Kamis, 25 Februari 2016

Cerita Sex Birahi didalam Tenda

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Birahi didalam Tenda. Pada valentine yang lalu aku tidak pernah memikirkan dan menyangka hubungan seks bisa terjadi secepat itu, acarfa itu kami rayakan di kawasan wisata kaliurang, diman kita berangkat pukul 2 siang semua peralatan camp. Sudah siap untuk 2 hari, sampai ditempat aku langsung mendirikan tenda kira kira pukul 5 sore, sementara Dinda terlihat turun ke sungai kecil yang airnya sangat bening.

Cerita Dewasa Birahi didalam Tenda

cerita sex terbaru, cerita dewasa, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum, cerita mesum 18, cerita mesum baru, cerita mesum terkini, cerita mesum 17, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum, mesum cerita, kumpulan cerita mesum bergambar, galeri cerita mesum, cerita mesum paling panas, cerita mesum dan fotonya
Cerita Mesum Birahi didalam Tenda
Begitu selesai memasang tenda, aku langsung ikut Dinda turun dengan membawa sekalian peralatan mandi. Kulihat Dinda sedang asyik bermain air di atas sebuah batu besar.

"Mandi gih, ntar kesorean lho", kataku.

"Dingin ah, lagian mau mandi pake apa?", tanyanya.

"Pake ini aja", aku mengulurkan kain pantai biru milikku dan sekalian dengan sabun peralatan mandi.

"Tapi Mas pergi dulu dong, aku mau ganti dulu nich".

"OK", aku langsung pergi menuju ke hilir sungai, kira-kira 10 menit kemuDinda aku kembali lagi dan kulihat Dinda telah asyik berendam di air.

"Dingin nggak?", tanyaku.

"Lumayan, ayo mandi juga", ajaknya.

"Ntar deh".

Sekilas aku melihat kain bali yang dipakai Dinda tersingkap di air sehingga memperlihatkan pahanya. Dadaku langsung berdesir dan berdegup kencang. Entah setan apa yang menuntunku untuk lebih mendekat ke pinggir sungai agar dapat melihat lebih dekat sosok Dinda.

"Ayo", ajaknya lagi. Aku cuma tersenyum.

Dinda naik ke atas batu dan mulai menggosok badannya. Saat itu mataku tak bisa lepas dari payudara Dinda yang menyembul walaupun telah ditutupi kain bali yang basah. Penisku sudah menegang sejak tadi. Dinda masuk lagi ke air begitu selesai membersihkan badan dan kakinya.

Badan dan kepalanya bersandar ke batu besar yang berada di dalam aliran air dengan mata tertutup. Entah setan mana pula yang merasukiku, aku langsung membuka baju yang kupakai sehingga hanya tinggal celana pendek dan langsung masuk ke sungai. Dinda terkejut dan membuka matanya tapi lalu tersenyum.

"Gak dingin kan?", tanyanya.

"Dingin ah", kataku sambil mendekati dia.

Aku duduk di sampingnya dengan posisi yang sama (bersandar di batu), tangan kami saling bersentuhan sehingga membuat dadaku semakin berdegup kencang. Kuberanikan diri untuk meremas tangannya yang berada di dalam air.

Tak ada respon. Kuelus tangannya pelan, semakin ke atas. Posisiku agak miring sekarang. Mata Dinda masih tertutup tapi dapat kurasakan badannya menegang. Rupanya dia juga sudah mulai terangsang.

Kesempatan tersebut tak kusia-siakan. Dinda langsung kurengkuh dan kuhujani dengan ciuman di leher dan terus ke bibir. Dia membalas pelukanku dan mulai meraba-raba punggungku. Bibirnya ku kulum, turun ke leher sambil tanganku melepas kain pantai yang sedang dipakainya dan kuletakkan di atas batu.

Sasaranku kini adalah payudaranya yang merah merekah. Putingnya kuisap-isap. Dinda menggelinjang pelan. Tanganku mulai menggerayangi vaginanya. Dinda meremas rambutku dan mengerang. Dinda kunaikkan ke atas batu.

Kucumbu mulai dari leher, kemuDinda payudaranya kembali kuhisap dan tanganku lebih leluasa memainkan vaginanya. Kuciumi perut dan turun ke kewanitaanya. Kulihat jelas vaginanya berwarna merah ditutupi bulu-bulu yang lebat.

Kuciumi dan kelentitnya kumainkan dengan lidah. Badan Dinda menegang dan dia terus mengerang. Kubuka celana pendekku sekaligus dengan CD-nya. Penisku yang berukuran panjang 18 cm langsung mencuat keluar.

Dinda terlihat agak kaget begitu melihatku dalam keadaan bugil di hadapannya. Aku naik lagi ke atas Dinda. Penisku kumainkan di vaginanya. Kepala penisku kugesek-gesekkan di kemaluannya.

Dinda mengerang. "Mas..., ohhhmm...".

Dinda kuangkat lagi ke dalam sungai, kurebahkan di pinggir. Badan kami setengah masuk ke dalam air. Kakinya kurenggangkan dengan kakiku, kemuDinda sambil meraba-raba dengan tangan kuarahkan penisku ke vaginanya.

Dengan perlahan kepala penis kumasukkan. Baru sebatas kepala kulihat Dinda mengerang dan menggigit bibirnya. Penisku kutarik pelan dan kugesek-gesekkan hanya sebatas kepala yang masuk tadi. Begitu Dinda tenang, penisku kembali kumasukkan setengahnya. Dinda menjerit. Bibirnya langsung kukulum dan penisku kutarik keluar sedikit.

Pelan-pelan penisku kugoyang-goyangkan sebatas setengahnya yang baru masuk tadi. Begitu Dinda terlihat mulai menikmatinya, penisku kudorong pelan semakin dalam. Dinda kembali menjerit tertahan dan meremas pundakku. Kali ini penisku kubiarkan agak lama bersarang di vaginanya tanpa kugerak-gerakkan. Bibirnya terus kukulum dan payudaranya kuremas.

Lebih dari 5 menit kemuDinda aku mulai menggoyang-goyangkan penisku kembali dengan perlahan sambil mengulum payudaranya. Kecipak air terlihat di pinggir sungai karena goyangan tubuh kami. Dinda mulai menikmatinya. Karena berada di dalam air, goyangan kami terasa lain.

Setiap aku menggoyangkan penisku, Dinda membalas dengan menggoyangkan pantatnya di dalam air. Gerakannya pelan karena hambatan di dalam air. Penisku terasa diurut-urut di dalam vagina Dinda. Gerakan kupercepat dan Dinda tetap mengikuti irama gerakannku.

"Ohhh..., Masss..., terusss...", erang Dinda.

"Kamuuu juga terusss.., goyyangkaaan..., oohh...., mmhhh...".

Badan Dinda kuangkat ke atas dengan posisi setengah berdiri. Penisku tetap berada dalam vaginanya. Dinda kupeluk erat sambil terus menggoyangkan pinggulku. Badan Dinda terasa mengejang. Mungkin dia akan orgasme, pikirku. Goyangan kupercepat.

"Ohh..., Mass..., teruss.., ohhh...", bisiknya.

Badan Dinda kuangkat dan kurebahkan di atas rumput lagi, pantatnya kusanggah dengan kain pantai yang basah. Penisku langsung kumasukkan ke vaginanya dan langsung menggoyang-goyangkan pinggulku. Kaki Dinda mengapit tubuhku. Badannya mengejang. Tangannya mencengkeram tubuhku. Gerakan pinggulku semakin kupercepat.

"Ohh..., Masshh...", Dinda menjerit tertahan saat dia mencapai orgasme.

Dinda memelukku erat. Pinggulku berhenti kugoyangkan dan penis kukeluarkan dari vaginanya.

Aku mengambil sabun mandi dan mulai membaluri penisku. Aku berbaring telentang disamping Dinda, tangannya kubawa ke penisku dan kukocok. Tanganku kulepas dan Dinda terus mengocok penisku. Badanku mulai mengejang.

Tangan Dinda kulepas dari penisku. Dinda kurebahkan kembali dirumput, penisku kumasukkan ke belahan payudaranya dan menggoyangkan penisku. Begitu terasa aku mau orgasme kembali penis kulepaskan dari payudara Dinda dan membiarkannya sebentar.

Begitu aku agak tenang, aku membalikkan tubuh Dinda terlungkup. Kakinya kurapatkan, penisku kumasukkan ke sela-sela paha belakangnya, penisku tidak kumasukkan ke dubur Dinda. Penisku terus kugoyangkan sampai aku mengalami orgasme.

Spermaku keluar di sela-sela pahanya. Aku memeluk Dinda sebentar kemuDinda membalikkan badannya dan kuciumi dengan lembut. Kami berdua terbaring kelelahan. KemuDinda aku bangun dan membersihkan diri dan diikuti oleh Dinda.

Selesai mandi aku melihat jam menunjukkan pukul 16.45. Berarti kami telah bercinta sekitar 45 menit. Aku dan Dinda naik menuju ke lokasi tenda.

Pukul 7 malam aku memasak mie instant dengan corned. Dinda sedang asyik mendengarkan radio di dalam tenda. Kami menyelesaikan makan malam sekitar jam 7.30. Aku dan Dinda duduk berdua di luar tenda sambil membuat api unggun kecil. Dinda bersandar di pundakku sambil memandangi bintang-bintang.

"Dingin ya Mas", kata Dinda memecah kesunyian.

"Ya", mau kupeluk?".

"Mmm...", Dinda tersenyum sambil merapatkan tubuhnya.

Aku langsung merangkul tubuh Dinda. Terasa payudaranya yang kenyal mengganjal membuatku langsung terangsang untuk mengulang kejaDinda tadi sore. Bibirku langsung mencium kening Dinda, terus turun ke bibirnya.

Dinda membalas perlakuanku. Kami saling berpagutan. Tanganku meremas payudaranya yang terbungkus sweater. Tangan Dinda kubawa ke penisku yang sudah mengeras. Dinda kurebahkan di atas matras, sweaternya kubuka sebatas leher dan payudaranya kuhisap.

"Ouhhh Masss..., terusss", erangnya.

Aku semakin ganas, di pinggir payudaranya kubuat cupang merah. Celana Dinda kubuka sekaligus dengan CD-nya sebatas lutut. KemuDinda vaginanya ku kulum, kumainkan dengan lidah.
"Terus Mas...", erangnya.
Celanaku kubuka dan penisku langsung muncul keluar. Tubuh Dinda kumiringkan berhadapan dengan tubuhku. KemuDinda celanaku kubuka seluruhnya sehingga hanya tinggal baju yang menempel di tubuhku.

Penis kumainkan di vaginanya, ujung penis kugesek-gesekkan di kelentitnya. Dinda mengerang-erang. Celananya kulepas semua beserta seluruh pakaiannya. Kini Dinda telah telanjang bulat telentang di atas matras. Aku juga ikut membuka seluruh pakaian yang kukenakan. Kami telanjang bulat berdua, berpelukan, saling membelai, memagut.

Aku meraba vagina Dinda, terasa vaginanya telah basah. Dinda kubangunkan dan membuat posisi merangkak. Aku memeluknya dari belakang dan memasukkan penis ke vaginanya dan menggoyang-goyangkan penisku, seperti sore tadi dan Dinda mengikuti irama gerakanku dengan menggoyangkan pinggulnya juga. Bunyi kemaluan kami yang bersentuhan terdengar di antara suara jangkrik.

KemuDinda Dinda kutelentangkan, kakinya kurenggangkan. Satu kaki kuangkat ke atas, aku memasukkan penisku dengan posisi duduk. Penisku kugoyang-goyangkan terus dan Dinda mengerang-erang. Kali ini erangannya tidak ditahan lagi seperti sore tadi.

Tubuh Dinda kuangkat berhadapan dengan tubuhku. Penisku terus menancap di vaginanya. Tubuh Dinda kupeluk erat dan pinggul kami saling bergoyang. Kurasakan penisku seperti diurut-urut hingga menghasilkan sensasi yang luar biasa nikmatnya.

Badannya kurebahkan lagi, kedua kakinya kuangkat, penisku kumasukkan lagi ke liang surganya dengan posisi setengan berdiri. Penisku kugoyang-goyangkan terus. Tubuhku mulai mengejang, kemuDinda penisku kutarik keluar. Tubuh Dinda terus kucumbu sampai aku relax lagi. Aku tidak ingin mengalami orgasme duluan.

Begitu tenang kembali, tubuh Dinda kumiringkan, aku memasukkan penisku ke vaginanya dari belakang. Satu kakinya kuangkat. Lima menit kupertahankan posisi tersebut, terasa tubuh Dinda menegang seperti sore tadi ketika dia orgasme. Erangannya kali ini tak tertahankan lagi.

"Oh..., Mass..., teruss...,ceppatt.., oh..., lebih keras goyangnyaaa..", erang Dinda.

Aku mempercepat goyangan pinggulku sampai Dinda akhirnya menjerit ketika mencapai orgasme, aku langsung membalikkan tubuh Dinda dan menindihnya. Aku juga hampir mencapai orgasme, pinggulku kugoyang-goyangkan kembali dengan cepat, Dinda hanya pasrah dan aku mengerang keras ketika mencapai orgasme.

"Aku sayang kamu Dinda", bisikku di telinganya.

Aku bopong tubuh Dinda masuk ke tenda, kumasukkan ke sleeping bag, baju dan peralatan juga kubawa masuk ke dalam tenda. Malam itu kami berpelukan dengan keadaan bugil dalam sleeping bag dan tidur bersama dengan nyenyaknya.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Foto Sex ABG Kegirangan dientot

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa dan foto sex : Anak Abg dengan santainya menikmati genjotan dario sang pacar diman memeknya kemasukan kontol yang bikin ngiri, ada juga wajahnya malah kegirangan, coba chek bersama foto abg kegirangan di entot.

foto sex ABG, foto sex 2016, kumppulan foto hot terbaru, foto bugil ABG, foto memek ABG, foto ABG girang, foto sex toket ABG, foto cewek ABG, foto sex artis, foto bugil indo ABG

foto sex ABG, foto sex 2016, kumppulan foto hot terbaru, foto bugil ABG, foto memek ABG, foto ABG girang, foto sex toket ABG, foto cewek ABG, foto sex artis, foto bugil indo ABG

foto sex ABG, foto sex 2016, kumppulan foto hot terbaru, foto bugil ABG, foto memek ABG, foto ABG girang, foto sex toket ABG, foto cewek ABG, foto sex artis, foto bugil indo ABG

foto sex ABG, foto sex 2016, kumppulan foto hot terbaru, foto bugil ABG, foto memek ABG, foto ABG girang, foto sex toket ABG, foto cewek ABG, foto sex artis, foto bugil indo ABG

foto sex ABG, foto sex 2016, kumppulan foto hot terbaru, foto bugil ABG, foto memek ABG, foto ABG girang, foto sex toket ABG, foto cewek ABG, foto sex artis, foto bugil indo ABG
Tag Terkait : 
  • foto sex abg hot
  • foto sex 2016
  • kumppulan foto hot terbaru
  • foto sex abg
  • foto bugil
  • foto memek
  • foto sex tante
  • foto janda girang
  • foto sex toket gede
  • foto cewek jepang
  • foto sex artis
  • foto bugil indo

Rabu, 24 Februari 2016

Cerita Sex Memek Gadis Mandarin

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Memek Gadis Mandarin. Daerah yang sangat indah dengan musin dinginnya keseharianku disini sering memaki jaket tebal yang berbulu karena saat ini aku sedang di Beijing, baru 3 hari ini aku berada di daerah Beijing, tempat wisat yang indah dan makanannya yang enak serta gadis gadis yang yang berlalu lalang berjalan dan aku sempat tergoda dengan gadis Beijing.

Cerita Dewasa Memek Gadis Mandarin

cerita sex ngentot, cerita ngentot terbaru, cerita orang ngentot, kumpulan cerita ngentot, ngentot cerita, cerita hot ngentot, cerita nyata ngentot, koleksi cerita ngentot, cerita ngentot baru, kumpulan cerita ngentot terbaru
Cerita Mesum Memek Gadis Mandarin
Seandainya bahasa Mandarin saya sudah bagus, tentunya saya bisa berkenalan dengan mereka. Saat itu saya belum mengenal siapa-siapa selain agen perjalanan yang mengatur di mana saya tinggal dan di mana saya akan mendapatkan pendidikan bahasa Mandarin.

Karena tidak ada kerjaan, saya berjalan-jalan di aula sekolah tersebut dan saya melihat sepucuk kertas kecil berisikan nama dan nomor telepon yang menempel di sebuah papan pengumuman. Kertas itu bertuliskan dalam bahasa Inggris sehingga saya dapat membacanya dengan jelas. Pemilik kertas itu bernama Zhang Jing Jing atau Crystal (ini adalah nama asli dia, tetapi tidak usah diedit supaya lebih asyik dan menarik).

Setelah hari berganti senja, saya memberanikan mencoba menelpon Zhang Jing Jing atau Crystal. Dengan bermodalkan bahasa mandarin saya yang pas-pasan dan bahasa Inggris, saya mengutarakan maksud saya untuk belajar bahasa Mandarin dan saya akan membayar dia untuk menjadi guru private saya.

Dia menawarkan diri untuk mengajar saya bahasa mandarin dengan biaya 10 RMB (Rp 8,000) per 1 jam. Setelah saya setuju dengan harga, dia menawarkan supaya saya datang ke rumah dia keeesokan harinya karena kebetulan dia tidak ada kelas dan saya juga belum mulai sekolahnya.

Tibalah saat waktu les dengan Crystal, saya mandi, makan dan merapikan diri. Setelah semuanya selesai, saya membawa buku tulis dan buku cetak beserta alat tulis ke tempat Crystal. Untuk menemukan tempat crystal karena saya masih baru sekali di Beijing, saya bertanya letak tempat dia kepada orang-orang sekitar dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Mandarin jika mereka tidak mengerti bahasa Inggris.

Akhirnya setelah berapa lama, saya dapat menemukannya. Setibanya di depan pintu kamar Zhang Jing Jing, saya mengetuk pintu kamar dia dan tak lama, seorang gadis bermata sipit yang memiliki tubuh yang bahenol dan berambut panjang membukakan pintu.

Wajahnya cantik sekali karena terlihat tidak ada noda atau jerawat di wajahnya. Dengan gugup, saya memperkenalkan diri dengan bahasa Mandarin yang belepotan karena bahasa Inggris dia juga tidak terlalu bagus walaupun saya mengerti maksud dia kalau dia bicara bahasa Inggris.

Akhirnya masuklah saya ke dalam kamarnya yang sangat kecil itu. Saya sempat terperanjat ketika saya masuk dan melihat dia sedang asyik menonton sebuah VCD Cina porno. Terlihat di layar televisinya sepasang laki-laki dan cewek chinese yang sedang asyik berpelukan tanpa busana.

Sempat terlintas di pikiran saya bahwa guru privat les saya ini sedang "horny". Setelah Crystal melihat saya memperhatikan layar televisi, dia buru-buru mematikan pesawat televisi dan mengajak saya duduk di ranjang sambil menanyakan apa yang saya ingin pelajari.

Setelah itu, saya mencoba bicara kepada dia. "Wo Yao Wen Ni (aku mau tanya nih)", tetapi karena saya melafalkan dengan nada yang salah, dia tersenyum kepada saya sambil mengecup bibir saya dengan bibirnya.

Saya kaget bercampur senang dan menanyakan kenapa. Dia menjelaskan bahwa saya barusan ngomong kalau saya mau cium dia, makanya dia suka saja karena dia bilang saya tampan seperti bekas pacarnya yang sudah meninggal karena kecelakaan di pesawat terbang.

Melihat gelagatnya yang menguntungkan buat saya, saya membalas ciuman bibirnya sambil tangan saya mengelus-elus payudara dia yang ternyata sudah mengeras dan mungkin saja akibat pengaruh VCD yang dia tonton di TV. Sambil terus memainkan tangan saya di dada Crystal, saya mengulum bibirnya dan saya sempat surprise karena dia mahir sekali memainkan lidahnya.

Beberapa menit kemudian, dia melepaskan ciumannya dan dia memberitahu arti kata "ciuman" di dalam bahasa Mandarin. Dia juga mengenalkan bagian tubuhnya dan tubuh saya dalam bahasa Mandarin. Saya hanya mengangguk sambil berusaha bertanya pada Crystal dengan menggunakan bahasa Mandarin.

Setelah itu, saya menyuruhnya untuk berbaring dan saya mendekatkan mulut ke dalam vaginanya dan sebelum saya mencium vaginanya, saya menyuruh dia untuk ngomong kotor dalam bahasa Mandarin seandainya dia merasa nikmat walaupun saya cuma tahu sedikit kata kata kotor dalam bahasa Mandarin.

Kemudian, saya mencium klitorisnya dan memainkan lidah saya di klitoris cewek Beijing ini. Crystal merintih-rintih dengan penuh kenikmatan dan dia mulai mendesah-desah dan mengeluarkan bahasa "dewa"nya dan saya tahu bahwa dia sedang berbicara kotor karena merasakan kenikmatan yang maha dahsyat ini.

"Slurppp", lidah saya terus merajalela menjelajahi lubang kenikmatan Crystal dan 15 menit kemudian, kepala saya dijepit dengan kuat oleh Crystal sehingga saya menjadi susah bernafas dan pada saat yang bersamaan, dia berteriak dan mengeluarkan bahasa Mandarin yang artinya, "Gue klimaksss.., sayy.." dan tubuh dia bergetar secara hebat.

Saya tidak puas dengan permainan ini walaupun saya tahu dia sudah puas, saya mulai mengeluarkan "burung" saya dari dalam CD dan saya mulai memasukkan penis saya di dalam vaginanya tanpa memberitahukan dia yang masih menikmati momen-momen kenikmatan itu.

Saat saat memasukkan penis ke dalam vaginanya, dia kaget dan berteriak lirih dalam bahasa Mandarin yang artinya, "Joeee.., sakittt..", tapi aku diam saja dan terus memasukkan penis saya sampai kira-kira menyentuh rahimnya.

Setelah sampai di ujung liang kenikmatannya, saya mencium bibirnya dan dia membalas ciuman saya dengan panas dan agresif dan tangan saya bermain-main dengan liarnya di payudaranya.

"Hmm.., Ahhh.., inii pertama kali saya main dengan orang Indonesia", katanya dalam bahasa Mandarin yang kadang-kadang bercampur dengan bahasa Inggris. Saya memainkan penis saya di dalam liang surgawinya, cukup lama sekitar 1 jam, tapi saya tahu bahwa dia sudah mencapai puncak surgawi sekitar 4 kali.

Tetapi saya belum merasa puas (terus terang saya termasuk ********* apalagi ini adalah kesempatan pertama kali bisa merasakan liang surgawi seorang gadis cina asli), saya meminta dia untuk membelakangi saya dan saya mulai memasukkan penis saya ke anusnya.

Tiba-tiba dia berteriak dengan penuh sensasi dan berkata, "Joe.., kamu adalah pria terhebat.., bahkan eks saya tidak bisa memuaskan saya begini banyak.., arghhh.., ohhh...", sambil menggoyang-goyangkan pantatnya yang membuat saya menjadi semakin nikmat.

Setelah beberapa lama, saya merasa tidak kuat lagi menahan kenikmatan ini dan saya mengeluarkan "senjata" saya dari anusnya dan menyuruh dia untuk menghisap penis saya. Saya sungguh kaget karena dia menyambut tawaran saya dengan senang hati dan saya tiduran sementara penis saya dihisap oleh Crystal dengan nafsunya.

Dia menghisap hisap penis saya seperti anak kecil yang sedang mengemut permen loli atau ice cream. Makin lama dia menghisap, makin cepat hisapan dia yang membuat saya merasakan sensasi yang luar biasa dan di suatu waktu, saya mempercepat gerakan saya sehingga Crystal juga mempercepat hisapannya dan,

"Arghhh..., gueeeee keluarrr.., crystalll", teriak saya dalam bahasa Mandarin dan di saat saya sedang bergetar hebat, saya bisa melihat sperma saya sedang memenuhi mulut Crystal dan setelah dia melepaskan penis saya dari mulutnya, saya melihat dia menelan sperma saya semuanya dan perasaan saya sungguh puas sekali dengan perlakuannya.

Akhirnya saya tidak jadi les privat karena sudah terlalu lama bercinta dengannya. Saya kecapaian dan tertidur sambil memeluk dia di atas dada saya. Sekali-kali saya mencium kening dan mulutnya dan dia membalasnya dengan mesra dan dia hanya berkata "Xie Xie.., Ni Hen Li Hai (Terima kasih, kamu hebat sekali)".

Sesudah kejadian ini, saya dan Crystal menjadi sangat akrab seperti orang pacaran walaupun kami tidak pacaran dan hubungan ini terputus karena dia akan pindah sekolah ke Guang Zhou untuk menemani nenek dan adiknya.

Sewaktu dia akan pergi meninggalkan Beijing, saya menemani dia ke Airport dan kami berciuman dengan mesranya sebelum dia masuk ke pesawat untuk terbang ke Guang Zhow. Wo Zhen De Hen Xiang Ta (Aku benar benar merindukan dia.., terutama liang surganya yang asyik)

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Foto Sexi Tante Baju Biru

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa dan foto sex : dalam foto ini terlihat tante yang sedang memakia baju biru sedang di kasur telanjang memamekan bentuk tubuh serta kemolekannya saat di foto, langsung saja kita lihat bersama foto tante sexy ini.

foto sex Tante, foto sex 2016, telanjang tubuh Tante hot, kumppulan foto hot terbaru, foto bugil Tante, foto memek Tante, foto Tante girang, foto sex toket Tante, foto cewek Tante, foto sex artis, foto bugil indo Tante

foto sex Tante, foto sex 2016, telanjang tubuh Tante hot, kumppulan foto hot terbaru, foto bugil Tante, foto memek Tante, foto Tante girang, foto sex toket Tante, foto cewek Tante, foto sex artis, foto bugil indo Tante

foto sex Tante, foto sex 2016, telanjang tubuh Tante hot, kumppulan foto hot terbaru, foto bugil Tante, foto memek Tante, foto Tante girang, foto sex toket Tante, foto cewek Tante, foto sex artis, foto bugil indo Tante

foto sex Tante, foto sex 2016, telanjang tubuh Tante hot, kumppulan foto hot terbaru, foto bugil Tante, foto memek Tante, foto Tante girang, foto sex toket Tante, foto cewek Tante, foto sex artis, foto bugil indo Tante

foto sex Tante, foto sex 2016, telanjang tubuh Tante hot, kumppulan foto hot terbaru, foto bugil Tante, foto memek Tante, foto Tante girang, foto sex toket Tante, foto cewek Tante, foto sex artis, foto bugil indo Tante
Tag Terkait:

  • foto sex Tante,
  • foto sex 2016,
  • telanjang tubuh Tante hot,
  • kumppulan foto hot terbaru,
  • foto bugil Tante,
  • foto memek Tante,
  • foto Tante girang,
  • foto sex toket Tante,
  • foto Horny Tante,
  • foto sex artis,
  • foto bugil indo Tante

Selasa, 23 Februari 2016

Cerita Sex Kejadian di Atas Motor

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Kejadian di Atas Motor. Kejadian yang aku alami memang lama tapi dalam kehidupanku tidak akan aku lupakan hamper satu tahun setelah aku lulus dari SMA dan menunggu panggilan untuk bekerja di sebuah stasiun di Jakarta, Suatu pagi hari yang cerah aku sudah ada janjian dengan mantanku adek kelasku semasa SMA, saat itu hari libur sekolah.

Cerita Dewasa Kejadian di Atas Motor

 cerita sex Pelajar, cerita sex panas Pelajar, cerita sex terbaru Pelajar, cerita sex hot Pelajar, cerita sex foto Pelajar cerita sex mesum pelajar
Cerita Mesum Kejadian di Atas Motor
Namanya Enno, dia seorang penyiar remaja yang cukup dikenal di kota kecil itu, pada masa itu. (kalau ada yang kenal, tolong salamin ya?)

Dengan Astrea 800 warna merah kesayangan, kujemput dia sekitar pukul sembilan pagi. Saat kebetulan sampai di sana Enno memang baru menungguku. Sementara menunggu Enno mandi, aku ngobrol dengan mamanya. O iya, si Enno tinggal berdua dengan mamahnya (dia panggil ibunya 'emak')

Tak lama kemudian Enno selesai mandi, mamahnya masuk ke ruang tengah. Ruang tamu cuma kita bedua, setelah Enno berganti baju, adegan French Kiss mengalun begitu saja. Singkat cerita, kayaknya kok tidak nyaman kissing di ruang tamu, lalu kita sepakat untuk jalan-jalan saja.

Tepat pukul sepuluh, setelah sedikit berbasa-basi dengan mamanya, kita pergi menuju ke pinggiran kota. Sepanjang jalan kami sama-sama diam tak tahu mau ke mana. Kuarahkan sepeda motorku ke arah Borobudur, sebelum sampai ke kawasan candi, kubelokkan motorku ke arah kali Progo (melewati Mendut) menuju daerah Ancol salah satu tempat pacaran favorit di pinggiran kota Magelang.

Dan di sana kissing kita teruskan lagi, maklum waktu itu status kita belun resmi pacaran, baru hobby sama lagu Slank "Ameican style" gitu... Kita belum terpikir untuk melakukan hubungan badan yang terlalu jauh waktu itu. Namun, setiap hal pasti memiliki sebuah awal, dan hanya alamlah yang tahu dari mana sang awal itu berasal.

Tiba-tiba langit menjadi gelap (Padahal pagi tadi cerahnya bukan main).

"Nduk.., (begitu panggilan sayangku padanya) kayaknya mau hujan nih..".

Gendhuk diam saja, Untuk beberapa saat dia memandangi mukaku yang hancur seperti si Komar 4 sekawan itu. Pandangannya agak meredup, lalu dia memelukku, satu kecupan mendarat di bibir tebalku, sesaat kemudian kulihat Gendhuk tersenyum penuh arti dan matanya seolah ingin mengatakan sesuatu. Meskipun tiada kata cinta yang terucap, aku hanya mengerti, apa arti senyumannya itu.

Tanpa banyak tanya, aku starter lagi motorku yang sejak tadi kuparkir di pinggiran sungai Progo, aku pacu seolah ingin berburu dengan hujan yang sewaktu-waktu mungkin tiba. Kupegang tangannya, kutarik agar dadanya lebih menempel di punggungku, terasa payudaranya yang mulai ranum itu menusuk lembut mata punggungku.

Setelah beberapa kilometer kuhentikan motor dan kusuruh dia duduk di depan. Kujalankan lagi motor pelan-pelan. Saat itu gerimis mulai turun. Sementara dari kejauhan, kota Magelang sangat gelap, mungkin sudah deras hujannya.

Posisi duduk kami di motor sangat romantis, Aku duduk di belakang, tangan kananku memegang stang gas, tangan kiriku menggenggam erat tangan kanannya. Tangan kiri Gendhuk memegar stang kiri.

Sambil menyanyikan lagu Nothings Gonna Change, kusuruh tangan kanannya berpegangan pada speedometer. Sementara secara naluri, tangan kiriku mulai masuk ke sweaternya. Kucari dua gundukan itu, lalu kuremas-remas setelah kudapatkan.

Motor kami masih berjalan pelan menyusuri jalan Borobudur - Magelang. Kendaraan lain hanya terkadang lewat, suasana alam cukup mendukung keberadaan kami untuk berduaan saja.

Setelah beberapa menit, langit semakin menghitam, sementara Enno mulai menggeliat sembari mendesis-desis kecil. Saat tanganku berpindah ke arah celana jeans-nya, Enno tak melarangnya. Aku buka ritsluitingnya, kudorong sedikit duduknya sehingga posisinya agak kupangku, kumasukkan tangan kiriku ke dalam celananya, kumainkan jariku sedapat-dapatnya.

Teman-teman, meski kejadiannya di atas motor, namun sensasi yang kami rasakan lumayanlah. Bulu-bulunya terasa halus di ujung jemariku dan sedikit ke bawah kemudian, jariku menyentuh kewanitaannya secara acak demikian juga klitorisnya. Sedikit desahan tersendat kurasakan di dadaku karena memang posisiku menempel ketat di belakangnya, sementara itu si ucok sudah tidak peduli terhadap cuaca yang lumayan dingin karena gerimis.

Lalu bagai tak sadar, tangan Enno merayap ke belakang, mencari-cari pusakaku. Aku tahu posisinya agak sulit buat dia, makanya aku membantu buka ritsluiting celanaku, kubimbing tangannya memasukinya. Dan apa yang kami rasakan pastilah bisa kalian bayangkan saudara-saudaraku...

Tak berapa lama kemudian, kami putuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, kepalang tanggung, jam sudah menunjuk angka dua. Setelah ber-petting di motor, kuarahkan motor melaju menuju Muntilan. Karena arah Magelang - Muntilan adalah jalan utama, kami menghentikan aktifitas kami yang cukup melelahkan perasaan dan tenaga tersebut.

Kupacu sepeda motorku sampai di Blabag (sebelun Muntilan) kubelokkan stang ke kiri mendaki menuju arah gunung Merapi. Saat itu aku yakin, walau kubawa ke manapun dia tidak akan menolak. Benih cinta itu kami rasakan sedang berkembang saat itu.

O Iya, sebelumnya kami sudah bertukar tempat duduk lagi sehingga aku di depan, sedangkan tangannya sudah tak mau lepas dari kepala kentangku, malah sekarang kedua tangannya telah masuk ke dalam. Motor tetap kupacu sekitar 40 Km/jam, kendaraan banyak berseliweran tapi kami sudah tak peduli.

Enno masih melayang dengan kedua tangan di dalam celanaku dan tertutup oleh ujung sweaterku, sehingga orang sekilas akan mengira tangannya hanya memeluk pinggangku saja.

Sementara aku masih berjuang untuk tetap konsentrasi mengemudikan motor ke arah Kedung Kayang, suatu tempat sakral para sejoli mencari tempat pacaran. Kedung Kayang terletak di tepian gunung Merapi, berupa sebuah jurang yang dalam dengan panorama yang luar biasa indahnya. Teman-teman, sebenarnya aku tak tahu kenapa kita ke tempat itu, (bukannya ke hotel misalnya..) naluri membawa tanganku untuk menuju ka sana.

Sementara hujan akan segera mengucur...

Sampai di Kedung Kayang suasana sangatlah sepi. Tak satupun kendaraan terparkir di sana. Maklum mendung dan gerimis. Kami turun dari motor, sedikit berjalan ke arah sebuah tempat berteduh, berjalan beriringan tanpa satupun kata terucap, kepala kami terlalu sarat dengan apa yang baru saja kami lakukan. (sebagai info: saat itu adalah pertama kali melakukan petting, sebelumnya hanya French kiss aja..)

Gerimis mulai lenyap berganti hujan, kami telah cukup selamat berteduh, meski baju kami agak basah. Mata kami hanya saling beradu, cukup lama...

Kami tidak tahu mau berkata apa, tetapi kami juga tidak merasa menunggu apa-apa. Di beberapa detik berikutnya, tangan kami telah berpegangan. Kuusap pipinya dengan beribu kata di hati. Terasa ada gemuruh, entah di dalam dada, entah di luar sana geledek yang lewat.

Seiring dengan beriramanya hujan yang makin menderas, secara refleks kepala kami saling menyongsong, bibir kami saling berpagut.., lama dan mesra. Kedua tanganku memegangi kedua sisi rahangnya, lidah kami menari bersama.

Kurasakan tangannya mulai naik merangkul leherku, semakin lama makin erat pegangannya. Kuturunkan bibirku ke arah leher jenjangnya, kuciumi dengan nafsu yang sedikit kupendam sehingga tak meluap begitu saja.

Tiba-tiba kepalanya terdongak, dan kali itulah aku melihat seorang wanita menggelinjang.. indah sekali, tangannya yang mengejang menambah erat pelukan di leherku. Kuhentikan secara mendadak ciumanku di lehernya, sempat kulirik hujan telah turun dengan derasnya bagai kesetanan.

Enno sempat kaget saat kuhentikan ciumanku. Aku tersenyum, lalu dengan cepat kusambar lagi lehernya dengan nafsu yang tak dapat kutahan lagi. Kujilati lehernya, aku cupang pangkal lehernya.

Irama hujan seolah menabuhi apa yang kami lakukan. Desahan nafas kami sama-sama memburu bagaikan bernyanyi dengan alam Kedung Kayang yang angker keindahannya. Lalu dengan kasar kunaikkan t-shirtnya sampai ke lehernya, kupegang pantatnya dengan tangan kiriku kuremas-remas dengan gemas, dan tangan kananku menarik kutangnya ke atas searah t-shirt yang kuangkat tadi.

Kutemukan dua gundukan indah yang lebih ranum dari Merapi yang usianya sudah seumur bumi. Kumainkan kedua putingnya bergantian, kugosok sejadi-jadinya hingga wajahnya merah merasakan kekasaranku.

Desahan-desahannya sudah tak kuhiraukan lagi. Kudorong tubuhnya ke arah tembok agar tak terlalu berat menyangga beban berat tubuhnya yang disesaki berahi itu. Kumajukan kaki kiriku ke arah selangkangannya

Kutundukkan kepalaku dan kujilati puting susunya, kusedot-sedot dengan kekuatan penuh seperti dendam pada sang hujan kenapa baru sekarang aku dikenalkan dengan kenikmatan seperti ini. Kugesek-gesekkan kaki kiriku ke pangkal pahanya, matanya merem melek tak tahu sudah sampai di mana otaknya yang melayang. Aku masih tak perduli, sex is sex...

Kini badannya lemas tidak.., kakupun tidak, hanya kepasrahan saja yang kudapati di raut mukanya yang tak lagi manis itu dan tak lagi cantik itu karena mataku juga sudah khilaf.

Setelah beberapa cupanganku menghiasi sekitar putingnya, kini dengan satu tangan kuremas pantat, satu tangan lagi berkarya di ritsluitingnya. Kubuka celananya, masih dengan nafas yang memburu, kulorotkan celananya sampai dengkulnya, kumasukkan tangan kananku ke dalan CD-nya, bagai tanpa perasaan lagi kumainkan dengan ganas vaginanya, kusentil-sentil sekitar clitorisnya, dia melenguh di dunia tanpa akal.

Kumasukkan jari tengahku ke arah lubang vaginanya, kumasukkan dengan ganas, kuputar-putar jari tengahku di dalam vaginanya yang sedamg ranum-ranumnya. Sambil kusedot dengan kuat susu kirinya, aku mainkan tangan kiriku di lubang pantatnya, masih terdengar jelas suaranya memanggil-manggil namaku dengan penuh kenikmatan.

Akhirnya setelah orgasme yang kesekian baginya, kubuka celanaku, kuturunkan sebatas dengkul, kuturunkan juga celana dalamku, dengan posisi agak jongkok, kutarik kaki kiri pasanganku, dengan galak kunaikkan sedikit kakinya lalu dengan penuh nafsu kuarahkan moncong "hidung" pinokioku ke arah lubang sorganya.

Susah, sempit dan erangan perih terdengar lirih di antara erangan kenikmatannya.

Kini matanya terbuka, dipandanginya aku dengan sorot yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, lalu dengan cepat mulutnya menyambar mulutku. Permainan bertambah panas setelah itu, seolah-olah kami sudah tak ingin membuang waktu lagi.

Dengan isyaratnya, kuhujamkan penisku dengan agak kasar, kurasakan mulutnya seakan menahan sesuatu saat berpagut dengan mulutku, tapi kini kami tak perduli. Dengan saling bantu, akhirnya sedikit-demi sedikit penisku berhasil ditelan dengan mesra oleh vaginanya. Benar-benar basah, panas dan berjuta perasaan meledak di dalam dada saat kurasakan vaginanya bagaikan mulut bayi yang menghisap kempongnya dengan gemas.

Agak lama juga kami saling mengocok, menggoyang dan bertempur lidah.., sampai akhirnya batas kemampuan kami berdua telah sampai di ambang batas, dengan di awali suara gelegar geledek di atas tempat kami berlindung, sebuah erangan keras dan tubuh mengejang sama-sama mewarnai hari bersejarah tersebut. Kami mencapai orgasme bersama-sama semenit sebelum kaki kami lunglai menahan berat beban nafsu kami.

Sekitar setengah menit kemudian kami berpelukan, kedua alat reproduksi kami masih berpelukan juga. Lalu hujan berhenti berganti dengan gerimis. Kami rapikan lagi baju kami berdua. Kami terdiam, menatap pemandangan basah di sekitar kami. Indah.., seindah suasana selanjutnya saat kupeluk tubuhnya dari belakang, dan kami menikmati sisa-sisa orgasme kami.

Beberapa saat kemudian serombongan keluarga melewati kami. Aku bersyukur, mereka tidak datang sejak tadi mengingat tempat kami berkarya tadi relatif sangat terbuka. Seorang ibu sempat mengernyitkan dahinya melihat kami berpelukan. Kulepaskan pelukanku, kumundur beberapa langkah ke belakang dan kulihat bagian belakang kaosnya berwarna merah.

"Ndhuk..", aku memanggilnya dan memberi tanda dengan mataku ke arah bagian bawah kaosnya. Sedikit ekspresinya menandakan kekagetannya. Darah.... Ya, sore itu kami melepaskan keperawanan kami berdua. Lalu dia tersenyum. Kami berpandangan, lalu berpelukan.

Setelah gerimis agak reda, waktu telah menunjukkan pukul lima seperempat. Kami pulang dengan wajah sangat bahagia.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Cerita Sex Antara Enak dan Benci 2st

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Antara Enak dan Benci 2st. Meneruskan Bagian ke dua.
Suasana di luar pun sudah berubah. Hujan yang tadi hanya rintik-rintik saja kini sudah mulai membesar sehingga membuat kabut di seluruh kaca mobil dimana kedua insan ini berada. Suasana yang sangat mendukung ini membuat mereka bertambah panas. Mereka tidak hanya berciuman saja. Mereka sudah saling meraba, mengelus dan berbuat apa saja yang mengakibatkan gairah mereka semakin membara.

Cerita Dewasa Antara Enak dan Benci 2st

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan
Cerita Mesum Antara Enak dan Benci 2st
Shinta yang kesehariannya selalu berwibawa, anggun dan lembut tutur sapanya, kini berubah seperti singa betina liar yang kehausan di tengah padang pasir kering.

"Ooohhh... ookkkhhhh, Don...," desahnya semakin menggairahkan. Dipeluknya tubuh Deni dengan erat seolah khawatir lepas darinya.

Deni tak menyahut. Ia balas memeluk dan tangannya mulai mencari-cari ke sekujur tubuh wanita cantik ini. Tangannya lalu menelusup lewat bagian bawah tank-topnya, merayap ke atas perut lalu merambah ke payudaranya yang tak memakai bra. Jemarinya menjelajah ke seluruh permukaan halus kulit buah dadanya yang terasa semakin membusung saja sesaat setelah terkena sentuhannya.

Shinta mendesah, kepalanya melengak ke belakang sehingga dadanya membusung ke arah wajah Deni. Disodorkan seperti itu, Deni tak tinggal diam. Disingkapnya tank-top itu sehingga dadanya terbuka lebar.

Deni mendecak kagum menyaksikan kedua bukit kembar itu membusung penuh, kedua putingnya nampak sudah mengeras dan mencuat ke atas. Pemandangan ini sungguh sangat menggairahkan sekali dan amat mengundang.

Setelah puas memandangi keindahannya, Deni segera membungkuk agar bibirnya dapat menciumi buah dada itu. Desahan Shinta semakin menjadi-jadi, kepalanya semakin melengak ke belakang seakan memberikan keleluasan pada Deni untuk menikmati semua miliknya itu.

"Auuuhhhh...., teruuuussss, yaaa iseeeeppphhfff..." ucapan Shinta semakin tak karuan merasakan kenikmatan ini, apalagi saat Deni menghisap putingnya sementara tangan kanannya meremas-remas dengan lembut buah dada yang satunya lagi.

Dalam keadaan seperti ini mana mungkin Deni menghentikan perbuatannya meski dalam keadaan sadar sekalipun. Apalagi alkohol dari minuman di bar tadi masih mempengaruhi dirinya. Ia pun lepas kendali, tanpa memikirkan siapa dirinya, siapa wanita yang tengah dicumbunya dan siapa pula suami wanita itu, Deni terus menggerayang ke bagian-bagian paling sensitif milik wanita ini.

Akibatnya sungguh luar biasa, Shinta semakin liar saja. Tubuhnya meliuk-liuk seolah ingin agar tak pernah luput dari setiap sentuhan Deni. Suasana di dalam mobil yang serba terbatas itu semakin panas kala tangan kiri Deni mulai menelusup di balik roknya dan merayap perlahan di atas pahanya.

Nafas Shinta semakin memburu seiring dengan semakin mendekatnya elusan jemari Deni ke pangkal pahanya. Ia justru sudah merasakan bagian itu basah. Shinta membuka kedua kakinya agar tangan Deni dapat dengan leluasa menyelinap ke dalam CD-nya.

"Ouugghhhfff..." jerit Shinta melengking saking nikmatnya saat jari Deni menyentuh bagian yang sudah lembab itu. Ia dorong tangan Deni masuk lebih dalam.

Jemari Deni mulai menyentuh-nyentuh bibir vaginanya. Terasa sudah basah. Jarinya menyeruak bulu-bulu yang terasa begitu lebat di seputar liang itu. Kemudian menyusuri belahannya, dielusnya perlahan, bergerak naik turun sambil menusuk sedikit demi sedikit.

"Oohhh Don! Enakkkhhh sekaliiiiii..!" jerit kenikmatan meluncur deras dari bibir Shinta kala ujung jempol Deni mengusap kelentitnya.

Pinggul Shinta bergoyang mengikuti irama gerakan jempol Deni yang begitu lihai. Tubuhnya meliuk-liuk menahan rasa nikmat yang sudah lama tak ia alami. Membayangkan hal itu, ia jadi teringat apa yang terlewatkan. Tangannya lalu menjulur ke bawah.

Mula-mula diletakan di atas paha Deni, lalu merayap naik perlahan. Tangan Shinta berhenti di pangkal pahanya, meremas-remas sejenak untuk kemudian naik kembali.

Matanya agak mendelik begitu menyentuh bagian yang sudah mengeras di balik celana Deni. Matanya semakin berbinar membayangkan bagaimana bentuknya jika sudah telanjang nanti.

"Don!?" pekiknya setengah terperangah.

"Kenapa, Yang?" tanyanya heran.

"Nggak.. akh..., bukain ya?" tanyanya kemudian.

Sebenarnya ia tak perlu minta izin dahulu dalam keadaan begitu sudah pasti Deni sama sekali tak keberatan. Dan memang tanpa menunggu jawaban, jemarinya yang lentik itu menarik ritsluiting celana Deni kemudian merogoh ke dalam. "Ehhmmm...," lenguhnya.

Nampaknya ia begitu senang mendapatkan apa yang selama ini ia cari-cari. Begitu keras! Jemarinya kemudian membelai-belai sepanjang batang yang masih terhalang celana dalamnya. Belaiannya berubah menjadi remasan.

Dari bibir Shinta keluar desis-desis penuh kenikmatan seiring dengan gerakan jari Deni yang mulai menusuk ke dalam liang memeknya. Kenikmatan yang ia rasakan semakin lengkap karena sejak dari tadi mulut Deni tak pernah berhenti mengemot puting susunya.

Shinta tak mau dibilang egois karena hanya mementingkan kenikmatan sendiri. Ia lalu mengais celana dalam Deni dan meraih batang kemaluannya yang besar itu ke dalam genggamannya. Meski ia tidak bisa melihat ke bawah, tapi ia bisa merasakan betapa besar dan panjang batang milik Deni itu. Dengan lembut ia mulai mengocok batang itu.

Giliran Deni yang kini menggelinjang merasakan remasan dan kocokan tangan lembut milik wanita cantik itu. Ia sangat lihai melakukannya, apalagi saat telunjuknya mengusap-usap moncongnya. Terasa ngilu saking enaknya.

Deni tak mau kalah, gerakan jemari di dalam liang memek Shinta semakin menggila, menerobos ke seluruh relung-relung kewanitaannya. Merambah ke bagian-bagian yang menggerinjal. Terdengar nafas Shinta mulai megap-megap menghadapi semua itu.

Rasanya tak akan bertahan lama lagi karena bagian yang tak pernah tersentuh pun, kali ini tak terlewatkan oleh serangan jemari Deni. Pinggul Shinta bergoyang liar, meliuk-liuk mengimbangi gerakan jemari Deni.

Sementara itu, tangan Shinta pun tak tinggal diam. Tangannya terus mengocok dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat. Mereka rupanya tengah berlomba untuk memberikan yang terbaik. Tubuh mereka bergoyang-goyang liar sehingga membuat mobilnya pun ikut-ikutan goyang.

Untunglah hujan cukup deras mengguyur bumi sehingga menghalangi pemandangan apa yang tengah terjadi di dalam mobil. Bahkan pekikan kenikmatan yang meluncur dari mulut Shinta yang cukup kencang itu pun sama sekali tidak sampai terdengar keluar.

Tak berapa lama kemudian Shinta mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga jari Deni melesak jauh ke dalam, kedua kakinya dikempitkan sehingga menjepit tangan Deni diam tak bergerak jauh di dalamnya. Diiringi jeritan kecil panjang, tubuhnya bergetar keras ketika ia mencapai titik puncak kenikmatannya.

"Oouugghhff..........! Dooonnnn, enaaaaakkkkk!"

Sreeeeeetttttt....., sreeet..., ssrrreeeettttttt!!!!!

Shinta merasakan air maninya menyembur berkali-kali untuk yang pertama kalinya sejak suaminya tak memiliki gairah lagi. Luar biasa sekali ekspresi wanita cantik ini. Begitu menggairahkan, begitu dahsyat.

Rupanya luapan kenikmatan Shinta berpengaruh banyak pada diri Deni. Ia merasakan batangnya terasa kelu. Tubuhnya bergejolak hebat. Pantatnya bergerak naik turun mengimbangi kocokan tangan Shinta pada batangnya dan... akh....., akh, akh.....

Creeeeeettttt! Creeetttt!!! Creeeetttt!

Deni mengeluarkan suara geraman berat begitu dari kemaluannya menyemburkan cairan kental berkali-kali. Shinta terus mengocoknya tak henti-henti seakan ingin menguras seluruh isinya. Ia coba melirik ke bawah karena ingin melihat pemandangan saat lelaki mencapai orgasmenya, tapi sayang hanya kegelapan yang ia lihat selain merasakan cairan kental dan hangat membasahi seluruh telapak tangannya.

Mereka terkulai lemas dengan nafas tersengal-sengal. Meski hanya permainan tangan, tetapi rupanya cukup menguras tenaga dan pikiran mereka berdua.

Samar-samar dalam kegelapan itu, nampak tersungging senyum kepuasan dari bibir Shinta. Ia lalu mengelus kepala Deni yang terkulai lemas di atas dadanya. Ia berbisik bahagia, "Enak sekali, Don."

Kira-kira lima menit mereka beristirahat tanpa bergerak dan mengeluarkan sepatah kata pun. Deni mengangkat kepala dan melirik ke arah Shinta sambil tersenyum hangat. Shinta balas tersenyum. Mesra sekali senyuman itu diikuti oleh sebuah kecupan lembut pada bibir Deni.

Mereka kembali ke posisi duduk semula. Shinta merapikan kembali pakaiannya yang tak karuan diikuti oleh pandangan mata Deni yang tekagum-kagum dan pada saat ia akan menaikkan celana dalamnya, tiba-tiba Deni menahan lengannya. Shinta melirik dengan pandangan penuh tanda tanya.

Belum sempat ia bertanya, kepala Deni langsung menunduk ke arah selangkangannya dan mencium kemaluannya.

Darahnya kembali berdesir merasakan hembusan nafas hangat di sekitar kemaluannya. Shinta tertawa geli saat lidah Deni menyentuh bibir kemaluannya. Geli tapi enak!

"Akh...Don! Kamu nakal sekali! Bikin gemes aja!" kata Shinta terputus-putus.

Deni kembali mengangkat kepalanya sambil ikut-ikutan tertawa.

"Idih kok malah ketawa?" seru Shinta semakin gemes. "Awas ya!"

Shinta mendorong tubuh Deni hingga kembali duduk dan menggelitik pinggangnya. Deni tertawa kegelian dan meminta supaya menghentikannya. Shinta berhenti menggelitik, matanya melirik ke arah celana Deni yang masih terbuka dan menemukan batangnya yang terkulai lemas sementara di sekitarnya nampak cairan-cairannya yang sudah agak mengering mengotori celananya.

"Aduuhhh, jadi belepotan begini sich," kata Shinta seraya buru-buru mengambil tissue basah di atas dashboard mobil dan mengelapnya dengan hati-hati.

Terkena sentuhan tangan lembut itu, tanpa bisa dicegah, batang Deni mulai memperlihatkan kehidupannya kembali. Sedikit demi sedikit seiring dengan usapan lembut Shinta, batang itu semakin membesar dan mengeras bagaikan besi.

Mata Shinta tak pernah mengedip mengikuti perkembangan itu. Ia terkagum-kagum menyaksikan kemaluan Deni sudah ngaceng kembali dan siap action!

"Cepet banget," ucapnya perlahan penuh kekaguman akan kejantanan teman sekantornya ini.

"Kepengen lagi ya?"

"He-eh," jawabnya pendek.

"Gimana kalau kita cari tempat yang lebih nyaman," saran Deni coba-coba karena mengingat jam sudah menunjukan hampir tengah malam.

"Kamu sendiri gimana? Nggak dicariin?" Shinta balik tanya.

"Aku nggak apa-apa. Lagi bujangan... he.. he.. he," jawabnya sambil tertawa.

"Curang...," sergahnya pura-pura cemberut padahal ia juga kepengen banget meneruskan acara yang tentunya akan jauh lebih hot. Tapi sebagai wanita ia jaga gengsi juga jangan sampai kelihatan kegatelan banget.

Shinta pura-pura berpikir sejenak,

"Gimana ya, ini kan udah malem," katanya sambil menunggu agar Deni terus mendesaknya.

"Nggak apa-apa. Lagian kamu juga lagi bebas kan?" seolah mengerti apa yang ada dalam benak wanita ini, Deni berlagak memintanya terus.

"Oke dech," jawabnya dengan suara yang amat perlahan.

"Nah gitu dong. Itu baru namanya cewek gua yang cantik," kata Deni dengan gembira.

Mendengar itu Shinta kembali berpura-pura marah sambil memelototkan matanya. Melihat ekspresi wajah Shinta, gairah Deni seakan mendesak kembali. Lalu dengan cepat diciumnya bibir yang sensual itu dengan penuh gairah.

"Ehmm.... mmmpphhhff..., cepetan dong!"

"Oke sayang. Oke!" Deni buru-buru melepaskan ciumannya dan bergegas keluar dari mobil untuk segera naik ke mobilnya yang diparkir di sampingnya.

Singkat cerita mereka sudah memesan sebuah cottage tak jauh dari tempat itu. Keduanya buru-buru masuk ke dalam untuk segera memulai kembali acara yang tertunda. Baru saja Shinta menyalakan saklar lampu, Deni sudah memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuknya dengan penuh gairah.

Shinta melenguh merasakan ciuman hangat yang langsung membangkitkan gairahnya. Kepalanya melengak kebelakang sehingga memperlihatkan kulit lehernya yang halus dan harum. Deni tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mencumbui daerah yang cukup sensitif bagi wanita.

Tangannya pun ikut-ikutan beraksi menyusup ke balik pakaian Shinta, mengelus-elus permukaan perutnya yang rata untuk kemudian merayap, menggerayangi buah dadanya yang begitu kenyal padat berisi.

Cumbuan Deni yang begitu lihai membuat lututnya bergetar sehingga tak tahan untuk berdiri lama. Ia lalu berbalik dan menarik kursi yang berada di sampingnya untuk duduk. Cumbuan Deni tak pernah terlepas dan terus mengikuti kemana gerakan Shinta.

Begitu sudah duduk, Deni langsung melucuti pakaian atas Shinta hingga telanjang. Matanya langsung berbinar penuh kagum menyaksikan kedua bukit kembar milik wanita itu nampak menggantung indah dan membusung penuh di dadanya.

Dengan rakus, Deni melahap satu per satu daging kenyal itu. Lidahnya menjilat-jilat di seputar putingnya, sesekali menghisap dan mengemot benda kecil kemerahan yang semakin mencuat itu. Serangan Deni memang begitu gencar, tangannya beraksi kembali menarik rok dan sekaligus celana dalamnya sehingga kali ini Shinta benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mulusnya.

Mulut Deni merayap ke bawah menyusuri permukaan perutnya untuk kemudian langsung terbenam di antara kedua pangkal paha Shinta. Lagi-lagi Shinta menjerit kecil kala ujung lidah Deni menyentuh labia vaginanya. Tubuh Shinta bergetar bagaikan terkena stroom tekanan tinggi.

Sambil berpegang pada pinggiran kursi, ia menaikan kedua kakinya ke atas sehingga bagian selangkangannya terbuka lebar-lebar. Deni segera menyerbu belahan daging berwarna kemerahan yang sembunyi di antara bulu-bulu lebat di seputarnya. Jemarinya kembali mengorek-ngorek bagian itu, sementara lidahnya terus menjilat-jilat.

"Ouh...., ooooouuuhhhhh.... Dooooonn..." Shinta mengerang-erang keenakan. Kedua tangannya segera mencekal kepala Deni dan membenamkannya dalam-dalam.

Lidah Deni bergerak lincah mempermainkan kelentit yang menyembul di antara belahannya. Benda kecil yang sangat sensitif itu sudah keras sekali. Akibatnya Shinta megap-megap seperti kehabisan nafas menahan nikmat yang tak terhingga.

Suasana yang jauh lebih nyaman dan aman serta gairah yang telah lama terpendam membuat ia tak bisa bertahan lama menikmatinya karena beberapa detik kemudian tubuhnya berguncang keras, menggelapar-gelepar bagaikan ikan kehabisan air. Diiringi lengkingan panjang, Shinta melepaskan tekanan yang mendesak dari dalam dirinya.

"Aaaaaakkkkkhhhhh!!!!" jeritnya penuh kenikmatan.

Shinta kemudian meraih kepala Deni dan menciumi wajahnya dengan penuh kemesraan seolah ingin menyatakan ucapan terima kasih atas kenikmatan yang baru ia berikan. Ciumannya semakin memanas dan liar.

Didorongnya tubuh Deni ke arah ranjang hingga jatuh terlentang di sana. Ia langsung menindihnya dari atas sambil menciumi sekujur tubuhnya sementara jemarinya dengan cekatan mempreteli seluruh kancing bajunya dan melepaskannya.

Lalu membuka ikat pinggangnya. Tanpa memperdulikan Deni yang mungkin agak terkejut dengan perangainya, Shinta langsung memelorotkan seluruh celana Deni.

"Oooww!!!" pekiknya tertahan menyaksikan batang milik Deni yang sudah mengacung keras seperti tiang pancang itu.

Ia tak pernah mengira bahwa batang milik teman sekantornya ini jauh lebih besar, panjang dan amat keras seperti perkiraannya sewaktu memegangnya dalam kegelapan di mobil tadi. Ingin rasanya ia berteriak kegirangan mendapatkan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Gede banget!" bisik Shinta seraya meraba-rabanya seperti anak kecil yang baru diberi mainan.

Ia kemudian merayap di atas tubuh Deni, turun ke arah selangkangannya. Kini wajahnya persis berada di depan batang yang mengacung itu. Dipandanginya sekujur batang itu dan setelah puas baru ia menjulurkan lidahnya ke atas moncong batang itu.

"Errrggghhhh....," Deni mengerang keenakan saat merasakan lidahnya yang hangat. Ia melirik sejenak untuk melihat ke bawah.

Shinta pun melirik ke atas. Pandangannya bertemu. Deni menganggukkan kepalanya. Entah apa maksudnya. Seolah mengerti, Shinta membuka mulutnya dan perlahan-lahan memasukan batang itu. Kedua bibirnya dirapatkan dan mulai mengulumnya. Lidahnya bermain-main di sekujur batang itu sambil mengemot-emot.

"Auuuukkkhhhh....," kembali Deni mengerang.

Kepala Shinta bergerak naik turun. Dari mulutnya terdengar suara keciprakan selomotannya. Sungguh mendebarkan sekali mendengar suara-suara itu. Shinta tak henti-hentinya mengulum, mengemot dan menghisap-hisap seolah ingin membalas kenikmatan yang dirasakannya tadi.

Akibatnya Deni berkelejotan menahan kenikmatan luar biasa ini. Ia merasa tak akan bertahan lama. Deni nampaknya tak ingin keluar sebelum keinginannya tercapai. Ia lalu menahan gerakan Shinta dan mengisyaratkan padanya untuk naik.

Shinta mengerti apa maksudnya, ia lalu berjongkok mengangkangi tubuh Deni sehingga selangkangannya persis berada di atas batang yang berdiri tegak itu. Tubuhnya kemudian turun perlahan-lahan. Batang Deni yang sudah ia selipkan di antara belahan memeknya mulai melesak masuk. Dengan mata terpejam Shinta meneruskan pinggulnya semakin turun sampai akhirnya batang Deni amblas seluruhnya.

Bleeeesssshhhhhhh!!!

"Aaaakkkhhhhhh!!!!" Shinta menghembus nafas lega saat berhasil memasukan seluruhnya padahal tadi sempat ngeri kalau terjadi apa-apa dengan miliknya karena begitu seret sekali masuknya.

Ia berhenti sejenak sambil menarik nafas, lalu mulai bergoyang sambil mengangkang di atas tubuh Deni. Kedua tangannya bertumpu di atas dada Deni, pantatnya menggeol-geol sambil bergerak naik turun dengan irama yang teratur. Tubuhnya nampak bergerak seolah sedang menunggang kuda dan memacunya dengan penuh gairah.

Di bawah sana, Deni tak tinggal diam. Pinggulnya turut bergerak naik turun, bergoyang kiri kanan mengimbangi irama gerakan wanita yang menungganginya. Keadaan semakin bertambah panas, mereka sama-sama berpacu saling berlomba menuju puncak pendakian.

Seiring dengan meningkatnya kecepatan, Shinta membungkukan tubuhnya hingga sejajar dengan tubuh Deni sementara pantatnya menungging ke belakang bak seorang joki yang tengah memacu secepat mungkin saat mendekati garis finish.

Demikian pula dengan Deni, kedua tangannya merangkul erat tubuh sintal wanita itu yang nampaknya hampir mencapai puncak pendakiannya. Tubuhnya semakin berguncang, berkelojotan seperti ayam disembelih. Pantatnya bergerak cepat naik..., turun...., naik..., turuuuunnnn...., dan akhirnya ditekannya kuat-kuat. Dari mulutnya meluncur desisan panjang dan lenguhan keras mirip sapi sedang birahi.

Seeeeeerrrrrrrrrr!!!!! Shinta merasakan air maninya menyembur kencang dan banyak sekali menyirami batang kemaluan Deni yang nampak masih bergerak keluar masuk.

"Auuuugghhh..... Dooon!!! Cepet keluaaarinhhhh...., udah nghhhiillluuuuuu......., ooookkkhhhhh!!" kepala Shinta menggeleng-geleng saking gelinya merasakan tusukan demi tusukan batang keras di dalam kemalauannya.

"Oughh..., ouuuggghhh...., AAAAKKKKHH!!!!!" Deni mengerang-erang merasakan nikmatnya orgasme berkali-kali.

Mereka bergulingan di ranjang sambil berpelukan erat menikmati puncak dari segala kenikmatan permainan cinta ini.

"Fhhhuuiiiihhh!!!" Deni merasakan kelegaan. Lepas sudah ketegangan di sekujur tubuhnya.

"Wow!" pekik Shinta puas. Permainan kedua yang cukup menyita tenaga ini sungguh sangat mengasyikan sekali.

Dari raut wajahnya nampak sekali ia begitu menikmatinya dan benar-benar memuaskan. Shinta memeluk Deni begitu mesra seakan tak ingin melepaskan untuk selamanya.

Mereka berdua seolah tak ingat akan waktu yang telah melewati tengah malam, atau keluarga mereka yang mungkin mengira mereka sudah ada di rumahnya masing-masing. Apa jadinya kalau perselingkuhan itu tercium oleh keluarga mereka.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Senin, 22 Februari 2016

Cerita Sex Antara Enak dan Benci 1st

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Antara Enak dan Benci. Saat pulang kantor Deni kelihatan bingung kayaknya wajahnya sedang kesal dengan teman kerjanaya yang saat meeting bertemu dengannya membahas progam yang diajukan, pada saat meeting ada rekan kerjanya bernama Shinta mengajukan berbagai pertanyaan yang menyudutkan ide ide dari Deni, dia menganggap semua pertanyaan Shinta seperti tidak masuk akal dia sering mempersulit urusan Deni.

Cerita Dewasa Antara Enak dan Benci

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan
Cerita Mesum Antara Enak dan Benci
Deni sendiri tak tahu kenapa sebabnya ia bersikap seperti itu padanya. Ia mengira-ngira apakah ini karena ia tak pernah begitu memperhatikannya padahal lelaki-lelaki lain di kantorku berlomba-lomba untuk menarik perhatian wanita yang selalu berpenampilan trendy dan menjurus seksi ini.

Deni pun tak memungkiri bahwa Shinta merupakan wanita yang menarik, cantik dan pintar. Awalnya Deni tertarik juga kepadanya namun setelah melihat orangnya agak sombong dan meremehkan lelaki-lelaki yang mencoba mendekatinya, ia jadi kurang respek hingga akhirnya lebih banyak menghindar darinya.

Pikiran Deni masih tak karuan, matanya menatap kosong ke arah jalanan dari balik kaca mobilnya. Ia bingung sendiri. Mobilnya meluncur dengan kecepatan sedang tanpa arah. Jalanan yang biasa ia lalui menuju rumah telah kelewatan sejak tadi. Pulang ke rumah juga mau ngapain, pikir Deni. Anak dan istri lagi pulang kampung selama liburan sekolah ini. Katanya ingin berlibur di rumah kakek dan neneknya.

Tiba-tiba Deni membelokkan mobinya ke arah suatu tempat yang nampaknya seperti sebuah hotel. Nampak di pelataran parkir berjejer mobil-mobil mewah. Deni segera memarkirkan mobilnya di sana lalu turun dan berjalan ke sebuah bar yang terletak di samping lobby hotel itu. Ia langsung masuk.

Terdengar suara hingar bingar musik yang memekakan telinga begitu pintu terbuka. Deni berjalan tanpa melirik ke kiri kanan dan langsung duduk di sebuah kursi bar.

"Gin tonic in the rock," pintanya tanpa pikir panjang kepada bartender.

Ia sendiri sebenarnya kaget juga mendengar ucapan dari mulutnya, padahal sudah bertahun-tahun sejak sebelum menikah ia tak pernah lagi menyentuh minuman beralkohol. Tetapi kenapa tiba-tiba ia memesan minuman seperti itu?

"Malam Boss," sapa bartender itu dengan ramah sambil menyodorkan minuman pesanannya.

"Malam," balas Deni seraya meraih gelas dan langsung menenggaknya sampai habis lalu menyodorkan lagi kepada bartender untuk minta tambah.

Bartender itu tersenyum melihat tingkah Deni. Rupanya ia sudah terbiasa melihat tingkah orang-orang seperti Deni ini di barnya.

"Suntuk kayaknya malem ini ya Boss," katanya mencoba untuk mengajak ngobrol, sesuai dengan tugasnya sebagai bartender yang umumnya merupakan tempat untuk curhat bagi tamu-tamu bar.

"Yaaaahhhh.., gua lagi empet nich. Dari pada pusing lebih baik happy-happy aja dech," jawab Deni kembali meneguk gelas kedua. Kali ini minuman itu masih bersisa sedikit. Mukanya nampak mulai memerah, minuman beralkohol itu begitu cepat mempengaruhi kesadarannya.

Deni kembali ngobrol dengan bartender itu. Meskipun ucapan-ucapannya sudah ngaco, tetapi bartender itu masih tetap meladeninya dengan baik dan menambah kembali minuman di gelas Deni. Tanpa terasa telah 4 gelas diteguknya.

Obrolan mereka nampaknya semakin menghangat, terdengar gelak tawa mereka berkali-kali sehingga menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. Begitu melihat keadaan Deni, orang-orang itu tersenyum-senyum maklum.

Tetapi ada seorang wanita cantik yang duduk di pojok kafe itu sejak tadi memperhatikan tingkah laku Deni. Ia lalu bangkit dari duduknya dan datang menghampiri.

"Hai, kayaknya asyik banget ngobrolnya. Boleh dong bergabung," sapanya kepada Deni sambil menepuk-nepuk pundaknya dan duduk persis disampingnya.

Deni menengok kaget karena tepukan halus di pundaknya itu. Begitu matanya memandang wajah wanita itu, ia bertambah kaget. Sama sekali tak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini..

"Oh! Hai," balas Deni tidak bersemangat begitu mengetahui wanita yang datang itu adalah Shinta. Wanita yang menjadi penghalang programnya di kantor tadi siang.

Melihat sikap Deni yang tidak bersahabat seperti itu, si bartender malah keheranan. Padahal mereka tadi sedang membicarakan apa yang akan dilakukan seandainya ada cewek cantik yang mau bergabung dengan mereka. Kini justru setelah ada cewek cantik dan seksi seperti itu malah dicuekin. Ia geleng-geleng kepala oleh sikap Deni yang menurutnya aneh.

"Rupanya suka juga nongkrong di sini, ya?" Tanya Shinta memulai pembicaraan.

"Ya begitulah...," jawab Deni datar sambil meminta tambah minumannya lagi.

"Jangan banyak-banyak, kamu sudah mabok lho," katanya kemudian memperingatkan.

"Emang nape?" tanya Deni sembari mendelik.

Shinta hanya tersenyum saja mendengar gaya omongan Deni yang lain dari pada biasanya. Maklum lagi mabok, demikian kata Shinta dalam hati.

"Jangan frustrasi gitu dong," ucap Shinta dengan lembut seraya mengelus pundak Deni.

Meski terdengar lembut ucapan itu, tapi di kuping Deni bagaikan suara geledek. Ia mulai mengungkit masalah yang sebenarnya ingin ia lupakan saat itu. Dipandangnya wajah Shinta dengan mata sedikit melotot.

"Hei, denger! Gua nich lagi happy-happy. Siapa bilang frustrasi? Nggak ada dech dalam kamus gua," jawab Deni sengit.

Giliran Shinta yang kini sengit begitu mendengar jawaban angkuh seperti itu. Ia jadi terpancing untuk memperpanjang persoalan mereka di kantor. Mereka akhirnya berdebat sengit, kalau saja si bartender tidak menengahinya tentunya mereka akan bertengkar hebat.

"Udah lah Boss," kata si bartender. "Nggak usah bertengkar, kita di sini khan buat senang-senang. Ngapain mesti ribut-ribut gitu, benar khan Non?" katanya kemudian kepada Shinta.

Deni diam tak menjawab. Dia hanya menunduk untuk kemudian meneguk kembali minumannya hingga habis. Shinta menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya yang sudah terpancing emosinya. Ia lalu memberi isyarat kepada si bartender untuk mengisi gelasnya dengan minuman yang sama.

Ia pun menenggak minuman itu sekaligus seolah ingin mendinginkan hatinya yang panas. Sebenarnya ia tidak pernah minum minuman beralkohol seperti itu. Begitu minuman itu melewati tenggorokannya, ia rasakan tubuhnya menjadi panas. Ia kegerahan. Lalu ia melepaskan blazernya.

Si bartender melirik kagum menyaksikan tubuh indah yang hanya berbalut tank-top tipis yang menempel ketat itu. Bola matanya sedikit mendelik melihat kain tipis yang sudah basah oleh keringat mencetak jelas bentuk payudaranya yang membusung indah itu.

Meski penerangan di bar itu amat temaram, pandangannya masih sempat melihat tonjolan kecil mencuat nakal dari balik tank-top itu. No bra, man! Jerit si bartender dalam hati dengan senang.

"Apa loe liat-liat!" gertak Shinta saat memergoki mata nakal si bartender itu menggerayang ke arah dadanya.

"Sorry Non," katanya seraya mengalihkan pandangan dan bergeser ke dekat Deni lalu berbisik-bisik.

Mereka kemudian tertawa ngakak sambil sekali-sekali melirik ke arah Shinta. Melihat dirinya menjadi bahan tertawaan dan meski ia tidak mendengar apa yang mereka bisikkan, tetapi Shinta tahu persis apa yang sedang mereka tertawakan. Dengan kesal ia layangkan tinju ke arah pundak Deni.

"Eiiittt!" Deni buru-buru menangkap kepalan tangannya yang hendak mendarat di pundaknya. "Kok gua yang jadi sasaran?"

"Loe memang kurang ajar!" jerit Shinta dengan suara ditahan karena takut akan menjadi tontonan orang lain.

"Mestinya dia tuh..," kata Deni menengok ke arah si bartender. "Eh kemana dia? Akh sialan!" lanjutnya ketika melihat si bartender itu sudah berada jauh di ujung bar sedang melayani tamu lain. Ia melirik sebentar sambil tersenyum-senyum.

"Kamu nich kenapa? Morang-maring nggak karuan," lanjutnya. "Kita happy aja?"

"Bodo!" jawab Shinta ketus seraya menarik tangannya dari pegangan Deni.

Deni malah mempererat pegangannya. Shinta menarik-narik. Mereka akhirnya jadi tarik-tarikan. Tanpa sepengetahuan Shinta, mata Deni menangkap sesuatu yang begitu mengasyikan saat wanita itu berkutat melepaskan tangannya.

Tubuhnya jadi berguncang-guncang sehingga membuat payudaranya yang nampak tidak memakai bra itu jadi ikut-ikutan berguncang. Berayun-ayun kesana kemari dengan indahnya. Deni menghela nafas untuk menenangkan goncangan di dadanya akibat pemandangan ini.

Sementara matanya tak bisa dialihkan pandangannya dari sana. Pikirannya jadi menerawang dan berandai-andai seperti apa gerangan apabila bagian tersebut tak terhalang oleh kain tipis lagi. Bayangannya semakin jauh melayang.

"Idih matanya sama kurang ajarnya!" kata Shinta sambil menjewer telinga Deni.

"Aduh, aduh...iya, ya...., ya," kata Deni kesakitan dan melepaskan pegangan tangannya.

Shinta segera menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya. Deni mengalihkan pandangan matanya ke wajah Shinta. Nampak wajah itu memerah. Malu kali. Salah sendiri kenapa pake pakaian seperti itu, kata Deni dalam hati kesenangan.

Namun ketika memandang wajah itu, Deni agak kesengsem juga. Dalam keadaan seperti itu kecantikannya semakin mempesona saja dimata Deni.

"Cantik sekali," ucap Deni perlahan sekali. ucapan itu keluar begitu saja tanpa disadari.

Meski suara itu amat perlahan dan tertimpali oleh suara musik di ruangan, namun Shinta sempat mendengarnya juga. Hatinya senang juga mendengar pujian yang terucap tanpa sengaja itu. Berarti tidak dibuat-buat. Entah kenapa jantungnya sempat berguncang juga. Kok jadi gini sich, cetus Shinta dalam hati malu dengan perasaannya sendiri.

"Berani amat ngomong gitu ama gua?" kata Shinta. Meski ucapannya masih kasar namun nadanya terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya.

"Memang kamu cantik kok," kata Deni menimpali semakin berani.

Dipandangnya mata Deni dengan penuh selidik. Kenapa ia jadi berbalik seperti itu? Apa dia masih juga ingin mempermainkan aku lagi? Demikian kata Shinta dalam hati bertanya-tanya. Ia khawatir pria yang ia akui memang menarik namun sombong ini masih mau membalas perbuatannya ketika meeting tadi siang.

Dulu, ketika pertama kali mereka berkenalan, Shinta sempat tertarik olehnya. Saat itu ia melihat Deni begitu simpatik, ramah dan ganteng. Ekh, kenapa gua jadi berpikir yang enggak-enggak sich? Tiba-tiba egonya muncul lagi. Gengsi dong!

"Ngomong apa sich? Ngaco kamu," jawabnya ketus kembali meski dengan hati deg-degan. Diam-diam matanya melirik ke arah wajah Deni.

Baru sekarang ini ia bisa memperhatikannya dari jarak dekat. Tampan juga, demikian kata hatinya. Ia jadi salah tingkah sendiri.

"Shinta, kenapa kita harus selalu bertengkar. Kita ini khan kolega yang harus bisa saling kerja sama, ya khan?" ucap Deni memulai untuk berbaikan dengannya. "Lagi pula kita bisa bersahabat, dari pada harus bermusuhan seperti ini. Bosen rasanya."

Baru kali ini ia mendengar Deni mengucapkan namanya dengan langsung. Selama ini ia selalu menyebutnya dengan panggilan Ibu atau sama sekali tidak. Shinta memiringkan tubuhnya dari tempat duduknya sehingga menghadap ke arah Deni.

Kali ini ia sudah tidak malu-malu lagi untuk menatapnya. Mendengar perkataan itu, nampak wajah Shinta sudah tidak seketus seperti apa yang selalu ia perlihatkan kalau berhadapan dengannya. Malah tersungging sebuah senyuman di bibirnya.

Ia tak menyadari perubahan itu namun ia melihat Deni seakan terpesona saat memandang dirinya. Duh kenapa lagi nich, ucap Shinta dalam hati begitu mendadak merasakan darahnya berdesir oleh situasi ini.

"Aku juga bosen, Don," jawabnya hampir tak terdengar. Tatapan mata Shinta semakin lembut. Namun ia segera memalingkan mukanya. Hatinya tiba-tiba khawatir, ya ampun jangan sampai!

"Oke dech. Kita baikan mulai dari sekarang," kata Deni seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

Shinta tak segera menyambutnya. Ia memandang sejenak ke arah uluran tangan Deni. Kemudian ia melirik ke wajahnya. Baru kali ini Shinta melihat wajah itu tersenyum. Manis sekali, akunya jauh dalam hatinya. Tatapan matanya begitu menyejukan, ooh andaikan saja...!

"Masih ngambek?" Tanya Deni khawatir begitu melihatnya tak bereaksi atas uluran tangannya.
Shinta segera tersadar dari lamunannya.

Wajahnya semakin memerah karena malu, jangan-jangan Deni bisa menebak apa yang tengah ia pikirkan. Ia segera menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya dengan erat sambil tersenyum lepas.

Melihat itu Deni pun tersenyum senang. Tanpa ia sadari ia cium pipi Shinta dengan lembut. Gerakan ini sama sekali diluar dugaan Shinta, ia terperangah tanpa bisa berbuat apa-apa saat dicium seperti itu dan baru sadar setelah semuanya berlalu.

"Berani-beraninya, Don?" ucapnya tapi dengan nada yang lembut. Tak terlihat kemarahannya atas perbuatan Deni yang begitu spontan.

"Sorry, Na. Gua nggak bisa nahan diri," jawab Deni agak menyesal. Khawatir ‘perdamaian’ yang sudah dicapai kembali hancur gara-gara perbuatan konyolnya.

"Ya udah," balas Shinta tanpa komentar.

Deni benar-benar menyesal dengan ulahnya barusan. Ia mengira Shinta kembali marah dan akan membencinya. Melihat sikap Deni yang langsung terdiam membuat Shinta tak enak hati juga.

"Eh yo kita minum lagi," tiba-tiba Shinta memecah kesunyian di antara mereka seraya memanggil bartender untuk mengisi kembali gelas mereka.

"Ya, ayo kita rayakan hari ini dengan minum!" teriak Deni gembira melihat perubahan ini.

Suasana sekarang jauh berbeda dengan sebelumnya. Mereka ngobrol sambil tertawa-tawa gembira seakan ingin melepaskan semua ganjelan yang ada di hati masing-masing. Tak jarang mereka saling rangkul dan saling cubit disela-sela obrolannya.

Tinggalah si bartender yang terheran-heran melihat tingkah mereka yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keakraban mereka. Sinting kali, demikian runtuknya dalam hati.

Tanpa terasa malam semakin larut namun suasana justru semakin meriah, apalagi kini sudah muncul home band tampil membawakan lagu-lagu yang mengundang para tamu untuk bergoyang. Tak ketinggalan Deni dan Shinta, mereka mulai terbawa suasana hingar bingar.

Deni segera menarik tangan Shinta untuk bergoyang. Mulanya Shinta ragu tapi ia lalu mengikuti ajakannya. Mereka turut bergabung dengan pasangan-pasangan lain di depan panggung. Hiruk pikuk suara musik dan tawa pengunjung justru membuat suasana semakin panas saja.

Tubuh mereka sudah basah bermandikan keringat. Bahkan Deni tanpa malu-malu membuka seluruh kancing bajunya hingga terlihat dadanya yang bidang itu ditumbuhi bulu-bulu. Shinta agak tersipu juga menyaksikan kegilaan Deni ini.

Sambil bergoyang, sekali-sekali Shinta melirik ke arah Deni yang sudah bertelanjang dada itu. Terlihat begitu macho, demikian puji Shinta dalam hati sambil membayangkan bagaimana kalau ia menyandarkan kepalanya di sana. Akh.., akh..., lagi-lagi aku berpikir yang enggak-enggak!

Meski Deni dalam keadaan setengah teler dan dalam suasana yang hiruk pikuk itu, ia masih bisa melihat apa yang sedang diperhatikan koleganya yang cantik dan seksi ini. Apalagi ketika ia melirik bagian dadanya.

Ia melihat benda kembar yang membusung penuh itu turut berguncang seiring hentakan musik. Bahkan tank-top berbahan kain tipis dan sudah basah oleh keringat itu mencetak jelas bentuk payudaranya yang indah. Meski cahaya di sana sangat terbatas, mata Deni sempat menikmati putingnya yang mencuat begitu menggairahkan.

Mereka mungkin saja menyadari bahwa mereka sedang berusaha untuk saling menarik perhatian melalui gerakan dan isyarat-isyarat seksual. Hanya saja ada kendala yang membuat mereka berpikir panjang untuk mewujudkannya.

Apa mereka dapat menghindarkan semua itu? Enggak tahu dech! Begitu kira-kira pikiran mereka. Sudah beberapa lagu mereka ikuti dan nampaknya Shinta sudah agak kepayahan lalu mengajak Deni untuk istirahat.. sambil berpelukan mereka berdua kembali ke tempat duduk. Entah karena pengaruh alkohol atau lainnya, mereka sudah tidak merasa risih bertingkah bak sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

Tak lama setelah mereka mengendurkan sensasi-sensasi selama bergoyang tadi, Deni lalu menarik wajah Shinta dan membisikan sesuatu ke telinganya. Shinta tertawa dan dengan genit mencubit pinggang Deni hingga mengaduh kesakitan. Entah apa yang dibisikan Deni padanya hanya kemudian Shinta terlihat mengangguk malu-malu untuk kemudian berdiri diikuti oleh Deni yang mengajaknya pergi dari tempat itu.

Di tempat parkir mereka segera masuk ke mobilnya masing-masing. Deni segera menjalankan mobilnya diikuti oleh mobil Shinta dari belakang. Mobil mereka beriringan menyusuri jalan-jalan mulus yang nampak lengang berbeda apabila di siang hari.

Tak sampai setengah jam mobil mereka sudah berada di pelataran parkir yang menghadap ke laut. Mobil mereka parkir berdampingan. Ada beberapa mobil di sekitar mereka, namun jaraknya agak berjauhan. Nampaknya tempat ini memang merupakan tempat orang berpacaran.

Tak lama kemudian, Deni turun dari mobilnya. Cuaca malam itu terasa dingin karena hujan mulai rintik-rintik berjatuhan. Ia segera membuka pintu mobil Shinta dan langsung masuk.

"Ufh dingin juga," kata Deni sambil mengibas-ngibas bajunya yang sedikit basah oleh air hujan.

"Hei Don! Ngapain loe ngajak gua kemari?" belum sempat Deni menutup pintu kembali, Shinta sudah memberondongnya dengan pertanyaan seperti itu.

"Gua sich maksudnya supaya bisa ngobrol dengan tenang, jauh dari kebisingan. Sambil menikmati pemandangan indah ke sana," jawab Deni sembari menunjuk ke arah laut lepas yang nampak terang meski gerimis.

Pandangan Shinta mengikuti arah telunjuk Deni. Ia menghela nafas panjang menyaksikan keindahan pemandangan itu. Tanpa terasa ia membayangkan bila keindahan seperti ini benar-benar bisa ia nikmati dengan orang yang dicintainya. Tentunya sungguh membahagiakan. Mendadak roman wajahnya berubah, nampak sekali kesedihan di raut wajah manisnya.

"Lho kok jadi sedih? Apa gua salah ngomong?" tanya Deni ketar-ketir.

"Enggak Don. Gua cuman..," Shinta tak meneruskan kata-katanya. "Akh sudahlah. Don?" panggilnya sambil menoleh ke arah Deni dengan pandangan sayu, "Kamu sadar khan kalau kita ini masing-masing sudah berkeluarga," lanjutnya.

Pertanyaan Shinta terdengar oleh Deni bagaikan petir yang menyadarkannya dari suasana ini. Deni langsung terdiam dan pikirannya langsung teringat akan anak dan istrinya yang tengah berlibur di rumah neneknya.

"Loe bener, Na," jawab Deni perlahan sekali.

"Loe inget mereka ya? Certain dong tentang mereka," pinta Shinta.

"Ya gua inget mereka," jawab Deni kemudian menceritakan tentang keluarganya.

"Loe beruntung Don," komentar Shinta.

"Ya gua beruntung. Nah bagian loe sekarang certain,’ tanya Deni kemudian.

Sebelum menjawab, Shinta kembali menghela nafas berat. Dengan pandangan kosong ke arah laut, ia mulai bercerita bahwa dulu ia dinikahkan oleh orang tuanya tanpa didasari rasa cinta sama sekali. Deni terperangah saat ia menyebutkan bahwa lelaki yang dinikahinya adalah pemilik saham mayoritas perusahaan tempatnya bekerja.

Shinta memang sengaja meminta kepada suaminya agar orang di kantor tidak tahu siapa dia sebenarnya supaya tidak membuat semua orang rikuh dan agar ia bisa lebih professional dalam bekerja.

"Don aku minta supaya kamu tetap bersikap seperti kamu belum tahu siapa aku sebenarnya," pinta Shinta wanti-wanti. Ia tak ingin sikap Deni yang sudah amat ia sukai berubah karenanya.

Deni menganguk tak pasti karena jauh dalam hatinya ia sedikit ngeri oleh si pemilik saham yang konon sangat berkuasa dalam menentukan apa pun di perusahaan tempatnya bekerja. Bagaimana kalau ia tahu bahwa dirinya kini tengah berduaan dengan istrinya dalam mobil malam-malam begini.

"Kau tak perlu takut ketahuan oleh suamiku. Ia sedang di Amerika sampai bulan depan," kata Shinta kemudian seolah tahu persis apa yang menjadi pikiran Deni saat itu. "Aku sudah lama ingin meceritakan semua ini kepada orang yang bisa kupercaya."

Deni agak tersanjung juga oleh ucapan itu. Akhirnya ia mendengarkan semua keluh kesah Shinta sampai ke hal-hal yang paling pribadi sekalipun. Rupanya Shinta memang sudah merasa percaya pada Deni hingga ia tak sungkan lagi menceritakan bagaimana tertekannya hidup dirinya.

Ia ternyata merupakan istri kedua. Awalnya memang kehidupan mereka normal saja, namun seiring dengan berjalannya waktu sehingga umur sang suami pun semakin bertambah tua. Perbedaan umur mereka cukup mencolok bahkan bisa dibilang ia lebih pantas menjadi anak atau bahkan cucunya.

Meski tidak secara gamblang diceritakan, Deni sudah bisa menebak bahwa sang suami sudah tak mampu memberikan nafkah bathin padanya. Terlebih lagi, katanya, sang suami kini lebih sering berada di keluarga istri pertama.

Shinta seringkali ditinggal sendiri di rumah mewahnya, tanpa anak dan hanya ditemani oleh pembantunya. Ia, katanya kemudian, ingin agar suaminya melepaskan saja dirinya.

Shinta tak mampu meneruskan ceritanya lagi. Ia menangis tersedu-sedu. Mendengar tangisnya yang begitu menyayat, Deni dapat merasakan kepedihannya, bathinnya yang amat tertekan selama ini nampaknya baru bisa ditumpahkan sekarang ini. Deni tak tahu mesti berbuat apa melihatnya seperti itu yang semakin lama semakin memilukan saja tangisannya.

Secara naluri ia lalu menarik pundak Shinta dan merengkuhnya dalam pelukan. Tangis Shinta semakin menjadi-jadi ketika Deni menyuruhnya untuk menumpahkan segala kepedihan melalui tangisan untuk melegakan perasaannya. Tanpa terasa tangan Deni ikut mengelus-elus rambutnya dengan lembut dan penuh perasaan.

Sikap Deni yang begitu penuh perhatian membuat Shinta terhanyut perasaannya. Ia lalu mendongakkan wajahnya dan memandang wajah Deni dengan tatapan sayu. Deni balas menatapnya. Lalu ia mengusap air mata yang bercucuran di pipinya. Shinta melenguh tak jelas sambil menyentuh bibir Deni dengan jemarinya yang halus.

"Don..," lenguhnya perlahan hampir tak terdengar.

Tatapan mata mereka saling bertemu sejenak. Tak ada ucapan yang keluar dari bibir mereka. Semuanya mereka tumpahkan melalui tatapan itu. Lalu entah siapa yang memulai, tahu-tahu kedua wajah mereka saling mendekat dan selanjutnya bibir mereka saling bersentuhan.

Shinta melenguh panjang. Perasaannya seakan melayang jauh entah kemana meninggalkan dunia nyata yang dihadapinya. Awalnya mereka hanya saling menyentuhkan bibir saja. Namun ketika Shinta mulai menciumnya dengan penuh perasaan, Deni tak mampu mengendalikan diri lagi.

Ia balas dengan kehangatan yang sama bahkan menjurus panas. Shinta tak mau kalah dan balik membalasnya. Akhirnya mereka lupa diri akan siapa diri mereka sebenarnya dan nampaknya kalaupun terbersit sejenak kesadarannya, apakah mereka mampu menghentikannya begitu saja?

Bersambung Malam Nanti 19.00 wib

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil