Kamis, 18 Februari 2016

Cerita Sex Diah Masih Polos 1st

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Diah Masih Polos 1st. Aku sudah memimpikan untuk belajar di bangku perkuliahan, di kampungku hanya sedikit orang yang duduk di bangku perkuliahan bukannya dia tidak mau tapi karena perekonomian yang sederhana, apalagi jarak antara kampus dengan desaku cukup jauh, minimal 5 kali berganti angkot atau dengan jasa ojeg.

Cerita Sex Diah Masih Polos 1st

 Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Diah Masih Polos 1st
Sangat beruntung bagi Nanang bisa sampai menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Tapi lepas dari SMA kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tetap besar.

Namun semua itu tentunya sangat berhubungan dengan biaya. Apalagi kalau kuliahnya harus pulang pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang ada, akhirnya semuanya diceritakan di hadapan kedua orang tuanya.

Mereka dengan penuh bijaksana menerangkan semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah. Sampai dengan alternatif untuk tinggal di rumah kakak ibunya.

Mendengar antusiasnya kedua orang tuanya, membuat semangat Nanang bertambah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan untuk ukuran orang-orang yang ada di kampung itu. Kedua orang tuanya memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah satu tokoh di kampung itu.

"Nanang.." sapa ibunya ketika Nanang sedang merapikan beberapa pakaian untuk dibawa ke kota. Ini adasurat dari ayahmu untuk Oom di kotananti. Sebuah suratyang mungkin penegasan dari ayah Nanang untuk menyakinkan bahwa anaknya akan tinggal untuk sementara waktu di rumah Oomnya.

Sebetulnya orang tua Nanang sudah menelepon Tuan Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan Nanang sangat jarang sekali bertemu maka orang tua Nanang memberikan surat penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung, di rumah Oomnya untuk sementara waktu.

Oomnya yang bernama Budiman memang paling kaya dari keluarga ibunya yang terdiri dari empat keluarga. Oomnya yang tinggal di Bandung dan mempunyai beberapa usaha dibidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah suratkabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat berhasil.

Hubungan antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua orang tua Nanang sebetulnya tidak ada masalah, hanya karena kedua orang tua Nanang yang sering memberikan nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering berganti-ganti istri dan akibat dari berganti-ganti istri itu sehingga anak-anaknya tercecer di mana-mana.

Menurut ibu Nanang, Oomnya telah berganti istri sampai dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari keempat istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak, dua dari istri yang pertama dan duanya lagi dari istri-istri yang kedua dan ketiga sedang dari istri yang keempat Om Budiman tidak mempunyai anak.

Anak Om Budiman yang paling bungsu di bawah Nanang dua tahun dan ia masih SMA di Bandung. Jadi usia Om Budiman kira-kira sekarang berada diatas limapuluh tahun.

Sesampainya di kotaBandung yang begitu banyak aktivitas manusia, Nanang langsung masuk ke sebuah kantor yang bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu disambut oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah. Belakangan diketahui namannya Asep dari papan nama yang dikenakan di bajunya.

"Selamat siang Pak," Tegur Nanang kepada salah satu satpam yang ada dua orang.

"Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu," jawab satpam yang bernama Asep.

"Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?"

"Bapak Budiman yang mana Dik," tegas satpam Asep, karena melihat suatu keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada bisnis dengan anak kecil yang baru berumur dua puluh tahunan.

"Anu Pak, apa ini PT. Rido," tanya Nanang menyusul keraguan satpam. Karena sebetulnya Nanang juga belum pernah tahu di mana kantor-kantor Oomnya itu, apalagi bisnis yang digelutinya.

"Iya.. Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik perusahaan ini," tegas satpam Asep menjelaskan tentang keberadaan PT.Rido dan siapa pemiliknya.

"Adik ini siapa," tanya satpam kepada Nanang, sambil mempersilakan duduk di meja lobby bawah.

"Saya Nanang Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa Gunung Heulang."

"Keponakan," tegas satpam, sambil terus mengangkat telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.

Selang beberapa menit kemudian Pak Dadi datang menghampiri Nanang sambil memberikan selamat datang di kotaBandung. "Nanang.. Apa masih ingat sama Bapak," kata Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru ketemu.

Mimik Nanang jadi bingung karena orang yang datang ini ternyata sudah mengenalnya.

"Maaf Pak, Nanang Sudah lupa dengan Bapak," kata Nanang sambil terus mengigat-ingat.

Pak Dadi terus menerangkan dirinya, "Saya yang dulu sering mancing bersama Tuan Budiman ketika Nanang berumur kurang lebih lima tahun."

Nanang jadi bingung, "Wah, Bapak bisa saja.. mana saya ingat Pak, itu kan sudah bertahun-tahun."

Selanjutnya obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini diketahui selain kepercayaan di kantor, ia juga sebagai tangan kanan Tuan Budiman. Bapak Dadi mengetahui apa pun tentang Tuan Budiman. Kadangkala anak Om Budiman sering minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang keluar kota.

Malah belakangan ini Om Budiman membeli sebuah rumah dan di belakangnya dibuat lagi rumah yang tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi dan istrinya sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang kurang lebih baru berumur 35 tahun.

"Aduh Dik Nanang, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan Budiman bahwa ia tidak dapat menemani Dik Nanang karena harus pergi ke Semarang untuk urusan bisnis. Dan saya diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik Nanang.

Nah, sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu," sambung Pak Dadi melihat ekpresi Nanang yang sedikit kecewa karena ketakutan akan tempat tinggal.

Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar, "Jangan takut Dik Nanang pokoknya kamu tidak akan ada masalah," tegur Pak Dadi sambil menegaskan akan tidur dimana dan akan kuliah dimana, itu semunya telah diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa dibidang apapun.

Mendengar itu Nanang menjadi tersenyum, sambil melihat-lihat orang yang berlalu lalang di depanya. Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik ditambah lagi dengan penampilannya yang mengunakan rok mini.

Keberadaan Nanang sebagai keponakan dari pemilik perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya. Ditambah lagi dengan postur badan Nanang yang atletis dan wajah yang gagah membuat para karyawati semakin banyak yang tersenyum bila melewati Nanang dan Pak Dadi yang sedang asyik ngobrol.

Mereka tersenyum ketika bertatap wajah dengan Nanang dan ia segaja duduk di lobby depan, meskipun tawaran untuk pindah ke lobby tengah terus dilontarkan oleh Pak Dadi karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman. Memang tempat lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk perusahaan, dan semua itu membuat Nanang menjadi betah sampai-sampai lupa waktu karena keasyikan cuci mata.

Keasyikan cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya pulang dengan mengendarai sebuah mobil sedan dengan merek Mesri terbaru, melaju ke sebuah kawasan villa yang terletak di pinggirankotaBandung. Sebuah pemukiman elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang berjarak kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah kompleks yang sangat mengah dan dijaga oleh satpam.

Laju mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai dua dengan halaman yang luas dan di belakangnya terdapat satu rumah yang sama megahnya, kolam renang yang cantik menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara rumah yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami Pak Dadi dan Istrinya.

Sedangkan pos satpam dan rumah kecil ada di samping pintu masuk yang diisi oleh Mang Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang selalu menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman. Ketika mobil telah berhenti, dengan sigap Mang Ade membawa semua barang-barang yang ada di bagasi mobil. Satu tas penuh dibawa oleh Mang Ade dan itulah barang-barang yang dibawa Nanang. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya.

Pak Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke rumahnya yang ada di belakang rumah Om Budiman tetapi masih satu pagar dengan rumah Om Budiman. Pak Dadi meninggalkan Nanang, sedangkan Nanang ditemani oleh Bi Enung menuju ruang tengah. Setelah Tante Rani datang sambil tersenyum menyapa Nanang, Bi Enung pun meninggalkan Nanang sambil terlebih dahulu menyuruh menyiapkan air minum untuk Nanang.

"Tante sudah menunggu dari tadi Nanang," bisiknya sambil menggenggam tangan Nanang tanda mengucapkan selamat datang.

"Sampai-sampai Tante ketiduran di sofa", lanjut Tante Rani yang pada waktu itu menggunakan rok mini warna Merah. Wajah Tante Rani yang cantik dengan uraian rambut sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh perhatian.

"Tante sudah tahu bahwa Nanang akan datang sekarang dan Tante juga tahu bahwa Om Budiman tidak dapat menemanimu karena dia sedang sibuk."

Obrolan pun mengalir dengan punuh kekeluargaan, seolah-olah mereka telah lama saling mengenal. Tante Rani dengan penuh antusias menjawab segala pertanyaan Nanang. Gerakan-gerakan tubuh Tante Rani yang pada saat itu memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan Nanang membuat Nanang salah tingkah karena celana dalam yang berwarna biru terlihat dengan jelas dan gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan menantang dari balik CD-nya. Paha yang putih dan pinggulnya yang besar membuat kepala Nanang pusing tujuh keliling. Meskipun Tante Rani telah yang berumur Kira-kira 35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis remaja.

"Nah, itu Diah," kata Tante Rani sambil membawa Nanang ke ruang tengah. Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP. Memang ruangan tengah rumah itu dekat dengan garasi mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah.

Sambil tersenyum, Tante Rani memperkenalkan Nanang kepada Diah. Mendapat teman baru dalam rumah itu Diah langsung bergembira karena nantinya ada teman untuk ngobrol atau untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat dikerjakan sendiri.

"Nanti Kak Nanang tidurnya sama Diah ya Kak." Mendapat pertanyaan itu Nanang dibuatnya kaget juga karena yang memberikan penawaran tidur itu gadis yang tingginya hampir sama dengan Nanang. Adik kakak yang sama-sama mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat cantik.

Lalu Tante Rani menerangkan kelakuan Diah yang meskipun sudah besar karena badannya yang bongsor padahal baru kelas dua SMP. Mendengar keterangan itu, Nanang hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur badannya padahal dalam pikiran Nanang, ia sudah menaruh hati pada Diah yang mempunyai wajah yang cantik dam putih bersih itu.

Setelah selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan ditemani oleh Tante Rani, Nanang masuk ke kamarnya yang berdekatan dengan kamar Diah. Memang di lantai dua itu ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi. Tante Rani menempati kamar yang paling depan sedangkan Nanang memilih kamar yang paling belakang, sedangkan kamar Diah berhadapan dengan kamar Nanang.

Setelah membuka baju yang penuh keringat, Nanang melihat-lihat pemandangan belakang rumah. Tanpa sengaja terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang memeluk istrinya sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang bermana Astri.

Sedangkan tangan kirinya menempel sebatang rokok. Keluarga Pak Dadi dari dulu memang sangat rukun tetapi sampai sekarang belum dikeruniai anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman, Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di dalam spermanya tidak terdapat bibit yang mampu membuahinya.

Hari-hari selanjutnya Nanang semakin kerasan tinggal di rumah Om Budiman karena selain Tante Rani Yang ramah dan seksi, juga kelakuaan Diah yang menggemaskan dan kadang-kadang membuat batang kemaluan Nanang berdiri.

Nanang semakin tahu tentang keadaan Tante Rani yang sebetulnya sangat kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan tantenya berbelanja di suatu toko di pusat kotaBandung yang bernama BIP. Tante Rani dengan mesranya menggandeng Nanang, tapi Nanang tidak risih karena kebiasaan itu sudah dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang.

Tapi yang membuat kaget Nanang ketika di dalam mobil, Tante Rani mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak bahagia secara batin. Mendengar itu Nanang kaget setengah mati karena tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante Rani menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo saat bercinta dengannya.

Nanang tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan karena ia tidak mungkin memberikan kebutuhan itu meskipun selama ini ia sering menghanyalkan bila ia mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam kemaluan Tante Rani.

Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante Rani dengan berani tiduran di atas paha Nanang sambil terus bercerita tentang kegundahan hatinya selama ini dan dia pun bercerita bahwa cerita ini baru Nanang yang mengetahuinya.

Sambil bercerita, lipatan paha Tante Rani yang telentang di atas jok mobil agak terbuka sehingga rok mininya melorot ke bawah. Nanang dengan jelas dapat melihat gundukan hitam yang tumbuh di sekitar kemaluan Tante Rani yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan itu.

Nanang menelah ludah sambil terus berusaha menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi. Ketika Nanang akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak segaja dia memegang buah dada tantenya yang telah mengeras dan saat itu pula bibir tantenya yang merekah meminta Nanang untuk terus merabanya.

Nanang menghentikan mobilnya di pinggir jalan menuju rumahnya sambil berkata, "Aku tidak mungkin bisa melakukan itu Tante," Tante Rani hanya berkata, "Nanang, Tolong dong.. Tante sudah tidak kuat lagi ingin gituan, masa Nanang tidak kasihan sama Tante."

Tangan Tante Rani dengan berani membuka baju bagian atas dan memperlihatkan buah dadanya yang besar. Terlihat buah dada yang besar yang masih ditutupi oleh BH warna ungu menantang untuk disantap.

Melihat Nanang yang tidak ada perlawanan, akhirnya Tante Rani memakai kembali bajunya dan duduk seperti semula sambil diam seperti patung sampai tiba di rumah. Perjalanan itu membuat Nanang jadi salah tingkah dengan kelakuan tantenya itu.

Kedekatan Nanang dengan Diah semakin menjadi karena bila ada PR yang sulit Diah selalu meminta bantuan Nanang. Pada saat itu Diah mendapatkan kesulitan PR matematika. Dengan sekonyong-konyong masuk ke kamar Nanang.

Pada saat itu Ari baru keluar dari kamar mandi sambil merenungkan tentang kelakuannya tadi siang dengan Tante Rani yang menolak melakukan itu. Nanang keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.

Dengan jelas Diah melihat batang kemaluan Nanang yang mengerut kedinginan. Sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, Diah membalikkan badannya. Nanang hanya tersenyum sambil berkata,

"Mangkanya, kalau masuk kamar ketok pintu dulu," goda Nanang sambil menggunakan celana pendek tanpa celana dalam. Kebiasaan itu dilakukan agar batang kemaluannya dapat bergerak dengan nyaman dan bebas.

Nanang bergerak mendekati Diah dan mencium pundaknya yang sangat putih dan berbulu-bulu kecil. "Ahh, geli Kak Nanang.. Kak Nanang sudah pake celana yah," tanya Diah.

"Belum," jawab Nanang menggoda Diah.

"Ahh, cepet dong pake celananya. Diah mau minta tolong Kak Nanang mengerjakan PR," rengek Diah sambil tangan kirinya meraba belakang Nanang.

Melihat rabaan itu, Nanang segaja memberikan batang kemaluannya untuk diraba. Diah hanya meraba-raba sambil berkata, "Ini apa Kak, kok kenyal."

Mendapat rabaan itu batang kemaluan Nanang semakin menengang dan dalam pikirannya kalau dengan Diah aku mau tapi kalau dengan kakakmu meskipun sama-sama cantiknya tapi aku juga masih punya pikiran yang betul, masa tenteku digarap olehku.

Rabaan Diah berhenti ketika batang kemaluan Nanang sudah menegang setengahnya dan ia melepaskan rabaannya dan langsung membalikkan badannya. Nanang kaget dan hampir saja tali kolornya yang terbuat dari karet, menjepit batang kemaluannya yang sudah menegang.

Tangan yang tadi digunakan meraba batang kemaluan Nanang kembali digunakan menutup wajahnya dan perlahan Diah membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan terlihat Nanang sudah memakai celana pendek.

"Nah, gitu dong pake celana," kata Diah sambil mencubit dada Nanang yang menempel di susu kecil Diah. "Udah dong meluknya," rintih Diah sambil memberikan buku Matematikanya.

Saling memeluk antara Nanang dan Diah sudah merupakan hal yang biasa tetapi ketika Nanang merasakan kenikmatan dalam memeluk Diah, Diah tidak merasakan apa-apa mungkin karena Diah masih anak ingusan yang badannya saja yang bongsor.

Nanang langsung naik ke atas ranjang besarnya dan bersandar di bantal pojok ruangan kamar itu. Meskipun ada meja belajar tapi Nanang segaja memilih itu karena Diah sering menindihnya dengan pantatnya sehingga batang kemaluan Nanang terasa hangat dibuatnya.

Dan memang seperti dugaan Nanang, Diah tiduran di dada Nanang. Pada saat itu Diah menggunakan daster yang sangat tipis dan di atas paha sehingga celana dalam berwarna putih dan BH juga yang warna putih terlihat dengan jelas. Diah tidak merasa risih dengan kedaan itu karena memang sudah seperti itu hari-hari yang dilakukan bersama Nanang.

Sambil mengerjakan PR, pikiran Nanang melayang-layang bagaimana caranya agar ia dapat mengatakan kepada Diah bahwa dirinya sekarang berubah hati menjadi cinta pada Diah. Tapi apakah dia sudah mengenal cinta soalnya bila orang sudah mengenal cinta biasanya syahwatnya juga pasti bergejolak bila diperlakukan seperti yang sering dilakukan oleh Nanang dan Diah.

PR pertama telah diselesaikan dengan cepat, Diah terseyum gembira. Terlihat dengan jelas payudara Diah yang kecil. Pikiran Nanang meliuk-liuk membayangkan seandainya ia mampu meraba susu itu tentunya sangat nikmat dan sangat hangat.

Ketegangan Nanang semakin menjadi ketika batang kemaluannya yang tanpa celana dalam itu tersentuh oleh pinggul Diah yang berteriak karena masih ada PR-nya yang belum terisi. Memang posisi Nanang menerangkan tersebut ada di bawah Diah dan pinggul Diah sering bergerak-gerak karena sifatnya yang agresif.

Gerakan badan Diah yang agresif itu membuat paha putihnya terlihat dengan jelas dan kadangkala gumpalan kemaluannya terlihat dengan jelas hanya terhalang oleh CD yang berwarna putih. Hal itu membuat nafas Nanang naik turun.

Diah tidak peduli dengan apa yang terjadi pada batang kemaluan Nanang, malah Diah semakin terus bermanja-manja dengan Nanang yang terlihat bermalas-malasan dalam mengerjakan PR-nya itu. Pikiran Nanang semakin kalang kabut ketika Diah mengerak-gerakkan badan ke belakang yang membuat batang kemaluannya semakin berdiri menegang.

Dengan pura-pura tidak sadar Nanang meraba gundukan kemaluan Diah yang terbungkus oleh CD putih. Bukit kemaluan Diah yang hangat membuat Nanang semakin bernafsu dan membuat nafasnya semakin terengah-engah.

"Kak cepat dong kerjakan PR yang satunya lagi. Yang ini, yang nomor sepuluh susah."

Nanang membalikkan badannya sehingga bukit kemaluan Diah tepat menempel di batang kemaluan Nanang. Dalam keadaan itu Diah hanya mendekap Nanang sambil terus berkata, "Tolong ya Kak, nomor sepuluhnya."

"Boleh, tapi ada syaratnya," kata Nanang sambil terus merapatkan batang kemaluannya ke bukit kemaluan Diah yang masih terbungkus CD warna Putih. Pantat Diah terlihat dengan jelas dan mulai merekah membentuk sebuah badan seorang gadis yang sempurna, pinggul yang putih membuat Nanang semakin panas dingin dibuatnya.

Diah hanya bertanya apa syaratnya kata Diah sambil mengangkat wajahnya ke hadapanya Nanang. Dalam posisi seperti itu batang kemaluan Nanang yang sudah menegang seakan digencet oleh bukit kemaluan Diah yang terasa hangat.

Nanang tidak kuat lagi dengan semua itu, ia langsung mencium mulut Diah. Diah hanya diam dan terus menghidar ciuman itu. "Kaak... apa dong syaratnya", kata Diah manja agresif menggerak-gerakkan badannya sehingga bukit kemaluannya terus menyentuh-nyentuh batang kemaluan Nanang.

Gila anak ini belum tahu apa- apa tentang masalah seks. Memang Diah tidak merasakan apa-apa dan ia seakan-akan bermain dengan teman wanitanya tidak ada rasa apa pun. "Syaratnya kamu nanti akan kakak peluk sepuasnya."

Mendengar itu Diah hanya tertawa, suatu syarat yang mudah, dikirain harus pus-up 1000 kali. Konsenterasi Nanang dibagi dua yang satu terus mendekatkan batang kemaluannya agar tetap berada di bawah bukit kemaluan Diah yang sering terlepas karena Diah yang banyak bergerak dan satunya lagi berusaha menyelesaikan PR-matematikanya.

Diah terus mendekap badan Nanang sambil kadang-kadang menggerakkan lipatan pahanya yang menyetuh paha Nanang.

Setelah selesai mengerjakan PR-nya, Nanang menggerak-gerakkan pantatnya sehingga berada tepat di atas bukit kemaluan Diah. Nanang semakin tidak tahan dengan kedaaan itu dan langsung meraba-raba pantat Diah. Ketika Nanang akan meraba payudara Diah. Diah bangkit dan terus melihat ke wajah Nanang, sambil berkata, "PR-nya sudah Kaak.. Nanang," sambil Menguap.

Melihat PR-nya yang sudah dikerjakan Nanang, Diah langsung memeluk Nanang erat-erat seperti memeluk bantal guling karena syaratnya itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Nanang begitu saja, Nanang langsung memeluk Diah berguling-guling sehingga Diah sekarang berada di bawah Nanang.

Mendapat perlakuan yang kasar dalam memeluk itu Diah berkata, "Masa Kakak meluk Diah nggak bosan-bosan." Berbagai alasan Nanang lontarkan agar Diah tetap mau di peluk dan akhirnya akibat gesekan-gesekan batang kemaluan Nanang bergerak-gerak seperti akan ada yang keluar

Dan pada saat itu Diah berhasil lepas dari pelukan Nanang sambil pergi dan tidak lupa melenggokkan pantatnnya yang besar sambil mencibirkan mulutnya.

"Aduh, Gila si Diah masih tidak merasakan apa-apa dengan apa yang barusan saya lakukan," guman Nanang dalam hati sambil terus memengang batang kemaluannya. Nanang berusaha menetralisir batang kemaluannya agar tidak terlalu tegang.

"Tenang ya jago, nanti kamu juga akan menikmati kepunyaan Diah cuma tinggal waktu saja. Nanti saya akan pura-pura memberikan pelajaran Biologi tentang anatomi badan dan di sanalah akan saya suruh buka baju. Masa kalau sudah dibuka baju masih belum terangsang."

Nanang memang punya prinsip kalau dalam berhubungan badan ia tidak mau enak sediri tapi harus enak kedua-duanya. Itulah pola pikir Nanang yang terus ia pertahankan. Seandainya ia mau tentunya dengan gampang ia memperkosa Diah.

Ketegangan batang kemaluan Nanang terus bertambah besar tidak mau mengecil meskipun sudah diguyur oleh air. Untuk menghilangkan kepenatan Nanang keluar kamar sambil membakar sebatang rokok.

Ternyata Tante Rani masih ada di ruang tengah sambil melihat TV dan meminum susu yang dibuatnya sendiri. Tante Rani yang menggunakan daster warna biru dengan rambut yang dibiarkan terurai tampak sangat cantik malam itu.

Lekukan tubuhnya terlihat dengan jelas dan kedua payuadaranya pun terlihat dengan jelas tanpa BH, juga pahanya yang putih dan mulus terpampang indah di hadapannya. Keadaan itu terlihat karena Tante Rani duduk di sofa yang panjang dengan kaki yang putih menjulur ke depan.

Ketenganan Nanang semakin memuncak melihat keidahan tubuh Tante Rani yang sangat seksi dan mulus itu.

"Kamu kenapa belum tidur Ari," kata Tante Rani sambil menuangkan segelas air susu untuk Nanang.

"Anu Tante, tidak bisa tidur," balas Nanang dengan gugup.

Memang Tante Rani yang cantik itu tidak merasa canggung dengan keberadaan Nanang, ia tidak peduli dengan keberaan Ari malah ia segaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di hadapan Nanang yang sudah sangat terangsang.

"Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Nanang."

"Tidak apa-apa Tante, Nanang mengerti tentang hal itu," jawab Nanang sambil terus menahan gejolak nafsunya yang sudah diluar batas normal ditambah lagi dengan perlakuan Diah yang membuat batang kemaluannya semakin menegang tidak tentu arah.

"Oom ke mana Tante, kok tidak kelihatan," tanya Nanang mengisi perbincangan.

"Kamu tidak tahu, Oom kan sedang ke Bali mengurus proyek yang baru," jawab Tante Rani.

Memang Om Budiman sangat jarang sekali ada di rumah dan itu membuat Ari semakin tahu akan kebutuhan batin Tante Rani, tapi itu tidak mungkin dilakukannya dengan tantenya.

Nanang dan Tante Rani duduk di sofa yang besar sambil sesekali tubuhnya digerak-gerakkan seperti cacing kepanasan. Tak diduga sebelumnya oleh Nanang, Tante Rani membuka dasternya yang menutupi paha putihnya yang putih bersih sambil menggaruk-garukkan tangannya di seputar gundukan kemaluannya.

Mata Nanang melongo tidak percaya. Dua kali dalam satu hari ia melihat paha Tante Rani, tapi yang ini lebih parah dari yang tadi siang di dalam mobil, sekarang Tante Rani tidak menggunakan celana dalam. Kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam tersingkap dengan jelas dan tangan Tante Rani terus menggaruk-garuk di seputar kemaluannya itu karena merasa ada yang gatal.

Melihat itu Nanang semakin gelisah dan tidak enak badan ditambah lagi dengan ketegangan di batang kemaluannya yang semakin menegang.

"Kamu kenapa Nanang," tanya Tante Rani yang melihat wajah Nanang keluar keringat dingin.

"Nggak Tante, Nanang cuma mungkin capek," balas Nanang sambil terus sekali-kali melihat ke pangkal paha putih milik Tante Rani.

Setelah merasa agak baikan di sekitar kemaluannya, Tante Rani segaja tidak menutup pahanya, malah ia duduk bersilang sehingga terlihat dengan jelas pangkal pahanya dan kemaluannya yang merekah. Melihat Nanang semakin menegang, Tante Rani tersenyum dan mempersilakan Nanang untuk meminum susu yang dituangkan di dalam gelas itu.

Ketegangan Nanang semakin memuncak dan Nanang tidak berani kurang ajar pada tantenya meskipun tahu bahwa tantenya segaja memperlihatkan kemulusan pahanya itu. "Tante, saya mau ke paviliun belakang untuk mencari udara segar.

" Melihat Nanang yang sangat tegang itu Tante Rani hanya tersenyum, dalam pikirannya sebentar lagi kamu akan tunduk padaku dan akan meminta untuk tidur denganku.

Sebelum sampai ke paviliun belakang Nanang jalan-jalan dulu di pinggiran kolam lalu ia duduk sambil melihat kolam di depannya. Sambil terus berusaha menahan gejolaknya antara menyetubuhi tantenya atau tidak. Sambil terus berpikir tentang kejadian itu.

Tidak segaja ia mendegar rintihan dari belakang yang kebetulan kamar Pak Dadi. Nanang terus mendekati kamar Pak Dadi yang kebetulan dekat dengan Paviliun. Nanang mengendus-endus mendekati jendela dan ternyata jendelanya tidak dikunci dan dengan mudah Nanang dapat melihat adegan suami istri yang sedang bermesraan.

Di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu, Nanang melihatnya leluasa karena hanya terhalang oleh tumpukan pakaian yang digantung dekat jendela itu. Di dalamnya ternyata Pak Dadi dengan istrinya sedang bermesraan.

Istri Pak Dadi yang bernama Astri sedang asyik mengulum batang kejantanan Pak Dadi dengan lahapnya. Dengan penuh birahi Astri terus melahap dan mengulum batang kemaluan Pak Dadi yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang dimiliki Nanang.

Astri terus mengulum batang kemaluan Pak Dadi. Posisi Pak Dadi yang masih menggunakan pakaian dan celananya yang telah melorot ada di lantai dengan posisi duduk terus mengerang-erang kenikmatan yang tiada bandingnya sedangkan Astri jongkok di lantai.

Terlihat Astri menggunakan CD warna hitam dan BH warna hitam. Erangan-erangan Pak Dadi membuat batang kemaluan Pak Dadi semakin mesra di kulum oleh Astri.

Dengan satu gerakan Astri membuka daster yang dipakainya karena melihat suaminya sudah kewalahan dengan kulumannya. Terlihat dengan jelas buah dada yang besar masih ditutupi BH hitamnya. Pak Dadi membantu membuka BH-nya dan dilanjutkan dengan membuka CD hitam Astri. Astri yang masih melekat di bandan Pak Dadi meminta Pak Dadi supaya duduk di samping ranjang.

Bersambung Pukul 19.00

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Cerita Sex Lubang Vaginanya Kecil

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Lubang Vaginanya Kecil. Aku ngekost dimana tempat kostku jadi satu antara pria dan wanita kebetulan kamarku bersebelahan dengan kamar gadis, dia orangnya manis senyumnya itu yang membikin aku terpesona, dalam kamar kostku ada tembok yang memang disengaja buat ventilasi udara, sebelumnya aku tutup dengan kertas putih tapi karena sebelahku pengghuninya cewek jadi aku lepas kertas putih tersebut.sehingga aku dapat bebas dan jelas melihat apa yang terjadi pada kamar di sebelahku itu.

Cerita Dewasa Lubang Vaginanya Kecil

cerita sex ABG, cerita ABG terbaru, cerita ABG ngentot, kumpulan cerita ABG ngentot, cerita hot ngentot, cerita nyata ABG ngentot, koleksi cerita ABG ngentot, kumpulan cerita ngentot terbaru
Cerita Mesum Lubang Vaginanya Kecil
Suatu malam aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku dibuka, lalu aku seperti biasanya naik ke atas meja untuk mengintip. Ternyata gadis itu baru pulang dari sekolahnya..., tapi kok sampai larut malam begini tanyaku dalam hati.

Gadis manis itu yang belakangan namanya kuketahui yaitu Marsa, menaruh tasnya lalu mencopot sepatunya kemudian mengambil segelas air putih dan meminumnya..., akhirnya dia duduk di kursi sambil mengangkat kakinya menghadap pada lubang angin tempat aku mengintip.

Marsa sama sekali tidak bisa melihat ke arahku karena lampu kamarku telah kumatikan sehingga malah aku yang dapat leluasa melihat ke dalam kamarnya.

Pada posisi kakinya yang diangkat di atas kursi, terlihat jelas celana dalamnya yang putih dengan gundukan kecil di tengahnya..., lalu saja tiba-tiba penisku yang berada dalam celanaku otomatis mulai ereksi.

Mataku mulai melotot melihat keindahan yang tiada duanya, apalagi ketika Marsa lalu bangkit dari kursi dan mulai melepaskan baju dan rok sekolahnya sehingga kini tinggal BH dan celana dalamnya. Sebentar dia bercermin memperhatikan tubuhnya yang ramping putih dan tangannya mulai meluncur pada payudaranya yang ternyata masih kecil juga.

Diusapnya payudaranya dengan lembut. Dipuntirnya pelan puting susunya sambil memejamkan mata, rupanya dia mulai merasakan nikmat, lalu tangan satunya meluncur ke bawah, ke celana dalamnya digosoknya dengan pelan, tangannya mulai masuk ke celananya dan bermain lama.

Aku bergetar lemas melihatnya, sedangkan penisku sudah sangat tegang sekali. Lalu kulihat Marsa mulai melepaskan celana dalamnya dan..., Wowww, belum ada bulunya sama sekali, sebuah vagina yang menggunduk seperti gunung kecil yang tak berbulu. Ohh, begitu indah, begitu mempesona. Lalu kulihat Marsa naik ke tempat tidur, menelungkup dan menggoyangkan pantatnya ibarat sedang bersetubuh.

Marsa menggoyang pantatnya ke kiri, ke kanan..., naik dan turun..., rupanya sedang mencari kenikmatan yang ingin sekali dia rasakan, tapi sampai lama Marsa bergoyang rupanya kenikmatan itu belum dicapainya, Lalu dia bangkit dan menuju kursi dan ditempelkannya vaginanya pada ujung kursi sambil digoyang dan ditekan maju mundur.

Kasihan Marsa..., rupanya dia sedang terangsang berat...., suara nafasnya yang ditahan menggambarkan dia sedang berusaha meraih dan mencari kenikmatan surga, Namun belum juga selesai, Marsa kemudian mengambil spidol..., dibasahi dengan ludahnya lalu pelan-pelan spidol itu dimasukan ke lubang vaginanya

Begitu spidol itu masuk sekitar satu atau dua centi matanya mulai merem melek dan erangan nafasnya makin memburu,

"Ahh..., ahh", Lalu dicopotnya spidol itu dari vaginanya, sekarang jari tengahnya mulai juga dicolokkan ke dalam vaginanya..., pertama..., jari itu masuk sebatas kukunya kemudian dia dorong lagi jarinya untuk masuk lebih dalam yaitu setengahnya, dia melenguh,

"Oohh..., ohh..., ahh", tapi heran aku jadinya, jari tengahnya dicabut lagi dari vaginanya, kurang nikmat rupanya..., lalu dia melihat sekeliling mencari sesuatu..., aku yang menyaksikan semua itu betul-betul sudah tidak tahan lagi.

Penisku sudah sangat mengeras dan tegang luar biasa, lalu kubuka celana dalamku dan sekarang penisku bebas bangun lebih gagah, lebih besar lagi ereksinya melihat vagina si Marsa yang sedang terangsang itu.

Lalu aku mengintip lagi dan sekarang Marsa rupanya sedang menempelkan vaginanya yang bahenol itu pada ujung meja belajarnya. Kini gerakannya maju mundur sambil menekannya dengan kuat, lama dia berbuat seperti itu..., dan tiba-tiba dia melenguh, "Ahh..., ahh..., ahh", rupanya dia telah mencapai kenikmatan yang dicari-carinya.

Setelah selesai, dia lalu berbaring di tempat tidurnya dengan nafas yang tersengal-sengal. Kini posisinya tepat berada di depan pandanganku. Kulihat vaginanya yang berubah warna menjadi agak kemerah-merahan karena digesek terus dengan ujung kursi dan meja.

Terlihat jelas vaginanya yang menggembung kecil ibarat kue apem yang ingin rasanya kutelan, kulumat habis..., dan tanpa terasa tanganku mulai menekan biji penisku dan kukocok penisku yang sedang dalamn posisi "ON".

Kuambil sedikit krim pembersih muka dan kuoleskan pada kepala penisku, lalu kukocok terus, kukocok naik turun dan, "Akhh", aku mengeluh pendek ketika air maniku muncrat ke tembok sambil mataku tetap menatap pada vagina Marsa yang masih telentang di tempat tidurnya.

Nikmat sekali rasanya onani sambil menyaksikan Marsa yang masih berbaring telanjang bulat. Kuintip lagi pada lubang angin, dan rupanya dia ketiduran, mungkin capai dan lelah.

Esok harinya aku bangun kesiangan, lalu aku mandi dan buru-buru berangkat ke kantor. Di kantor seperti biasa banyak kerjaan menumpuk dan rasanya sampai jam sembilan malam aku baru selesai. Meja kubereskan, komputer kumatikan dan aku pulang naik taksi dan sekitar jam sepuluh aku sampai ke tempat kostku.

Setelah makan malam tadi di jalanan, aku masih membuka kulkas dan meminum bir dingin yang tinggal dua botol. Aku duduk dan menyalakan TV, ku-stel volumenya cukup pelan. Aku memang orang yang tidak suka berisik

Dalam bicarapun aku senang suara yang pelan, kalau ada wanita di kantorku yang bersuara keras, aku langsung menghindar, aku tidak suka. Acara TV rupanya tidak ada yang bagus, lalu kuingat kamar sebelahku, Marsa..., yang tadi malam telah kusaksikan segalanya yang membuat aku sangat ingin memilikinya

Aku naik ke tempat biasa dan mulai lagi mengintip ke kamar sebelah. Marsa yang cantik itu kulihat tengah tidur di kasurnya, kulihat nafasnya yang teratur naik turun menandakan bahwa dia sedang betul-betul tidur pulas.

Tiba-tiba nafsu jahilku timbul, dan segera kuganti celana panjangku dengan celana pendek dan dalam celana pendek itu aku tidak memakai celana dalam lagi, aku sudah nekat, kamar kostku kutinggalkan dan aku pura-pura duduk di luar kamar sambil merokok sebatang ji sam su.

Setelah kulihat situasinya aman dan tidak ada lagi orang, ternyata pintunya tidak di kunci, mungkin dia lupa atau juga memang sudah ngantuk sekali, jadi dia tidak memikirkan lagi tentang kunci pintu.

Dengan berjingkat, aku masuk ke kamarnya dan pintu langsung kukunci pelan dari dalam, kuhampiri tempat tidurnya, lalu aku duduk di tempat tidurnya memandangi wajahnya yang mungil dan, "Alaamaak", Marsa memakai daster yang tipis, daster yang tembus pandang sehingga celana dalamnya yang sekarang berwarna merah muda sangat jelas terbayang di hadapanku.

"Ohh..., glekk", aku menelan ludah sendiri dan repotnya, penisku langsung tegang sempurna sehingga keluar dari celana pendekku. Kulihat wajahnya, matanya, alisnya yang tebal, dan hidungnya yang mancung agak sedikit menekuk tanda bahwa gadis ini mempunyai nafsu besar dalam seks

Itu memang rahasia lelaki bagi yang tahu. Ingin rasanya aku langsung menubruk dan mejebloskan penisku ke dalam vaginanya, tapi aku tidak mau ceroboh seperti itu.

Setelah aku yakin bahwa Marsa benar-benar sudah pulas, pelan-pelan kubuka tali dasternya, dan terbukalah, lalu aku sampirkan ke samping. Kini kulihat pahanya yang putih kecil dan padat itu. Sungguh suatu pemandangan yang sangat menakjubkan

Apalagi celana dalamnya yang mini membuat gundukan kecil ibarat gunung merapi yang masih ditutupi oleh awan membuat penisku mengejat-ngejat dan mengangguk-ngangguk. Pelan-pelan tanganku kutempelkan pada vaginanya yang masih tertutup itu

Aku diam sebentar takut kalau kalau Marsa bangun, aku bisa kena malu, tapi rupanya Marsa benar-benar tertidur pulas, lalu aku mulai menyibak celana dalamnya dan melihat vaginanya yang mungil, lucu, menggembung, ibarat kue apem yang ujungnya ditempeli sebuah kacang.

"Huaa", aku merinding dan gemetar, kumainkan jariku pada pinggiran vaginanya, kuputar terus, kugesek pelan, sekali-sekali kumasukkan jariku pada lubang kecil yang betul-betul indah, bulunyapun masih tipis dan lembut. Penisku rasanya makin ereksi berat, aku mendesah lembut.

Ahh, indahnya kau Marsa, betapa kuingin memilikimu, aku menyayangimu, cintaku langsung hanya untukmu. Oh, aku terperanjat sebentar ketika Marsa bergerak, rupanya dia menggerakkan tangannya sebentar tanpa sadar, karena aku mendengar nafasnya yang teratur berarti dia sedang tidur pulas.

Lalu dengan nekatnya kuturunkan celana dalamnya perlahan tanpa bunyi, pelan, pelan, dan lepaslah celana dalam dari tempatnya, kemudian kulepas dari kakinya sehingga kini Marsa benar-benar telanjang bulat.

Luar biasa, indah sekali bentuknya, dari kaki sampai wajahnya kutatap tak berkedip. Payudaranya yang masih berupa puting itu sangat indah sekali. Akh, sangat luar biasa, pelan-pelan kutempelkan wajahku pada vaginanya yang merekah bak bunga mawar, kuhirup aroma wanginya yang khas. Oh, aku benar-benar tidak tahan, lalu lidahku kumainkan di sekitar vaginanya.

Aku memang terkenal sebagai si pandai lidah, karena setiap wanita yang sudah pernah kena lidahku atau jilatanku pasti akan ketagihan, aku memang jago memainkan lidah, maka aku praktekan pada vagina si Marsa ini. Lereng gunung vaginanya kusapu dengan lidahku, kuayun lidahku pada pinggiran lalu sekali-kali sengaja kusenggol clitorisnya yang indah itu.

Kemudian gua kecil itu kucolok lembut dengan lidahku yang sengaja kuulur panjang, aku usap terus, aku colok terus, kujelajahi gua indahnya sehingga lama-kelamaan gua itu mulai basah, lembab dan berair. Oh, nikmatnya air itu, aroma yang khas membuatku terkejet-kejet, penisku sudah tidak sabar lagi, tapi aku masih takut kalau kalau Marsa terbangun bisa runyam nanti

Tapi desakan kuat pada penisku sudah sangat besar sekali. Nafasku benar-benar tidak karuan, tapi kulihat Marsa masih tetap saja pulas tidurnya.-Akupun lebih bersemangat lagi, sekarang semua kemampuan lidahku kupraktekan saat ini juga, luar biasa memang, vagina yang mungil, vagina yang indah, vagina yang sudah basah.

Rasanya seperti sudah siap menanti tibanya senjataku yang sudah berontak untuk menerobos gua indah misterius yang ditumbuhi rumput tipis milik Marsa, namun kutahan sebentar, karena lidahku dan jilatanku masih asyik bermain di sana, masih memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa bagi Marsa.

Sayang Marsa tertidur pulas, andaikata Marsa dapat merasakan dalam keadaan sadar pasti sangat luar biasa kenikmatan yang sedang dirasakannya itu, tapi walaupun Marsa saat ini sedang tertidur pulas secara psycho seks yang berjalan secara alami dan biologis,...nikmat yang amat sangat itu pasti terbawa dalam mimpinya

Itu pasti dan pasti, walaupun yang dirasakannya sekarang ini hanya sekitar 25%, Buktinya dengan nafasnya yang mulai tersengal dan tidak teratur serta vaginanya yang sudah basah, itu menandakan faktor psycho tsb sudah bekerja dengan baik. Sehingga nikmat yang luar biasa itu masih dapat dirasakan seperempatnya dari keseluruhannya kalau di saat sadar.

Akhirnya Karena kupikir sudah cukup rasanya lidahku bermain di vaginanya, maka pelan-pelan penisku yang memang sudah minta terus sejak tadi kuoles-oleskan dulu sesaat pada ujung vaginanya, lalu pada clitorisnya yang mulai memerah karena nafsu, rasa basah dan hangat pada vaginanya membuat penisku bergerak sendiri otomatis seperti mencari-cari lubang gua dari titik nikmat yang ada di vaginanya.

Dan ketika penisku dirasa sudah cukup bermain di daerah istimewanya, maka dengan hati-hati namun pasti penisku kumasukan perlahan-lahan ke dalam vaginanya..., pelan, pelan dan, "sleeppp..., sleseppp", kepala penisku yang gundul sudah tidak kelihatan karena batas di kepala penisku sudah masuk ke dalam vagina Marsa yang hangat nikmat itu.

Lalu kuperhatikan sebentar wajahnya, Masih!.., dia, Marsa masih pulas saja, hanya sesaat saja kadang nafasnya agak sedikit tersendat,

"Ehhss..., ehh..., sss", seperti orang ngigau. Lalu kucabut lagi penisku sedikit dan kumasukkan lagi agak lebih dalam kira-kira hampir setengahnya,

"Akhh..., ahh, betapa nikmatnya, betapa enaknya vaginamu Marsa, betapa seretnya lubangmu sayang". Oh, gerakanku terhenti sebentar, kutatap lagi wajahnya yang betul-betul cantik yang mencerminkan sumber seks yang luar biasa dari wajah mata dan hidungnya yang agak menekuk sedikit,.. ohh Marsa,

Betapa sempurnanya tubuhmu, betapa enaknya vaginamu, betapa nikmatnya lubangmu. Oh, apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab untuk semuanya ini. Aku sangat menyayangimu.

Lalu kembali kutekan agak dalam lagi penisku supaya bisa masuk lebih jauh lagi ke dalam vaginanya, "Bleeeess..., blesssess", "Akhh..., akhh", sungguh luar biasa, sungguh nikmat sekali vaginanya, belum pernah selama ini ada wanita yang mempunyai vagina seenak dan segurih milik Marsa ini.

Ketika kumasukan penisku lebih dalam lagi, kulihat Marsa agak tersentak sedikit, mungkin dalam mimpinya dia merasakan kaget dan nikmat juga yang luar biasa dan nikmat yang amat sangat ketika senjataku betul-betul masuk, lagi-lagi dia mengerang, erangan nikmat, erangan sorga yang aku yakin sekali bahwa Marsa pasti merasakannya walaupun dirasa dalam tidurnya.

Akupun demikian, ketika penisku sudah masuk semua ke dalam vaginanya, kutekan lagi sampai terbenam habis, lalu kuangkat lagi dan kubenamkan lagi sambil kugoyangkan perlahan ke kanan kiri dan ke atas dan bawah

Gemetar badanku merasakan nikmat yang sesungguhnya yang diberikan oleh vagina Marsa ini, aneh sangat luar biasa, vaginanya sangat menggigit lembut, menghisap pelan serta lembut dan meremas senjataku dengan lembut dan kasih sayang. Benar-benar vagina yang luar biasa. Oh Marsa, tak akan kutinggalkan kamu.

Lalu dengan lebih semangat lagi aku mendayung dengan kecepatan yang taktis sambil membuat goyangan dan gerakan yang memang sudah kuciptakan sebagai resep untuk memuaskan Marsa ini. Akhirnya senjataku kubenamkan habis ke dasar vaginanya yang lembut, habis kutekan penisku dalam-dalam.

Aakh, sumur Marsa memang bukan main, walaupun lubang vaginanya itu kecil tetapi aneh dapat menampung senjata meriam milikku yang kurasa cukup besar dan panjang, belum lagi dengan urat-urat yang tumbuh di sekitar batang penisku ini, vagina yang luar biasa.

Lama-kelamaan, ketika penisku benar-benar kuhunjamkan habis dalam-dalam pada vaginanya, aku mulai merasakan seperti rasa nikmat yang luar biasa, yang akan muncrat dari lubang perkencinganku.

"Ohh..., ohh", kupercepat gerakanku naik turun, dan akhirnya muncratlah air maniku di dalam vaginanya yang sempit itu. Aku langsung lemas, dan segera kucabut penisku itu, takut Marsa terbangun.

Dan setelah selesai, aku segera merapikan lagi. Celana dalamnya kupakaikan lagi, begitu juga dengan dasternya juga aku kenakan lagi padanya. Sebelum kutinggalkan, aku kecup dulu keningnya sebagai tanda sayang dariku

Sayang yang betul-betul timbul dari diriku, dan akhirnya pelan-pelan kamarnya kutinggalkan dan pintunya kututup lagi. Aku masuk lagi ke kamarku, berbaring di tempat tidurku, sambil menerawang, aku menghayati permainan tadi. Oh, sungguh suatu kenikmatan yang tiada taranya. Dan Akupun tertidur dengan pulas.

Keesokan harinya seperti biasa aku bangun pagi, mandi dan siap berangkat ke kantor, namun ketika hendak menutup pintu kamar, tiba-tiba Marsa keluar dan tersenyum padaku.

"Mau berangkat Pak?", tanyanya, aku dengan gugup akhirnya mengiyakan ucapannya, lalu kujawab dengan pertanyaan lagi.

"Kok Marsa nggak sekolah?".

"Nanti Pak, Marsa giliran masuk siang", akupun tersenyum dan Marsapun lalu bergegas ke depan rumah, rupanya mau mencari tukang bubur ayam, perutnya lapar barangkali. Taxi kucegat dan aku langsung berangkat ke kantor.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Rabu, 17 Februari 2016

Cerita Sex Harapanku Kesampaian

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Harapanku Kesampaian. Saya mengalihkan pandangan saya keluar, terlihat beberapa pesawat di Charles de Gaulle airport. Tanpa saya sadari, mobil yang lalu lalang di highway A1 yang berawal dari Belgia ini bertambah banyak. Perhatian saya segera tertuju ke apartemen-apartemen yang kini berserakan di pinggiran highway. Tidak terlihat adanya perumahan, ciri khas kota metropolitan.

Cerita Dewasa Harapanku Kesampaian

Cerita sex sahabat, cerita hot terbaru, cerita mesum terbaru, cerita sahabat terbaru, kumpulan cerita mesum terbaru, cerita sahabat terbaru hot, cerita mesum sahabat terbaru, cerita seks terbaru, cerita kenthu sahabat terbaru
Cerita Mesum Harapanku Kesampaian
Steve, William, dan Agung teman kuliah saya yang berasal dari Singapore, Malaysia dan Indonesia juga terdiam menunggu tibanya bus tersebut di hotel yang akan didiami selama empat malam. Kemacetan di jalan raya semakin bertambah

Apalagi ketika bus keluar dari highway dan menuju jalanan yang lebih kecil. Dengan tidak sabaran saya memperhatikan jam tangan saya yang sudah menunjukkan pukul 16:45. Di ufuk barat, mentari musim dingin mulai menyembunyikan dirinya.

"Come on, lets go out for nice dinner..." Steve yang sekamar dengan saya mengajak makan malam. Memang, perut saya yang kosong sudah meminta sesuatu buat dicerna. Siraman air hangat sewaktu mandi menghilangkan keletihan tubuh saya dan mengantinya dengan perasaan lapar.

Berjalan kaki, kami menyusuri kota Paris. Kota ini begitu istimewa, keramaian dan kemacetan jalannya mengingatkan saya pada London. Tetapi design bangunan dengan ukiran dan patung-patungnya sangat mencolok dan berbeda. Hampir setiap bangunan mempunyai ciri khasnya masing-masing dan begitu indah.

Sebuah Chinese restaurant di Boulevard Montmarte menarik minat kami. Perut-perut yang keroncongan akhirnya berteriak kegirangan ketika nasi dan beberapa lauk menganjalnya. Memang perut Asia kami lebih menikmati nasi dibandingkan roti.

Dengan tambahan energy dari makanan, perjalanan menyusuri kota Paris dilanjutkan kembali. Di sepanjang jalan Boulevard Montmarte ini hadir toko yang banyak menjual parfum, pakaian dan makanan. Louis Vuitton, Giorgio Armani, Christian Dior, dsbnya seakan-akan berlomba memamerkan produk-produk terbarunya.

"Eh, Hard Rock Café Paris!" seru William tiba-tiba, "Lets have some drinks."
Segelas Southern Comfort memberikan kehangatan kepada tubuh saya. Duduk berempat di café yang masih sepi, kami membicarakan keindahan kota yang menakjubkan ini.

Selesai minum, kami berjalan keluar melalui toko yang menjual sourvenir Hard Rock. Tertarik oleh kaos hitam special edition café tsb, saya mengantri di belakang dua orang cewek yang lumayan manis. Perhatian saya segera tertuju ke mereka ketika mereka mengobrol. Mereka menggunakan bahasa Indonesia! Aneh rasanya mendengar bahasa tersebut di tempat yang begitu jauh.

"Hallo, dari Indonesia ya?" sapa saya ramah.

Mata kedua gadis di depan saya terbelalak, kaget.

"Iiiyaaa..." jawab gadis yang berdiri di depan saya. Tubuhnya yang kecil tertutup oleh jaket tebal berwarna hitam. Rambutnya yang pendek dicat merah dan matanya yang bulat terlihat jernih.

Perkenalan pun berlanjut, gadis tersebut bernama Diana dan temannya bernama Elisabeth. Sungguh enak mengobrol menggunakan bahasa yang sudah lebih dari satu tahun tidak pernah saya pakai.

Alangkah sayangnya, pertemuan sekitar 10 menit tersebut harus berakhir ketika mereka berjalan meninggalkan café tersebut bersama teman-teman mereka. Entah karena suasana Paris yang romantis, atau kerinduan akan cewek setanah air, atau karena mata Diana yang bulat dan jernih, jiwa saya seakan-akan terbang bersama mereka. Saya termenung melihat mereka menghilang di keramaian kota.

Bodoh! Goblok! Kenapa tidak meminta nomor telepon? Atau e-mail? Penyesalan datang melingkupi diri saya sesudah pertemuan tersebut.

Perasaan menyesal ini semakin menggelora ketika keesokan harinya saya mengunjungi menara Eiffel. Seandainya saja saya bisa menikmati keromantisan kota Paris bersama Diana. Seandainya...

Sang Pencipta ternyata mengasihani jiwa yang penat menahan dahaga kasih sayang ini. Di bawah Eiffel tower Sang Pencipta menunjukkan kekuasaannya. Diana bersama temannya berdiri di salah satu kaki Eiffel Tower, menunggu kesempatan untuk naik ke menara tersebut. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Segera saya membeli empat tiket yang berharga total 180 franc dan ikutan mengantri.

"Diana..." panggil saya, "Ketemu lagi!"

"Ehh... kamu..." dia kaget. Tetapi dari sinar matanya saya tahu kalau dia juga merasa senang. Dan ini membuat jiwa saya melayang-layang.

Pembicaraan akrab berlanjut kembali. Diana dan teman-temannya kuliah perhotelan di Switzerland. Dia sudah lebih dari 3 tahun di sana dan ini adalah tahun terakhirnya. Teman-temannya berasal dari sekolah yang sama, cuma beberapa dari mereka masih berada di tingkat pertama atau kedua.

Saya berusaha selalu berdekatan dengan Diana, dan mengenalnya lebih jauh. Jangan mau kehilangan dia lagi... bisik hati saya. Di lantai dua Eiffel Tower kami berfoto bersama.

Saat mempunyai kesempatan berdua, saya berbisik di telinganya, "Semalaman saya memikirkan kamu." Matanya yang bening menatap saya dan dia berbisik lirih, "Saya juga." Ingin rasanya saya berteriak dan melompat kegirangan.

"On the romantic Seine's river bank, the lovers go hand by hand."

Perjalanan menggunakan kapal menyusuri sungai Seine melewati 22 jembatan merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Dari kapal yang kami tumpangi, kami bisa melihat pasangan yang sedang mabuk cinta bergandengan tangan dan berciuman di tepi sungai yang membelah kota Paris tersebut.

Bulu kuduk saya merinding ketika kami melewati gereja Notre Dame yang terkenal dengan cerita The Hunchback of Notre Dame-nya. Bangunan yang persis sama dengan bangunan di film kartun yang saya tonton. Di sebelah saya Diana terlihat termenung, entah apa yang sedang dipikirkan.

"When you pass this oldest bridge in Paris, close your eyes and make your wish. It will come true."
Saya menutup mata saya dan diam-diam menyatakan harapan saya. Diana juga menutup matanya dan menyatakan harapannya. Seandainya saja saya tahu apa yang dia minta, akan saya penuhi apapun keinginannya.

Melalui jalan mendaki menuju gereja Sacre Coeur, saya mencoba memegang tangan Diana yang tertutup sarung tangan merahnya. Dia tidak menolak! Di sebelah saya Steve terlihat akrab dengan Elisabeth. Mereka bercanda dengan mesranya. Memang, di kota ini cinta mudah sekali bersemi.

Jam baru menunjukkan pukul 17:30, namun mentari sudah bersembunyi di peraduannya. Dari halaman gereja berwarna putih yang terletak di atas bukit ini, saya kehilangan kata-kata saya. Di depan saya terpampang kota Paris dengan lampu-lampunya yang berwarna-warni, begitu menakjubkan.

Dari kejauhan terlihat Eiffel Tower yang terang benderang. Saya memberanikan diri untuk memeluk tubuh Diana. Pelukan yang tidak saya lepaskan sampai kami kembali ke kamar hotel mereka.

Saya berbaring di kasur sambil melanjutkan pelukan saya. Lengan Diana melingkari leher saya dan kepalanya menyender di dada saya. Di kasur sebelah saya Steve dan Elisabeth sedang bercanda mesra.

Kekuatan cinta saya membuat saya berani mencium pipinya, tanpa mempedulikan Steve dan Elisabeth. Diana cuma tersenyum misterius. Ciuman saya kemudian berlanjut ke bibirnya yang merah merekah. Terasa bibirnya yang sedikit kering karena dinginnya angin musim dingin.

Kegilaan kami bertambah ketika Elisabeth memadamkan lampu kamar. Dari sinar yang masuk lewat jendela, saya bisa melihat mata Diana yang sendu. Seperti magnet, bibir saya kembali tertarik ke bibirnya, saling berpagutan dengan mesranya.

Perlahan Diana menarik selimut menutupi tubuhnya. Saya menganggap tindakan dia sebagai undangan untuk melakukan hal yang lebih jauh. Saya ikutan menyusup ke dalam selimut.

Jari-jari tangan saya mulai bergerilya menyusuri sepasang gunung Diana yang masih tertutup sweater. Usaha mencari puncak gunung tersebut agak terganjal oleh tebalnya sweater dan bra yang masih dikenakannya. Namun kekenyalan gunung tersebut membuat tangan saya betah bermain di sana, meremas dan meremas.

Kemudian tangan saya menyusup ke balik sweaternya dan menyusuri kulit perutnya yang mulus menuju dadanya. Dengan lincah jari tangan saya menyusup ke branya. Ketika ujung gunung kembarnya tersentuh, tanpa ampun jari-jari tangan saya bermain di sana.

Jari tangan Diana ternyata tidak tinggal diam. Kedua tangannya beralih ke ikat pinggang saya dan berjuang melepasnya. Jari tangannya yang cekatan berhasil melepas ikat pinggang saya diikuti celana jeans dan celana dalam saya.

Ketika terlepas, saya menendang celana tersebut keluar. Batang kemaluan saya yang terkekang berjam-jam segera berontak menunjukkan kekuatannya.

Belaian tangan Diana membuat batang tersebut mencapai kekerasan dan ukuran maksimumnya. Tidak sabar, Diana membuka sendiri celana jeans dan celana dalamnya.

Sesudah itu dia berbaring membelakangi saya, sepasang pinggul montok dan mulus menekan batang kemaluan saya, menan- tang dia untuk bertindak lebih lanjut.

Dengan tubuh masih tertutup selimut, jari tangan saya menuju daerah kemaluannya. Terasa oleh tangan saya rambut yang keras dan pendek. Rupanya rambut tersebut dicukur! Jari tangan saya akhirnya bermain di daerah klirotisnya, memutar dan kadang menggosok dengan cepat.

Sekali-kali jari tangan saya masuk ke dalam liang kewanitaannya yang sudah basah oleh cairan kewanitaannya.

Mata saya beralih sebentar ke kasur sebelah. Steve dan Elisabeth rupanya tidak mau kalah, terlihat tubuh mereka yang juga tertutup selimut saling menindih.

Akhirnya saya menggerakkan batang kemaluan saya yang sudah tidak sabar menuju rongga fovaritnya. Dari belakang saya mencoba memasukkan batang tersebut, lumayan susah. Dengan tuntunan tangan Diana, akhirnya batang tersebut berhasil menyusuri goa kewanitaannya yang sudah basah kuyub.

Cengkraman otot liang kewanitaan Diana pada batang kemaluan saya membuat saya memejamkan mata. Saya menggerakkan batang kemaluan saya, keluar masuk, keluar masuk. Jari tangan saya masih bermain di daerah klitorisnya.

"Ahhhh..." terdengar desahan Steve. Rupanya dia sudah mencapai pulau kenikmatan bersama Elisabeth.

Sekitar 5 menit kemudian, Diana menjerit histeris tanpa mempedulikan kehadiran Steve dan Elisabeth di ruangan tersebut. Satu badai kenikmatan sudah dilalui.

"Kamu di atas ya..." bisik Diana dengan nafas terengah-engah.

Saya mengambil posisi di atas, Diana dan kembali memasukkan batang kesayangan saya. Kegiatan keluar masuk yang tidak pernah membosankan tersebut kembali berlanjut. Goyangan pinggul Diana menambah kenikmatan yang saya rasakan.

Tanpa kami sadari, selimut yang menutupi tubuh kami terbuka memamerkan kekekaran tubuh saya dan sepasang buah dada Diana yang menjulang indah. Saya membungkukkan tubuh berusaha menjangkau puncak gunung tersebut dengan lidah saya. Karena tubuh saya yang jauh lebih tinggi, saya tidak berhasil melakukannya.

Tiba-tiba terasa ada kepala di samping saya. Saya tercegang, rupanya Elisabeth sudah berdiri di sebelah tubuh Diana. Matanya yang sayu menatap wajah Diana. Perlahan dia mendorong tubuh saya ke atas dan dia menggerakkan mulutnya yang munggil ke gunung kembar Diana.

Dia menjulurkan lidahnya dan bermain di sana. Diana membuka matanya yang tersenyum. Dia membelai rambut Elisabeth!

Gila! Kata pertama yang melintas di kepala saya.

Peduli Amat! Kata kedua yang membuat saya memutuskan untuk jalan terus.

Saya memperbaiki posisi saya, tangan saya menahan sepasang kaki Diana yang tertekuk membentuk sudut 90 derajat dengan tubuhnya dan dengan posisi berlutut saya memasukkan batang kemaluan saya setelah sebelumnya menganjal pinggulnya dengan bantal.

Selanjutnya hujaman batang kemaluan saya semakin ganas, sementara lidah Elisabeth masih bermain di dada Diana. Tidak terlukiskan dengan kata teriakan histeris Diana saat itu. Teriakan Diana, pemandangan lidah Elisabeth yang sedang bermain di buah dadanya Diana

Dan perasaan sayang yang menggebu-gebu membuat saya tidak bisa bertahan lama walaupun segala teknik menahan ejakulasi sudah saya keluarkan. Akhirnya batang kemaluan saya menumpahkan cairan putihnya di dalam tubuh Diana.

Tetesan air mata mengantar perpisahan kami berpisah. Saya kembali ke Amsterdam dan dia kembali ke Swiss. Sampai saat ini, harapan saya saat melewati jembatan tertua di kota Paris tidak terpenuhi. Sebenarnya harapan saya adalah, "Hidup berbahagia bersama Diana selamanya!"

"Saya tidak pernah bisa mempercayai lelaki kembali. Tiga tahun lalu di sini, Paris, saya menyerahkan milik saya yang paling berharga kepada pria yang sangat saya sayangi. Ternyata dia penipu, dia sudah beristeri. Luka tersebut meninggalkan bekas yang sangat dalam dan tidak ada satu lelakipun yang bisa menyembuhkannya, saya berbahagia bisa bertemu dengan kamu."

"Diana... Diana... mengapa kamu tidak mau memberikan kesempatan kepada saya? Akan saya buktikan bahwa tidak semua lelaki itu bangsat! Cinta memang mengakibatkan luka, namun luka tersebut hanya bisa disembuhkan kembali oleh cinta." Cuma itulah yang bisa ucapkan ketika membaca mail terakhirnya.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Cerita Sex Nakal Penuh Nafsu 2st

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Nakal Penuh Nafsu 2st. Berlanjut cerita sebelumnya Jantungku berdegup kencang juga saat melakukan itu, soalnya  bagaimanapun juga seumur hidup belum pernah aku telanjang di depan cewek sambil mempertontonkan alat vitalku sendiri, apalagi sampai dipegang-pegang segala.

Cerita Dewasa Nakal Penuh Nafsu 2st

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Nakal Penuh Nafsu 2st
Wheeh... seperti mimpi rasanya saat jemari kedua tangan Aufa mulai menyentuh kepala penisku yang sedang ereksi. Apalagi batang penisku masih tetap manggut-manggut nggak bisa diam, Maklumlah the first time.

Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat menyentuh batang penisku yang ereksi namun karena aku memegang kedua tangannya dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang benda kesayanganku itu, akhirnya ia hanya menurut saja saat kurayu dia agar mau melakukannya.

Pertama kali Aufa hanya mau memegang dengan kedua jemarinya yang mungil. "Aah... terus sayang pegang erat dengan kedua tanganmu dik", rayuku penuh nafsu.

"Iiih... keras sekali Mas", bisik Aufa sambil tetap memejamkan matanya. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.

"Iya sayang, itu tandanya Mas sedang ereksi sayang, ayo dik genggam dengan kedua tanganmu, aahh..." aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Aufa bukannya malah menggenggam lagi tapi malah meremas kuat. Ia terpekik kaget.

"Iiih sakit mass..." tanyanya melihatku berteriak dan menggelinjang geli dan nikmat, remasan kedua jemari tangannya yang halus itu seolah membuat diriku kesetrum keenakan. Aufa menatapku gugup. Kini secara bergantian jemari tanganku meremas kedua buah dadanya dengan lebih lembut.

Aufa menatapku dengan senyumnya yang mesra. Ia membiarkan tanganku menjamah dan meremas-remas kedua buah dadanya sampai puas. Hanya sesekali ia merintih dan mendesah lembut bila aku meremas susunya sedikit keras.

Kami saling berpandangan mesra, kupandangi sepuasnya wajah manisnya, sampai akhirnya aku sudah tak kuat lagi menahan desakan batang penisku yang sudah tegang, aku takut alat vital kesayanganku itu bisa patah gara-gara salah posisi.

"Auuggghh.." aku menjerit lumayan keras. Aku meloncat berdiri. Aufa yang tadinya sedang menikmati remasanku pada buah dadanya jadi ikutan kaget.

"Eeehh... kenapa Mas?"

"Aahh anu sayang... punya Mas sakit nih", sahutku sambil buru-buru kubuka celana panjangku di hadapannya. Aku tak peduli, toh bagaimanapun dia pasti melihat juga nanti alat kelamin kesayanganku itu. Sruuut.... celana panjangku melungsur ke bawah, sementara Aufa yang tak menyangka aku berbuat demikian hanya memandangku dengan terbelalak kaget.

Cuek... daripada batang penisku kram nggak bisa bergerak mending kubuka saja sekalian CD-ku dan "Tooiiing", batang penisku yang sudah tegang itu langsung mencuat dan mengacung keluar mengangguk-anggukan kepalanya naik turun persis burung kutilang kalau sedang menari-nari.

"aawww... Mas Ari jorok", Aufa menjerit kecil sambil memalingkan mukanya ke samping. Jemari kedua tangannya di tutupkan ke mulut dan wajahnya. "He... he..." aku terkekeh geli batang meriamku sudah kelihatan tegang berat, urat-urat di permukaan batang penisku sampai menonjol keluar semua.

Kepala penisku terasa cenut-cenut melepas kebebasan setelah kurang lebih 1 jam terpenjara di dalam CD-ku yang sempit dan sumpek, maklum CD-ku memang sejak kemarin belum kuganti jadi baunya yaa... tahu sendirilah.

Batang penisku ini nggak panjang-panjang benar kok cuma sekitar 14 centi-lah kurang sedikit, tapi yang membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip punya bintang film Tarzan-X Rocco Siffredi, montok dan berurat, diameternya aku nggak pernah ngukur tapi yang jelas cukup memuaskanlah buat ngesex kupikir.

Sementara Aufa masih menutup muka tanpa bersuara, kukocok batang penisku dengan tangan kananku, "Uuuaahh... nikmatnya", sambil melepaskan ketegangan urat-urat yang menonjol keras di permukaan batang penisku akibat tergencet CD-ku tadi. Batang penisku itu tampak berkeringat basah, mungkin karena hawa di dalam CD-ku yang panas atau mungkin karena CD-ku yang belum kuganti.

Ketika tanganku yang kupakai ngocok tadi kucium. Wweeeghh... huuuekkk, baunya ampun... sialan pikirku.

"Aufa sebentar yaa... Mas mau cuci punya Mas dulu yaa... bau nih soalnya", sahutku tanpa kupedulikan dirinya lagi, aku segera ngibrit ke belakang, batang penisku yang sedang "ON" tegang itu jadi terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sana ke mari ketika aku berlari.

Aku geli sendiri sekaligus tak sabar ingin segera kembali ke hadapannya lagi. Dalam kamar mandi segera kubasahi rudal patriotku dengan air dingin. Wiihh... dingin saat kepala rudalku kusiram air dari cebok, lalu kuambil sabun Claudia mengandung hand body yang masih baru kubuka tadi pagi dan kusabuni batang penisku sampai bersih mulai dari 2 butir telurku sampai kepala penisku yang semakin tambah ereksi saja.

Teng... teng... teng rasanya aliran darah yang mengalir makin banyak ke batang penisku. Aduuh... maak, geli-geli nikmat saat air yang bercampur sabun itu kuusapkan dan kukocok-kocokkan ke batang penisku itu.

Ngeres pikirku, dan aku mulai membayangkan sebentar lagi batang penisku yang masih perjaka ini akan berjuang untuk menembus liang vagina milik Aufa yang sempit dan hangat, merobek selaput dara keperawanannya dan bersarang di dalam vaginanya lalu kugesekkan keluar masuk sampai penisku ejakulasi dan memuntahkan air mani sepuasnya, aahh nikmatnya.

Apalagi aku yakin selama satu minggu ini aku tak ber-onani-keke. Waah.. bisa muncrat banyak sekali nih, mm.. teng... teng...teng, batang penisku bergerak naik turun sendiri. Lho... aku geli sendiri melihatnya. Lalu segera kubasuh lagi rudal patriotku dengan air sampai bersih, dan sebelum kubasuh sempat pula kucukur beberapa helai rambut kemaluanku dengan Gillette biar agak lebih ganteng sedikit, sebab aku khawatir Aufa ogah melihat bulu kemaluanku yang amat sangar saking lebatnya.

Lagian kalau bulu kemaluanku sedikit kanlebih asyik waktu merasakan jepitan liang vagina milik Aufa nantinya. Aku ngibrit keluar dari kamar mandi sambil setengah berlari kembali ke ruang tamu. Seperti tadi batang penisku kembali terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sanakemari.

Di ruang tamu kulihat kekasihku Aufa masih terduduk di atas sofa dan begitu melihatku keluar berlari tanpa pakai celana jadi terkejut lagi melihat batang penisku yang sedang tegang bergerak manggut-manggut naik turun.

"aawww..." teriaknya kembali sembari mulut dan mukanya ditutup lagi dengan kedua jemari tangannya. Aku tersenyum senang penuh nafsu yang ingin meledak rasanya.

Melihat tubuhnya yang masih memakai baju dan celana ketat itu aku jadi gemas kepingin segera melucutinya satu persatu sampai bugil. Aahh... aku ingin segera menyetubuhinya saja rasanya. Tapi aku berusaha menahan diri, itu tidak adil, aku ingin kami berdua harus bisa merasakan kenikmatan yang sama.

Aku tidak mau terjadi... nantinya salah satu merasa rugi. kalau aku sih pasti puass tapi bagaimana dengan Aufa? Dia pasti kesakitan nanti saat kusetubuhi karena dia masih perawan. Waah... aku harus merangsangnya dulu sampai dia orgasme sebelum kuperawani, perkara nanti saat kusetubuhi dia bisa orgasme lagi yah bagus bisa sama-sama puas.

Waahh, ini benar-benar detik-detik yang mendebarkan dan menegangkan. Satu perjaka dan satunya perawan. Sama-sama belum punya pengalaman seks selain cuma pakar di bidang film-film BF. Ingin rasanya hatiku bersorak saking nggak percayanya bahwa hari ini kesempatan emas itu telah datang tanpa kurencanakan sebelumnya.

"Iiihh... Dik Aufa... takut apa sih, kok mukanya ditutup begitu", tanyaku geli.

"Itu Mas, punya Mas", sahutnya lirih.

"Lhoo... katanya sudah sering nonton film BF kok masih takut, Dik Aufa kan pasti sudah lihat di film itu kalau alat vital punya cowok itu bentuknya gini, nah ini yang asli dik, the real thing sayang", sahutku geli. Dalam hati nih cewek barangkali kepingin tahu bagaimana rasanya digampar pakai penis cowok,

"Iya... m..Mas, tapi punya Mas mm besar sekalii", sahutnya masih sambil menutup muka.

"Yaach... ini sih kecil dik dibanding di film nggak ada apa-apanya, itu khan film barat, punya mereka jauh lebih gueedhee... kalau punya Mas kan ukuran orang Indonesia sayang, ayo sini dong punya Mas kamu pegang sayang, ini kan milik Dik Aufa juga", sahutku nakal.

"Iiih... malu aah Mas, jorok."

"Alaa.. malu-malu sih sayang, Mas Ari yang telanjang saja nggak malu sama kamu, masa Dik Aufa yang masih pakaian lengkap malu, ayo dong sayang punya Mas dipegang biar Dik Aufa bisa merasakan milik Dik Aufa sendiri", sahutku sembari kuraih kedua tangannya yang masih menutupi muka, pada mulanya dia menolak sambil memalingkan wajahnya ke samping, namun setelah kurayu-rayu akhirnya mau juga kedua tangannya kubimbing ke arah selangkanganku, namun kedua matanya masih dipejamkan rapat.

Dalam hati malu-malu tapi mau, jangan-jangan kalau sudah diberi, batang penisku malah diobok-obok, Joshua kali ngobok-obok air. Jantungku berdegup kencang juga saat melakukan itu, soalnya bagaimanapun juga seumur hidup belum pernah aku telanjang di depan cewek sambil mempertontonkan alat vitalku sendiri, apalagi sampai dipegang-pegang segala.

Wheeh... seperti mimpi rasanya saat jemari kedua tangan Aufa mulai menyentuh kepala penisku yang sedang ereksi. Apalagi batang penisku masih tetap manggut-manggut nggak bisa diam, Maklumlah the first time.

Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat menyentuh batang penisku yang ereksi namun karena aku memegang kedua tangannya dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang benda kesayanganku itu, akhirnya ia hanya menurut saja saat kurayu dia agar mau melakukannya.

Pertama kali Aufa hanya mau memegang dengan kedua jemarinya yang mungil. "Aah... terus sayang pegang erat dengan kedua tanganmu dik", rayuku penuh nafsu.

"Iiih... keras sekali Mas", bisik Aufa sambil tetap memejamkan matanya. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.

"Iya sayang, itu tandanya Mas sedang ereksi sayang, ayo dik genggam dengan kedua tanganmu, aahh..." aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Aufa bukannya malah menggenggam lagi tapi malah meremas kuat. Ia terpekik kaget.

"Iiih sakit mass..." tanyanya melihatku berteriak dan menggelinjang geli dan nikmat, remasan kedua jemari tangannya yang halus itu seolah membuat diriku kesetrum keenakan. Aufa menatapku gugup. Dan di sekitar situ aku tak melihat sehelai rambut kemaluan pun. Begitu bersih dan putih alat kelamin milik Aufa itu.

Aku hanya bisa melongo menyaksikan keindahan bukit kemaluannya dan tanpa terasa kedua tanganku sampai gemetar menyaksikan pemandangan yang baru pertama kalinya ini. "Oohh.. Aufa, indahnya..." Hanya kalimat itu yang sanggup kuucapkan saat itu, selanjutnya aku masih melongo menikmati keindahan sorga dunia milik kekasihku Aufa.

Bau yang keluar dari alat kelamin miliknya membuat hidungku jadi kembang kempis menikmati aroma aneh namun terasa menyenangkan buatku. Sesaat aku tiba-tiba mendengar suara sreek... sreeek... di atasku ketika aku mendongak ternyata kekasihku itu sedang membuka baju kaosnya, belum habis rasa kagetku setelah melemparkan kaosnya sekenanya kedua tangannya lalu menekuk ke belakang punggungnya hendak membuka BH-nya dan tesss... BH itupun terlepas jatuh di mukaku.

Puk, langsung aku jatuh terduduk dan hanya bisa melongo menyaksikan pemandangan indah yang lain. Selanjutnya Aufa melepas juga celana dan CD-nya yang masih tersangkut di mata kakinya, lalu sambil tetap berdiri di depanku mulutnya tersenyum manis kepadaku, walaupun wajahnya sedikit memerah karena malu ia berusaha untuk tetap tersenyum.

Alamak... buah dadanya itu ternyata memang berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira sebesar dua kali bola tenis, warnanya putih bersih hanya puting-puting kecilnya saja yang tampak berwarna merah muda kecoklatan. aah, cantiknya kekasih kecilku ini apalagi kalau sedang telanjang bulat seperti ini, aku tak menyangka tubuhnya yang sedang mekar ini sudah memiliki keindahan yang sangat sempurna. " Aufa kamu cantik sekali sayang", bisikku lirih.

Batang penisku semakin cenat-cenut tegang tak karuan. Lalu Aufa mengulurkan kedua tangannya kepadaku mengajakku berdiri lagi. Kini rasanya kami seperti Adam dan Hawa saja. Bertelanjang bulat satu sama lain seperti kaum nudis saja.

"Mass... Aufa sudah siap, Aufa sayang sama Mas, Aufa akan serahkan semuanya seperti yang Mas inginkan", bisiknya mesra. Aku merangkul tubuhnya yang telanjang merasa terharu. Badanku seperti kesetrum saat kulitku menyentuh kulit halusnya yang hangat dan mulus apalagi ketika kedua payudaranya yang bulat menekan lembut dadaku yang bidang. aah... aku merintih nikmat. Jemari tanganku tergetar saat mengusap punggungnya yang telanjang, begitu halus dan mulus.

Aku tak sanggup menahan gejolak nafsuku. Setan-setan burik di belakangku seakan menggelitik batang penisku agar aku segera menyetubuhinya.

"Aahh.. Aufa kita lakukan di kamar yuk, Mas sudah kepingin begituan sayang", bisikku tanpa malu-malu lagi. Aufa tersenyum dalam pelukanku. "Terserah Mas saja, mau melakukannya dimana", sahutnya mesra.

Tooiinng... batang penisku langsung manggut-manggut seolah sangat setuju. Dengan penuh nafsu aku segera meraih tubuhnya dan kugendong ke dalam kamar. Saat itu aku sempat melirik jam didinding ruangan sudah setengah tiga sore.

Waah harus cepat nih, bisa kemalaman nanti. Kurebahkan tubuh Aufa yang telanjang bulat itu di atas kasur busa di dalam kamar tengah, tempat tidur itu tak terlalu besar, untuk 2 orang pun harus berdempetan.

Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena memang aku sengaja menutup semua gorden agar tak kentara dari luar, walaupun gorden yang berada dalam kamar ini sama sekali tidak menghadap ke jalan umum namun menghadap ke kebun di belakang, jadi sebenarnya sangat aman.

Aku segera membuka gorden agar sinar matahari sore dapat masuk, dan benar saja begitu kusibakkan sinar matahari dari arah barat langsung menerangi seluruh isi kamar. Kulihat tubuh Aufa yang telanjang bulat kelihatan mengkilap karena pantulan sinar matahari namun tak sampai menyilaukan mata.

Jantungku berdegup kencang saat kunaiki ranjang dimana tubuh Aufa yang telanjang berada, ia memandangku tetap dengan senyumnya yang manis. Aku merayap ke atas tubuhnya yang bugil dan menindihnya, aku tak sabar ingin segera memasuki tubuhnya.

"Buka pahamu sayang, hh... Mas ingin menyetubuhimu sekarang", bisikku bernafsu. Aku merasakan kehangatan saat kulitku bersentuhan dengan kulitnya yang halus mulus. Buah dadanya kelihatan sangat kencang dan bundar dengan puting-putingnya yang kemerahan sangat menawan hatiku, namun kutahan sementara keinginanku untuk menjamah buah terlarangnya itu.

"Mass..." ia hanya melenguh pasrah saat aku setengah menindih tubuhnya dan batang penisku yang tegang itu mulai menusuk celah bukit kemaluannya, mencari liang vaginanya. Kurasakan bukit kemaluannya terasa lunak dan hangat. "Aahh..." tanganku tergetar saat kubimbing alat vitalku mengelus bukit kemaluannya yang empuk lalu menelusup di antara kedua bibir kemaluannya.

"Sayang... Mas masukkan yaah... kalau sakit bilang sayang.. kamu kan masih perawan."

"Pelan-pelan Mas ....", bisiknya pasrah. Lalu dengan jemari tangan kananku kuarahkan kepala penisku yang sudah tak sabar ingin segera masuk dan merobek selaput daranya itu. Aufa memeluk pinggangku mesra, sementara kulihat ia memejamkan kedua matanya seolah menungguku yang akan segera memasuki tubuhnya.

Aku mencari liang vaginanya di antara belahan bukit kemaluannya yang lunak, aku tak dapat melihat celah vaginanya karena posisi tubuhku yang memang tak memungkinkan untuk itu namun aku berusaha untuk mencari sendiri.

Kucoba untuk menelusup celah bibir kemaluannya bagian atas namun setelah kutekan ternyata jalan buntu. "Agak ke bawah Mas, aahh kurang ke bawah lagi Mas... mm.. yah tekan di situ Mas... aawww pelan-pelan Mas sakiiit", Aufa memekik kecil dan menggeliat kesakitan, namun segera kupegang pinggulnya agar jangan bergerak.

Akhirnya aku berhasil menemukan celah vaginanya itu setelah kekasihku itu menuntunku, akupun mulai menekan ke bawah, "Hhggkkghh..." kepala penisku kupaksa untuk menelusup ke dalam liang vaginanya yang sempit, terasa hangat dan sedikit basah. Kukecup bibir Aufa sekilas lalu aku berkonsentrasi kembali untuk segera dapat membenamkan batang penisku sepanjang 14 centi itu seluruhnya ke dalam liang vaginanya.

Aufa mulai merintih dan memekik-mekik kecil ketika kepala penisku yang besar mulai berhasil menerobos liang kemaluannya yang sangat-sangat sempit sekali.

"Tahan sayang... Mas masukkan lagi, hhggghh.... ahh sempit sekali sayang aahh", erangku mulai merasakan kenikmatan dan "sssrrrtt" kurasakan kepala penisku berhasil masuk dan terjepit ketat sekali dalam liang vaginanya.

 "aawwww.... masss sakiit..." teriak Aufa memelas, tubuhnya menggeliat kesakitan. Aku berusaha menentramkannya sambil kukecup mesra bibir mungil yang basah merekah dan kulumat dengan perlahan.

"mm... cuupp... cuuppp." Lalu, "Hhgghh... tahan sayang, baru kepalanya yang masuk sayang, Mas tekan lagi yaah", bisikku di antara rasa pedih dan nikmat karena jepitan liang vaginanya itu begitu ketat seolah-olah kepala penisku diremas oleh sebuah daging yang sangat kuat cengkeramannya walaupun terasa hangat dan lunak.

Waah, ini harus diminyaki dulu nih pikirku, kalau aku langsung memperawaninya bisa-bisa batang penisku ikut-ikutan lecet. Akhirnya sambil menahan keinginan seks-ku yang sudah menggelora kucabut kembali alat vitalku yang baru masuk kepalanya saja itu dengan perlahan. mm... nikmatnya saat penisku menggesek celah vaginanya.

"Ah... sayang, Mas masukin nanti saja deh... hh.. liang vaginamu masih sangat sempit dan kering sayang."

"Kemaluanku sakit Mas", erang Aufa lirih.

"Yahh... Mas tahu sayang kamu kanmasih perawan, kita bercumbu dulu sayang, Mas kepingin melihat Dik Aufa orgasme", bisikku bernafsu. Segera kurebahkan badanku di atas tubuhnya dan memeluknya dengan kasih sayang,

"aahh..." aku menggelinjang nikmat merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya, apalagi saat dadaku menekan kedua buah payudaranya yang montok rasanya begitu kenyal dan hangat, puting-puting susunya terasa sedikit keras dan lancip, mm.. mm. Kemudian kurasakan pula perut kami bersentuhan lembut dan yang paling merangsang adalah saat batang penisku yang kucabut tadi kini menekan nikmat bukit kemaluannya yang empuk.

Ingin rasanya aku mencoba untuk memasuki liang vaginanya lagi dan mengeluarkan air maniku sebanyak-banyaknya di dalam situ tapi aahh, aku tak ingin hanya diriku saja yang merasakan kenikmatan, aku ingin mencumbu kekasihku ini dulu

Mengulum bibirnya, meremas dan mengenyot-enyot kedua buah payudaranya dan terakhir akan kucumbu seluruh tubuhnya dari atas sampai ke kaki, kukecup dan kucumbu alat kelaminnya, kujilati bibir vagina dan clitorisnya sampai Aufa kekasih kecilku ini merasakan kenikmatan seks sesungguhnya dan orgasme sepuasnya. "Aufa... hh.. bagaimana perasaanmu sayang", bisikku mesra. Ia memandangku dari jarak yang kurang dari 10 centi dan tertawa renyah.

"mm... Aufa bahagia sekali bersama Mas seperti ini, rasanya nikmat ya Mas berpelukan sambil telanjang kaya gini", ujarnya polos.

"Iyaa sayang, anggaplah Mas suamimu saat ini sayang", bisikku nakal.

"Iih.. Mas Ari, mm... mm.. Mas cumbui isterimu dong, beri istrimu kenik... mmbhh", belum sempat ia selesai ngomong, aku sudah melumat bibirnya yang nakal itu, Aufa membalas ciumanku dan melumat bibirku dengan mesra.

Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan Aufa langsung mengulumnya hangat, begitu sebaliknya. Semua terasa indah. Kurayapkan jemari tangan kiriku ke bawah menelusuri sambil mengusap tubuhnya mulai pundak terus ke bawah sampai ke pinggulnya yang hangat padat dan kuremas gemas,

Ketika tanganku bergerak kebelakang ke bulatan bokongnya yang bulat merangsang bersamaan dengan itu aku mulai menggoyangkan seluruh badanku menggesek tubuh Aufa yang bugil terutama pada bagian selangkangan dimana batang penisku yang sedang tegang-tegangnya menekan gundukan bukit kecil milik Aufa yang empuk, kugerakkan pinggulku secara memutar sambil kugesek-gesekkan batang penisku di permukaan bibir kemaluannya yang empuk sambil sesekali kutekan-tekan nikmat.

Aufa ikut-ikutan menggelinjang kegelian namun ia sama sekali tak menolak walaupun beberapa kali kepala penisku yang tegang salah sasaran memasuki belahan bibir kemaluan atau labia mayoranya seolah akan menembus liang vaginanya lagi. Ia hanya merintih kesakitan dan memekik kecil kalau aku salah menekan.

"Aawwww... Mas saakiit", erangnya membuatku makin terangsang saja.

"Aahh.. Aufa... kemaluanmu empuk sekali sayang, ssshh", aku melenguh keenakan. Setan-setan burik di belakangku semakin gila berjoget dangdut, seolah-olah bernyanyi, "Hangat terasa... terlenaa".

Beberapa menit kemudian setelah kami puas bercumbu bibir, aku menggeser tubuhku kebawah sampai mukaku tepat berada di atas kedua bulatan payudara yang bundar bak buah apel, kini ganti perutku yang menekan bukit kemaluannya yang empuk itu, woooww enakk.

Jemari kedua tanganku secara bersamaan mulai menggerayangi gunung "Fujiyama" miliknya itu, seolah hendak mencakar kedua payudaranya kelima jemari masing-masing tanganku kurenggangkan satu sama lain dan membentuk seperti cakar burung dan aku mulai menggesekkan ujung-ujung jemariku mulai dari bawah payudaranya di atas perut terus menuju gumpalan kedua buah dadanya yang kenyal dan montok.

Aufa merintih dan menggelinjang antara geli dan nikmat. "Mass... mm... iih geli Mas", erangnya lirih. Beberapa saat kupermainkan kedua puting-puting susunya yang kemerahan dengan ujung jemariku. Aufa menggelinjang lagi, kupuntir sedikit putingnya dengan lembut.

"mm Mas..." Aufa semakin mendesah tak karuan. Aku tak tahan, secara bersamaan akhirnya kuremas-remas gemas kedua buah dadanya dengan sepenuh nafsu.

"Aawww... Mas... nngggg", Aufa mengerang dan kedua tangannya memegangi kain sprei dengan kuat. Aku semakin menggila tak puas kuremas lalu mulutku mulai menjilati kedua buah dadanya secara bergantian.

Lidahku kujulur-julurkan menjilati seluruh permukaan susunya itu sampai basah, mulai dari payudara yang kiri lalu berpindah ke payudaranya yang kanan, kugigit-gigit puting-puting susunya secara bergantian sambil kuremas-remas dengan gemas sampai Aufa berteriak-teriak kesakitan.

"Maass.... ssshh... shh... oohh.... oouwww... masss", erangnya. Lima menit kemudian lidahku bukan saja menjilati kini mulutku mulai beraksi menghisap kedua puting-puting susunya sekuat-kuatnya. Aku tak peduli Aufa menjerit dan menggeliat kesana-kemari

Sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meremasi rambut kepalaku yang bergerak liar, sementara kedua tanganku tetap mencengkeram dan meremasi kedua buah dadanya bergantian sambil kuhisap-hisap dengan penuh rasa nikmat.

Bibir dan lidahku dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap kedua payudaranya yang kenyal dan padat. Di dalam mulut puting susunya kupilin-pilin dengan lidahku sambil terus menghisap sampai pipiku terasa kempot, aku menghayal meminum air susunya.

Aufa hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat ketika gigiku menggigiti putingnya dengan gemas, hingga tak heran kalau di beberapa tempat di kedua bulatan susu-susunya itu nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitanku.

Mm... mm... ini benar-benar nikmat, susu asli cap Nona pikirku dalam hati. Cukup lama sekali aku menetek susunya, mungkin sekitar 15 menit, sampai setelah cukup puas bibir dan lidahku kini merayap menurun ke bawah.

Kutinggalkan kedua belah payudaranya yang basah dan penuh dengan lukisan bekas gigitanku dan juga cupangan berwarna merah bekas hisapanku, sangat kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih. Ketika lidahku bermain di atas pusarnya,

Aufa mulai mengerang-erang kecil keenakan, bau tubuhnya yang harum bercampur dengan keringatnya yang kas menambah nafsu seks-ku semakin memuncak, kukecup dan kubasahi seluruh perutnya yang kecil sampai basah.

Ketika aku bergeser ke bawah lagi dengan cepat lidah dan bibirku yang tak pernah lepas dari kulit tubuhnya itu telah berada di atas gundukan bukit kemaluannya yang indah mempesona. "Buka pahamu Din.." teriakku tak sabar, posisi pahanya yang kurang membuka itu membuatku kurang leluasa untuk mencumbu alat kelaminnya itu. "Oooh... masss", Aufa hanya merintih lirih, kelihatannya dia sudah lemas kupermainkan sejak tadi, tapi aku tahu dia belum orgasme walaupun sudah sangat terangsang semenjak kuhisap kedua buah dadanya.

Sekarang ini aku ingin merasakan kelezatan cairan kewanitaan dari liang vaginanya, sebab pernah sohibku bilang terus terang kepadaku kalau ia sangat ketagihan untuk selalu meminum cairan lendir pacarnya ketika mereka sedang melakukan oral seks, katanya rasanya aneh tapi membuat dirinya bergairah.

Aku membetulkan posisiku di atas selangkangan kekasihku. Aufa membuka ke dua belah pahanya lebar-lebar, ia sudah sangat terangsang sekali. Kini wajahnya yang manis kelihatan kusut dan rambutnya tampak awut-awutan. Kedua matanya tetap terpejam rapat namum bibirnya kelihatan basah merekah indah sekali. Kedua tangannya juga masih tetap memegangi kain sprei, kelihatannya dia tegang sekali.

"Sayang... jangan tegang begitu dong sayang", kataku mesra.

"Lampiaskan saja perasaanmu, jangan takut kalau Dik Aufa merasa nikmat, teriak saja sayang biar puass...." kataku selanjutnya. Sambil tetap memejamkan mata ia berkata lirih.

"I... iya mass eenaak sih mass", katanya polos. Aku tersenyum senang,

"Sebentar lagi kau akan merasakan kenikmatan yang luar biasa sayang", bisikku dalam hati, dan setelah itu aku akan merenggut kegadisanmu dan menyetubuhimu sepuasnya.

Kupandangi beberapa saat keindahan bentuk alat kelaminnya itu, baru pertama kali ini aku menyaksikan alat kelamin wanita. Ternyata di samping baunya sangat khas dan merangsang hidungku, keringat yang membasahi di sekitar selangkangannya pun berbau harum dan khas.

Dari yang sering aku lihat di VCD ataupun di majalah, bentuk alat kelamin milik Aufa ini termasuk masih Fresh, maksudnya di samping masih belum ditumbuhi sehelai rambutpun namun juga kulit di bibir vagina dan di sekitar alat kelaminnya itu tidak tampak keriput sedikitpun, masih kelihatan halus dan kencang.

Labia mayoranya kelihatan gemuk dan padat berwarna putih sedikit kecoklatan, sedangkan celah sempit yang berada di antara kedua labia mayoranya itu tertutup rapat sehingga aku tidak bisa melihat lubang vaginanya sama sekali.

Benar-benar gadis perawan asli pikirku bangga. Aahh, betapa nikmatnya nanti saat celah kemaluan dan liang vaginanya menjepit batang penisku, akan kutumpahkan sebanyak-banyaknya nanti air maniku ke dalam liangnya sebagai tanda hilangnya keperjakaanku.


Aku juga ingin nantinya Aufa bisa merasakan semprotan air maniku yang hangat dan banyak agar ia dapat pula merasakan kenikmatan yang sedang kurasakan. Cukup lama aku melamun sambil memandangi keindahan alat kelaminnya sembari menikmati aroma khas yang keluar dari celah vaginanya yang rapat, saat tiba-tiba Aufa berbisik lirih menyadarkanku.

"Mas... ngapain sih kok ngelamun, bau yaa Mas?" tanyanya sambil tersenyum manis. Wajahnya walaupun sedikit kusut berkeringat tapi tetap manis sekali.

"Nnngghh... abisnya punyamu lucu sih, bau lagi", balasku nakal.

"Iiihh... jahat", Belum habis berkata begitu tangan Aufa bergerak memegang kepalaku dan mengucek-ucek rambut kepalaku. Aku tertawa geli. Selanjutnya tanpa kuduga kedua tangannya itu menekan kepalaku ke bawah, sontak mukaku terutama hidung dan bibirku langsung nyosor menekan bukit kemaluannya, "mffmffphh..." hidungku menyelip di antara kedua bibir kemaluannya, empuk dan hangat.

Kuhirup sepuas-puasnya bau alat kelaminnya penuh perasaan, sementara bibirku mengecup bagian bawah labia mayoranya dengan bernafsu. Kuputar kepalaku sekitar 40 derajat, sementara jemari kedua tanganku merayap ke balik pahanya dan meremas bokongnya yang bundar dengan gemas.

Aku mulai mencumbui bibir kemaluannya yang tebal itu secara bergantian seperti kalau aku mencium bibir Aufa. Puas mengecup dan mengulum bibir bagian atas, aku berpindah untuk mengecup dan mengulum bibir kemaluannya bagian bawah.

Rasanya, mm ada sedikit manis dan asin bercampur bau vaginanya yang memabukan, pokoknya dari Sabang sampai Merauke sudah nggak bisa diungkapkan.

Nggak heran karena ulahku Aufa sampai menjerit-jerit karena nikmatnya, tubuhnya menggeliat hebat dan terkadang meregang kencang, beberapa kali kedua pahanya sampai menjepit kepalaku yang lagi asyik masyuk bercumbu dengan bibir kemaluannya.

Kupegangi kedua belah bokongnya yang sudah berkeringat agar tidak bergerak terlalu banyak, bagaimanapun juga aku tak rela melepaskan pagutan bibirku pada labia mayoranya yang merangsang. Salah sendiri pikirku siapa dulu yang mulai.

"mm.. masss... aauuuwwww... auuuwwww... aawwww... hggghhkkhh... mass... aduuh.... enaak masss... aahh aduhh... oouuhh", Aufa mengerang-erang dan tak jarang memekik cukup kuat saking nikmatnya. Kedua tangannya bergerak meremasi rambut kepalaku sampai kacau, sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya yang seksi.

Kadang pantatnya Aufaikkannya sambil mengejan nikmat atau kadang digoyangkan memutar seirama dengan jilatan lidahku pada seluruh permukaan alat kelaminnya yang montok itu. "Masss... oouhh... yaahh... yaahah... mass huhuhu.. huhu..."

Aufa berteriak makin keras, dan terkadang seperti orang menangis mungkin saking tak kuatnya menahan kenikmatan yang kuciptakan pada alat kelaminnya. Tubuhnya menggeliat hebat dan kulihat sambil mulutku tetap memagut bibir kemaluannya, kepala kekasihku dipalingkan ke kiri dan ke kanan dengan cepat, mulutnya mendesis dan mengerang tak karuan.

Aku semakin bersemangat melihat tingkahnya, sebentar lagi Aufa pasti orgasme, kini mulutku semakin buas, dengan nafas setengah memburu kusibakkan bibir kemaluannya yang menawan dengan jemari tangan kananku, mm.. hangat dan empuk, kini kulihat daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurku bercampur dengan cairan lendir kewanitaannya

Agak sebelah bawah dagingnya itu barulah aku dapat melihat celah liang vaginanya yang amat sangat kecil dan berwarna kemerahan pula, aku mencoba untuk membuka bibir kemaluan Aufa agak lebar agar aku dapat mengintip ke dalam liang vagina mungilnya bagaimana bentuk selaput daranya, namun Aufa tiba-tiba memekik kecil ternyata aku terlalu lebar menyibakkan bibir kemaluannya itu sehingga ia mengerang kesakitan.

"aawww... iiih... mass.. sakiit", pekiknya kesakitan. Aku jadi terkejut dan menyesal. "Eeeh... maaf sayang, sakit yaa..." bisikku khawatir. Kuusap dengan lembut penuh kemesraan bibir kemaluannya agar sakitnya hilang, sebentar kemudian lalu kusibakkan kembali pelan-pelan bibir nakalnya itu

Celah merahnya kembali terlihat, agak ke atas dari liang vaginanya yang sempit itu aku melihat ada tonjolan daging kecil sebesar kacang hijau yang juga berwarna kemerahan, inilah clitorisnya bagian paling sensitif dari alat kelamin wanita.

Mmm... ini dia biang kenikmatan bagiperempuan pikirku, lalu secepat kilat dengan rakus lidahku kujulurkan sekuatnya keluar dan mulai menyentil-nyentil daging clitorisnya. Benar saja karena tiba-tiba Aufa memekik sangat keras sambil menyentak-nyentakkan kedua kakinya ke bawah.

Aufa mengejan hebat, aku sampai kaget dibuatnya karena pinggulnya bergerak liar dan kaku, jilatanku pada clitorisnya jadi luput. Dengan gemas aku memegang kuat-kuat kedua belah pahanya yang putih mulus lalu kembali kutempelkan bibir dan hidungku di atas celah kedua bibir kemaluannya

Kujulurkan lidahku keluar sepanjang mungkin lalu kutelusupkan lidahku menembus jepitan bibir kemaluannya dan kembali menyentil nikmat clitorisnya dan, "Hgghggh... hghghghgh... shshhsh...." Aufa memekik tertahan dan mendesis panjang tubuhnya kembali mengejan sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya yang kecil

Pantatnya diangkat ke atas sehingga memberi keuntungan bagiku untuk lebih dalam memasuki celah labia mayoranya menyentil-nyentil clitorisnya. Begitu singkat karena tak sampai 1 menit tiba-tiba kudengar Aufa terisak menangis dan kurasakan di dalam mulutku terasa ada semburan lemah dari dalam liang vaginanya berupa cairan hangat agak kental banyak sekali.

Aku menyentil clitorisnya beberapa saat sampai kurasakan tubuh Aufa mulai terkulai lemah dan akhirnya pantatnya pun jatuh kembali ke kasur.

Aufa melenguh panjang pendek meresapi kenikmatan yang baru ia rasakan, kenikmatan sorga dunia miliknya, sementara aku masih menyedot sisa-sisa lendir yang keluar hasil orgasmenya yang terasa asin manis dari celah kemaluannya yang kini tampak agak memerah.

Seluruh selangkangannya itu tampak basah penuh air liur bercampur lendir yang kental. mm... mm... aku menjilati seluruh permukaan bukit kemaluannya sampai agak kering, cairan lendirnya itu membuatku semakin bergairah.

 Perasaanku benar-benar fresh setelah menghirup dan menelan cairan lendir vaginanya. Aku tak tahu apa memang cairannya itu mengandung vitamin atau obat perangsang, masa bodoh yang jelas kini nafsu seks-ku telah memuncak, aku akan melakukan tugasku sebagai seorang laki-laki.

"Sayaang... puas kan..." bisikku lembut namun Aufa sama sekali tak menjawab, matanya terpejam rapat namun mulutnya kelihatan tersenyum bahagia.

"Giliranku sayang, Mas mau masuk nih... tahan sakitnya sayang", bisikku lagi tanpa menunggu jawabannya.

Aku segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuhnya yang telanjang berkeringat. Buah dadanya yang penuh lukisan hasil karyaku kelihatan turun naik mengatur napas. Sebodoh pikirku, dengan agak kasar kutarik kakinya ke atas dan kutumpangkan kedua pahanya pada pangkal pahaku sendiri sehingga kini selangkangannya menjadi terbuka lebar mempertontonkan alat kewanitaannya yang merangsang itu.

Kutarik bokongnya ke arahku sehingga batang penisku yang sudah sengsara cukup lama hampir 1 jam itu langsung menempel di atas bukit kemaluan milik Aufa yang masih basah. Kuusap-usapkan kepala penisku pada kedua belah bibir kemaluannya yang lunak dan lalu beberapa saat kemudian dengan nakal batang penisku kutepuk-tepukkan dengan gemas ke alat kelamin Aufa.

Puk... puk... puk... puk... puk... Aufa menggeliat manja dan tertawa kecil, dirinya sudah kembali normal setelah dengan susah payah ia mendaki puncak kenikmatan.

"Mas... iiih.. gelii.. aah", jeritnya manja. Giginya yang putih kelihatan cerah, secerah wajah manisnya yang kembali bersinar lagi.

"Sayaang, penis Mas mau masuk nih... tahan yaa sakitnya", bisikku nakal penuh nafsu.

"Iiihh... jangan kasar ya mass... pelan-pelan saja masukinnya, Aufa takut sakiit", sahut Aufa polos penuh kepasrahan.

Aku jadi terharu mendengarnya, aku jadi tak tega untuk merenggut kegadisannya tapi sayang batang penisku ini tak bisa diajak kompromi. Aku kasihan pada milikku yang sudah sengsara sejak seminggu lalu belum juga kulampiaskan.

Ah, sebodoh. Sedikit kusibakkan bibir kemaluan miliknya dengan jemari kiriku, lalu ku arahkan kepala penisku yang besar ke liang vaginanya yang sempit, teng... teng... teng.. batang penisku semakin tegang melihat liang vaginanya itu.

Aku mulai menekan dan Aufa pun meringis, aku tekan lagi... akhirnya perlahan-lahan mili demi mili liang vaginanya itu membesar dan mulai menerima kehadiran kepala penisku. Aufa menggigit bibir. Kulepaskan jemari tanganku dari bibir kemaluannya dan plekk... bibir kemaluannya langsung menjepit nikmat kepala penisku.

"Tahan sayang..." bisikku bernafsu. Aufa hanya mengangguk pelan, matanya lalu dipejamkan rapat-rapat dan kedua tangannya kembali memegangi kain sprei. Agak kubungkukkan badanku ke depan agar pantatku bisa lebih leluasa untuk menekan ke bawah.

"Heekkgh..." aku menahan napas sambil memajukan pinggulku dan sssrrrtt... crrkk... akhirnya kepala penisku mulai tenggelam di dalam liang vaginanya. Wow, nikmatnya saat liang vaginanya menjepit kepala rudalku

Daging vaginanya terasa hangat dan agak licin, namun cengkeramannya begitu kuat seakan-akan kepala penisku seperti diremas-remas saja, kulihat urat-urat batang kemaluanku makin menonjol keluar saking banyaknya darah yang mengalir ke situ, aku kembali menekan,

"hhgghgggghh", dan Aufa mulai menjerit kesakitan, aku tak peduli, mili demi mili batang penisku secara pasti terus melesak ke dalam liang vaginanya dan tiba-tiba setelah masuk sekitar 4 centi seperti ada selaput lunak yang menghalangi kepala penisku untuk terus masuk, aku terus menekan dan "tesss" aku merasa seperti ada yang robek, bersamaan dengan itu Aufa melengking keras sekali lalu menangis terisak-isak.

"aauuwwww... huk.. huk... huu... huu", Wah selaput daranya robek nih pikirku, sebentar lagi pasti keluar darah, namun aku tak begitu peduli karena aku terus menekan, "Hgggghhgghgh..." batang penisku dengan ngotot terus memaksa memasuki liang vagina milik Aufa yang luar biasa sempit itu.

Kulihat bibir kemaluannya mekar semakin besar, kulihat betapa ketatnya liang kemaluannya itu menjepit batang penisku yang sudah masuk sekitar 6 centi,

"Aagghh.." aku menahan rasa nikmat jepitan vaginanya. Kupegang pinggul Aufa yang seksi mungil, dan kutarik kearahku "srrrtt... crrkrtt..." batang penisku masuk makin ke dalam, "Ooouhh", nikmatnya setengah mati.

Aufa terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara aku sendiri malah merem melek keenakan. Aku harus cepat, kalau tidak Aufa kekasihku terlalu lama menderita, kupegang pinggul Aufa lebih erat lalu aku mengambil nafas dan ancang-ancang, ini harus segera dibenamkan seluruhnya.

Dan, "hhghgghghk..." aku menghentak keras ke bawah, "Sssrt ccrrtt... crrtt..." dengan cepat batang penisku mendesak masuk liang vagina Aufa, "Waahhghh..." aku mengerang nikmat hampir saja air maniku muncrat saking kuatnya gesekan dan jepitan vagina milik si Aufa ini.

"Oouughhgh..." aku mengatur nafas agar air maniku nggak keburu muncrat, kulihat tinggal sedikit kira-kira 3 centi yang belum masuk. Kuhentakkan lagi pantatku ke bawah dan "Crrreet.. set.." akhirnya batang penisku sepanjang 14 centi secara sempurna telah tenggelam sampai kandas terjepit di antara bibir kemaluan dan liang vaginanya.

"Oooggghh..." aku berteriak keras saking nikmatnya, mataku mendelik menahan jepitan ketat vagina Aufa yang luar biasa. Sementara Aufa hanya memekik kecil lalu memandangku sayu. Bibirnya tergetar namun ia mencoba untuk tersenyum kepadaku.

Wajahnya yang manis menatap sayu kepadaku. "Mass... Aufa sudah nggak perawan lagi sekarang", bisiknya lirih sambil tersenyum. Akupun begitu, aku menatap bangga kekasihku itu, ia rela mengorbankan keperawanannya demi aku yang baru dikenalnya kurang dari satu minggu. "Aufa sayang, Mas sekarang juga nggak perjaka lagi", balasku mesra. Kami sama-sama tersenyum.

Kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang telanjang, aku memeluknya penuh kasih sayang, payudaranya kembali menekan dadaku, nikmat. Tubuh kami telah menyatu, dalam suatu persetubuhan indah.

Kurasakan vagina Aufa menjepit dan meremas kuat batang penisku yang sudah amblas semuanya. Kami saling berpandangan mesra, kuusap mesra wajahnya yang masih menahan sakit menerima tusukan alat vitalku.

Setan-setan burik di belakangku seolah memproklamirkan kemerdekaannya. "Mas... bagaimana rasanya", bisik Aufa mulai mesra kembali, walaupun sesekali kadang ia menggigit bibir menahan sakit.

"Enaak sayang.. dan nikmaat... oouhh Mas nggak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sayang... selangit pokoknya", bisikku. Ia tersenyum senang dan mencubit pipiku. Kukecup mesra hidungnya yang bangir.

"Mass... bagaimana kalau Aufa sampai hamil?" bisiknya sambil tetap tersenyum.

"Oke... nanti setelah bersetubuh kita cari obat di apotik, obat anti hamil", bisikku gemas.

"Iihh... nakal..." sahutnya sambil kembali mencubit pipiku.

"Biariin..."

"Maasss..." Aufa agak berteriak.

"Apaan sih..." tanyaku kaget. Lalu sambil agak bersemu merah pipinya ia berkata lirih.

"Goyaang dong..." bisiknya hampir tak terdengar.

"Iiih Dik Aufa kebanyakan nonton film porno, kan itunya masih sakiit", jawabku sekenanya.

"Pokoknya, goyang dong Mas..." sahutnya manja. Aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dan iapun membalas dengan tak kalah bernafsu. Kami saling berpagutan lama sekali lalu sambil tetap begitu aku mulai menggoyang pinggul naik turun.

Batang penisku mulai menggesek liang vaginanya dengan kasar, "ccrrrtt.. crrttt..." pinggulku menghunjam-hunjam dengan cepat mengeluar masukkan batang penisku yang tegang. Aufa memeluk punggungku dengan kuat, ujung jemari tangannya menekan punggungku dengan keras.

Kukunya terasa menembus kulitku. Tapi aku tak peduli, aku sedang menyetubuhi dan menikmati tubuhnya. Batang penisku seakan dibetot dan disedot oleh liang vaginanya yang benar-benar super sempit itu.

Aufa merintih dan memekik kesakitan dalam cumbuanku. Beberapa kali malah ia sempat menggigit bibirku, namun itupun aku tak peduli. Aku hanya merasakan betapa liang vaginanya yang hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat batang penisku, seakan mengenyot nikmat, ketika kutarik keluar terasa daging vaginanya seolah mencengkeram kuat alat vitalku, sehingga betapa aku memaksa untuk keluar daging vaginanya terasa ikut keluar.

"Aggghh..." nikmatnya luar biasa sekali, aku sampai mendesis panjang saking nikmatnya. Aku mengira tak lebih dari 2 centi saja batang penisku yang bergerak keluar masuk menggesek liang vaginanya, itupun susahnya setengah mati, walaupun sangat nikmat. Aufa melepaskan ciumannya dan mencubit pinggangku sakit sekali.

"Awww... aduuh Mass... sakit Masss... aduuhh... ngilu Mas.... iiihh..." ia berteriak kesakitan. Aku jadi kasihan melihatnya, habis enaak sih.

"Maaf sayang... Mas mainnya kasar yaah? Mas nggak tahan lagi sayang aahhgghghh", bisikku sambil menahan rasa nikmat pada alat vitalku. Air maniku kurasakan sudah mendesak ingin muncrat keluar,

"Oouuhhggh..." air maniku mau keluar. Desahku sambil menyemprotkan air mani yang banyak di liang vaginanya. Kami pun berpelukan puas atas kejadian tersebut. Dan tanpa terasa kami ketiduran sambil berpelukan telanjang bulat karena kecapaian dalam permainan tadi, sungguh suatu kenikmatan yang tiada terkira.

Tamat.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil