokter kandungan.

Maaf, yach, Bu, sidokter berkata saat jari jemarinya mulai menyentuh bibir vagina Dera.

Hhmmmhh Dera hanya bisa mengangguk, karena menahan malu dan perasaan yang aneh saat jari-jari sidokter menyentuh bibir vaginanya.

Kedua jari tangan kiri sidokter mencoba untuk sedikit membuka lubang vagina Dera dari sebelah atas, sehingga kelentit Dera tersentuh oleh telapak tangan sidokter, sementara tangan kanan sidokter mencoba untuk memasukkan peralatan hampir seperti corong

Agak lumayan lama sidokter berkutat untuk memasukkan alat itu kelubang vagina Dera, sementara Dera merasakan geli yang aneh dan nikmat saat kelentitnya tergesek-gesek oleh tangan sidokter, akibatnya gelora birahi Dera mulai bangkit, memeknya mulai basah.

Ouugghhh..ssshhhh, Dera menjerit lirih saat merasakan alat yang seperti corong berdiameter 3cm terbenam di dalam lubang senggamanya, pantatnya terangkat sedikit, kedua tangannya mencengkram pinggiran ranjang dengan erat.

Maaf..bu.!! sakit!! Tahan sebentar yach, saya akan mulai memasang spiralnya, kata sidokter.

Si dokter merasa heran dengan kondisi lubang vagina Dera yang masih sempit ini, dalam hatinya ia berkata, gila nich ibu, udah keluar satu anak, tapi masih sempit begini, sepertinya juga jarang dipakai oleh suaminya,

Sambil tangannya memijat-mijat pelan kedua belah bibir vagina Dera dengan tujuan untuk membuat rileks otot-otot vagina Dera, saat ia sedang memijat-mijat itu dari corong kacanya itu ia melihat lubang vagina Dera yang berwarna merah muda itu berkedut-kedut

Belum pernah selama ia praktek melhat kejadian ini, karena sudah berpengalaman ia mengetahui bahwa tebakannya itu betul, memek Dera jarang dipakai oleh suaminya, karena hanya dengan alat yang teronggok diam saja memek Dera sudah basah.

Hhhhmmmmsssshhhh.hhhmmmm..ssshhhh.. Dera merintih lirih menikmati pijatan-pijatan lembut dibibir vaginanya dan merasakan sumpalan alat dilubang senggamanya.

Mendengar lirihan Dera, sidokter semakin yakin dengan tebakannya itu, dalam hatinya membatin,kalau kuentot mau tidak yach ini ibu???, atau malah nanti dia marah??..

Setelah melihat cengkraman dinding vagina Dera dialatnya mulai mengendur, sidokterpun mulai mengambil spiral berbentuk T dan penjepitnya, lalu melalui corong tadi ia mulai memasukkan spiral tersebut menggunakan penjepit

Karena corong itu terbuat dari kaca ia bisa melihat keadaan didalam lubang vagina Dera, setelah tepat disasaran, iapun sedikit menekan penjepitnya kemudian ia melepaskan jepitan di spiral tersebut dan menarik keluar jepitannya, sambil memegangi kedua bibir vagina Dera, sidokter memastikan spiral tersebut terpasang dengan benar

Kemudian dengan perlahan-lahan corong itu ia tarik keluar dari lubang vagina Dera, gesekan yang ditimbulkannya membuat Dera mengerang lirih.

Setelah terlepas, sidokter kembali memijat-mijat vagina Dera, sebetulnya pijatan-pijatan itu tidak perlu dilakukan, dan belum pernah ia lakukan selama ia praktek, saat ini ia lakukan karena ia terangsang dengan bentuk vagina Dera

Dalam hatinya ia juga merasa heran kenapa saat ini ia terangsang ingin melakukan persetubuhan dengan pasiennya. Dera sendiri yang dari tadi birahinya sudah bergejolak, merasakan pijatan-pijatan lembut yang saat ini sedang dilakukan oleh sang dokter semakin membuat birahinya membara, erangan-erangannya semakin sering terdengar, tubuhnyapun menggelinjang-gelinjang karena geli dan nikmat.

Oh..baru pijatan tangannya saja sudah membuatku melayang-layang, apalagi kalau dia sodok aku dengan kontolnya, Oh gila betul rangsangan ini, Dera berkata dalam hatinya.

Tangan Dera yang tadi sedang mencengkram ranjang mulai beralih kepayudaranya sendiri, dari balik jubahnya iapun mulai meremas-remas kedua bukit kembarnya, merasa kurang puas karena terhalang oleh BH dan jubah yang masih menutupi tubuhnya,

Dera kemudian melucuti semuanya sehingga sekarang Dera telanjang bulat didepan sang dokter, tangannya kembali meremas-remas kedua bukit kembarnya itu, mulutnya mendesis-desis menandakan Dera sedang menikmati semua itu.

Sang Dokter yang melihat aksi Dera melucuti jubah dan Bhnya serta aksi remasan tangan Dera dikedua bukit kembarnya itu tersenyum simpul, nampaknya ia mulai terangsang dengan pijatan-pijatanku, lalu tanpa menghentikan pijatannya, ia pun mulai menciumi kelentit Dera yang mulai terlihat dan mengeras, tidak hanya diciumi saja,

Tapi ia jilati dan hisap-hisap kelentit Dera yang membuat Dera semakin menggelinjang merasakan kenikmatan permainan lidah sidokter, aksi sidokter semakin menggila, jari tengah salah satu tangan yang sedang memijat-mijat itu mulai menerobos lubang kenikmatan Dera

Dengan gerakan perlahan-lahan sidokter mulai mengeluar-masukkan jari tangannya itu, akibatnya lubang vagina Dera semakin basah, erangan-erangan Derapun semakin sering terdengar. Pantatnya semakin sering terangkat seolah menyambut sodokan jari tangan sidokter, kepalanya bergoyang kekiri kekanan, tubuhnya kadang-kadang melenting, Dera betul-betul menikmati serangan-serangan sang dokter dikemaluannya.

Ouughhhh.dddoookkk.eenaaaakkkaakhhuuumau..kel luaarrssshhhaagghhhh..Dera merintih-rintih kenikmatan.

Ssssrrssssrrrr.ssssrrrrmemek Dera memuntahkan lahar kenikmatannya.

Tubuh Dera mengejang, sang dokter merasakan hangatnya air kenikmatan Dera yang membasahi jari tangannya.

Enak, Bu!!, tanya sidokter.

IyaachhDera menjawab dengan nafas yang masih tersengal-sengal, matanya terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja ia rengkuh.

Tanpa buang waktu lebih lama lagi, sang dokterpun mulai melucuti seluruh pakaiannya, sehingga sekarang iapun telanjang bulat, Nampak kontolnya sudah berdiri dengan tegak, ukurannya lumayan besar dan panjang

Diapun mulai mengelus-eluskan kontolnya dibibir vagina Dera, membuat Dera menggelinjang, dengan pelan-pelan sang dokterpun menyelipkan kepala kontolnya di lubang memek Dera, setelah merasa tepat disasaran sang dokterpun mulai melesakkan kontolnya kedalam lubang memek Dera, setahap demi setahap.

Sleeepp.bleeessss.bleessss..

sang dokter mulai terbenam seluruhnya dalam lubang kemaluan Dera, Dera yang merasakan ****** dokter itu mulai memasuki lubang senggamanya, mendesis lirih. Hatinya membatin,lumayan besar juga kontolnya, tapi tidak sebesar punyanya pak Sugito.

Ssshhh.aaaaghhhh..dookkontolmu besar juga. sssshhhh.puaskan aku dengan kontolmu ssshhhhdesis Dera.

Dengan perlahan-lahan Sang dokter mulai mengeluar-masukkan kontolnya didalam lubang senggama Dera, kedua tangannya berpegangan dipaha Dera, lama-lama gerakan maju-mundur sang dokter semakin cepat, keringatpun mulai mengalir dikedua tubuh mereka

Udara dingin didalam ruangan praktek karena AC tidak menghalangi keluarnya keringat mereka. Erangan Dera dan sang dokter semakin terdengar, lenguhan-lenguhan nikmat keluar dari kedua mulut mereka.

Ouughhh dookkk teeruusss ssooddokkk .memekkuuuu dengaaannn kkonttolmu..ituuu aaaggghhhh Dera mengerang kenikmatan menikmati sodokan ****** sang dokter di lubang senggamanya.

Hhhhmmmm aaaaghhh memekmuuu benaaarr-benaar..sseeemmpitt enaaakkk oouughhh  koontooolllkuuu teerjeppiittbbeetulllSang Dokterpun melenguh keenakan merasakan jepitan dinding vagina Dera dibatang kontolnya..

Teekkaaannnlebih daaalllaamm dookk.. yaaahh..begituu..ssshhhhhoouughhh rintih Dera meminta sang dokter untuk menekan lebih dalam, yang dituruti oleh sang dokter, dengan hentakan-hentakan yang lebih dalam, hingga kontolnya terbenam sampai pangkalnya saat sang dokter mendorong masuk kontolnya.

Tak lama kemudian nampak gerakan sang dokter bertambah cepat dan mulai tak beraturan, sementara itu tubuh Derapun semakin sering terlihat melenting dan pantatnya semakin sering terangkat berbarengan dengan sodokan ****** sang dokter, lenguhan dan erangan mereka bertambah kencang terdengar dan saling bersahutan, nampaknya kedua insan ini akan merengkuh puncak kenikmatan persetubuhan mereka.

Ouughhh doookkk aaaakkkkuuu kkeeelluuarrr, Dera mengerang tubuhnya melenting.

Akkkhhuuu juuggaaa mmaaauuu .ooouugghhhh.. sang dokterpun melenguh, dan menekan dalam-dalam kontolnya didalam lubang senggama Dera, lalu terdiam.

Creeetttt ..ssssrrrr..ccrreeeettt..ssssrrrr..

Kedua kemaluan mereka akhirnya memuntahkan lahar kenikmatan berbarengan, sand dokter merasakan batang kontolnya tersiram oleh hangatnya lendir kenikmatan Dera dan ia juga merasakan dinding vagina Dera berkedut-kedut meremas-remas batang kontolnya, Dera sendiri merasakan dinding rahimnya tersemprot oleh cairan hangat sperma sang dokter dan Dera sendiri merasakan pada dinding vaginanya batang ****** sang dokter berdenyut-denyut.

Kemudian sang dokter mencabut batang kontolnya dari jepitan vagina Dera setelah ia merasakan remasan-remasan dinding vagina Dera berhenti dan kontolnya mulai mengecil, saat kontolnya tercabut dari lubang kenikmatan Dera, terlihat olehnya cairan spermanya bercampur dengan lendir kenikmatan Dera mulai mengalir perlahan dan menetes jatuh keatas lantai.

Setelah nafas mereka kembali normal, mereka mengenakan pakaian mereka kembali, kemudian sang dokter memberi tahu Dera bahwa spiral yang ia pasang itu bisa bertahan untuk 5 tahun, tetapi alangkah bagusnya setiap 3-6 bulan sekali harus diperiksa, untuk memastikan letaknya tidak berubah atau lebih parahnya terlepas. Dera mengangguk tanda mengerti dalam hati Dera berkata ,pasti aku akan balik lagi, untuk menikmati sodokan-sodokan kontolmu lagi,

Sebelumpulang Dera bertanya berapa biaya yang harus dibayar olehnya, yang dijawab oleh dokter itu dengan senyuman dan kecupan ringan dibibir Dera, gratis!!! bisiknya

Derapun pulang dengan tersenyum simpul, dalam hatinya ia membatin bertambah satu lagi koleksi ****** yang bisa membuat puasku, yang bisa menghilangkan dahaga batinku. Dan sekarang ia tidak akan takut hamil bila melakukan persetubuhan dengan siapapun
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Cerita Sex Sang Mantan Bertemu

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Sang Mantan Bertemu. Aku yang sudah menikah dan sebentar lagi memasuki umur yang ke 26 tahun aku sudah setahun menikah, tapi aku akan berbagi pengalaman dengan mantan aku namanya Okta, secara singkat diskripsi tentang diriku kulitku putih wajah oriental dengan tinggi tubuh 172 cm rambut hitam lurus, rambutku aku selalu kuncir keatas supaya menjadi perhatian yang melirik kearahku, dengan mata bulat, dan hidung mancung, pinggul yang aduhai, pokoknya jika pembaca melihatku, pasti akan melotot. Dijamin!!

Cerita Dewasa Sang Mantan Bertemu

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan
Cerita Mesum Sang Mantan Bertemu
Hari ini aku kuliah sampai jam 11.00, di tengah teriknya mentari kota ini, aku berjalan bergegas, menyeberangi Jalan Merdeka, aku menuju ke Purnawarman, lalu dengan angkot jurusan Ledeng, menuju ke rumahku di kawasan Cipaganti. Rumah yang dibelikan oleh ayahku, yang kutinggali bersama seorang adik, dan 3 orang dayang.

Okta pacarku, adalah seorang mahasiswa fakultas teknik dari Universitas yang sama, tapi lokasi kampusnya beda denganku. Beberapa tahun kemudian, lokasi kampusku kemudian dipindahkan.

Hari ini, seperti biasanya, selesai kuliah Okta datang, Sekitar pukul 13.00, Okta datang, kami duduk di depan TV. Tidak lama berselang saat para dayang beristirahat di kamar mereka, tangan Okta meraih bahuku dan menarik tubuhku sehingga rebah di pangkuannya.

Bibir kami lalu saling berpagutan, tangannya menjelajahi dadaku. Menelusup ke bawah dasterku, meremas payudara kiri dan kanan bergantian.

“Kau merokok lagi yah?” tanyaku.

“Tidak, tadi di kampus, anak-anak merokok semua, jadi bajuku juga bau asap!” elaknya.

“Kenapa mulutmu bau rokok juga?”

“Ah.. Tidak apalah kalo cuma sebatang!” jawabnya, langsung menyergap bibirku kembali.

Saat bibirnya mulai menjelajah turun ke leherku, aku semakin tak tahan, tangannya menarik Bra-ku ke atas, sehingga tangannya langsung menyentuh kulit buah dadaku. Diputar-putarnya pentilku bergantian. Kemaluanku mulai becek, batang kemaluan Okta terasa mengeras di punggungku, mengganjal.

Saat rasa gatal di kemaluanku memuncak, aku bangkit, dan mengatur posisi tubuhku menjadi merangkak membelakangi Okta yang duduk bersandar. Tangan Okta, meremas bola pantatku, yang sebelahnya merayap masuk melalui bagian bawah rokku.

Tangannya merayap di pahaku, meremas dengan liar, menambah perasaan nikmat. Kugoyangkan pinggulku meminta perhatian tangannya agar cepat membelai kemaluanku yang gatal. Saat yang ditunggu tiba, tangannya merambat perlahan di tepian karet celanaku, berputar-putar, menambah gairahku.

“Oh.. Sayang..” desisan keluar dari sudut bibirku.

Perasaan was-was agar tidak terdengar oleh para dayang timbul. Okta semakin liar, kain segitiga itu ditariknya, dan dengan bantuanku, diloloskan melalui sepasang kaki panjangku. Tangannya membelai lembut vaginaku, membuatku semakin melebarkan jarak antara kedua pahaku. Sangat asyik menikmati pekerjaan tangannya, membelai dan sesekali meremas dan mencubit bibir vaginaku.

“Auw.. Sayang..” Aku menjerit ketika tiba-tiba terasa hangat dan basah menyentuh selangkanganku, rupanya Okta mulai menggunakan mulutnya. Napasnya terasa keras di daerah duburku, lidahnya menyentuh, dan merangsek ke vaginaku. Sesekali dengan keras menyelinap ke celah sempit selangkanganku.

Aku semakin menggila saat tangannya menyergap payudaraku yang tergantung dibalik daster. Terasa textur kain, dikombinasikan dengan pijatan lembut pada putingku, ingin rasanya aku menjerit. Satu hal yang kusuka pada Okta, adalah kebiasaannya mencukur kumis dan jenggotnya sekali dalam seminggu, saat ini terasa mulai tumbuh, dan digesek-gesekkan seputar bola pinggulku. Terasa seperti amplas, menggaruk lembut seputaran bokongku.

Vaginaku terasa basah, bercampur liur dan cairan syahwatku, Okta jelas menikmati cita rasa cairan itu, bahkan cenderung ketagihan. Saat aku sedang terbuai nikmatnya oral sex, tiba-tiba terdengar pintu pagar dibuka orang. Aku bergegas menurunkan dasterku, dan kembali mengambil posisi duduk di samping Okta, menonton film di HBO, yang entah apa judulnya.

Ternyata adikku pulang, seketika itu juga, seorang dayang bangun, membuka pintu dan mengambil tas kuliahnya. Yuly, sebut saja demikian, adikku bungsu dari 4 bersaudara, selisih 1 tahun denganku. Kuliah di universitas yang sama dengan kami, namun beda fakultas.

Kampusnya selokasi dengan Okta, Yuly melintasi kami dan menuju ke ruang makan. Melihat potensi ancaman yang semakin besar, Okta mengajakku relokasi menuntaskan pekerjaan kami. Aku berdiri, dan menuju ke kamarku.

Okta tidak beranjak, matanya menatap TV, seolah asyik mengikuti jalan cerita film tersebut. Padahal aku yakin, tak ada sepotong ceritapun yang bisa nyangkut di otaknya. Saat aku selesai berganti pakaian, aku menarik tangan Okta, seolah memaksanya bangun.

“Kau mau kemana?” Yuly bertanya dari arah dapur.

“Mau ke Palasari, cari textbook!” jawabku.

“Aku mau titip donk!” Yuly bangkit dari meja makan.

“Nggak ah, nanti salah! Mendingan kau barengan teman-temanmu”

“Malas saya, nggak tahu dimana Palasari!” Balas Yuly.

Memang Yuly barusan beberapa Minggu tinggal di Bandung, setelah menyelesaikan SMU. Sedangkan aku telah setahun lebih. Aku menunjukkan keenggananku dititipi buku, soalnya kami sama sekali tidak berminat ke Palasari. Hanya sekedar alasan untuk keluar rumah.

“Masih panas, sorean lagi deh.” Okta berkata, tetapi dari matanya memberikan isyarat.

“Nggak ah, nanti tidak sempat memilih.”

Aku memberikan alasan, seraya menarik tangannya. Dengan memasang tampang seolah masih asyik menonton, Okta, meraih remote dan mematikan TV. Saat kami berjalan menyusuri gang sepi, kutarik tangan Okta, yang memegang tanganku dan meletakkannya di dadaku. Dengan liar Okta langsung meremas lembut, menaikkan nafsuku yang sempat tenggelam tadi.

“Hehe belum kapok yah, tadi hampir aja ketangkap!” Okta berkata lirih.

“Gimana donk, pengen banget nih!” kilahku.

“Lihat nih!” Okta merogoh kantongnya, menarik secarik kain, dan ternyata celana dalamku.

“Tadi kau ke kamar nggak sekalian dibawa sih?” Tanya Okta.

Saat itu sebuah angkot berhenti di depan kami. Aku naik dan seperti biasa mengambil posisi di belakang sopir. Posisi teraman, saat itu angkot dalam keadaan kosong dan berhenti menunggu penumpang di Jalan Cipaganti.

Lima belas menit menunggu tanpa hasil, Angkotnya jalan, kutarik tangan kanan Okta, kuletakkan di pahaku dan kututupi dengan tas. Tangan itu langsung meraba dan menggesek vaginaku dari luar celana.

Dengan menampilkan mimik sebiasa mungkin, sehingga sopir angkot tak akan menyangka apa yang terjadi di bawah sana. Tak berapa lama, angkot kembali berhenti di depan Ny. Suharti, menaikkan 2 orang. Aku agak kecewa, berarti selama perjalanan berikutnya akan terasa garing dan panas.

Di depan kampus, kedua orang itu turun, kami melanjutkan perjalanan, sekitar 50 meter, lalu turun dan berjalan kaki ke kost Okta. Kost Okta, sebuah tempat kost kelas menengah bawah, 60 kamar, terletak di belakang kampus, campur pria dan wanita.

Saat memasuki aula tengah, tampak beberapa mahasiswa teman Okta sedang main kartu, beberapa lembar seribuan di tengah meja, 5 orang pemain dan tampak 3 orang komentator. Okta memberikan kunci kamarnya kepadaku, dan berbincang sejenak dengan para penjudi sambil sesekali mengomentari permainan.

Aku masuk ke kamar Okta, yang agak berantakan, lembaran kertas penuh gambar, beberapa penuh tulisan angka berserakan di lantai kamar. Jendela kamar yang dilapisi kertas hitam membuat cahaya matahari sulit tembus.

Sayup-sayup masih terdengar suara mereka di ruangan tengah. Meskipun berjarak sekitar 10 meter dari kamar ini, tetapi keriuhan yang ditimbulkan masih terasa. Gairahku bangkit saat terdengar suara langkah khas Okta.

Saat pintu ditutup, kami berpelukan, sambil berciuman, tangan Okta merayap masuk dari bawah kaosku, meremas payudaraku, memencet puting susuku. Lidah yang saling dorong di antara jepitan bibir kami membuatku sungguh melayang, membuat kemaluanku terasa lembab.

Tangan Okta mendorong tubuhku, dan membalik badanku, sehingga aku berdiri membelakanginya. Okta menyelipkan kedua lengannya di ketiakku dam kembali memeluk tubuhku, dan tangannya meraba dadaku dengan leluasa, kali ini kedua tangannya dapat bekerja secara bersamaan.

Memang harus kuakui Okta bertindak tepat, dengan membalik tubuhku, kedua tangannya dapat berkerja dengan bebas, merayap di dadaku, kadang turun meremas kemaluanku dari luar jeansku, sehingga hanya terasa sentuhan ringan. Okta memeluk tubuhku semakin erat, sehingga terasa hembusan napasnya di leherku yang makin membakar birahi.

“Sayang..” Okta berbisik ke telingaku, yang membuatku menoleh, dan langsung terasa bibirku diserbu, kembali ciuman panas berulang.

Kali ini aku tidak bisa terlampau bebas bergerak, karena kedua lengan Okta terasa ketat menjepit badanku. Tanganku hanya dapat kuarahkan ke selangkangan Okta, itupun masih terasa terlampau jauh. Di pantatku terasa ganjalan, disebabkan kemaluan Okta yang telah ‘Erma” (Ereksi Maksimum).

Tangan Okta terasa membuka kancing celanaku, terasa getaran lembut saat tangannya menarik turun retsleting, posisi ini memungkinkan Okta membuka celanaku tanpa menghentikan ciuman kami. Saat telah terbuka, Okta menarik turun celana itu sehingga melewati pinggulku, dan sebelah tangannya menyerbu masuk ke balik celana dalamku, sedangkan yang sebelahnya kembali ke dadaku, meremas-remas payudaraku.

Saat tangannya perlahan mencapai rambut kemaluanku, berputar-putar sebentar di sana, kemudian terus turun mendekati celah kemaluanku dari arah jam 12. Tak ada jari yang menyusup ke celah bibir vaginaku, telapak tangannya terus ke bawah, menaungi kemaluanku, sehingga membuatku makin gelisah.

Aku mengangkat sebelah kakiku, guna melepaskan celana panjangku. Saat aku mengangkat kaki, terasa ada jari yang terpeleset menggesek bibir vagina sebelah dalam. Sebuah sentuhan ringan yang sungguh membuatku makin melayang.

Gesekan itu makin membuatku ketagihan, sehingga aku melakukan ritual melepas celana panjang secara perlahan, sambil menggerakkan pinggulku, berharap ada jari Okta yang kembali tersesat ke jalan yang benar. Sensasi yang sangat indah, sampai sekarang belum kudapatkan dari suamiku, meskipun gaya pacaran kami juga tak begitu bersih, tapi sangat jarang dia mengerjaiku dari belakang, aku ingin memintanya, tapi takut menunjukkan pengalamanku.

Back to story, Okta kali ini menciumi tengkukku, setelah tangannya menyingkirkan rambutku ke depan. Terasa tengkukku dijilat kecil, dan napasnya menghembus anak rambutku. Aku sangat menyukai jilatan di tengkuk, sehingga tanganku meraih rambut panjangku, dan memeganginya di ubun-ubunku.

Ini semakin membuat Okta leluasa menciumi tengkukku, dan meremas buah dadaku. Berulang-ulang jilatannya mengelilingi leherku, sebelah tangan di vaginaku dan sebelahnya lagi dipayudaraku. Sampai akhirnya Okta menghentikan ketiga serangannya, yang memberikanku kesempatan mengatur napasku yang sudah kembang kempis.

Kali ini Okta mengangkat kaosku, dan melepaskannya melalui kepalaku. Setelah terlepas, Okta kembali menciumi tengkukku, dan aku kembali memegang rambutku di ubun-ubun yang tadi terlepas saat Okta menanggalkan bajuku.

Jilatannya lebih bebas berputar, terasa begitu nikmat saat jilatannya bergerak menyusuri tulang belakang turun, diikuti hembusan napasnya yang halus di kulitku. Saat lidahnya terhalang BH, Okta tidak melepasnya, tetapi jilatannya menyusuri tali BH, ke samping tubuhku terus menjilati secara halus naik lagi ke arah pundak, dan kembali turun ke sisi tubuhku.

Tanganku yang memegangi rambut di atas kepalaku, membuatnya semakin mudah menjilati daerah sekitar ketiakku yang selalu tercukur bersih. Sungguh kali ini membuat kedua kakiku tak mampu menyangga bobot tubuhku.

Aku langsung berjalan dan duduk di kasur Okta yang hanya dialas di atas lantai tanpa dipan. Okta melepaskan kaos dan celananya, sehingga tampak kemaluannya membuat celana dalamnya menyembul, ia lalu memungut pakaianku dan menggantungnya di belakang pintu kamar bersama pakaiannya.

Di luar masih terdengar suara para penghuni kost yang masih asyik berjudi. Okta berjalan ke kasur, dan mendorong tubuhku sehingga rebah. Okta menindih tubuhku dan kami kembali berciuman. Kali ini lebih ganas, lidah Okta terasa sangat agresif merangsek ke rongga mulutku, sehingga bisa kusedot dengan sekuat tenaga. Dengan bertumpu pada sikutnya, Okta menggerak-gerakkan pinggulnya menyodok daerah selangkanganku. Aku pun menggerakkan pinggulku untuk menambah sensasi gerakan Okta.

Ciuman Okta kini berubah menjadi jilatan yang menyusuri leherku, turun terus ke arah dadaku, dan kembali ke samping tubuhku. Okta lalu bangkit dan membalik badanku lagi, sehingga aku kini telungkup. Okta melepaskan kait BH-ku dan kini menjilati punggungku sepanjang tulang belakang, membuatku menggigit bibirku guna menahan suara desah kenikmatan yang kurasakan. Aku makin menenggelamkan wajahku ke bantal, tatkala lidah Okta tiba di daerah pinggulku.

Tangannya menurunkan karet celana dalamku dan menciumi daerah sekitar belahan pantatku, yang membuatku mengangkat sedikit pinggulku. Rupanya gerakan otomatis tubuhku itu dimanfaatkan oleh Okta untuk menurunkan celana dalamku sampai sebatas paha, dalam posisi setengah menungging memberikan Okta kesempatan menjilati daerah sensitif yang sangat sempit antara dubur dan vaginaku.

Sungguh sensasional, getaran yang diberikan dari lidahnya langsung menaikkan tegangan birahiku ke titik tertinggi. Energi berupa sentuhan lidah yang sangat ringan diteruskan secara merata dan sama besar ke seluruh jaringan saraf kenikmatanku. Ini menyerupai prinsip kerja Hidrolik, dengan gaya yang kecil dari lidahnya, mampu menghasilkan gaya angkat yang sangat besar yang diteruskan melalui aliran darahku, kebetulan Okta adalah mahasiswa Fakultas Teknik mungkin ini adalah salah satu praktek ilmu yang didapatnya.

Well, setelah mengalami orgasme aku langsung jatuh telungkup, ini membuat akses ke daerah celah sempit di pinggulku tertutup dari serangan Okta, sehingga dia membaringkan dirinya di sampingku, seraya menumpangkan kakinya ke atas pantatku, dan tangannya membelai rambutku dan mengelus punggungku yang agak basah karena jilatan Okta dan keringatku sendiri.

Okta menarik selimut, menutupi tubuh kami berdua, karena memang Bandung pada saat-saat itu dalam masa pancaroba dari musim panas ke musim hujan, sehingga suhu udara sangat dingin dibandingkan dengan bulan-bulan lain dalam setahun.

Saat aku mencoba memulihkan kesadaranku, kurasakan kemaluan Okta yang masih terbungkus celana dalam mengganjal di pahaku, aku menghadapkan wajahku ke arah Okta, yang tampak tersenyum sangat simpatik ke arahku.

“Astaga, enak sekali rasanya, saya tidak akan melupakan saat ini.” Bisikku sambil mengelus pipi Okta.
“Aku juga tidak mau kehilangan waktu untuk menciummu sayang.” Balas Okta dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, cukup dekat sehingga hidungku yang mancung dapat terjangkau oleh lidahnya.

Bibirku bisa menciumi dagunya yang terasa kasar ditumbuhi jenggot pendek. Aku membalikkan tubuhku, sehingga kami berdua saling berhadapan dalam posisi rebahan side by side. Pada saat jeda ini kami biasanya bercakap-cakap, menyatukan perbedaan pikiran, berbagai masalah kuliah, keluarga, bahkan masalah keuangan biasa kami diskusikan. Aku tak ingat masalah yang kami bicarakan saat itu, tapi aku ingat, setiap kali kami selesai bercinta, rasa cinta di dalam hatiku senantiasa bertambah kepadanya.

Tangan Okta meraba-raba buah dadaku, menyentuh-nyentuhkan ujung kukunya di pentil susuku, membuat gairahku bangkit kembali. Tanganku merambat menyusuri dadanya, dan perutnya yang ditumbuhi rambut yang cukup lebat.

Aku merapatkan tubuhku, sehingga kami dapat saling berciuman. Kali ini tanganku merogoh celana dalam Okta dan mengelus batang kemaluannya dan juga kedua buah pelirnya. Sambil terus berciuman, aku mendorong tubuhnya hingga telentang, dan kutindih dadanya dengan sebagian tubuhku, sehingga tanganku dapat dengan leluasa bermain dengan kejantanannya. Aku terus memagut bibirnya, dan perlahan turun ke dadanya, dan ke puting.

“Terbalik sayang.” Okta berkata.

“Terbalik apa?” Aku heran dan bertanya.

“Mestinya saya yang netek, bukan kau!” katanya sambil mendorong tubuhku hingga rebah.

Tidak kuat melawan tenaganya, sehingga aku hanya rebah tak berdaya. Okta menindih tubuhku, dan menyedot puting susuku. Dan sangat efektif untuk membangkitkan gairahku. Segera terasa cairan di liang senggamaku, Okta menciumi dadaku dan melempar selimut yang menutupi tubuh kami. Saat itu tak kusia-siakan, aku bangkit dan menduduki perutnya, kusodorkan dadaku ke mulutnya, sehingga Okta langsung rebah telentang.

Tanganku meraba ke bawah, mengocok kemaluannya yang telah keras. Sedotan Okta di puting susuku terasa melambungkan gairahku. Aku lalu turun dan melepaskan celana dalamku dan membantu Okta melepaskan celana dalamnya.

Melihat penisnya yang Erma, aku langsung menciumi batang itu, menjilati sepanjang batangnya, berputar-putar di kantung pelirnya, sambil sebelah tanganku merayap di perutnya. Saat aku memasukkan batang kemaluannya ke rongga mulutku, terdengar desah Okta seperti baru melepaskan beban di pundaknya.

“Oh.. Enak sekali Yang.” Suara Okta terdengar lirih, sambil tangannya menyibak rambutku, sehingga ia dapat memandang mulutku yang sedang mengulum kemaluannya.

Menatap matanya yang keenakan, menambah semangatku dan makin mempercepat gerakan kepalaku, dan menambah kuat sedotan mulutku. Kadang kuselingi dengan permainan lidah di dalam mulutku, menjilati kepala penisnya.

Saat kutarik hingga hanya kepalanya penisnya tersisa di mulutku, lidahku kugerak-gerakkan seolah sedang berciuman. Kulihat Okta tidak mampu bersuara, hanya mulutnya yang terbuka, mencoba menghirup lebih banyak oksigen.

Okta adalah pria pertama yang kuoral, meskipun keperawananku bukan kuserahkan padanya. Nanti akan kuceritakan saat hilangnya keperawananku, juga bagaimana aku memperoleh kepuasan dari kakakku.

“Sini sayang, aku ingin mencium memekmu.” Okta berkata.

Aku berputar, sehingga selangkanganku berhadapan dengan wajahnya. Kami berposisi 69, dan masing-masing melakukan kegiatan sendiri. Saat lidah Okta menyapu vaginaku, aku langsung melayang, terasa Okta menyapu semua cairan vaginaku, membersihkan semua lendir di celah vaginaku. Sangat nikmat terasa, membuatku semakin liar mengulum penisnya.

Penis Okta berukuran normal pria Indonesia, tampak gagah tersunat rapi. Ini yang membuatku sangat menikmati oral sex, ini merupakan penis bersunat pertama yang kudapatkan, dengan lelaki sebelumnya belum kutemukan. Aku sangat menikmati setiap kontur penis Okta, dengan menggerakkan lidahku mengitari palkon, menelusuri setiap titik di bagian itu membuatku semakin tergila-gila pada benda itu.

Dengan sedikit mengerahkan tenaga karena harus melawan arah natural penis itu. Setiap kali penis itu terlepas dari jepitan bibirku, langsung terpental seolah terbuat dari bahan elastis. Okta melipat lututnya, sehingga kepalaku berada di tengah kedua pahanya, dengan kedua tanganku aku menahan posisi pahanya agar tidak mengurangi daerah pergerakan kepalaku.

Sementara di arah yang berlawanan, terasa sangat nikmat Okta menjilati itilku, sementara tangannya masuk ke liang senggamaku, bergerak keluar masuk terlalu nikmat untuk dideskripsikan di sini.

Tak mau ketinggalan, aku pun mengeluarkan kemampuan oral terbaikku, kujilati sepanjang urat besar di bagian bawah batang penis Okta, dan kuteruskan sampai ke pelernya, tidak hanya sampai di situ, lidahku terus ke arah duburnya, menjilat dengan liar, tampak menunjukkan hasil, Okta menggerakkan pinggulnya ke atas, membuat lidahku bisa semakin jauh menjelajahi daerah selangkangannya.

“Sayang, masukin..” kata Okta.

Aku lalu bangkit, dan mengubah posisiku, kali ini aku berhadapan dengan Okta, dengan bertumpu pada lututku. Kuraih penis Okta dari tangannya yang sedang mengelus, dan langsung kuarahkan ke vaginaku.

Terasa nikmat saat benda itu menerobos masuk secara perlahan, menyusuri celah vaginaku. Kulihat Okta tersenyum, matanya terpejam, kulepaskan tanganku dari batangnya, dan mulai memelintir putingnya.

Okta membuka matanya, dan tangannya meraih payudaraku. Sambil meremas payudaraku, Okta menggerak-gerakkan pinggulnya, memaksa penisnya masuk lebih dalam lagi. Aku juga senantiasa bergerak menyesuaikan gerakan kami berdua. Kadang dengan agak memiringkan tubuhku, sehingga pada saat Okta menarik kemaluannya, sangat terasa gesekan di sisi dalam vaginaku.

Tiba-tiba aku merasakan peningkatan rangsangan, saat Okta mengarahkan jari telunjuknya ke klitorisku, sehingga menguras seluruh pertahananku. Digesek dan ditekan membuat diriku terasa melayang dan kehilangan pijakan.

Tubuhku langsung ambruk seketika, menindih Okta, perubahan posisi ini membuat Okta tidak bebas menggerakkan jemarinya yang terhimpit di antara tubuh kami. Tetapi pinggulnya tetap bergoyang lembut, mengantarkan diriku menikmati detik demi detik puncak kenikmatan seksual.

Setelah melalui orgasme, perlahan gairahku kembali berkobar, dengan goyangan batang penis di tengah jepitan vaginaku. Okta dengan konstan tetap menstimulasi vaginaku dengan batang nikmatnya. Aku mengangkat badanku, dan memutar membelakangi Okta, setelah mengarahkan, penis Okta langsung kududuki, dan menelan habis semua batang penis Okta.

Posisi favoritku, selain doggy style, juga woman on top, sehingga dengan berada di atas dan membelakangi Okta, terjadi kombinasi optimum. Apalagi saat Okta bangkit setengah duduk, dan tangannya menggapai buah dadaku yang ikut bergoyang, menambah sensasi kenikmatan posisi ini.

Tak lama Okta kemudian mendorong tubuhku, dan mengambil alih posisi di atas, dengan napasnya yang menderu, ia menyelipkan penisnya ke vaginaku. Setelah mendiamkan sejenak, Okta mulai bergoyang, lututku ditekuk dan agak diangkat sehingga pinggulku ikut terangkat.

Sebelah tangannya membantu menahan kedua kakiku, sedangkan yang satunya menyerbu klitoris yang kurang mendapat sentuhan pada posisi ini. Kami sering mendiskusikan berbagai posisi, sehingga bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan setiap posisi favorit kami.

Posisi ini adalah favorit Okta, sebab ia bisa melihat dengan jelas bagaimana proses keluar masuk batang penisnya ke vaginaku. Kadang dengan menggunakan jempol dan jari tengahnya ia merapatkan kedua belahan vaginaku, dan jari telunjuknya mengerjai itilku.

Setelah bergoyang beberapa menit, Okta lantas mencabut penisnya, dan mengocoknya dengan tangan, dan segera muncrat spermanya, kental putih dan bau yang khas segera memenuhi ruangan kamarnya itu.

“Ah.. Enak sekali sayangku..” Okta akhirnya mampu mengeluarkan suaranya setelah mengalami ejakulasi.

“Saya selalu mau main denganmu, kapanpun kau mau!” Kataku sambil berusaha membantunya mengocok penisnya.

Ia lalu berbaring di sisiku, dan mengambil kertas tissue. Setelah membersihkan seluruh tumpahan spermanya, ia memelukku dengan erat dan menciumi bibirku. Seluruh badanku terasa lemas, terutama daerah pinggulku, namun di sisi lain, terasa pikiranku fresh.

Sungguh indah kenikmatan seks. Saat kuletakkan kepalaku di dada Okta, dan dibelai dengan lembut, sambil sesekali mencoba mengatur rambutku, saat itu tak terbayangkan bahwa kemudian kami harus putus.

Kami putus setahun setelah Okta lulus kuliah dan pindah ke Jakarta. Meskipun selama periode itu ia sering ke Bandung untuk weekend, tetapi itu saja tak mampu mempertahankan hubungan kami. Aku, seorang wanita bersuami, yang telah memberikan kesetiaan dan kegadisanku kepada orang lain.

Syukurlah suamiku adalah seorang yang tolol, ia sungguh percaya bahwa ia adalah lelaki pertama yang merobek vaginaku. Aku masih selalu membayangkan Okta, terutama saat sedang bersenggama dengan suamiku, dan aku sangat beruntung mendapatkan suami yang cukup tolol, sehingga kecuranganku selama ini bisa kututupi dengan mudah.

Saya percaya bahwa kami bukanlah satu-satunya pasangan mahasiswa yang melakukan hubungan seks, mungkin suamiku juga pernah melakukannya.

Cerita ini mulai saya susun pada tahun 2001, saat aku putus dengan Okta, berusaha sesedikit mungkin mengubah conversation, lokasi tidak saya rinci terlalu jauh. Sekedar mengingat cerita indah di antara kami, sekaligus sebagai tumpahan perasaan sesalku saat menyetujui anjuran orang tuaku untuk memutus hubungan kami.

Biarlah, setidaknya aku berusaha mempertahankan citra diriku sebagai anak yang penurut, juga setidaknya menghapus kecurigaan keluargaku yang meragukan status keperawananku. Pembaca bisa menghubungi saya, melalui penulis, salah seorang e-friends, yang tidak pernah mengetahui ID saya secara jelas. Lebih aman sekiranya kita bercerita kepada seseorang yang tidak kita kenal, sehingga probabilitas bocor bisa mendekati titik nol. Salam.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Senin, 04 April 2016

Cerita Sex Sentuhan Terhadap Vaginaku

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Sentuhan Terhadap Vaginaku. Aku baru saja mulai kenikmatan seksual tapi apa daya suamiku malah sudah ejakulasi dahulu, padahal batu muali antara 1 – 2 menit, mungkin ini pengalaman baru buat suamiku karena kami baru melangsungkan pernikahan kami, sedangkan aku kira kira 3 tahun sudah mengenal seks dan berhubungan badan dengan pria yang aku sukai sebelum aku menikah.=

Cerita Dewasa Sentuhan Terhadap Vaginaku

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan
Cerita Mesum Sentuhan Terhadap Vaginaku
Sehingga dengan tanpa sadar tadi pun aku membantu suamiku memasukkan penisnya ke dalam liang vaginaku. Tentu saja suamiku bahkan keluargaku sendiri tidak pernah tahu mengenai pengalaman seksku selama ini karena dari penampilan dan aktivitasku sehari-hari terlihat biasa-biasa saja.

Hal itu dimungkinkan karena aku hanya berhubungan badan dengan orang yang sama terus. Walaupun demikian aku sudah siapkan alasan kalau suamiku nanti mempermasalahkan tidak adanya pendarahan saat malam pertama.

Namaku Asti, aku bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan pelayaran kapal barang. Umurku waktu menikah adalah 28 tahun, tapi aku kehilangan keperawananku pada umur 23 tahun saat aku berkerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan telekomunikasi. Di bawah ini adalah ceritaku mengenai pengalaman seksku yang pertama.

Hari ini adalah hari terakhir bossku ada di kantor cabang Bandung ini, karena mulai besok beliau akan digantikan oleh orang baru yang dipilih oleh kantor pusat. Bossku memang mendapat promosi dari kepala cabang di Bandung menjadi direktur di Jakarta.

Padahal aku belum sampai dua bulan bekerja sebagai sekretaris di sini, sehingga selain harus beradaptasi dengan tempat kerja yang baru aku juga harus beradaptasi dengan boss baru. Di tempat kerjaku ini, aku adalah karyawan yang paling muda karena karyawan lainnya rata-rata 10 tahun lebih tua.

Calon boss yang baru juga sudah datang karena hari ini akan menjadi hari serah terima de facto kantor cabang Bandung dari boss lama ke boss yang baru. Ternyata boss baru ini masih muda, umurnya masih sekitar 26-27 tahun dengan badan yang tinggi besar dan cukup tampan dengan kumisnya yang tebal.

Pak Yanto adalah nama boss baruku itu, beliau sudah berkeluarga dengan dua anak ; seorang putri dan seorang putra. Pak Yanto ternyata membawa gaya kepemimpinan yang sama sekali berbeda dan membawa moderenisasi dalam bekerja.

Karyawan-karyawan yang asalnya terbiasa dengan kerja individual sekarang dipaksa kerja secara kolektif dalam suatu team work. Semua karyawan tanpa kecuali harus melek teknologi dan untuk itu boss baru tidak segan-segan turun sendiri mengajari.

Sebagai sekretaris akupun banyak belajar dari beliau tetang berbagai hal dan karena aku adalah karyawan yang paling sering berinteraksi dengan beliau tentunya aku punya paling banyak kesempatan untuk belajar .

Pelahan-lahan mulai muncul rasa kagumku pada pak Yanto dan mulai mengidamkan mendapatkan jodoh seperti beliau atau mendekati kemampuan beliau. Berbeda dengan karyawan pria lain yang suka memandang rendah bahkan melecehkan sesama karyawan wanita, pak Yanto sangat santun kepada wanita baik itu karyawannya maupun bukan.

Hal ini membuat muncul rasa sayangku pada pak Yanto karena aku merasa bisa berlindung kepada beliau. Kombinasi rasa hormat, kagum dan sayang membuat aku merasa selalu ingin dekat dengan beliau, sehingga saat kami sedang berdua aku kadang-kadang bersikap agak manja dan kelihatannya beliau tidak keberatan.

Lambat laun aku mulai melihat bahwa pak Yanto pun mulai merasa nyaman kalau dekat dengan aku. Walaupun demikian kesempatan kami bisa berdua hanya saat berada di kantor saja sehingga semua urusan adalah berkaitan dengan pekerjaan dan pak Yanto tidak pernah mencoba mengajakku keluar berdua selain karena urusan kantor.

Hingga pada suatu waktu kantor Bandung harus bertindak sebagai tuan rumah pelatihan produk baru dari perusahaan dan pada akhir acara semua peserta ingin berwisata ke Ciater Subang. Walaupun aku bukan peserta training, tapi sebagai wakil panitia aku harus menemani mereka berwisata ke sana.

Seperti yang aku khawatirkan sebelumnya, sebagai wanita satu-satunya dimana peserta lainnya adalah pria, aku menjadi bulan-bulanan yang cenderung melecehkan. Untung saja pak Yanto segera melihatnya sehingga bisa menarikku dan mengajakku pulang lebih awal karena teman-teman kantor Bandung yang lain pun tidak bisa diandalkan untuk melindungi aku.

Akhirnya aku pulang berduaan saja dengan pak Yanto dan pada kesempatan sepanjang perjalanan kembali ke Bandung kami manfaatkan untuk mengobrolkan hal-hal diluar perkerjaan bahkan ke hal-hal yang agak pribadi.

“Udah hampir sampai Bandung nih …” kata pak Yanto “Enaknya ke mana dulu ya ?”

“Lho … kenapa ga langsung pulang ? ” Kataku keheranan

“Bukankah bapak biasa ada acara bersama keluarga kalau malam minggu seperti sekarang ?”

“Saya sudah tanggung nih ijin pulang malam ke istriku untuk nemenin orang-orang tadi” jelas pak Yanto

“Kalau begitu terserah bapa saja deh …” kataku dengan perasaan campur aduk antara senang bisa bersama beliau di malam minggu dengan rasa takut bepergian dengan suami orang.

“Okay … Jadi malam ini kita akan malam mingguan berdua ya ” Sahut beliau sambil tersenyum. Malam itu kami seperti orang yang baru jadian pacaran, walaupun masih serba canggung tapi penuh dengan gairah yang menggebu.

Apalagi beliau juga langsung bergerak cepat dengan tidak ragu-ragu lagi untuk memeluk dan menciumi pipiku setiap ada kesempatan. Menjelang tengah malam pak Yanto mengantarkanku pulang dan untuk pertama kalinya aku merasakan ciuman bibir dari laki-laki di dalam mobil sesaat sebelum masuk ke rumah.

Semalaman aku hampir tidak bisa tidur karena semua kejadian beberapa jam bersama bossku itu seperti diputar berulang-ulang dikepalaku. Perasaanku sangat bahagia karena langsung dimabuk cinta walaupun itu cinta terlarang.

Selama ini aku tidak pernah benar-benar pacaran dengan beberapa pria yang bergantian mencoba mendekatiku, mereka hanya aku jadikan teman dekat sampai mereka menjauh sendiri. Sejak hari itu pak Yanto selalu mengajakku keluar setiap hari Sabtu, kebanyakan hanya dari pagi sampai sore, jarang sekali bermalam mingguan lagi.

Kadang-kadang kami juga keluar malam sepulangnya dari kantor untuk nonton filem di bioskop atau makan malam bareng. Walaupun demikian aku menganggap kami sudah “jadian”, apalagi pak Yanto sudah mengajari aku berciuman bibir dengan permainan lidahnya.

Tidak sampai sebulan payudaraku sudah mulai di remas-remasnya ketika kami berciuman. Waktu pertama kali dilakukan hanya dari luar baju tapi untuk yang selanjutnya sudah merogoh langsung ke balik BHku setelah melepas kancing baju dan mengangkat cup BHku.

Terus terang aku sama sekali tidak memberikan penolakan atas aksi bossku yang ini karena aku sendiri sangat menikmatinya, apalagi kalau remasannya diselingi permainan jari-jarinya pada putingku. Tidak puas dengan meremas payudaraku, beliau juga mulai mengusap-usap vaginaku kalau aku kebetulan sedang memakai rok.

Untuk aksi beliau ini aku sempat menolak karena aku masih perawan dan itu yang kusampaikan kepadanya, tapi bossku bilang bahwa dia hanya akan mengusapnya dari luar celana dalam saja tidak sampai menyentuh langsung vaginaku.

Walaupun awalnya ragu-ragu tapi akhirnya aku “mengijinkannya” apalagi ternyata sentuhan beliau pada vagina membuat aku mulai mengenal apa yang namanya orgasme.

“Bapaaaa… Asti sudah ga tahaaannnn” itulah teriakan khasku pada saat mencapai orgasme yang terasa seperti sangat ingin pipis tetapi penuh kenikmatan. Kata bossku aku mempunyai libido yang tinggi karena cukup dengan ciuman panjang dengan remasan di payudara dan permainan jari diluar vagina, aku bisa mencapai orgasme berkali-kali sampai celana dalamku basah kuyup seperti ngompol tapi cairannya lebih kental dan sangat lengket.

Sebenarnya aku sangat risi karena kami selalu melakukannya di dalam mobil yang diparkir di tempat umum atau di ruangan beliau di kantor. Apalagi biasanya dalam sekejap pak Yanto bisa membuat bajuku berantakan.

Tapi dengan hubungan cinta terlarang seperti kami hampir tidak mungkin melakukannya di rumah sampai akhirnya tiba hari itu … Pada suatu hari aku beri tahu pak Yanto bahwa pada minggu ini aku hanya hanya sendirian di rumah sampai hari Minggu karena orang-orang rumah sedang mudik ke Bumi Ayu (Jawa Tengah) kampung halamanku.

Jadi aku menawarkan ke beliau untuk kencan di rumahku saja sekalian menemani aku menjaga rumah. Saat itu hubungan kami sudah berjalan hampir tiga bulan dan aku sama sekali tidak memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi kalau hanya berduaan dengan bossku di rumah yang kosong.

Hari Sabtu pagi aku sudah tak sabar menunggu pak Yanto di rumahku, ada perasaan senang di hatiku karena akan bisa berkencan dengan beliau tanpa ada rasa khawatir seperti yang biasa kami lakukan. Rasa senang ini menimbulkan rasa kangen yang amat sangat kepada pak Yanto, padahal baru kemarin kami bercumbu di mobil saat diantarnya pulang.

Akhirnya beliau datang juga dengan menenteng satu kantung kecil warna gelap (yang belakangan kuketahui berisi kondom dan pelumas). Sesuai permintaanku sebelumnya beliau memarkir mobilnya agak jauh dari rumahku supaya tetap memberi kesan rumahku kosong sehingga kencan kami tidak terganggu oleh saudara atau teman yang tiba-tiba datang berkunjung.

Setelah mengunci pagar dari arah luar dan mengunci pintu masuk, aku langsung menubruk dan memeluk pak Yanto yang saat itu sedang meletakkan kunci mobil dan tas kecilnya di atas meja makan. Beliau langsung membalasnya dengan menciumku penuh kehangatan seolah-olah juga baru bertemu kembali denganku.

Dengan tanpa melepaskan pangutan dibibir, kami kemudian bergerak untuk duduk di karpet depan pesawat TV. Pak Yanto sengaja mendudukkan aku di atas bantal-bantal yang ada supaya tinggi kami menjadi seimbang.

Setelah puas melepas kangen dengan berciuman, pak Yanto kemudian melepas bajuku kemudian BHku pun dilepasnya sehingga bagian atas tubuhku kini telanjang. Aku hanya bisa tertunduk malu karena selama ini belum pernah bercumbu sampai benar-benar melepaskan baju.

Setelah aku tunggu beberapa saat aku mulai merasa heran karena pak Yanto tidak juga segera beraksi setelah menelanjangi bagian atas tubuhku. Aku coba memberanikan diri mengangkat mukaku untuk melihat ke arah beliau, ternyata pak Yanto sedang mengamati dengan seksama payudaraku dengan ekspresi kagum.

Bossku ini rupanya juga sudah melepas baju atasnya sehingga kami sama-sama bertelanjang dada sekarang. “Asti, aku baru sadar ternyata besar sekali payudara kamu !” akhirnya beliau berkomentar

“Bukan sekedar besar tetapi benar-benar hampir bulat sempurna dengan letak putting di tengah-tengah”

“Ba .. bapa gak suka ?” kataku agak khawatir karena aku tahu ukuran payudara istrinya tergolong normal sedangkan semua perempuan di keluargaku payudaranya memang besar-besar, bahkan ukuran payudaraku masih tergolong kecil kalau dibandingkan mereka.

“Saya suka sekali, terutama karena bentuknya yang benar-benar membulat” Jawabnya “Hanya saja saya kaget karena tidak menyangka sebesar ini terutama kalau dilihat dari ukuran tubuh kamu yang kecil”

“Tapi yang jelas payudara kamu sangat kenyal” lanjutnya sambil tersenyum nakal “Sehingga terlihat selalu membusung walaupun sudah tidak menggunakan BH lagi” Sambil bicara pak Yanto mulai memegang-megang kedua payudaraku dengan kedua tangannya kemudian langsung memangut bibirku.

Ciuman beliau kali ini tidak hanya ke bibir saja, tapi juga pada kupingku leherku, dadaku dan juga putting payudaraku yang berwarna coklat kehitaman. Remasan pada satu payudara bersamaan dengan isapan-isapan yang disertai gigitan kecil pada putting payudara yang lainnya membuat aku dengan cepat merasa melayang.

“Ahhhh… ahhhh…bapaaaa…aaahhh” Celotehku dengan mulut yang menganga dan mata yang susah fokus karena mendapat kenikmatan yang datang tiba-tiba. Posisi tubuhku kemudian dirubah menjadi setengah berbaring sehingga bossku bisa lebih leluasa mencumbuku.

Nafsu berahiku meningkat dengan cepat, aku mulai merasakan celana dalamku menjadi lebih lembab oleh cairan yang keluar di sana. “Bapaaaaa …. Asti sudah ga tahaaaan ….” Teriakku seperti biasa kalau sudah mencapai orgasmeku.

Saat itu aku ingin pak Yanto mengelus-elus vaginaku yang basah dari luar celana dalamku, tapi sekarang beliau tidak melakukannya mungkin kah karena aku masih pakai celana jeans ? Tapi karena berahiku sudah sampai ke ubun-ubun maka aku tarik tangan kanan pak Yanto ke arah selangkanganku sebagai isyarat keinginanku.

Beliau rupanya bisa menangkap maksudku, tapi karena terhalang oleh celana jeans maka beliau berinisiatif membuka kancing celanaku dan resletingnya dengan satu tangannya supaya bisa menjangkau celana dalamku.

Pinggang celana jeansku yang tinggi (sampai pusar) rupanya masih menyulitkan beliau sehingga membuatnya jadi tidak sabar. Beliau lalu berhenti mencumbuku dan dengan gerakan cepat beliau menarik celana jeans dan celana dalamku sekaligus sampai terlepas.

Tidak berhenti di sana, pak Yanto pun kemudian melepaskan celana dan celana dalamnya sendiri dengan masih dalam posisi duduk di karpet sehingga kami berdua sekarang dalam kondisi telanjang bulat. Tubuhku yang telanjang berada dalam posisi badan setengah terbaring di karpet bersandar pada bantal dengan kedua kaki yang mengangkang.

Saat itu aku sudah tidak begitu peduli dengan keadaanku karena yang aku inginkan adalah pak Yanto segera mengelus-elus vaginaku seperti biasanya. Tanpa menunggu lama-lama pak Yanto langsung menindih kemudian menciumi bibirku sedangkan tangan kanannya mengelus-elus vaginaku tanpa terhalang celana dalam lagi.

Sentuhan langsung tangan bossku pada vagina ternyata terasa jauh lebih nikmat dari biasanya sehingga tensi berahiku mulai meninggi lagi setelah orgasme pertama tadi. Apalagi saat pak Yanto menggunakan jari-jarinya mempermainkan kelentitku sambil menggesek-gesek liang vaginaku yang sudah semakin basah.

“Hhhhmmmmpphhh …. Hmmmmmppphhhh…..” jeritanku masih tertahan oleh ciuman pak Yanto. Beliau kemudian beralih menciumi dan menjilati kedua putting payudaraku secara bergantian membuat tubuhku bergelinjang dengan hebat karena diserang rasa geli yang menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Jari-jarinya yang ada di vagina juga terus beraksi dengar berputar-putar di sekitar liangnya sehingga vaginaku terasa mulai merekah dan semakin basah.

“Ahhhh….bapa …ahhhh …. Ahhhhh … enaakkk … ahhh “ Aku hanya bisa menjerit-jerit sebagai ekspresi kenikmatan. Pak Yanto adalah laki-laki pertama yang aku anggap sebagai pacar dan juga yang pertama menyentuh tubuhku.

Cara beliau memperlakukanku membuat aku tidak bisa menolak permintaannya, bahkan membuatku selalu ketagihan dan merindukan beliau melakukannya lagi, lagi dan lagi. Walaupun selama tiga bulan perpacaran keperawananku masih belum terusik, tapi kali ini jadi lain ceritanya … “Ga tahan pa … Asti sudah ga tahan Bapa …. ooohhhhh” Teriakku saat merasakan orgasme lagi.

Setelah mengejang beberapa kali karena kenikmatan luar biasa yang kurasakan, tubuhku menjadi lemah lunglai. Aku mengangkat kedua tanganku ke arah beliau sebagai tanda ingin dipeluk, tapi pak Yanto malah bangun dan berlutut diantara kedua kakiku sambil menarik kakiku sedikit untuk membuat posisiku badanku berbaring secara sempurna.

Kedua kakiku dipentangkannya lebar-lebar dan tanpa ragu-ragu beliau langsung memangut vaginaku dengan bibir dan lidahnya sehingga sekarang kepala bossku itu ada diselangkanganku.

“Bapa apa yang ….Uuuuhhhhhh …..akkkkhhhhhhhh…..shhhhhhhh” aku sempat kaget dan ingin bertanya apa yang dilakukannya itu tapi sebelum kalimatku lengkap aku sudah disergap lagi rasa nikmat dari permainan lidah dan bibir beliau di vaginaku. Bibirnya mulai menciumi kelentitku sedangkan lidahnya menari-nari menjelajahi sisi dalam vaginaku yang sudah mulai merekah.

Kadang-kadang ujung lidahnya terasa bergerak keluar masuk kedalam liang vaginaku yang walaupun tidak masuk terlalu dalam tapi mendatangkan sensasi yang luar biasa. Aku mulai menggerak-gerakkan pinggul dan pantatku mengikuti tarian lidahnya sedangkan kedua tanganku meremas-remas rambut bossku dengan gemas.

Pak Yanto seperti tidak memperdulikan cairan vaginaku yang semakin membanjir dan bibir vaginaku semakin membengkak . Beliau bahkan mulai menggigiti kelentitku dan diselingi sapuan lidahnya yang kasar mengelilingi kulit kelentik yang sensitif membuat tubuhku mulai bergetar dengan hebat menahan rasa nikmat yang dahsyat.

“Akkkkkhhhhhhhhhhh……ga tahan… bapa …Asti ga tahan lagi …….akkkkkkhhhhh” Aku mengerang dengan badan hampir melenting karena nikmatnya. Pada saat nafasku masih memburu dan tersengal-sengal karena dihantam kenikmatan, aku lihat pak Yanto kembali pada posisi berlutut dan masih berada diantara kedua kakiku.

Kemudian beliau maju lebih mendekat ke selangkanganku sambil tangan kanannya seperti menggenggam sesuatu yang kemudian diarahkannya pada vaginaku. Aku belum pernah melihat kemaluan atau penis orang dewasa, aku hanya pernah melihat penis anak kecil keponakanku saat aku diminta memandikan mereka.

Walaupun bentuk dan ukurannya jauh berbeda, tapi aku yakin “benda” yang dipegang beliau itu adalah penisnya sendiri. Pengetahuan seksku memang sangat minim kalau tidak bisa dibilang nol, tapi naluriku mengatakan bahwa pak Yanto sekarang sedang berniat menyetubuhi aku.

Seketika timbul rasa takutku dan juga rasa menyesal karena telah mengundang pak Yanto ke rumahku yang sedang kosong supaya kami bisa bercumbu lebih bebas. Tapi badanku sudah sangat lemas karena tiga kali orgasme dan rasa takut membuatku malah semakin lemas saja sehingga akhirnya hanya bisa merasa pasrah kepada keadaan ini.

Aku hanya mencoba memejamkan mata supaya pikiranku tidak merekam memori visual dari peristiwa yang mungkin kuanggap akan kusesali seumur hidup. Kurasakan pak Yanto sudah berada di atas tubuhku dengan bertopang pada tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya membawa kepala penisnya bergesekan dengan kelentitku.

Rasa nikmat yang ditimbulkannya sedikit banyak mulai mengurangi rasa gelisah akibat ketakutanku tadi. Pak Yanto juga kadang-kadang membawa penisnya ke muka liang vaginaku dan melakukan gerakan berputar seolah-olah ingin membesarkan ukuran liangnya yang setahuku sangat sempit.

“Shhhhhhh…shhhhh…shhh…” Tanpa bisa kucegah mulutku mengeluarkan suara desisan nikmat yang seirama dengan gerakan tangan kanan beliau. Tiba-tiba aku merasakan kepala penis pak Yanto tidak lagi berputar-putar dimulut liang vaginaku, tetapi aku merasakan penis pak Yanto tersebut mulai terasa dijejalkan masuk ke dalam liang vaginaku.

Daging penis beliau yang padat terasa menyakitkan saat memasuki liang vaginaku yang sudah merekah basah dan licin.

“Aduuuuuhh….sakiiit …aduuuhhh…bapa…sakit sekali …aduuhhhh” Aku hanya bisa mengaduh pelan-pelan sambil mengangkat kedua tanganku untuk berpegangan pada pinggiran bantal yang menyangga kepalaku sehingga bisa meremas-remasnya saat merasa sakit.

BLESSSSS …. Seluruh batang penisnya akhirnya masuk dengan sempurna dengan tidak terlalu sulit karena sudah “siap” akibat cumbuan-cumbuan luar biasa yang dilakukan tadi.

“Sakit ya sayang ?” Tanya bossku sambil memperbaiki posisi badannya tanpa merubah posisi penisnya dalam liang vaginaku. Aku hanya mengangguk perlahan dan tanpa terasa ada butir-butir air mata muncul di ujung mataku yang terpejam.

Pak Yanto dengan lembut mencium air mata pada ujung mataku dan mengelus-elus rambutku yang panjang dan tebal.

“Uuuuhhhhhh ….” Aku kembali mengeluh pelan saat pak Yanto mulai melakukan gerakan maju mundur pada penisnya dengan perlahan. Beliau lalu memelukku dengan erat sehingga kedua tanganku pun sekarang dalam posisi melingkari punggungnya.

Rasa sakit itu lama-lama makin berkurang dan berganti menjadi rasa nikmat jauh melebihi yang pernah kurasakan sebelumnya.

“ Aarkkkhhh … arkkhhhhh ….arkkkhhh….” aku mengeluarkan erangan yang terdengar aneh saat pak Yanto mulai mempercepat gerakannya sambil tetap dalam posisi memelukku.

“Bapaaaa … aduuuhhh…. bapaaa …Asti udah gak tahaaaannn” Hanya dalam beberapa menit saja aku sudah meneriakan kata-kata orgasmeku yang khas. Pak Yanto membalasnya dengan gerakan yang makin cepat dan diakhiri dengan hujaman yang dalam dan dilanjutkan dengan gerakan penis berputar-putar seolah-olah mau membuka lobang rahimku.

Aku sampai mengejang-ngejang kenikmatan sambil mengangkat-angkat pantatku untuk mengimbangi gerakannya, sedangkan kedua tanganku sekarang beralih meremas-remas pantatnya beliau.

“Ooohhhhhhhhh…….” Akhirnya aku kembali tergolek lemas karena kenikmatan, pak Yanto pun menghentikan gerakannya setelah melihat reaksiku. Aku buka mataku dan memberikan senyumanku yang paling manis kepada bossku yang telah memberikan kenikmatan yang luar biasa dan secara ajaib menghapus sama sekali rasa menyesal yang sebelumnya kurasakan.

Lalu kami berciuman cukup lama sambil saling membelai muka dan rambut masing-masing. Setelah puas berciuman pak Yanto kemudian melepas pelukannya dan duduk tegak tanpa melepaskan penisnya dari vaginaku.

“Asti, coba kamu lihat darah perawan kamu” Ajak pak Yanto Aku coba mengangkat badanku sedikit dengan ditopang kedua tanganku sambil melihat ke arah selangkanganku. Penis pak Yanto hanya terlihat pangkalnya saja karena sisanya masih berada di dalam liang vaginaku.

Selain penuh dengan urat-urat yang menonjol, pada penisnya juga terlihat sedikit cairan berwarna merah pada beberapa bagiannya. Noda merah yang sama aku lihat juga pada bulu kemaluanku, perutku, paha sebelah dalam dan perutnya pak Yanto.

Rupanya itulah yang disebut darah perawan atau darah malam pertama oleh orang-orang selama ini. Sebagai perempuan suku Jawa, warna kulitku lebih gelap dari wanita suku Sunda, demikian juga dengan kulit kemaluanku yang berwarna merah gelap sampai kebagian dalamnya sehingga bercak-dercak darah itu tidak terlalu terlihat kalau tidak diperhatikan dengan seksama.

Belum sempat aku membuka mulut untuk memberikan komentar, beliau sudah mulai mengerakkan lagi penisnya maju mundur yang membuatku terpaksa berbaring kembali. Kedua kakiku satu persatu beliau naikkan ke atas bahunya sehingga badanku menjadi hampir terlipat dalam tindihan pak Yanto.

Dalam posisi seperti itu pak Yanto memompa penisnya makin lama makin cepat sehingga membuat tubuhku terguncang-guncang. “Oooowww ….ahhhh…aawww” aku menjerit kenikmatan

“Bapaaa..aa..aa..aa … nii… iii..kk…mmmaa…aaa..aatttt…sssee …eee…kkkaa…aaa…llliiiii…” suaraku jadi terputus putus karena kerasnya goncangan badanku. CROK … CROK …CROK …CROK … aku mulai mendengar bunyi seperti air becek yang ditepuk-tepuk dengan keras.

Belakangan aku ketahui itu adalah bunyi dari cairan yang telah membanjiri vaginaku dipompa dengan keras oleh penisnya pak Yanto sampai berbuih-buih. Badan kami kurasakan mulai berkeringat sehingga terlihat mengkilat, setetes dua tetes keringat pak Yanto mulai jatuh ke tubuhku.

Tak berapa lama kemudian keringat pak Yanto semakin membanjir dan mengalir deras ke perutku bercampur dengan keringatku sendiri .

CROK…CROK …CROK… CROK …CROK… bunyi itu semakin keras Rasanya aku hampir tak sadarkan diri karena gelombang demi gelombang nikmat yang makin lama makin besar seolah-olah tidak aka nada batasnya.

Tapi tiba-tiba aku merasakan tubuh pak Yanto mulai bergetar, pompaan penisnya makin tidak teratur iramanya.

“Asti …. Saya mau keluarrrrr …” teriak pak Yanto yang saat itu aku tidak tahu artinya. Kurasakan pak Yanto menekan kuat-kuat penisnya di dalam vaginaku, tak berapa lama kemudian penisnya terasa berdenyut denyut dengan kuat lalu seperti memuntahkan sesuatu yang hangat berkali kali di dalam tubuhku.

Denyutan pada penis beliau yang disertai semburan cairan hangat tersebut melipatgandakan kenikmatan yang tengah kurasakan.

“Bapppaaaaa … Oohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ……” akupun menyusul mengeluarkan lenguhan kenikmatan yang panjang sampai semburan dari penis pak Yanto berhenti. Tubuh pak Yanto lalu ambruk kelelahan menimpa tubuhku setelah sebelumnya menurunkan kedua kakiku dari bahunya.

Untuk beberapa saat pak Yanto tidak bereaksi sama sekali, sehingga aku coba peluk beliau erat-erat sambil mengelus-elus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa saat kemudian beliau mulai bergerak bangun dan langsung mencium bibirku.

“Asti, kamu bisa merasakan kenikmatannya sayang ?” Tanya beliau dengan setengah berbisik ditelingaku. AKu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kepada beliau.

“Sekarang bapa sudah mencicipi milik Asti yang paling berharga dan hanya ada satu-satunya” Kataku secara spontan yang dijawab dengan senyuman dan ciuman dari pak Yanto.

“Tapi sebagai gantinya tadi Asti sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa” lanjutku “Jadi Asti sebenarnya tidak tahu apakah harus meyesal atau berterima kasih” Sekali lagi beliau menjawabnya dengan tersenyum sambil memandangku dengan mesra sehingga aku menjadi jengah sendiri hingga tertunduk malu.

Kembali aku dihujani dengan kecupan-kecupan kecil dan ciuman-ciuman pendek yang sangat berarti bagiku.

“Aaaaahhhhhhhhhhhhhhh….” Jeritku tertahan ketika tiba-tiba pak Yanto menarik penisnya keluar. Pak Yanto kemudian berdiri dan berjalan ke halaman belakang untuk mengambil selembar handuk yang sedang dijemur di sana, kemudian dengan halus beliau menyeka keringatku dan keringatnya sendiri dan terakhir menyeka vaginaku dan penisnya.

Hari itu kami bertelanjang bulat seharian selama di dalam rumah, baik itu waktu memasak di dapur, makan siang , nonton TV ataupun saat sekedar mengobrol berdua. Kondisi kami yang bertelanjang bulat membuat kami selalu mudah terangsang lagi untuk bersetubuh, sehingga antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya kami selingi dengan bersetubuh.

Dalam persetubuhan-persetubuhan lanjutannya itu, beliau selalu menggunakan kondom yang dibawanya. Waktu itu aku dengan polosnya memprotes penggunaan kondom karena mengurangi kenikmatan bersetubuh padahal waktu persetubuhan yang pertama beliau tidak menggunakan kondom tersebut.

Sambil nyengir beliau menjelaskan bahwa yang pertamapun seharusnya beliau memakai kondom, tapi beliau khawatir aku keburu sadar dan menolak meneruskan saat beliau sedang memasang kondomnya. Menjelang malam pak Yanto akhirnya pamit pulang setelah total empat kali menyetubuhiku sepanjang hari tadi.

Hubungan kami selanjutnya semakin “panas” karena untuk dua tahun pertama aku benar-benar ketagihan untuk bersetubuh dan untuk itu aku bersedia disetubuhi dimanapun dan dalam segala kondisi, tentu saja hanya dengan pak Yanto saja.

Seringkali aku di kantor minta di setubuhi sambil berdiri atau dalam posisi menungging di meja dengan berpakaian lengkap. Kalau aku sedang menemani pak Yanto ke luar kantor atau saat diantar pulang sorenya, kadang aku suka merengek minta mampir ke hotel melati atau motel untuk memuaskan berahiku.

Tidak terhitung pula persetubuhan yang kami lakukan di dalam mobil yang biasanya kami parkir areal parkir umum yang luas tapi gelap. Pak Yanto tidak pernah menolak permintaanku, tapi beliau mewajibkan aku untuk selalu membawa kondom di dalam tasku karena beliau tidak bisa membawa persediaan kondom yang memadai tanpa ketahuan istrinya.

Tapi nafsu berahiku yang terlalu tinggi ini akhirnya membawa akibat fatal ketika aku memaksa untuk tetap disetubuhi pada saat persediaan kondom telah habis. Saat itu aku meminta bersetubuh dengan posisiku di atas dan pada saat pak Yanto akan ejakulasi aku tidak mengindahkan isyarat pak Yanto untuk mencabut vaginaku dari penisnya karena aku belum mencapai orgasmeku yang ketiga sehingga akhirnya sperma beliau tumpah di dalam tubuhku.

Akibatnya dua bulan kemudian aku dipastikan hamil ! Rasa bersalah membuatku tidak berani langsung membicarakannya kepada pak Yanto sehingga janinku semakin membesar. Pak Yanto akhirnya mengetahui juga setelah beliau merasa heran karena aku bersedia disetubuhi pada tanggal-tanggal biasanya aku mendapat haid dan juga merasakan payudaraku semakin membesar.

Karena kandunganku yang mulai besar, pak Yanto membawaku ke dokter kandungan untuk digugurkan dengan cara yang aman. Dokter tersebut mau melakukan tindakan aborsi karena aku diakui sebagai istri muda beliau yang tidak diijinkan punya anak oleh istri tuanya.

Sangat ironis memang … Kehamilan yang tidak dikehendaki dan aborsi yang aku lakukan membuat Pak Yanto memintaku untuk memasang IUD sehingga kami berdua tidak lagi perlu khawatir akan kebobolan. Sehingga kini aktivitas seks kami berdua terasa makin intensif dan tanpa disadari mulai terlalu demonstratif yang membuat orang-orang kantor mulai bertanya-tanya adanya hubungan istimewa diantara kami.

Akhirnya untuk mencegah kecurigaan orang-orang kantor yang sering melihatku keluar dengan nafas memburu dan lipstik memudar dari ruangan bossnya hampir dua kali sehari, pak Yanto merekomendasikan aku ke perusahaan lain yang dikelola pelanggan perusahaan kami.

Kemudian aku dikontrakkan kamar kos yang memungkinkan beliau datang kapan saja. Hampir setiap sore sepulang dari kantor beliau datang menyetubuhiku sebelum pulang ke rumahnya dan kadang-kadang pagi-pagi juga datang mengantarku ke kantor setelah bersetubuh dulu tentunya.

Setelah hampir empat tahun berhubungan dengan pak Yanto tanpa status yang jelas, akhirnya aku menerima lamaran dari teman SMAku yang inginmengajakku menikah tanpa melewati pacaran.

Mulanya pak Yanto keberatan dengan keputusanku, tapi akhirnya beliau mau menerimanya setelah aku berjanji mau tetap melayaninya kalau diminta. Hal itu memang bisa aku buktikan, bahkan saat aku sedang hamil anak pertamaku, aku tetap bersedia bersetubuh dengan beliau.

Aku memang tidak pernah bisa melupakan mantan bossku ini, bukan karena beliau orang yang telah merengut keperawananku, tapi karena aku memang mencintainya.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Selasa, 23 Februari 2016

Cerita Sex Antara Enak dan Benci 2st

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Antara Enak dan Benci 2st. Meneruskan Bagian ke dua.
Suasana di luar pun sudah berubah. Hujan yang tadi hanya rintik-rintik saja kini sudah mulai membesar sehingga membuat kabut di seluruh kaca mobil dimana kedua insan ini berada. Suasana yang sangat mendukung ini membuat mereka bertambah panas. Mereka tidak hanya berciuman saja. Mereka sudah saling meraba, mengelus dan berbuat apa saja yang mengakibatkan gairah mereka semakin membara.

Cerita Dewasa Antara Enak dan Benci 2st

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan
Cerita Mesum Antara Enak dan Benci 2st
Shinta yang kesehariannya selalu berwibawa, anggun dan lembut tutur sapanya, kini berubah seperti singa betina liar yang kehausan di tengah padang pasir kering.

"Ooohhh... ookkkhhhh, Don...," desahnya semakin menggairahkan. Dipeluknya tubuh Deni dengan erat seolah khawatir lepas darinya.

Deni tak menyahut. Ia balas memeluk dan tangannya mulai mencari-cari ke sekujur tubuh wanita cantik ini. Tangannya lalu menelusup lewat bagian bawah tank-topnya, merayap ke atas perut lalu merambah ke payudaranya yang tak memakai bra. Jemarinya menjelajah ke seluruh permukaan halus kulit buah dadanya yang terasa semakin membusung saja sesaat setelah terkena sentuhannya.

Shinta mendesah, kepalanya melengak ke belakang sehingga dadanya membusung ke arah wajah Deni. Disodorkan seperti itu, Deni tak tinggal diam. Disingkapnya tank-top itu sehingga dadanya terbuka lebar.

Deni mendecak kagum menyaksikan kedua bukit kembar itu membusung penuh, kedua putingnya nampak sudah mengeras dan mencuat ke atas. Pemandangan ini sungguh sangat menggairahkan sekali dan amat mengundang.

Setelah puas memandangi keindahannya, Deni segera membungkuk agar bibirnya dapat menciumi buah dada itu. Desahan Shinta semakin menjadi-jadi, kepalanya semakin melengak ke belakang seakan memberikan keleluasan pada Deni untuk menikmati semua miliknya itu.

"Auuuhhhh...., teruuuussss, yaaa iseeeeppphhfff..." ucapan Shinta semakin tak karuan merasakan kenikmatan ini, apalagi saat Deni menghisap putingnya sementara tangan kanannya meremas-remas dengan lembut buah dada yang satunya lagi.

Dalam keadaan seperti ini mana mungkin Deni menghentikan perbuatannya meski dalam keadaan sadar sekalipun. Apalagi alkohol dari minuman di bar tadi masih mempengaruhi dirinya. Ia pun lepas kendali, tanpa memikirkan siapa dirinya, siapa wanita yang tengah dicumbunya dan siapa pula suami wanita itu, Deni terus menggerayang ke bagian-bagian paling sensitif milik wanita ini.

Akibatnya sungguh luar biasa, Shinta semakin liar saja. Tubuhnya meliuk-liuk seolah ingin agar tak pernah luput dari setiap sentuhan Deni. Suasana di dalam mobil yang serba terbatas itu semakin panas kala tangan kiri Deni mulai menelusup di balik roknya dan merayap perlahan di atas pahanya.

Nafas Shinta semakin memburu seiring dengan semakin mendekatnya elusan jemari Deni ke pangkal pahanya. Ia justru sudah merasakan bagian itu basah. Shinta membuka kedua kakinya agar tangan Deni dapat dengan leluasa menyelinap ke dalam CD-nya.

"Ouugghhhfff..." jerit Shinta melengking saking nikmatnya saat jari Deni menyentuh bagian yang sudah lembab itu. Ia dorong tangan Deni masuk lebih dalam.

Jemari Deni mulai menyentuh-nyentuh bibir vaginanya. Terasa sudah basah. Jarinya menyeruak bulu-bulu yang terasa begitu lebat di seputar liang itu. Kemudian menyusuri belahannya, dielusnya perlahan, bergerak naik turun sambil menusuk sedikit demi sedikit.

"Oohhh Don! Enakkkhhh sekaliiiiii..!" jerit kenikmatan meluncur deras dari bibir Shinta kala ujung jempol Deni mengusap kelentitnya.

Pinggul Shinta bergoyang mengikuti irama gerakan jempol Deni yang begitu lihai. Tubuhnya meliuk-liuk menahan rasa nikmat yang sudah lama tak ia alami. Membayangkan hal itu, ia jadi teringat apa yang terlewatkan. Tangannya lalu menjulur ke bawah.

Mula-mula diletakan di atas paha Deni, lalu merayap naik perlahan. Tangan Shinta berhenti di pangkal pahanya, meremas-remas sejenak untuk kemudian naik kembali.

Matanya agak mendelik begitu menyentuh bagian yang sudah mengeras di balik celana Deni. Matanya semakin berbinar membayangkan bagaimana bentuknya jika sudah telanjang nanti.

"Don!?" pekiknya setengah terperangah.

"Kenapa, Yang?" tanyanya heran.

"Nggak.. akh..., bukain ya?" tanyanya kemudian.

Sebenarnya ia tak perlu minta izin dahulu dalam keadaan begitu sudah pasti Deni sama sekali tak keberatan. Dan memang tanpa menunggu jawaban, jemarinya yang lentik itu menarik ritsluiting celana Deni kemudian merogoh ke dalam. "Ehhmmm...," lenguhnya.

Nampaknya ia begitu senang mendapatkan apa yang selama ini ia cari-cari. Begitu keras! Jemarinya kemudian membelai-belai sepanjang batang yang masih terhalang celana dalamnya. Belaiannya berubah menjadi remasan.

Dari bibir Shinta keluar desis-desis penuh kenikmatan seiring dengan gerakan jari Deni yang mulai menusuk ke dalam liang memeknya. Kenikmatan yang ia rasakan semakin lengkap karena sejak dari tadi mulut Deni tak pernah berhenti mengemot puting susunya.

Shinta tak mau dibilang egois karena hanya mementingkan kenikmatan sendiri. Ia lalu mengais celana dalam Deni dan meraih batang kemaluannya yang besar itu ke dalam genggamannya. Meski ia tidak bisa melihat ke bawah, tapi ia bisa merasakan betapa besar dan panjang batang milik Deni itu. Dengan lembut ia mulai mengocok batang itu.

Giliran Deni yang kini menggelinjang merasakan remasan dan kocokan tangan lembut milik wanita cantik itu. Ia sangat lihai melakukannya, apalagi saat telunjuknya mengusap-usap moncongnya. Terasa ngilu saking enaknya.

Deni tak mau kalah, gerakan jemari di dalam liang memek Shinta semakin menggila, menerobos ke seluruh relung-relung kewanitaannya. Merambah ke bagian-bagian yang menggerinjal. Terdengar nafas Shinta mulai megap-megap menghadapi semua itu.

Rasanya tak akan bertahan lama lagi karena bagian yang tak pernah tersentuh pun, kali ini tak terlewatkan oleh serangan jemari Deni. Pinggul Shinta bergoyang liar, meliuk-liuk mengimbangi gerakan jemari Deni.

Sementara itu, tangan Shinta pun tak tinggal diam. Tangannya terus mengocok dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat. Mereka rupanya tengah berlomba untuk memberikan yang terbaik. Tubuh mereka bergoyang-goyang liar sehingga membuat mobilnya pun ikut-ikutan goyang.

Untunglah hujan cukup deras mengguyur bumi sehingga menghalangi pemandangan apa yang tengah terjadi di dalam mobil. Bahkan pekikan kenikmatan yang meluncur dari mulut Shinta yang cukup kencang itu pun sama sekali tidak sampai terdengar keluar.

Tak berapa lama kemudian Shinta mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga jari Deni melesak jauh ke dalam, kedua kakinya dikempitkan sehingga menjepit tangan Deni diam tak bergerak jauh di dalamnya. Diiringi jeritan kecil panjang, tubuhnya bergetar keras ketika ia mencapai titik puncak kenikmatannya.

"Oouugghhff..........! Dooonnnn, enaaaaakkkkk!"

Sreeeeeetttttt....., sreeet..., ssrrreeeettttttt!!!!!

Shinta merasakan air maninya menyembur berkali-kali untuk yang pertama kalinya sejak suaminya tak memiliki gairah lagi. Luar biasa sekali ekspresi wanita cantik ini. Begitu menggairahkan, begitu dahsyat.

Rupanya luapan kenikmatan Shinta berpengaruh banyak pada diri Deni. Ia merasakan batangnya terasa kelu. Tubuhnya bergejolak hebat. Pantatnya bergerak naik turun mengimbangi kocokan tangan Shinta pada batangnya dan... akh....., akh, akh.....

Creeeeeettttt! Creeetttt!!! Creeeetttt!

Deni mengeluarkan suara geraman berat begitu dari kemaluannya menyemburkan cairan kental berkali-kali. Shinta terus mengocoknya tak henti-henti seakan ingin menguras seluruh isinya. Ia coba melirik ke bawah karena ingin melihat pemandangan saat lelaki mencapai orgasmenya, tapi sayang hanya kegelapan yang ia lihat selain merasakan cairan kental dan hangat membasahi seluruh telapak tangannya.

Mereka terkulai lemas dengan nafas tersengal-sengal. Meski hanya permainan tangan, tetapi rupanya cukup menguras tenaga dan pikiran mereka berdua.

Samar-samar dalam kegelapan itu, nampak tersungging senyum kepuasan dari bibir Shinta. Ia lalu mengelus kepala Deni yang terkulai lemas di atas dadanya. Ia berbisik bahagia, "Enak sekali, Don."

Kira-kira lima menit mereka beristirahat tanpa bergerak dan mengeluarkan sepatah kata pun. Deni mengangkat kepala dan melirik ke arah Shinta sambil tersenyum hangat. Shinta balas tersenyum. Mesra sekali senyuman itu diikuti oleh sebuah kecupan lembut pada bibir Deni.

Mereka kembali ke posisi duduk semula. Shinta merapikan kembali pakaiannya yang tak karuan diikuti oleh pandangan mata Deni yang tekagum-kagum dan pada saat ia akan menaikkan celana dalamnya, tiba-tiba Deni menahan lengannya. Shinta melirik dengan pandangan penuh tanda tanya.

Belum sempat ia bertanya, kepala Deni langsung menunduk ke arah selangkangannya dan mencium kemaluannya.

Darahnya kembali berdesir merasakan hembusan nafas hangat di sekitar kemaluannya. Shinta tertawa geli saat lidah Deni menyentuh bibir kemaluannya. Geli tapi enak!

"Akh...Don! Kamu nakal sekali! Bikin gemes aja!" kata Shinta terputus-putus.

Deni kembali mengangkat kepalanya sambil ikut-ikutan tertawa.

"Idih kok malah ketawa?" seru Shinta semakin gemes. "Awas ya!"

Shinta mendorong tubuh Deni hingga kembali duduk dan menggelitik pinggangnya. Deni tertawa kegelian dan meminta supaya menghentikannya. Shinta berhenti menggelitik, matanya melirik ke arah celana Deni yang masih terbuka dan menemukan batangnya yang terkulai lemas sementara di sekitarnya nampak cairan-cairannya yang sudah agak mengering mengotori celananya.

"Aduuhhh, jadi belepotan begini sich," kata Shinta seraya buru-buru mengambil tissue basah di atas dashboard mobil dan mengelapnya dengan hati-hati.

Terkena sentuhan tangan lembut itu, tanpa bisa dicegah, batang Deni mulai memperlihatkan kehidupannya kembali. Sedikit demi sedikit seiring dengan usapan lembut Shinta, batang itu semakin membesar dan mengeras bagaikan besi.

Mata Shinta tak pernah mengedip mengikuti perkembangan itu. Ia terkagum-kagum menyaksikan kemaluan Deni sudah ngaceng kembali dan siap action!

"Cepet banget," ucapnya perlahan penuh kekaguman akan kejantanan teman sekantornya ini.

"Kepengen lagi ya?"

"He-eh," jawabnya pendek.

"Gimana kalau kita cari tempat yang lebih nyaman," saran Deni coba-coba karena mengingat jam sudah menunjukan hampir tengah malam.

"Kamu sendiri gimana? Nggak dicariin?" Shinta balik tanya.

"Aku nggak apa-apa. Lagi bujangan... he.. he.. he," jawabnya sambil tertawa.

"Curang...," sergahnya pura-pura cemberut padahal ia juga kepengen banget meneruskan acara yang tentunya akan jauh lebih hot. Tapi sebagai wanita ia jaga gengsi juga jangan sampai kelihatan kegatelan banget.

Shinta pura-pura berpikir sejenak,

"Gimana ya, ini kan udah malem," katanya sambil menunggu agar Deni terus mendesaknya.

"Nggak apa-apa. Lagian kamu juga lagi bebas kan?" seolah mengerti apa yang ada dalam benak wanita ini, Deni berlagak memintanya terus.

"Oke dech," jawabnya dengan suara yang amat perlahan.

"Nah gitu dong. Itu baru namanya cewek gua yang cantik," kata Deni dengan gembira.

Mendengar itu Shinta kembali berpura-pura marah sambil memelototkan matanya. Melihat ekspresi wajah Shinta, gairah Deni seakan mendesak kembali. Lalu dengan cepat diciumnya bibir yang sensual itu dengan penuh gairah.

"Ehmm.... mmmpphhhff..., cepetan dong!"

"Oke sayang. Oke!" Deni buru-buru melepaskan ciumannya dan bergegas keluar dari mobil untuk segera naik ke mobilnya yang diparkir di sampingnya.

Singkat cerita mereka sudah memesan sebuah cottage tak jauh dari tempat itu. Keduanya buru-buru masuk ke dalam untuk segera memulai kembali acara yang tertunda. Baru saja Shinta menyalakan saklar lampu, Deni sudah memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuknya dengan penuh gairah.

Shinta melenguh merasakan ciuman hangat yang langsung membangkitkan gairahnya. Kepalanya melengak kebelakang sehingga memperlihatkan kulit lehernya yang halus dan harum. Deni tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mencumbui daerah yang cukup sensitif bagi wanita.

Tangannya pun ikut-ikutan beraksi menyusup ke balik pakaian Shinta, mengelus-elus permukaan perutnya yang rata untuk kemudian merayap, menggerayangi buah dadanya yang begitu kenyal padat berisi.

Cumbuan Deni yang begitu lihai membuat lututnya bergetar sehingga tak tahan untuk berdiri lama. Ia lalu berbalik dan menarik kursi yang berada di sampingnya untuk duduk. Cumbuan Deni tak pernah terlepas dan terus mengikuti kemana gerakan Shinta.

Begitu sudah duduk, Deni langsung melucuti pakaian atas Shinta hingga telanjang. Matanya langsung berbinar penuh kagum menyaksikan kedua bukit kembar milik wanita itu nampak menggantung indah dan membusung penuh di dadanya.

Dengan rakus, Deni melahap satu per satu daging kenyal itu. Lidahnya menjilat-jilat di seputar putingnya, sesekali menghisap dan mengemot benda kecil kemerahan yang semakin mencuat itu. Serangan Deni memang begitu gencar, tangannya beraksi kembali menarik rok dan sekaligus celana dalamnya sehingga kali ini Shinta benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mulusnya.

Mulut Deni merayap ke bawah menyusuri permukaan perutnya untuk kemudian langsung terbenam di antara kedua pangkal paha Shinta. Lagi-lagi Shinta menjerit kecil kala ujung lidah Deni menyentuh labia vaginanya. Tubuh Shinta bergetar bagaikan terkena stroom tekanan tinggi.

Sambil berpegang pada pinggiran kursi, ia menaikan kedua kakinya ke atas sehingga bagian selangkangannya terbuka lebar-lebar. Deni segera menyerbu belahan daging berwarna kemerahan yang sembunyi di antara bulu-bulu lebat di seputarnya. Jemarinya kembali mengorek-ngorek bagian itu, sementara lidahnya terus menjilat-jilat.

"Ouh...., ooooouuuhhhhh.... Dooooonn..." Shinta mengerang-erang keenakan. Kedua tangannya segera mencekal kepala Deni dan membenamkannya dalam-dalam.

Lidah Deni bergerak lincah mempermainkan kelentit yang menyembul di antara belahannya. Benda kecil yang sangat sensitif itu sudah keras sekali. Akibatnya Shinta megap-megap seperti kehabisan nafas menahan nikmat yang tak terhingga.

Suasana yang jauh lebih nyaman dan aman serta gairah yang telah lama terpendam membuat ia tak bisa bertahan lama menikmatinya karena beberapa detik kemudian tubuhnya berguncang keras, menggelapar-gelepar bagaikan ikan kehabisan air. Diiringi lengkingan panjang, Shinta melepaskan tekanan yang mendesak dari dalam dirinya.

"Aaaaaakkkkkhhhhh!!!!" jeritnya penuh kenikmatan.

Shinta kemudian meraih kepala Deni dan menciumi wajahnya dengan penuh kemesraan seolah ingin menyatakan ucapan terima kasih atas kenikmatan yang baru ia berikan. Ciumannya semakin memanas dan liar.

Didorongnya tubuh Deni ke arah ranjang hingga jatuh terlentang di sana. Ia langsung menindihnya dari atas sambil menciumi sekujur tubuhnya sementara jemarinya dengan cekatan mempreteli seluruh kancing bajunya dan melepaskannya.

Lalu membuka ikat pinggangnya. Tanpa memperdulikan Deni yang mungkin agak terkejut dengan perangainya, Shinta langsung memelorotkan seluruh celana Deni.

"Oooww!!!" pekiknya tertahan menyaksikan batang milik Deni yang sudah mengacung keras seperti tiang pancang itu.

Ia tak pernah mengira bahwa batang milik teman sekantornya ini jauh lebih besar, panjang dan amat keras seperti perkiraannya sewaktu memegangnya dalam kegelapan di mobil tadi. Ingin rasanya ia berteriak kegirangan mendapatkan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Gede banget!" bisik Shinta seraya meraba-rabanya seperti anak kecil yang baru diberi mainan.

Ia kemudian merayap di atas tubuh Deni, turun ke arah selangkangannya. Kini wajahnya persis berada di depan batang yang mengacung itu. Dipandanginya sekujur batang itu dan setelah puas baru ia menjulurkan lidahnya ke atas moncong batang itu.

"Errrggghhhh....," Deni mengerang keenakan saat merasakan lidahnya yang hangat. Ia melirik sejenak untuk melihat ke bawah.

Shinta pun melirik ke atas. Pandangannya bertemu. Deni menganggukkan kepalanya. Entah apa maksudnya. Seolah mengerti, Shinta membuka mulutnya dan perlahan-lahan memasukan batang itu. Kedua bibirnya dirapatkan dan mulai mengulumnya. Lidahnya bermain-main di sekujur batang itu sambil mengemot-emot.

"Auuuukkkhhhh....," kembali Deni mengerang.

Kepala Shinta bergerak naik turun. Dari mulutnya terdengar suara keciprakan selomotannya. Sungguh mendebarkan sekali mendengar suara-suara itu. Shinta tak henti-hentinya mengulum, mengemot dan menghisap-hisap seolah ingin membalas kenikmatan yang dirasakannya tadi.

Akibatnya Deni berkelejotan menahan kenikmatan luar biasa ini. Ia merasa tak akan bertahan lama. Deni nampaknya tak ingin keluar sebelum keinginannya tercapai. Ia lalu menahan gerakan Shinta dan mengisyaratkan padanya untuk naik.

Shinta mengerti apa maksudnya, ia lalu berjongkok mengangkangi tubuh Deni sehingga selangkangannya persis berada di atas batang yang berdiri tegak itu. Tubuhnya kemudian turun perlahan-lahan. Batang Deni yang sudah ia selipkan di antara belahan memeknya mulai melesak masuk. Dengan mata terpejam Shinta meneruskan pinggulnya semakin turun sampai akhirnya batang Deni amblas seluruhnya.

Bleeeesssshhhhhhh!!!

"Aaaakkkhhhhhh!!!!" Shinta menghembus nafas lega saat berhasil memasukan seluruhnya padahal tadi sempat ngeri kalau terjadi apa-apa dengan miliknya karena begitu seret sekali masuknya.

Ia berhenti sejenak sambil menarik nafas, lalu mulai bergoyang sambil mengangkang di atas tubuh Deni. Kedua tangannya bertumpu di atas dada Deni, pantatnya menggeol-geol sambil bergerak naik turun dengan irama yang teratur. Tubuhnya nampak bergerak seolah sedang menunggang kuda dan memacunya dengan penuh gairah.

Di bawah sana, Deni tak tinggal diam. Pinggulnya turut bergerak naik turun, bergoyang kiri kanan mengimbangi irama gerakan wanita yang menungganginya. Keadaan semakin bertambah panas, mereka sama-sama berpacu saling berlomba menuju puncak pendakian.

Seiring dengan meningkatnya kecepatan, Shinta membungkukan tubuhnya hingga sejajar dengan tubuh Deni sementara pantatnya menungging ke belakang bak seorang joki yang tengah memacu secepat mungkin saat mendekati garis finish.

Demikian pula dengan Deni, kedua tangannya merangkul erat tubuh sintal wanita itu yang nampaknya hampir mencapai puncak pendakiannya. Tubuhnya semakin berguncang, berkelojotan seperti ayam disembelih. Pantatnya bergerak cepat naik..., turun...., naik..., turuuuunnnn...., dan akhirnya ditekannya kuat-kuat. Dari mulutnya meluncur desisan panjang dan lenguhan keras mirip sapi sedang birahi.

Seeeeeerrrrrrrrrr!!!!! Shinta merasakan air maninya menyembur kencang dan banyak sekali menyirami batang kemaluan Deni yang nampak masih bergerak keluar masuk.

"Auuuugghhh..... Dooon!!! Cepet keluaaarinhhhh...., udah nghhhiillluuuuuu......., ooookkkhhhhh!!" kepala Shinta menggeleng-geleng saking gelinya merasakan tusukan demi tusukan batang keras di dalam kemalauannya.

"Oughh..., ouuuggghhh...., AAAAKKKKHH!!!!!" Deni mengerang-erang merasakan nikmatnya orgasme berkali-kali.

Mereka bergulingan di ranjang sambil berpelukan erat menikmati puncak dari segala kenikmatan permainan cinta ini.

"Fhhhuuiiiihhh!!!" Deni merasakan kelegaan. Lepas sudah ketegangan di sekujur tubuhnya.

"Wow!" pekik Shinta puas. Permainan kedua yang cukup menyita tenaga ini sungguh sangat mengasyikan sekali.

Dari raut wajahnya nampak sekali ia begitu menikmatinya dan benar-benar memuaskan. Shinta memeluk Deni begitu mesra seakan tak ingin melepaskan untuk selamanya.

Mereka berdua seolah tak ingat akan waktu yang telah melewati tengah malam, atau keluarga mereka yang mungkin mengira mereka sudah ada di rumahnya masing-masing. Apa jadinya kalau perselingkuhan itu tercium oleh keluarga mereka.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil