Sabtu, 20 Februari 2016

Cerita Sex Simpanan Wanita Bersuami

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Simpanan Wanita Bersuami. Tempat kostku terdiri beberapa pasutri yang mana aku dapat kamar bersebelahan dengan pasangan suami istri yang belum di karunia anak, aku ngekost disana 3 bulan dimana kebiasanaanku mengintip dari lubang kecil karena hanya terhalang dengan papan yang sudah rapuh jadi makin lama lubang tersebut makin besar akibat ulahku yang ingin mengintip kegiatan mereka.

Cerita Dewasa Simpanan Wanita Bersuami

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan
Cerita Mesum Simpanan Wanita Bersuami
Kegiatan mengintipku tidak mengenal batas waktu, dari pagi, siang ataupun malam. Sehingga aku hafal benar kehidupan di kamar sebelah, dari lekuk tubuh Mbak Delia (nama samaran) sampai kehidupan sex mereka.

Walaupun kehidupan rumah tangga mereka tampak rukun, tetapi aku tahu bahwa Mbak Delia selalu tidak terpuaskan dalam kehidupan sex, karena suaminya hanya mampu 2-3 menit dalam bertempur, itu pun tanpa pemanasan yang cukup. Sehingga sering aku melihat Mbak Delia diam-diam melakukan masturbasi menghadap ke dinding (ke arahku) setelah selesai bersenggama dengan suaminya.

Dan biasanya pada saat yang sama, aku pun melepas hajatku, tanpa berani bersuara sedikitpun. Bahkan tidak jarang kulihat Mbak Delia terlihat tidak bernafsu melayani suaminya, dan menjadikan tubuhnya hanya untuk melepas birahi suaminya saja.

Aku kenal dekat dengan Mbak Delia dan suaminya, aku sering bertandang ke rumahnya untuk membaca koran karena kamar kontrakannya satu rumah denganku, bedanya mereka mempunyai ruang tamu, ruang tidur dan dapur.

Aku lebih akrab dengan Mbak Delia. Disamping umurnya kuperkirakan tidak jauh terpaut banyak di atasku, juga karena suaminya berangkat kerja sangat pagi dan pulang malam hari, itulah yang membuatku dekat dengannya.

Mbak Delia sebagai ibu rumah tangga lebih banyak di rumah, sehingga kami lebih sering bertemu di siang hari, karena kuliahku rata-rata 2 mata pelajaran sehari, dan selama itu pula aktifitas mengintipku tidak diketahui oleh mereka.

Hingga pada suatu hari, aku berniat pulang kampung dengan menggunakan Travel, yaitu kendaraan jenis minibus yang dapat dimuati 8 orang dan dioperasikan dari kota S ke kotaku pulang pergi. Aku selalu menggunakan jasa angkutan ini, karena harganya tidak terlalu mahal dan juga diantar sampai ke rumah. Aku kaget ketika masuk kendaraan, ternyata di dalam sudah ada Mbak Delia yang mendapat tempat duduk persis di sampingku.

"Eh Mbak Delia, mau kemana..?" sapaku sambil mengambil tempat duduk di sampingnya.

"Oh Dik Ton.., mau ke kotaT. Ada saudara Mas yang sakit keras, tapi Mas nggak bisa cuti. Jadi saya datang sendiri."

Kami pun terlibat obrolan yang menyenangkan.

Dia menggunakan rok lengan pendek, sedangkan aku menggunakan t-shirt, sehingga berkali-kali tanpa sengaja kulit lengan kirinya yang putih mulus bersetuhan dengan kulit lengan kananku. Perjalanan malam yang akan memakan waktu 8 jam ini akan menyenangkan pikirku.

Kami sudah kehabisan obrolan, kulihat Mbak Delia memejamkan mata, walaupun aku yakin dia belum tidur. Gesekan lengan kami lama-lama menimbulkan rangsangan buatku, sehingga kurapatkan dudukku ketika mobil berbelok.

Kini tidak hanya lenganku yang menempel, tetapi pinggul kami pun saling menempel. Mbak Delia mencoba menjauh dari tubuhku, dan aku pura-pura tidur, tapi posisi menjauhnya menyulitkan duduknya, sehingga pelan-pelan lengannya kembali menempel ke lenganku.

Aku diam saja dan menahan diri, lalu lama-lama kugesekkan lenganku ke kulit lengannya, pelan sekali, setelah itu berhenti, menunggu reaksinya, ternyata diam saja. Darahku mulai cepat beredar dan berdesir ke arah penisku yang mulai mengeras.

Kuulangi lagi gesekanku, kali ini lebih lama, tetap tidak ada reaksi. Kuulangi lagi berkali-kali, tetap tidak ada reaksi. Kini aku merasa yakin bahwa Mbak Delia juga menikmatinya, kumajukan lenganku pelan-pelan, kutindihkan lengan kananku di lengan kirinya.

Kulihat Mbak Delia masih tidur (pura pura..?) dan kepalanya beberapa kali jatuh ke pundakku. Aku makin terangsang, karena lenganku menempel pada buah dadanya. Mbak Delia masih diam saja ketika tangan kiriku mengelus-elus kulit lengannya yang mulus, aku sangat menikmati kulitnya yang halus itu.

Aku terkejut ketika dia membetulkan duduknya, tetapi tidak, ternyata dia menarik selimut pembagian dari Travel, yang tadinya hanya sampai perut sekarang ditutup sampai lehernya. Aku mengerti isarat ini, walaupun duduk di barisan belakang dalam kegelapan, tetapi kadang-kadang ada sinar masuk dari kendaraan yang berpapasan.

Kulihat ibu-ibu di samping Mbak Delia masih terlelap dalam tidurnya. Melihat isyarat ini, kuletakkan tangan kiriku di atas buah dadanya, tangannya menahan tangan dan berusaha menyingkirkannya, tetapi aku bertahan, bahkan kuremas dadanya yang cukup besar itu dari luar bajunya.

Tidak puas dengan itu, tanganku kumasukkan dalam bajunya, kusingkapkan BH-nya ke atas, dan kuremas dadanya yang kenyal dengan lembut langsung ke kulit payudaranya yang halus sekali.

Kembali tangannya mencengkeram tanganku ketika aku memelintir putingnya yang sudah mengeras, tetapi hanya mencengkeram dan tidak menyingkirkan. Kepala Mbak Delia tersandar di bahuku, sedangkan kemaluanku sudah sangat keras dan berdenyut.

Kuremas dan kuelus buah dadanya yang kenyal dan licin dengan lembut sepuas-puasnya, Mbak Delia terlihat sangat menikmatinya. Permainan ini cukup lama, ketika rangsanganku makin meningkat, kurasakan penisku makin keras mendesak celanaku.

Kugeser tanganku dari payudaranya ke perut dan pinggangnya yang langsing, dari pusar tanganku makin ke bawah mencoba menerobos ke bawah CD-nya. Mbak Delia menahan tanganku dan menyingkikirkannya dengan keras. Akhirnya aku harus puas mengelus perutnya.

Aku sudah sangat terangsang, dalam kegelapan kubuka resleting celanaku, kukeluarkan penisku yang sudah sangat keras dari celana. Kubimbing tangan Mbak Delia ke kemaluanku. Pada awalnya dia menarik tangannya, tetapi setelah kupaksa di tengah tatapan protesnya, ahirnya dia mau menggenggam kemaluanku. Sungguh nikmat sekali tangannya yang telah menyetuh barangku, bahkan dengan lembut meremas-remasnya.

"Mbak Delia jangan diremas, dielus saja..!" bisikku.

Bersamaan dengan itu, kembali tanganku menyusup ke celana dalamnya. Kali ini Mbak Delia diam saja, bahkan tanpa sadar diangkatnya kakinya, menumpangkan paha kirinya ke atas pahaku. Di tengah rimbun rambut kemaluan, kucari celah vaginanya, kujumpai vaginanya sudah mulai basah. Ketika jari tenganku mengelus dan memutar klitorisnya, kulihat Mbak Delia mendesis-desis menahan rintihan. Sementara elusan di batang kemaluanku telah berubah menjadi kococokan.

Kenikmatan sudah memenuhi batang kemaluanku, bahkan menjalar ke pingggul. Ketika jariku sedang mengelus di dalam dinding dalam vaginanya, kurasakan kedutan di kepala kemaluanku sudah semakin kencang. Aku tidak tahan lagi.

"Crot..," akhirnya muncratlah air maniku beberapa kali, dan bersamaan dengan itu pula terasa dinding vagina mbak Delia menjepit keras jariku, punggungnya mengejang, Mbak Delia mengalami orgasme.
Kutarik tanganku, dan kurapihkan selimutku dan juga selimutnya. Setelah itu kami terlelap tidur dengan kepala Mbak Delia tersandar di pundakku.

Aku terbangun ketika mobil berhenti di tempat parkir sebuah restoran yang sudah dipenuhi dengan bis malam. Di tengah sawah yang gelap itu, berdiri sebuah restoran Padang, tempat para supir istirahat dan penumpang minum kopi dan makan.

Penumpang minibus beranjak turun, Mbak Delia kulihat masih terlelap tidur. Dia bangun ketika ibu-ibu yang duduk di sebelahnya terpaksa membangunkannya karena mau lewat untuk turun, dan dia hanya memiringkan tubuhnya untuk memberi jalan.

Mobil kami diparkir di paling ujung di sebelah sawah yang gelap di antara parkir bis-bis besar jurusan luar kota. Semua penumpang telah turun, dan aku hanya berdua dengan Mbak Delia. Kupandangi wajah cantiknya, kuraih lehernya ke arahku, dalam kantuknya kucium dengan lembut bibirnya, kuhisap dan kumasukkan lidahku mencari lidahnya. Dia membalasnya setengah sadar, tetapi ketika kesadarannya mulai pulih.

Mbak Delia membalas ciumanku, lidahnya bergesekan dengan lidahku, hisapannya juga tumpang tindih dengan hisapanku. Tanganku sudah masuk ke dalam bajunya dan meremas buah dadanya, nafasku dan nafasnya mulai memburu. Batang penisku kembali menegang dengan besaran yang penuh.

Kucium lehernya, dia menggelinjang kegelian dan aku makin terangsang. Dan kuberanikan diri untuk meminta kepadanya.

"Mbak Delia, saya pengin dimasukkan.., boleh kan Mbak..?"

Dia hanya mengangguk dan mengangkat pantatnya ketika aku melepaskan CD-nya. Kuperosotkan celanaku sampai ke lutut, sehingga batang kemaluanku mendongak ke atas bebas.

Ketika sedang berpikir bagaimana posisi yang pas untuk menyetubuhinya pada posisi duduk di jok belakang yang sempit itu, tiba-tiba Mbak Delia bangkit, mengangkangi kedua pahaku menghadap ke arahku.

Dengan mencincing roknya sampai ke pinggang, dipegangnya batangku dan di bimbingnya ke arah kemaluannya. Disapukannya kepala penisku dari ujung klitorisnya sampai bibir vaginya yang paling bawah berkali-kali. Kurasakan geli dan nikmat digeser-geser di daerah licin seperti itu. Aku mendesis kenikmatan karena untuk pertama kali inilah aku berhubungan badan dengan seorang wanita.

"Enak Dik Ton..?" tanyanya ditengah dia menatap wajahku yang keenakan.

"Mbak, masukin Mbak, saya pengen ngerasain..!" aku meminta.

"Mbak masukin, tapi jangan cepet dikeluarin ya.., Mbak pengen yang lama."

Aku hanya mengangguk, walaupun aku ragu apakah aku mampu lama. Aku terbayang suami Mbak Delia yang hanya mampu 2-3 tiga menit saja.

Dia mulai menurunkan pantatnya pelan sekali, terasa kepala penisku terjepit bibir yang lincin dan hangat. Serrr.., seerrr.., terus makin ke dalam, sampai akhirnya sudah separuh kemaluanku terjepit di liang vaginanya.

Pada posisi itu dia berhenti, kurasakan otot dalam vaginanya menjepit-jepit kemaluanku, nimat sekali rasanya. Sebagai pemula, aku berusaha mengocok kemaluannya dari bawah, kusodok-sodokkan penisku ke vaginanya, sehingga mobil terasa bergoyang.

"Dik Ton, kamu diam aja, biar Mbak yang mainin..!"

Aku menurut walaupun kadang aku kembali mengocoknya, tapi dia menatapku dengan tajam dan menggelengkan kepala. Aku menurut dan diam saja. Mbak Delia mengocok kemaluanku dengan tempo sangat lambat, dan lama kelamaan makin dalam, sehingga pangkal paha kami saling menempel dengan ketat.

Dan ketika itu lah Mbak Delia merangkulku, dan merintih-rintih. Dia mengocok kemalauanku makin cepat, dan kadang pinggulnya diputarnya, sehingga menimbulkan sensasi yang demikian hebatnya. Hampir aku tidak kuat menahan ejakulasi.

"Mbak, stop dulu Mbak, aku mau muncrat..!" bisikku.

Dia berhenti sebentar, tetapi segera mulai memutar dan mengocokkan pinggulnya lagi. Aku sudah benar-benar hampir keluar, maka kugigit lidahku, kualihkan rasa nikmatku kerasa sakit yang menyerang lidahku. Ternyata dengan cara ini aku dapat menahan pancaran spermaku.

Mbak Delia makin menggelora, dia merintih-rintih, kadang kupingku digigitnya, kadang leherku, dan juga jari tangannya mencakari pungggungku.

"Dik Ton, aku nikmat sekali.., oohh.., apa kamu juga enak..?"

"Iya Mbak.." balasku.

"Sebelah mana..? Mbak sudah senut-senut sampai tulang punggung, mungkin Mbak sudah nggak bisa lama lagi. Aduh.., sshh.., nikmat sekali, Mbak belum pernah seperti ini. Kontolmu besar dan nikmat sekali..!"

Mbak Delia berbicara sendiri, aku tidak yakin apakah dia sadar atau tidak, tetapi itu membuatku makin terangsang. Aku ikut mengocok dari bawah, pangkal kelamin kami yang becek oleh lendir beradu makin sering, sehingga menimbulkan bunyi ceprok.., ceprok.., ceprok.

Batangku sudah berdenyut kenikmatan, sedang kepala penis kurasakan makin membesar dan siap memuntahkan lahar. Ketika Mbak Delia merintih makin keras, dan ketika jarinya mencengkeram pundakku kencang sekali, instingku mengatakan bahwa Mbak Delia akan selesai.

Maka kuangkat pinggukku, kutekan kemaluanku jauh ke dalam dasar vaginanya, kuputar pinggulku sehingga rambut kemaluan kami terasa menjadi satu. Pada saat itulah ledakan terjadi.

"Dik Ton.., eekh.., eekh.., eekh.., eekh..!"

Lubang dalam vaginanya berkedut-kedut, sementara ototnya menjepit batangku. Mbak Delia melepas orgasmenya, dan pada saat itu pula lah maniku menyembur deras ke diding rahimnya, banyak sekali. Kami telah selesai, tubuhku lemas dan kami istirahat serta pura-pura tidur berjauhan ketika penumpang lain mulai masuk mobil.

Sejak kejadian itu, aku sering melakukan hubungan sex dengannya pada siang hari ketika suaminya tidak di rumah. Papan yang menyekat kamarku dengan kamarnya telah kulonggarkan pakunya, sehingga 2 buah papan penyekat dapat kucopot dan pasang kembali dengan mudah.

Kami menyebutnya "Pintu Cinta", karena untuk masuk ke kamarnya aku sering melalui lubang papan tersebut. Mbak Delia kini tahu bahwa aku sering mengintip ke kamarnya, bahkan ketika dia melayani suaminya, dan kelihatannya dia tidak keberatan.

Dan entah kenapa, aku pun tidak pernah cemburu, bahkan selalu terangsang jika mengintip Mbak Delia sedang disetubuhi oleh suaminya.

Siang hari jika aku tidak ada kuliah, dan Mbak Delia sendirian di rumah, aku sering menerobos melalui "Pintu Cinta" untuk menyalurkan birahiku sekaligus birahinya yang tidak pernah dia dapatkan dari suaminya.

Tetapi sejak saat itu pulalah hubungannya dengan suaminya tambah mesra, jarang marah-marah, sering pula kulihat dia memijat suaminya mejelang tidur. Pelayanan sex-nya kepada suaminya juga tidak berkurang (dia melakukannya rata-rata dua kali satu minggu), tidak jarang pula suaminya hanya dilayani dengan oral sex.

Yang mebuatku bingung adalah jika Mbak Delia mengulum dan mengurut-urut penis suaminya, suaminya mampu bertahan cukup lama, tetapi kalau dimasukkan ke vagina hanya mampu 5 sampai 10 kocokan, kemudian sudah tidak tahan.

Biasanya, jika telah selesai melakukan tugasnya dan suaminya sudah pulas, Mbak Delia akan mengeser tidurnya ke arah dinding yang menempel ke kamarku. Dengan posisi miring setengah telungkup, tangannya menyusup melalui kelambu dan "Pintu Cinta" yang sudah kubuka.

Dia akan mencari paha dan kemaluanku, dan tanganku pun akan menyelusup ke arah selangkangannya untuk menuntaskan birahinya yang tidak pernah dicapainya dengan suaminya. Setelah itu kami saling mengocok kemaluan kami sampai masing-masing orgasme. Petting di samping suaminya yang tidur sungguh menegangkan, tetapi nikmat sekali.

Bahkan pernah suatu malam, dimana suaminya tertidur pulas, kami melakukan persetubuhan yang sangat unik. Setelah saling meraba melalui lubang cinta, Mbak Delia memasukkan separuh tubuhnya bagian bawah melalui kelambu dan lubang cinta ke kasurku, sedangkan pinggang ke atas masih tetap di kamarnya bersebelahan dengan suaminya yang masih mendengkur.

Sebenarnya aku sangat kuatir kalau ketahuan suaminya, tetapi karena nafsuku juga sudah tinggi, melihat vagina yang merekah dan berlendir aku tidak tahan untuk tidak menjilatnya dan menyedot-nyedot kemaluannya.

Ketika nafsuku tidak terkendali dan berniat untuk memasukkan penisku yang sudah mengeras sejak tadi ke lubang vaginanya, aku mengalami kesulitan posisi. Maka tidak ada jalan lain, kutarik tubuhnya makin ke dalam dan kuganjal pantatnya dengan bantal.

Walaupun buah dadanya dan kepalanya masih di kamarnya, tetapi seluruh pinggangnya yang masih terbalut baju tidur sudah masuk ke kamarku, pahanya mengangkang lebar-lebar. Maka dengan setengah berjongkok, kumasukkan kemaluanku ke arah bawah. Memang ada sensasi lain. Jepitannya semakin kencang, dan klitorisnya terlihat jelas dari sudut pandangku.

Aku mengocoknya pelan-pelan, karena aku menjaga untuk tidak membuat bunyi apapun. Sambil kukocok vaginanya yang menjepit terus menerus itu, kuelus-elus klitorisnya dengan ibu jariku. Pada saat Mbak Delia mengalami orgasme yang pertama, ternyata aku masih separuh perjalanan.

Kubiarkan kemaluanku tetap di lubangnya ketika pinggulnya diangkat ke atas tinggi-tinggi saat menikmati orgasmenya, kedua pahanya menjepit keras pinggangku. Setelah kubiarkan istirahat sejenak, kembali kukocok vaginanya serta kuputar-putar klitorisnya dengan jempolku. Dan kulihat pinggulnya berputar semakin liar, aku segera tahu bahwa Mbak Delia akan segera oegasme yang kedua.

Kutekan kemaluanku ke dalam liang sanggamanya, dan kupercepat putaran jempolku ke klitorisnya, sampai kurasakan tangannya mencengkeram pahaku. Biasanya pada saat orgasme aku mendengar rintihan dan melihat wajahnya menegang, tapi kali ini aku tidak mendengar dan melihat wajahnya.

Kucabut penisku yang masih mengeras dan bersimbah lendirnya, segera kukocok dengan tangan kananku, kira-kira lima centi di atas lubangnya, dan akhirnya.., aku tidak dapat menahan kenikmatan. Kusemprotkan seluruh spermaku ke lubang vaginannya yang masih menganga.

Mbak Delia segera menarik tubuhnya masuk ke kamarnya, sedang aku menutup kembali papan yang terbuka. Sebuah permainan sex yang berbahaya dan menegangkan namun penuh nikmat dan tidak terlupakan.

Sejak saat itu, kami tidak pernah berani melakukannya lagi permainan sex di samping suaminya yang masih tidur, walaupun permainan dengan tangan tetap dilakukan. Apalagi sex di siang hari, masih rutin kami lakukan.

Sudah dua minggu ibunya Mbak Delia yang tinggal di kota lain menginap di keluarga itu. Umurnya kutaksir sekitar 45 tahun, kulitnya putih seperti anaknya, tubuhnya sudah tidak langsing, tapi masih padat dan mulus, terutama paha dan pinggulnya sungguh menggiurkan untuk lelaki normal.

Aku biasa memanggilnya Bu Ar, dan aku sering mengobrol dengannya dengan bahasa Jawa yang sangat santun, seperti kebanyakan orang Jawa berbicara kepada orang yang lebih tua. Di rumah dia selalu menggunakan daster tanpa lengan, sehingga pangkal lengannya yang mulus sering menjadi curian pandanganku. Kehadirannya ini tentu mengganggu hubunganku dengan Mbak Delia, karena kami tidak dapat bebas lagi bercinta.


Sejak kedatangannya, kami hanya melakukannya sekali ketika dia sedang pergi ke warung, itu pun kami lakukan dengan terburu-buru. Suatu minggu pagi, Mbak Delia dan suaminya terlihat pergi berbonceng motor, dan ibunya sendirian di rumah.

Karena kulihat koran minggu tergeletak di meja ruang tamunya, dengan terlebih dulu minta ijin aku masuk ruang tamunya untuk ikut membaca di ruang tamunya. Tidak berapa lama, ibunya keluar membawa secangkir kopi dan singkong rebus.

"Nak Ton, ini Ibu bikin singkong rebus, dicobain..!" sambil meletakan cangkir dia duduk di depanku.

"Terima kasih Bu..,"

"Anak muda koq hari minggu tidak ngelencer kemana-mana..?"

"Ah enggak Bu, badan saya lagi kurang sehat, mungkin masuk angin, saya mau istirahat saja di rumah." jawabku.

"Mau Ibu kerokin supaya agak ringan..?" dia menawarkan jasanya.

"Terima kasih Bu, saya nggak biasa kerokan."

"Kalau gitu diurut saja, masuk angin nggak boleh didiamkan. Nanti setelah diurut, Ibu bikinkan minuman jahe." nadanya memerintah.

Karena tidak enak menolaknya, aku pun mengikuti dia masuk ke dalam rumah.

"Situ di kamar saja nak Ton, dan kaosnya dicopot, Ibu mau menyiapkan minyaknya dulu..!"
Aku masuk ke kamar yang ditunjuknya, melepas T-shirtku, dan dengan hanya mengenakan celana training, aku telungkup di kasur.

"Celananya diganti sarung saja nak Ton, supaya mudah ngurut kakinya..!" dia masuk kamar sambil membawa mangkuk berisi minyak sambil menyerahkan sarung dari lemari.

Kuganti trainingku dengan sarung dengan extra hati-hati, karena kebiasaanku kalau di rumah memakai training, aku tidak pernah memakai celana dalam.

Dia mulai mengurut kakiku, pijatannya sangat keras, sehingga kadang aku harus meringis karena menahan kesakitan.

Dalam mengurut bagian ini, kakiku ditumpangkan di atas pahanya, sehingga gesekan kaki dengan pahanya yang tertutup oleh daster menimbulkan kenyamanan tersendiri. Bahkan ujung jari kakiku menyentuh perutnya, aku tidak bereaksi, karena dianggap kurang ajar.

Selesai di bagian kaki, dia mulai mengurut paha, disingkapkannya sarungku ke atas sehingga separuh pantatku terbuka, aku diam saja. Pada mulanya mengurut dari paha bawah, kemudian mengarah ke paha samping atas, tetapi kemudian paha bagian dalam mulai diurutnya, sampai disitu jantungku mulai berdegup.

Kadang-kadang tanpa sengaja jarinya menyenggol biji kemaluanku sehingga pelan-pelan penisku mulai membesar. Kejadian itu makin sering, sehingga aku berpikir bahwa ini kesengajaan. Kemudian Bu Ar mulai memijit punggungku, dan posisi duduknya pun berubah dari duduk di sampingku, sekarang dia duduk (setengah berjongkok) di atas pahaku.

Dari posisiku memang aku tidak dapat melihatnya, tetapi aku dapat merasakan. Bahkan ketika dia menarik dasternya yang menghalangi pahaku dengan pahanya pun aku tahu. Pahaku dan kulit pahanya bergesekan, dan aku lebih menikmati gesekan paha dari pada pijatannya.

Aku makin terangsang, dan kemaluanku juga makin keras berdiri, sehingga aku terpaksa membetulkan letak kemaluanku dengan mengangkat pinggulku dan meluruskannya dengan tanganku.

"Kenapa Nak Ton..?" tanyanya pura-pura tidak tahu.

"Ah enggak apa-apa Bu, kejepit..," jawabku penuh malu.

"Tidak apa-apa, Ibu ngerti koq, anak muda memang gampang berdiri. Nah sekarang membalik, tinggal depan yang mesti diurut..!"

Aku mengikuti perintahnya sambil berusaha menutupi burungku yang berdiri tegak dengan sarung. Tetapi Bu Ar justru melepaskan sarungku ke bawah.


"Nggak usah malu Nak Ton, Ibu sering melihat ngeliat burung seperti ini koq. Itu punyaknya bapaknya Delia..?"

"Besar mana Bu..?" tanpa sadar aku bertanya.

"Kurang lebih sama koq, cuman bedanya punyaknya Bapaknya Delia kepalanya nggak sebesar ini."
Kulihat Bu Ar melihat kemaluanku cukup lama, dan dari nafasnya serta gerakannya, kuyakini bahwa Bu Ar juga terangsang.

Sementara itu ia duduk di samping, dan tangan kananku persis di bawah pantatnya, karena aku sengaja tidak memindahkan tanganku. Dengan hati yang tegang (karena takut kena marah), kutarik tanganku, dan kupindahkan ke pahanya bagian dalam, aku hanya memegang, menunggu reaksinya.

Ketika kulihat dia tidak bereaksi dan tetap mengurut dadaku, maka kuberanikan diri untuk mengelus pahanya, dia menatapku sekilas tanpa ekspresi. Elusanku kuteruskan ke arah pangkal pahanya, dan ketika kusentuh celana dalam, persis di liang vaginanya. Aku terkejut, ternyata celananya sudah basah. Wajahnya merah, aku tidak tahu apakah karena terangsang atau karena malu.

"Ah.., Nak Ton rupanya nakal ya, Ibu kan sudah tua, tidak pantas kalau sama anak muda." katanya sambil tangannya mengeser dari pahaku, kemudian mengelus dengan lembut pangkal kemaluanku.

"Ibu masih cantik, pahanya masih kenceng dan mulus sekali, aku sudah sangat terangsang sekali Bu, gimana nih Bu.., Bu Ar mau kan ngajarin saya..?" aku mulai merayu, dan jariku kucoba masuk ke dalam celananya, tapi tidak berhasil karena terhalang celananya yang ketat.

"Loh koq diajarin, kan udah pinter, sampai kemarin Delia hampir pingsan kamu kocok-kocok. Kemarin Ibu ngintip kamu lagi main sama Delia."

Aku kaget seperti disambar petir, aku tidak menyangka bahwa hubungan seksku dengan Mbak Delia kemarin diketahui oleh ibunya.

"Ibu ngelihat..?" tanyaku gugup.

"Ibu ngintip lama sekali lho. Hati-hati, lain kali pintu depan harus dikunci dulu." dia merebahkan dirinya di sampingku sambil tetap menggenggam kemaluanku.

Kubuka tali dasternya, dan kuremas-remas buah dadanya yang mulus dan padat.

"Ibu nggak marah..?" tanyaku sambil terus melucuti daster dan celana dalamnya.

"Tidak, aku kasihan sama si Delia, suaminya itu kan lemah, dari pada dia pacaran dengan sembarang orang. Biarlah dia jadi pacar kamu."

Kulumat bibirnya, sambil badanku sudah menindih badannya yang gempal. Nafsuku sudah tinggi, begitu pula dia. Pahanya sudah dibuka dengan lebar, belahan vagina bagian dalam yang berwarna merah dan basah terpampang di depanku. Sebenarnya aku ingin menjilat kemaluannya, tapi dia mencegahnya.

"Jangan ah..!" sambil dia menutupnya dengan tangan ke selangkangan.

Akhirnya kuarahkan batang kemaluanku ke bibir kemaluannya, Bu Ar memejamkan matanya, wajahnya sayu menahan gejolak birahinya. Tangannya terkulai di samping badannya. Tubuhnya sudah pasrah untuk disetubuhi.

Kumasukkan pelan-pelan kemaluanku ke liang kemaluannya, langsung menusuk sampai dasar, kuputar pinggulku tanpa mengangkat pantat. Ini adalah teknik yang kusukai, karena aku dapat memberikan rangsangan gesekan pada klitorisnya tanpa menimbulkan banyak gesekan pada penisku. Sehingga dengan begini aku dapat tahan cukup lama.

Bu Ar masih memejamkan mata, hanya kadang-kadang lidahnya keluar untuk menyapu bibirnya sendiri. Otot vaginanya mulai menjepit-jepit kemaluanku, sehingga kenikmatan menjalar di kemaluanku. Cukup lama aku melakukan putaran ke kiri dan ke kanan sambil menekan dalam-dalam kemaluanku ke liang vaginanya yang menyedot-nyedot kemaluanku itu.

Lama-lama Bu Ar makin sering mengeluarkan lidah, dan mendesis-desis. Kini kuangkat pinggulku tinggi-tinggi, dan aku mulai mengocoknya. Aku masih bertumpu pada tanganku, sehingga hanya kelamin kami yang menempel.

Pada saat itulah tangannya mulai memegang pantatku, mengelus, menekan, meremas bahkan sering kali jari tangannya mengelus-elus anusku, dan ini menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku. Aku mengocoknya lama sekali. Tiap kali tarikan keluar, selalu diikuti dengan jepitan liangnya sambil pingulnya diputar, sehingaga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa ke seluruh batang penisku.

Desisnya makin mengeras, dan kepalanya sering mendongak ke atas walaupun masih tetap memejamkan matanya. Bila aku mempercepat kocokanku, dia selalu menggigit bibir bawahnya serta membuka matanya, dan memandangku mungkin menahan kenikmatan yang amat sangat. Melihat tingkahnya itu, aku menjadi makin terangsang.

Segera kukocokan kemaluaku dengan cepat dan lama. Seperti biasa, dia memandangku dengan sayu. Desis berubah menjadi rintihan, dan ketika aku tetap tidak mengendorkan kocokanku, Bu Ar mencengkeram bokongku dengan keras, kedua kakinya dilibatkan ke pinggangku dengan rapat dan dahi mengkerut.

"Stop..! Berhenti Nak Ton.., Ibu nggak tahan.., sshh..!"

Kuhentikan gerakanku, dengan jepitan kaki di pinggangku, aku pun hampir saja menumpahkan air mani. Aku pun masih ingin lama bermain dengannya, walaupun sekarang sebenarnya sudah cukup lama kami menikmati gesekan kelamin kami. Kuhentikan gerakanku, walaupun kakinya masih melingkar di pinggulku, tapi wajahnya tampak mengendor.

Walaupun kami berdua belum orgasme, kurasakan kedutan kecil-kecil di dinding kemaluannya maupun di kemaluanku. Kurebahkan dadaku ke tubuhnya, kami menjadi satu, kulit kami yang berpeluh menempel seluruhnya. Kurasakan kenyamanan dan kenikmatan yang tiada tara.

"Ibu hebat sekali, jepitannya enak sekali," aku memujinya sambil kucium bibirnya.

Tapi dia menghindar sambil memalingkan kepalanya. Akhirnya kuciumi pipinya, kuelus-elus rambutnya. Dia menolehku dan senyumnya merekah.

"Dik Ton, aku sudah lama nggak mendapatkan seperti ini, sejak bapaknya Delia kerja di Malaysia, dia jarang pulang," katanya sambil mengelus-elus punggungku.

"Ibu mainnya hebat sekali, bagaimana kalau aku ketagihan sama Ibu..?" tanyaku merayu sambil kuremas buah dadanya.

Kami istirahat sejenak, tubuhku menindih tubuhnya agak miring, agar tidak terlalu membebaninya. Kupandangi wajahnya.

"Wanita ini.., masih cantik dan lembut.." pikirku.

Kembali kuelus kulit wajahnya yang putih dan licin, sekali-kali kukocokkan kemaluanku pelan pelan, dan dibalas dengan sedotan vagina secara ringan.

"Bu, gimana kalau aku ketagihan sama Ibu..?" ulangku sambil kukocok pelan-pelan vaginanya.

"Lho kan ada Delia..," jawabnya sambil tersenyum.

Aku tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawabnya. Kucium bibirnya secara paksa, walaupun tadinya menolak, akhirnya dia membalas ciumanku pula.

Sambil berciuman, aku kembali menyodok-nyodokan kemaluanku kembali. Kali ini Bu Ar sangat aktif, di tengah kocokanku, vaginanya menghisap-hisap penisku sambil memutar pinggulnya. Kami merasakan kenikmatan yang lebih, Bu Ar mengerang-erang dan mendesis, aku pun tidak dapat menahan desisanku.

"Aduh.., nikmat sekali Dik Ton.., sshh.. sshh.., Ibu sudah hampir keluar.., oh..!"

"Saya juga Bu.., mau dikeluarin sekarang Bu..?" kataku sambil kami masih berdekapan.

"Sebentar lagi Nak Ton, uuhh.., sshh.., sshh.., eehh..!"

Kukocokkan batang penis makin cepat dan makin cepat, karena aku sudah tidak tahan lagi.

"Eekhhh.., Ibu sudah nggak tahan lagi, ooohh.., eekhh.., ayo Nak Ton, keluarin bareng. Ayo Nak Ton..! Ibu keluaar.., eekhhh.., eekhhh.., eekhhh..!" dia mengalami orgasme yang hebat.

Pinggulnya diangkat ke atas, dan wajahnya mendongak ke atas, sementara kemaluanku menghujam jauh sekali ke dalam sambil kuputar dan kutekan. Satu detik kemudian, aku pun menyemburkan spermaku beberapa kali.

Oohhh nikmat sekali, kenikmatan menyelusuri seluruh tulang belakangku. Sebuah puncak kenikmatan dahsyat telah lewat beberapa detik yang lalu, tubuhku masih menindih tubuhnya. Kucium bibirnya dengan lembut, kuusap-usap wajah dan rambutnya, sementara aku tidak mencabut kemaluanku yang masih berdiri dari liang vaginanya. Masih kunikmati sisa-sisa kedutan nyaman dari vaginanya di pori-pori kulit kelaminku.

Pagi itu aku sempat tertidur bersamanya hingga siang hari dengan tubuh telanjang, dan aku kembali ke kamarku sebelum Mbak Delia dan suaminya kembali.

Besok harinya, sebelum berangkat kuliah aku mampir ke rumahnya, yang kujumpai hanya Mbak Delia.

"Mbak Delia kemana Ibu..?"

"Oh Ibu sudah pulang, tadi pagi habis subuh minta diantar Mas ke terminal, katanya besok ada urusan, sehingga pulangnya dipercepat."

Aku kecewa, tapi kusembunyikan wajah kecewaku di hadapan Mbak Delia. Sejak itu aku tidak pernah lagi menjumpai, kecuali dalam lamunanku. Kapan kejadian ini terulang..?

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Cerita Sex Seperti Mimpi Belaka

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Seperti Mimpi Belaka. Aku orangnya biasa saja tidak tampan juga bentuk tubuh juga biasa saja dan gak ada istimewa akan diriku, tapi aku juga kurang pahan mengapa banyak wanita yang suka denganku, bahkan ada cewek yang bicara denganku ngajak kencan, saat itu aku masih duduk di kelas 2 SMA, teman temanku rata rata sudah punya pacar tapi aku gak tau mengapa masih betah untuk sendiri.

Cerita Sex Seperti Mimpi Belaka

kumpulan cerita sex perkosaan, cerita perkosaan sadis, cerita perkosaan nikmat, cerita perkosaan bergambar, cerita perkosaan paksa, cerita perkosaan enak, cerita perkosaan mahasiswi, cerita nyata perkosaan, cerita cerita perkosaan, cerita perkosaan pelajar, cerita perkosaan nyata, cerita perkosaan di hotel, cerita perkosaan wanita, cerita orang perkosaan, cerita perkosaan baru, cerita cinta perkosaan, cerita perkosaan pacar
Cerita Mesum Seperti Mimpi Belaka
Waktu itu hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalan-jalan memakai pakaian olah raga. Padahal aku paling malas berolah raga. Tapi entah kenapa, hari itu aku pakai baju olah raga, bahkan pakai sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja berjalan kaki. Sesekali berlari kecil mengikuti orang-orang yang ternyata cukup banyak juga yang memanfaatkan minggu pagi untuk berolah raga atau hanya sekedar berjalan-jalan menghirup udara yang masih bersih.

Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah. Dan kakiku sudah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orang-orang yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak sedikit anak-anak yang bermain dengan gembira.

Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang gadis yang langsung saja duduk di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup cantik juga wajahnya. Dia mengenakan baju kaos yang ketat tanpa lengan, dengan potongan leher yang lebar dan rendah

Sehingga memperlihatkan seluruh bahu serta sebagian punggung dan dadanya yang menonjol dalam ukuran cukup besar. Kulitnya putih dan bersih celana pendek yang dikenakan membuat pahanya yang putih dan padat jadi terbuka. Cukup leluasa untuk memandangnya. Aku langsung berpura-pura memandang jauh ke depan, ketika dia tiba-tiba saja berpaling dan menatapku.

"Lagi ada yang ditunggu?", tegurnya tiba-tiba.

Aku terkejut, tidak menyangka kalau gadis ini menegurku. Cepat-cepat aku menjawab dengan agak gelagapan juga. Karena tidak menduga kalau dia akan menyapaku.

"Tidak..., Eh, kamu sendiri..?",aku balik bertanya.

"Sama, aku juga sendirian", jawabnya singkat.

Aku berpaling dan menatap wajahnya yang segar dan agak kemerahan. Gadis ini bukan hanya memiliki wajah yang cukup cantik tapi juga punya bentuk tubuh yang bisa membuat mata lelaki tidak berkedip memandangnya.

Apalagi pinggulnya yang bulat dan padat berisi. Bentuk kakinya juga indah. Entah kenapa aku jadi tertarik memperhatikannya. Padahal biasanya aku tidak pernah memperhatikan wanita sampai sejauh itu.

"Jalan-jalan yuk...", ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.

"Kemana?", tanyaku ikut berdiri.

"Kemana saja, dari pada bengong di sini", sahutnya.

Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya dengan gerakan yang indah dan gemulai. Bergegas aku mengikuti dan mensejajarkan ayunan langkah kaki di samping sebelah kirinya. Beberapa saat tidak ada yang bicara.

Namun tiba-tiba saja aku jadi tersentak kaget, karena tanpa diduga sama sekali, gadis itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu. Dan akujuga belum kenal namanya.

Dadaku seketika jadi berdebar menggemuruh tidak menentu. Kulihat tangannya begitu halus dan lembut sekali. Dia bukan hanya menggandeng tanganku, tapi malah mengge1ayutinya. Bahkan sesekali merebahkan kepalanya dibahuku yang cukup tegap.

"Eh, nama kamu siapa...?", tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.

"Angga", sahutku.

"Akh.., kayak nama perempuan", celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.

"Kalau aku sih biasa dipanggil Ria", katanya langsung memperkenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.

"Nama kamu bagus", aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.

"Eh, boleh nggak aku panggil kamu Mas Angga?, Soalnya kamu pasti lebih tua dariku",• katanya meminta.

Aku hanya tersenyum saja. Memang kalau tidak pakai seragam Sekolah, aku kelihatan jauh lebih dewasa. Padahal umurku saja baru tujuh belas lewat beberapa bulan.

Dan aku memperkirakan kalau gadis ini pasti seorang mahasiswi, atau karyawati yang sedang mengisi hari libur dengan berolah raga pagi. Atau hanya sekedar berjalan-jalan sambil mencari kenalan baru.

"Eh, bubur ayam disana nikmat lho. Mau nggak...?", ujarnya menawarkan, sambil menunjuk gerobak tukang bubur ayam.

"Boleh", sahutku.

Kami langsung menikmati bubur ayam yang memang rasanya nikmat sekali. Apa lagi perutku memang lagi lapar. Sambil makan, Ria banyak bercerita. Sikapnya begitu riang sekali, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Ria memang pandai membuat suasana jadi akrab.

Selesai makan bubur ayam, aku dan gadis itu kembali berjalan-jalan. Sementara matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang. Tanpa diduga sama sekali, justru Ria yang mengajak pulang lebih dulu.

"Mobilku di parkir disana...", katanya sambil menunjuk deretan mobil-mobil yang cukup banyak terparkir.

"Kamu bawa mobil...?", tanyaku heran.

"Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum", katanya beralasan.

"Kamu sendiri...?"

Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.

"Ikut aku yuk...", ajaknya langsung.

Belum juga aku menjawab, Ria sudah menarik tanganku dan menggandeng aku menuju ke mobilnya. Sebuah mobil starlet warna biru muda masih mulus, dan tampaknya masih cukup baru. Ria malah meminta aku yang mengemudi.

Untungnya aku sering pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Ria langsung menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan komplek perumahan elite. sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Ria menahan dan memaksaku untuk singgah.

"Ayo..", Sambil menarik tanganku, Ria memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya. Bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa laki-laki yang baru dikenalnya ke dalam kamar.

"Tunggu sebentar ya...", kata Ria setelah membawaku ke dalam sebuah kamar.

Dan aku yakin kalau ini pasti kamar Ria. Sementara gadis itu meninggalkanku seorang diri, entah ke mana perginya. Tapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia tidak sendiri, tapi bersama dua orang gadis lain yang sebaya dengannya. Dan gadis-gadis itu juga memiliki wajah cantik serta tubuh yang ramping, padat dan berisi.

Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan salah seorang langsung mengikat tanganku hingga terbaring menelentang di ranjang. Kedua kakiku juga direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat.

Aku benar-benar terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba sekali, hingga aku tidak sempat lagi menyadari.

"Aku dulu..., Aku kan yang menemukan dan membawanya ke sini", kata Ria tiba-tiba sambil melepaskan baju kaosnya.

Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Ria bukan hanya menanggalkan bajunya, tapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Ria mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali.

Akhh tubuhnya luar biasa bagusnya.. baru kali ini aku melihat payudara seorang gadis secara dekat, payudaranya besar dan padat. Bentuk pinggulnya ramping dan membentuk bagai gitar yang siap dipetik, Bulu-bulu vaginanya tumbuh lebat di sekitar kemaluannya.

Sesaat kemudian Ria menghampiriku, dan merenggut semua pakaian yang menutupi tubuhku, hingga aku henar-benar polos dalam keadaan tidak berdaya. Bukan hanya Ria yang mendekatiku, tapi kedua gadis lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.

"Eh, apa-apaan ini? Apa mau kalian...?", aku membentak kaget.

Tapi tidak ada yang menjawab. Ria sudah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga terentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Ria saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tapi kedua gadis lainnya juga melakukan hal yang sama.

Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat Seperti tersengat listrik, ketika merasakan jari-jari tangan Ria yang lentik dan halus menyambar dan langsung meremas-remas bagian batang penisku. Seketika itu juga batang penisku tiba-tiba menggeliat-geliat dan mengeras secara sempurna

Aku tidak mampu melawan rasa kenikmatan yang kurasakan akibat penisku di kocok-kocok dengan bergairah oleh Ria. Aku hanya bisa merasakan seluruh batangan penisku berdenyut-denyut nikmat.

Aku benar-benar kewalahan dikeroyok tiga orang gadis yang sudah seperti kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tapi aku juga ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu.

Aku ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tapi aku juga merasakan suatu kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam hayalan dan mimpi-mimpiku.

Aku benar-benar tidak berdaya ketika Ria duduk di atas perutku, dan menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang padat. Sementara dua orang gadis lainnya yang kutahu bernama Rika dan Sari terus menerus menciumi wajah, leher dan sekujur tubuhku.

Bahkan mereka melakukan sesuatu yang hampir saja membuatku tidak percaya, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Saat itu juga aku langsung menyadari kalau gadis-gadis ini bukan hanya menderita penyakit *********, tapi juga biseks. Mereka bisa melakukan dan mencapai kepuasan dengan lawan jenisnya, dan juga dengan sejenisnya. Bahkan mereka juga menggunakan alat-alat untuk mencapai kepuasan seksual. Aku jadi ngeri dan takut membayangkannya.

Sementara itu Ria semakin asyik menggerak-gerakkan tubuhnya di atas tubuhku. Meskipun ada rasa takut dalam diriku, tetapi aku benar-benar merasakan kenikmatan yang amat sangat, baru kali ini penisku merasakan kelembutan dan hangatnya lubang vagina seorang gadis, lembut, rapat dan sedikit basah,

Riapun merasakan kenikmatan yang sama, bahkan sesekali aku mendengar dia merintih tertahan. Ria terus menggenjot tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepatnya membuatku benar-benar tidak kuasa lagi menerima kenikmatan bertubi-tubi aku berteriak tertahan.

Ria yang mendengarkan teriakanku ini tiba-tiba mencabut vaginanya dan secara cepat tangannya meraih dan menggenggam batang penisku dan melakukan gerakan-gerakan mengocok yang cepat, hingga tidak lebih dari beberapa detik kemudian aku merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa berbarengan dengan spermaku yang menyemprot dengan derasnya. Ria terus mengocok-ngocok penisku sampai spermaku habis dan tidak bisa menyemprot lagi tubuhku merasa ngilu dan mengejang.

Tetapi Ria rupanya tidak berhenti sampai disitu, kemudian dengan cepat dia dibantu dengan kedua temannya menyedot seluruh spermaku yang bertebaran sampai bersih dan memulai kembali menggenggam batang penisku erat-erat dengan genggaman tangannya sambil mulutnya juga tidak lepas mengulum kepala penisku.

Perlakuannya ini membuat penisku yang biasanya setelah orgasme menjadi lemas kini menjadi dipaksa untuk tetap keras dan upaya Ria sekarang benar-benar berhasil. Penisku tetap dalam keadaan keras bahkan semakin sempurna dan Ria kembali memasukkan batangan penisku ke dalam vaginanya kembali dan dengan cepatnya Ria menggenjot kembali vaginanya yang sudah berisikan batangan penisku.

Aku merasakan agak lain pada permainan yang kedua ini. Penisku terasa lebih kokoh, stabil dan lebih mampu meredam kenikmatan yang kudapat. Tidak lebih dari sepuluh menit Ria memperkosaku, tiba-tiba dia menjerit dengan tertahan dan Ria tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menahan sesuatu

Aku bisa merasakan vagina Ria berdenyut-denyut dan menyedot-nyedot penisku, hingga akhirnya Ria melepaskan teriakannya saat ia merasakan puncak kenikmatannya.

Aku merasakan vagina Ria tiba-tiba lebih merapat dan memanas, dan aku merasakan kepala penisku seperti tersiram cairan hangat yang keluar dari vagina Ria. Saat Ria mencabut vaginanya kulihat cairan hangat mengalir dengan lumayan banyak di batangan penisku..

Setelah Ria Baru saja mendapatkan orgasme, Ria menggelimpang di sebelah tubuhku. Setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya, melihat itu Sari langsung menggantikan posisinya. Gadis ini tidak kalah liarnya. Bahkan jauh lebih buas lagi daripada Ria.

Membuat batanganku menjadi sedikit sakit dan nyeri. Hanya dalam tidak sampai satu jam, aku digilir tiga orang gadis liar. Mereka bergelinjang kenikmatan dengan dalam keadaan tubuh polos di sekitarku, setelah masing-masing mencapai kepuasan yang diinginkannya.

Sementara aku hanya bisa merenung tanpa dapat berbuat apa-apa. Bagaimana mungkm aku bisa melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini...?

Aku hanya bisa berharap mereka cepat-cepat melepaskan aku sehingga aku bisa pulang dan melupakan semuanya. Tapi harapanku hanya tinggal angan-angan belaka. Mereka tidak melepaskanku, hanya menutupi tubuhku dengan selimut.

Aku malah ditinggal seorang diri di dalam kamar ini, masih dalam keadaan telentang dengan tangan dan kaki terikat tali kulit. Aku sudah berusaha untuk melepaskan diri. Tapi justru membuat pergelangan tangan dan kakiku jadi sakit. Aku hanya bisa mengeluh dan berharap gadis-gadis itu akan melepaskanku.

Sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Ternyata ketiga gadis itli tidak mau melepaskanku. Bahkan mereka mengurung dan menyekapku di dalam kamar ini. Setiap saat mereka datang dan memuaskan nafsu birahinya dengan cara memaksa.

Bahkan mereka menggunakan obat-obatan untuk merangsang gairahku. Sehingga aku sering kali tidak menyadari apa yang telah kulakukan pada ketiga gadis itu. Dalam pengaruh obat perangsang, mereka melepaskan tangan dan kakiku. Tapi setelah mereka mencapai kepuasan, kembali mengikatku di ranjang ini. Sehingga aku tidak bisa meninggalkan ranjang dan kamar ini.

Dan secara bergantian mereka mengurus makanku. Mereka memandikanku juga di ranjang ini dengan menggunakan handuk basah, sehingga tubuhku tetap bersih. Meskipun mereka merawat dan memperhatikanku dengan baik, tapi dalam keadaan terbelenggu seperti ini siapa yang suka? Berulang kali aku meminta untuk dilepaskan.

Tapi mereka tidak pernah menggubris permintaanku itu. Bahkan mereka mengancam akan membunuhku kalau berani berbuat macam-macam. Aku membayangkan kalau orang tua dan saudara-saudara serta semua temanku pasti kebingungan mencariku.

Karena sudah tiga hari aku tidak pulang akibat disekap gadis-gadis binal dan liar ini. Meskipun mereka selalu memberiku makanan yang lezat dan bergizi, tapi hanya dalam waktu tiga hari saja tubuhku sudah mulai kelihatan kurus.

Dan aku sama sekali tidak punya tenaga lagi. Bahkan aku sudah pasrah. Setiap saat mereka selalu memaksaku menelan obat perangsang agar aku tetap bergairah dan bisa melayani nafsu birahinya. Aku benar-benar tersiksa. Bukan hanya fisik, tapi juga batinku benar-benar tersiksa. Dan aku sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman gadis-gadis binal itu.

Tapi sungguh aneh. Setelah lima hari terkurung dan tersiksa di dalam kamar ini, aku tidak lagi melihat mereka datang. Bahkan sehari semalam mereka tidak kelihatan. Aku benar-benar ditinggal sendirian di dalam kamar ini dalam keadaan terikat dan tidak berdaya. Sementara perutku ini terus menerus menagih karena belum diisi makanan. Aku benar-benar tersiksa lahir dan batin.

Namun keesokan harinya, pintu kamar terbuka. Aku terkejut, karena yang datang bukan Ria, Santi atau Rika Tapi seorang lelaki tua, bertubuh kurus. Dia langsung menghampiriku dan membuka ikatan di tangan dan kaki. Saat itu aku sudah benar-benar lemah, sehingga tidak mampu lagi untuk bergerak. Dan orang tua ini memintaku untuk tetap berbaring. Bahkan dia memberikan satu stel pakaian, dan membantuku mengenakannya.

"Tunggu sebentar, Bapak mau ambilkan makanan", katanya sambil berlalu meninggalkan kamar ini.

Dan memang tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan membawa sepiring nasi dengan lauk pauknya yang mengundang selera. Selama dua hari tidak makan, membuat nafsu makanku jadi tinggi sekali. Sebentar saja sepiring nasi itu sudah habis berpindah ke dalam perut. Bahkan satu teko air juga kuhabiskan. Tubuhku mulai terasa segar. Dan tenagaku berangsur pulih.

"Bapak ini siapa?", tanyaku

"Saya pengurus rumah ini", sahutnya.

"Lalu, ketiga gadis itu..", tanyaku lagi.

"hh..., Mereka memang anak-anak nakal. Maafkan mereka, Nak...", katanya dengan nada sedih.

"Bapak kenal dengan mereka?", tanyaku.

"Bukannya kenal lagi. Saya yang mengurus mereka sejak kecil. Tapi saya tidak menyangka sama sekali kalau mereka akan jadi binal seperti itu. Tapi untunglah, orang tua mereka telah membawanya pergi dari sini. Mudah-mudahan saja kejadian seperti ini tidak terulang lagi", katanya menuturkan dengan mimik wajah yang sedih.

Aku juga tidak bisa bilang apa-apa lagi. Setelah merasa tenagaku kembali pulih, aku minta diri untuk pulang. Dan orang tua itu mengantarku sampai di depan pintu.

Kebetulan sekali ada taksi yang lewat. Aku langsung mencegat dan meminta supir taksi mengantarku pulang ke rumahku. Di dalam perjalanan pulang, aku mencoba merenungi semua yang baru saja terjadi.

Aku benar-benar tidak mengerti, dan hampir tidak percaya. Seakan-akan semua yang terjadi hanya mimpi belaka. Memang aku selalu menganggap semua itu hanya mimpi buruk. Dan aku tidak berharap bisa terulang lagi. Bahkan aku berharap kejadian itu tidak sampai menimpa orang lain.

Aku selalu berdoa semoga ketiga gadis itu menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Karena yang mereka lakukan itu merupakan suatu kesalahan besar dan perbuatan hina yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Jumat, 19 Februari 2016

Cerita Sex Berempat Sungguh Menikmati

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Cewek Berempat Sungguh Menikmati. Namaku Galih umruku 22 tahun dan kisah ini merupakan kisah nyataku saat itu berkenalan dengan cewek yang umurnya sama denganku namanya Azni dia bekerja di RS swasata di kotaku sedangkan aku bekerja di perusahaan swasta di Jakarta. Perkenalan aku dengannya baru 3 bulan saat kita berkenalan aku belum pernah maen kerumahnya tapi akalu bertemu kita diluar dan hanya mengobrol ngobrol.

Cerita Dewasa Berempat Sungguh Menikmati

cerita sex three some, cerita gangbang hot, cerita bokep terlengkap, cerita cerita sange, cerita ngentub, cerita baru panas, cerita 3 some, cerita thresome, cerita tresome
Cerita Mesum Berempat Sungguh Menikmati
Tapi lantaran perasaan kami yang semakin akrab,maka suatu kali aku mampir juga kerumahnya, sekaligus berkenalan dengan keluarganya. Azni punya seorang ibu tiri yang umurnya sekitar 38 tahun dan dua orang kakak perempuan

Yang tertua namanya Vania, umurnya 28 tahun dan yang nomor dua namanya Clara umurnya 26 tahun. Walaupun ibunya ibu tiri,tapi sangat baik. Mereka tinggal 3 orang satu rumah. Sedang kakaknya yang pertama sudah menikah,belum punya anak dan tinggal ditempat lain. Hubungan mereka sekeluarga sangat akrab. Keluarganya ramah terhadapku.

Waktu kedatanganku yang pertama aku cuma duduk bdiruang tamu.Kedatanganku yang selanjutnya aku sudah biasa aja dirumahnya. Aku sudah bisa masuk keruangan yang lainnya. Suatu kali aku masuk kekamar Azni,didalam kami ngobrol-ngobrol aja.

Jarak antara kami makin dekat. Kupegang tangannya,kemudian perlahan-lahan kudekatkan wajahku kepadanya.Kami saling berciuman.Kulumat bibirnya yang berwarna kemerah-merahan dan Azni membalas ciumanku. Cukup lama kami berciuman dan aku tidak berani menyentuh bagian yang lain. Sehabis itu kami main Play Stasion.

Minggu berikutnya aku main lagi ke rumah Azni. Waktu itu kakaknya yang no.2 yaitu Clara ada dirumah.Dia tidak masuk kerja.Setelah basa basi dengan kakaknya aku masuk kekamar Azni.Didalam seperti biasa setelah kami ngobrol-ngobrol sedikit aku mendekati Azni.

Kami kembali berciuman,aku meremas tangannya,kemudian ciumanku menyusuri lehernya yang putih bersih.Nafas Azni terdengar agak terengah-engah.Aku meneruskan ciumanku dengan meremas dadanya yang indah.kemudian satu persatu kancing bajunya kutanggalkan,sampai dia hanya pakai BH saja. BH nya yang berukuran 36B itupun kutanggalkan.

Payudaranya yang sekal dan indah itu pun habis kuciumi.Sementara tanganku meremas-remas dengan lembut payudaranya itu.Kemudian puting payudaranya yang berwarna agak kecoklatan kuhisap dan kujilati.Azni makin menderu nafasnya.Aku terus asyik menghisap payudaranya yang sekal itu.Tapi secara tiba-tiba aku melirik ke pintu yang sedikit terbuka,disitu kulihat Clara berdiri termangu.Aku segera menghentikan gerakanku.

Clara kemudian masuk kekamar Azni.Tapi Azni cuek saja melihat kakaknya masuk kedalam kamarnya.Dia tidak berusaha menutupi tubuhnya.Malah membiarkan saja tubuhnya dalam keadaan terbuka.Aku tentu saja merasa grogi.Aku takut Clara marah kemudian melarangku main kerumahnya lagi.Tapi Clara tidak marah malah tersenyum melihat aku yang salah tingkah.Kemudian Clara bicara:

"Kamu mau kubuatkan teh Galih?"

"Ya mbak,boleh ....eh..terima kasih..."jawabku agak gugup.

Dalam hati aku merasa senang karena Clara tidak marah padaku.Kemudian aku keluar dari kamar dan Azni memakai bajunya tanpa mengenakan BH lagi.Masih kelihatan payudaranya yang montok itu dibungkus baju kaos yang tipis.Aku diruang tamu ngobrol-ngobrol saja bersama Azni dan kakaknya.Clara sama sekali tidak menyinggung kejadian tadi,dan bicara hal-hal lain.

Minggu berikutnya aku kembali datang kerumah Azni.Setelah ngobrol-ngobrol dengan kakaknya Clara,aku kembali masuk kekamar Azni.Didalam kami kembali berciuman.Aku mencium bibir Azni yang harum.Azni membalas ciumanku.

Berbeda waktu kemarinnya,kali ini Azni agak agresif.Dia mencium bibirku dengan ganasnya. Aku juga semakin berani membuka pakaian Azni,sehingga dia hanya memakai celana dalam saja.Aku segera menyapu lehernya yang jenjang dan putih bersih.

Azni terlihat menggelinjang membuat aku semakin bersemangat.Nafasnya mulai terengah-engah.Ciumanku terus kearah dadanya yang montok.Aku menghisap puting payudaranya.Sungguh sangat enak rasanya.Aku menghisap puting payudaranya bergantian.Azni makin terengah-engah.

Lalu aku membuka celana dalamnya,sehingga sekarang dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun. Aku menjilati pahanya yang putih mulus.Jilatanku terus naik kearah vagina Azni yang memancarkan hawa harum dan wangi.Aku menjilat klitorisnya yang sebelumnya aku menyibakkan bulunya yang belum begitu lebat.Lama aku menghisap klitorisnya.Sampai aku merasakan cairan yang khas,mungkin dia sudah semakin teransang.

Azni lalu mendorongku,sehingga aku berada dalam posisi telentang. Dia langsung mengarahkan bibirnya yang mungil ke penisku.Wahhh...enak sekali ... Azni mengulum dan menghisap penisku .Aku semakin terengah-engah.Azni pun semakin semangat mendengar desahan nafasku. Lalu aku mendorong Azni dengan lembut agar dia segera telentang.

Azni pun mengerti dengan keinginanku. Penisku kuarahkan kearah vagina Azni dan memasukkannya dengan perlahan-lahan.Azni menjerit tertahan begitu penisku masuk semua kedalam vaginanya.Aku mengangkat pantatku perlahan-lahan,dan memasukkannya.Begitu seterusnya aku lakukan,memaju-mundurkan pantatku.Aznipun kelihatan sangat menikmatinya.

Lalu aku mengangkat kaki kiri Azni dan tetap aku menggoyang pantatnya yang montok.Sampai akhirnya dia menjerit dengan suara yang agak keras.Dan akupun merasakan cairan hangat yang membasahi penisku didalam vaginanya.Rupanya Azni sudah keluar.Sementara aku nampaknya masih lama untuk mencapai puncak orgasmeku. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang sudah aku kenal.

"Wah..kamu kuat juga ya Galih..."

Rupanya itu suaranya Clara kakak Azni.Rupanya dia sudah dari tadi berdiri dibelakangku memperhatikan apa yang kuperbuat bersama dengan adiknya.Aku sangat kaget sekali,dan mencabut penisku yang masih tegang dari vagina Azni.Kupikir tadi Azni sudah mengunci pintu kamar.

Clara segera menghampiri kami berdua.Kulihat Azni cuek saja dan masih menikmati puncak orgasmenya. Clara duduk disamping kami dan memperhatikan punyaku yang masih tegang.Sementara aku sendiri masih jauh dari puncak orgasmeku.Melihat situasinya seperti itu aku jadi memberanikan diriku meraih tangan Clara.

Kutarik lembut tangannya dan aku segera melumat bibirnya yang lembut.Sementara tanganku langsung meremas-remas payudaranya.Sekilas aku melirik Azni dan kulihat dia tersenyum melihat yang kuperbuat dengan kakaknya.Dia bilang,

"Nah...sekarang giliran saya yang nonton kakak ya...?"

Clara hanya menjawab dengan tersenyum saja.Nampaknya Azni ingin aku berbuat yang sama dengan kakaknya.

Tanganku terus saja meremas-remas payudaranya dari luar.Aku segera melepaskan semua pakaian yang menempel ditubuhnya,sampai dia tidak mengenakan pakaian selembar benangpun alias bugil,seperti Azni. Aku terus melumat bibirnya.

Clara pun tidak kalah membalas ciumanku.Ciumanku terus turun kelehernya yang putih bersih.Clara mengelinjang membuat aku semakin bersemangat saja.Aku terus menciumi payudaranya yang montok,mungkin ukurannya ada sekitar 36,aku tidak tahu persis tapi sama dengan ukurannya si Azni.

Aku menghisap puting payudaranya dengan lahap.Aku kembali melirik Azni dan melihat dia tersenyum manis padaku.Aku jadi semakin bersemangat saja.Sementara Clara terus saja menggelinjang keenakan.

Aku terus saja menghisap puting payudara Clara.Sementara tangan kiriku meraba-raba selangkangan Clara.Aku merasakan bulu-bulu vaginanya yang lembut.Ciumanku terus kuturunkan kedaerah vaginanya.Aku menjilati klitoris Clara dan Clara terus saja menggelinjang.Aku merasakan cairan yang khas dari vaginanya,tapi aku yakin dia belum orgasme.

Aku lalu mendekatkan penisku kedalam mulut Clara dan diapun melumat penisku dan menghisapnya.Sungguh sangat enak sekali.Lama Clara menghisap penisku yang sudah sangat tegang sekali.Aku hampir tidak tahan lagi. Aku menyuruh Clara supaya menungging.Aku lalu mengatur posisiku di belakang Clara.Perlahan-lahan aku memasukkan penisku kedalam vaginanya.Tapi sebelum aku memasukkan penisku,Azni bergerak mendekatiku dan tangannya menggenggam penisku.

"Biar kumasukin Galih...,"katanya.

Tapi sebelum itu dia masih sempat-sempatnya menghisap penisku.Setelah itu dia mengarahkan penisku ke kemaluan kakaknya.Dia tersenyum padaku.Clara juga tersenyum padaku.Aku semakin tidak tahan dan segera memasukkan penisku ke vagina Clara.Clara menjerit tertahan,

"Ahh...Galih...punyamu enak sekhali...shayang..."

Aku semakin bersemangat menggoyangkan pantatku.Sementara Azni duduk disampingku.Aku segera meraih tangan Azni dan aku bilang,

"Azni, sini payudaramu aku hisap..."

Azni segera menyodorkan payudaranya kemulutku.Jadi sementara aku menggoyang Clara,mulutku menghisap payudaranya Azni.Clara semakin histeris menjerit-jerit keenakan kugoyang vaginanya dari belakang.Aku lalu menyuruh Azni berdiri dan mengarahkan selangkangannya ke mulutku.Aku kembali menjilati klitoris Azni.Azni terdengar menjerit-jerit keenakan seperti kakaknya.

Tak lama tubuh Clara menegang.Agaknya dia sudah mau keluar.Benar saja tak lama aku merasakan cairan hangat membasahi penisku yang masih menancap di vaginanya.Azni juga masih menjerit-jerit.Aku lalu berdiri dan mengarahkan penisku yang masih tegang ke kemaluan Azni yang berada dalam posisi berdiri dari depan.

Aku mengangkat kaki Azni dan meletakkan kakinya di pinggir tempat tidur.Aku memasukkan penisku kedalam vagina Azni dari depan dan kugoyang-goyang,maju mundur.

Azni kembali mendesah-desah,

"...Ahh...Galih...kamu pintar juga juga pake gaya berdiri seperti dalam film ...ahhh...akh.."mulutnya terus saja menceracau.

Aku terus saja menggoyangnya,sementara mulutku tidak berhenti menciumi payudaranya yang montok kiri kanan bergantian dan juga menghisapnya bergantian.Azni semakin melayang-layang kenikmatan saja.Tak lama aku juga sudah ingin keluar.

Tapi sebelum aku keluar,Azni sudah keluar duluan dan badannya mendadak jadi lemas.Aku segera mencengkram pantatnya dan memeluk tubuhnya.

"Akh..."akhirnya kau keluar juga dengan perasaan yang melayang-layang. Spermaku membasahi vagina Azni.Aku tidak kuat lagi menahan tubuh Azni dan membiarkan dia terduduk dan akhirnya penisku pun tercabut dari vaginanya.

Clara yang dari tadi memperhatikan,kembali mendekatkan kepalanya ke penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana.Azni pun tidak ketinggalan,juga menghisap penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana.Kedua kakak beradik tadi masih dengan lahap menghisap penisku bergantian.

Akhirnya kami bertiga terbaring lemas.Aku berada ditengah-tengah mereka.Tanganku masih saja bergantian meremas-remas payudara Azni dan Clara bergantian.Mereka juga masih menikmati remasan tanganku di payudaranya.Kami sama-sama menarik nafas panjang.Lama kami terdiam.

Tiba-tiba kami dikejutkan teriakan suara panggilan.

"Clara,Azni kalian dimana? Ini mbak Vania datang nih...kok nggak ada yang menyahutin?"
Rupanya kakaknya yang tertua datang.Clara lalu berdiri dan berkata pada Azni,

"Azni,biar mbak saja yang menemuin mbak Vania,kayaknya dia sendirian saja kesini.Suaminya kayaknya nggak ikut tuh..."

Lalu tanpa pakaian sehelai benangpun Clara berdiri dan jalan keluar kamar.Aku kaget dan bertanya pada Azni,

"Azni,kalau ketahuan mbak Vania bagaimana nih...?"kataku agak cemas.

Tapi Azni hanya tersenyum saja dan mengecup bibirku sebagai jawabannya. Sementara diluar kamar,mbak Vania sangat terkejut melihat adiknya Clara menyambutnya tanpa busana sehelai benangpun.

"Clara...kamu ngapain..?Kok nggak pake pakaian...?"tanya mbak Vania.

Tapi Clara cuma tersenyum saja dan berkata,

"Nggak apa-apa kok mbak...Mbak nggak usah banyak tanya deh..." sambil tangannya menggandeng tangan kakaknya kekamar Azni.

Sesampai dikamar Azni,mbak Vania kelihatan terkejut melihatku dan Azni juga tanpa pakaian.Clara segera menjelaskan,

"Mbak,itu Galih pacarnya Azni...Mbak udah kenal kan?"kata Clara.

Sementara aku masih agak cemas,takut kalau-kalau mbak Vania marah besar.Tapi rupanya Azni mengerti perasaanku.Dia berkata pada Vania,

"Mbak ayo duduk disini,ngapain berdiri disitu.Apa mbak nggak pingin merasakan punya Galih yang perkasa ini..?Bukankah Mbak dulu bilang kalau nggak pernah puas kalau main sama suami mbak...?"

Mulanya mbak Vania ragu-ragu.Tapi Clara segera menarik tangan kakaknya dan mengajaknya duduk didekatku yang juga sama-sama bugil dengan adik-adiknya.Akhirnya mbak Vania duduk juga didekatku.Clara berkata,

"Ayo Galih...kita teruskan,nih kakaknya Azni yang paling tua udah datang.Dia nggak pernah puas kalau main.Mungkin kamu ketemu lawan tangguh...,"kata Clara bercanda.

Mbak Vania dan Azni kulihat hanya tersenyum saja.

"Sekarang aku dan mbak Clara cuma nonton aja,kamu main sama mbak Vania...habis kami capek sih..."kata Azni dengan manjanya.

Akupun nggak jadi takut dan ikut tersenyum.Aku jadi berani dengan situasi seperti ini.Aku merasa seperti diberi lampu hijau. Aku langsung saja mengarahkan tanganku ke payudara Vania dan meremas-remas payudaranya dari luar pakaiannya.

Vania hanya tersenyum saja aku perlakukan begitu.Aku segera melumat bibirnya dan Vania membalasnya juga dengan ganasnya. Nampaknya dia benar-benar membutuhkan seks.Aku semakin senang.

Aku segera melucuti pakaian yang dikenakan Vania,sampai dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun seperti adik-adiknya. Aku merasa kaget juga,karena payudaranya mbak Vania lebih besar dibandingkan payudara adik-adiknya.

Terus terang aku sangat senang dengan ukuran payudaranya yang besar itu.Aku segera menciumi payudaranya bertubi-tubi dan bergantian,maklum nafsu seksku mulai bangkit lagi.Vania sudah mulai terengah-engah menghadapi seranganku.Aku kembali melumat bibir mbak Vania yang indah.Mbak Vania juga kembali membalas ciumanku dengan bernafsu.

Sementara itu aku juga melirik Clara dan Azni dan mereka cuma tersenyum menatapku sambil mengelus-elus vaginanya masing-masing. Ciuamanku kembali kuarahkan keleher Vania yang putih bersih.Dan terus kuturunkan ke payudaranya yang montok. payudaranya kuciumi bergantian dan puting payudaranya kuhisap dengan lahap.Lama aku menghisap payudaranya.Vania berkata,

"akh...Galih...terus hisap...sayhang..enakh..sekali.terus sayang...kamu sekarang jadi bayi...ya....terus hisap payudara Mbak...sayang...?"katanya menceracau.

Aku nggak peduli dengan rintihan dan erangan mbak Vania.Malah aku semakin bersemangat saja.Ciumanku kuturunkan keperutnya yang putih dan ramping dan terus turun kepahanya yang mulus.Pahanya kujilatin sampai basah semua.Jilatanku kunaikkan ke sela-sela pahanya yaitu ke vaginanya.

"Akh...apa ini Galih...ohhh..terus Galih..."kata mbak Vania.

Kayaknya dia juga tidak peduli lagi dengan sekitarnya.

Aku menjilati vaginanya.Aku mencari klitorisnya dan menghisapnya.Mbak Vania menjerit tertahan dan menekan belakang kepalaku,sehingga aku semakin mencium bau wangi dari vaginanya.Aku terus menjilati klitorisnya itu,sampai akhirnya aku merasakan cairan yang keluar dari vagina mbak Vania.

Tapi mbak Vania sendiri belum keluar.Sementara punyaku sendiri sudah semakin tegang.Aku segera merubah posisiku dan menyodorkan penisku kemulut mbak Vania.Mbak Vania membuka mulutnya dan melahap penisku dan menghisap penisku dengan sangat bernafsu.Aku menyadari nafsu seks mbak Vania sangat tinggi.Tapi aku yakin bisa memuaskannya.

Akhirnya kusuruh mbak Vania telentang.Diapun menurut untuk telentang dan membuka kakinya lebar-lebar.Akupun segera mengatur posisiku untuk mengarahkan penisku kedalam lubang kemaluannya.Tapi sebelum aku memasukkannya,Azni dan Clara mendekat dan berkata,

"Galih...sebentar dulu.."kata Clara.

Tanpa menunggu jawabanku dia langsung memegang penisku dan memasukkan kedalam mulutnya lalu menghisapnya. Setelah itu giliran Azni yang menghisap penisku.Aku melihat mbak Vania sudah nggak sabaran untuk merasakan penisku.

Akhirnya setelah Azni menghisap penisku,dia membimbing penisku dan mengarah kan ke lubang vagina kakaknya.Setelah posisinya pas,aku segera menekan pantatku perlahan-lahan.

Terdengar desahan dan jerita kecil keluar dari mulut mbak Vania.Rupanya lubang vagina mbak Vania masih sempit seperti punya adik-adiknya.Aku sangat senang sekali.Aku segera menaik-turunkan pantatku ke vagina mbak Vania.Jeritan dan desahan nafas mbak Vania makin keras.Aku tidak peduli dan terus saja menggenjot dan menaik turunkan pantatku.Sama seperti vagina adik-adiknya,vagina mbak Vania seperti meremas-remas penisku.

Aku sudah hampir keluar,tapi aku berusaha bertahan selama mungkin.Dan kuperhatikan mbak Vania hampir mencapai puncak orgasmenya.

"...akh...akh..akh..terus Galih..akh...aku sudah mau keluar nih...akh..,"katanya terus menceracau.

" Aahh aku juga mau keluar mbak..."kataku sambil meremas dan menghisap payudaranya.

Akhirnya aku merasakan cairan hangat membasahi penisku.

"Ahh...Galihe..mbak sudah keluar..."kata mbak Vania.Rupanya dia sudah keluar.Bersamaan dengan itu akupun merasa sudah nggak kuat lagi.

"Mbak...akhu...jugha..mau keluar...h.."kataku dengan suara agak parau.

Akhirnya spermaku tumpah membasahi vaginanya.Aku tertelungkup lemas diatas tubuh mbak Vania.Kulihat Clara dan Azni tersenyum menatapku.Aku lalu mencabut penisku dari lubang vagina mbak Vania dan tidur menelentang.

Clara dan Azni segera mendekatkan melutnya dan kembali menghisap penisku bergantian.Begitu juga dengan mbak Vania bangun untuk menghisap penisku bergantian.Akhirnya kami kembali rebahan.Mbak Vania disebelah kananku,Clara disebelah kiriku,sementara Azni dengan manjanya telungkup diatas tubuhku.Kami sama-sama menarik nafas panjang.

Sementara tanganku kembali bergerilya seperti tadi meraba seluruh tubuh kakak-adik itu dan meremas-remas payudara mereka bergantian.Kadang-kadang mereka juga bangun sebentar hanya untuk menghisap penisku.Kami sama-sama terbaring lemas.

Tak lama Clara membuka pembicaraan,

"Wah...Galih...kamu memang kuat bisa mengalahkan mbak Vania.penismu juga besar dan kuat lho Galih."

Aku hanya tersenyum saja dan meremas payudara Clara dengan lembut dan memainkan puting payudaranya dengan ujung jariku.

"Baru kali ini aku merasa puas kalo main gini Galih.."kata mbak Vania.

Aku hanya tersenyum saja mendengar pujian mereka dan tanganku semakin nakal dengan memasukkan jariku kelubang vagina mbak Vania.

"Aww...Galih...tanganmu nakal..aku lagi capek nih..."kata mbak Vania manja.

Aku lalu berkata,"Wah...Azni,Clara,mbak Vania,kayaknya kita harus berpakaian nih sebelum ibumu datang."

Azni segera menjawab,

"Nggak apa-apa kok Galih.Kalau ibu datang dan melihat kita begini nggak bakalan marah kok...ya kan mbak?"kata Azni sambil bertanya pada kakaknya.

Kedua kakaknya tersenyum saja dan Clara berkata,

"Kalau kamu mau,kamu juga boleh main sama ibu Galih..."

"Iya...ibu pasti senang sekali ya kan mbak Vania?"tanya Azni sama mbak Vania.

Mbak Vania menganggukkan kepalanya.Sekarang aku sudah mulai tenang.Sekarang tenagaku sudah mulai pulih.Lama kami terdiam,tapi tanganku tetap tidak bisa diam dan selalu menggerayangi tubuh ketiganya.Tapi mungkin karena kecapean,mereka bertiga cuma diam saja ketika tanganku menggerayangi tubuhnya,walaupun jari tengahku mengorek-ngorek vaginanya.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar,

"Clara,Azni..kalian dimana?"

Rupanya ibunya sudah datang.

"Kami disini Bu..."sahut Azni.

Lalu Azni berkata padaku,

"Ayo Galih...kamu boleh coba ibuku..katanya tersenyum.

Aku cuma mengangguk saja dan sekarang tenagaku sudah benar-benar pulih lagi.

Tak lama kemudian ibunya Azni sampai di kamar dan terkejut,

"hai...kalian lagi ngapain?"katanya sambil menutup mulutnya.

Ibunya Azni masih melotot tidak percaya menatapku.Setelah dekat tanganku langsung memeluk ibu Azni dan langsung meremas-remas payudaranya.Sementara itu dia masih setengah tidak percaya,tapi dia membiarkan tanganku meremas-remas payudaranya.

Sambil berdiri aku menciumi bibirnya dan sekarang dia mulai membalas ciumanku.Aku tidak menduga ciuman ibunya ganas juga.Sementara tanganku masih terus meremas-remas payudaranya.Aku segera melucuti pakaiannya satu demi satu.Kulihat dia sekarang sudah bisa tersenyum dan berkata,

"Vania,Clara,Azni...kalian bear-benar nakalya...?tapi kalian baik juga mau mengajak ibu main sama Galih."

Vania,Clara dan Azni hanya tersenyum saja dan berkata,

"ya Bu..jangan malu-malu ya...ya...penis Galih enak lho Bu..."

Setelah pakaian luarnya kulucuti,hingga hanya tinggal BH dan CD aja.Tanganku masih saja meremas-remas payudaranya.Nafas ibu Azni mulai naik turun.Dia membiarkan saja apapun yang kulakukan pada tubuhnya dan menikmatinya.

Aku mulai melepaskan BH nya dan aku kaget juga payudara dia masih kencang,putih dan montok dan besarnya hampir sama dengan payudara mbak Vania.Aku segera menyerbu payudaranya dengan ciuman-ciumanku.Aku menghisap puting payudaranya sambil berdiri.

Dia hanya merintih-rintih saja.Aku meremas-remas pantatnya yang montok,sementara mulutku tidak berhenti menghisap puting payudaranya kiri kanan.Setelah puas dibagian payudara,ciumanku kulanjutkan ke bawah.Ciumanku kuarahkan ke pahanya yang putih mulus dan terus naik keselangkangannya.Aku melepaskan CD nya sehingga dia tidak mengenakan apa-apa lagi,bugil seperti aku dan anak-anak tirinya.

Aku lalu menjilati vaginanya.Sambil berdiri, dia membuka kakinya agar mulutku leluasa menjilati vaginanya.Sementara tangannya menekan belakang kepalaku.Aku terus saja menghisap klitorisnya. Dia menjerit-jerit kecil dan kakinya kulihat agak gemetaran.

Setelah puas menjilati vaginanya,aku lalu menekan tubuhnya supaya duduk jongkok menghadapku.Dia mengerti dan langsung saja mulutnya melumat penisku.Aku merasa sangat enak.Kayaknya Dia lebih berpengalaman dalam hal menjilat penis.Dia terus saja menghisap penisku dengan penuh semangat.

Akhirnya aku sudah tidak tahan lagi,aku lalu menyuruhnya membelakangiku.Aku lalu mengatur posisi dan mengarahkan penisku ke lubang vaginanya dari belakang dan menekannya pelan-pelan.Dia menjerit tertahan.Tapi aku tidak peduli.

Sementara Vania,Clara dan Azni hanya menonton dengan bersemangat dari samping.Aku menggoyang pantatku maju mundur sambil berdiri.Tangan kirinya kutarik kebelakang dan tangan kananku meremas-remas payudaranya yang sebelah kanan.Dia kembali menjerit-jerit dengan desahan nafasnya yang memburu.

"Galih...kamu...punyamu sangat enakh...akh...akh.."katanya menceracau.

Aku semakin bersemangat mendengar rintihannya.Lalu aku menarik tangan kanannya sehingga kedua tangannya kutarik kebelakang.Sementara pantatku tetap maju mundur menggoyang pantatnya.payudaranya yang besar terus saja bergoyang-goyang ke bawah.

Aku lalu merubah posisi dan menyuruhnya telentang.Dengan nafas memburu dia menurut saja dan telentang dengan membuka kakinya lebar-lebar.Aku segera mengarahkan penisku ke vaginanya. Penisku pun segera menusuk vaginanya dan pantatku naik turun menghujam vaginanya.

Vaginanya tidak kalah rasanya dibandingkan vagina anak-anaknya. Masih menggigit dan meremas-remas penisku. Nafaskupun semakin cepat seperti nafasnya.

Sementara penisku menusuk-nusuk vaginanya,aku selalu menghisap payudaranya bergantian Sekitar hampir satu jam kami main,sampai akhirnya dia berkata,

"Galih...ahh...penismu sangat enakh...kuat...lubang vaginau jadi penuh oleh penismu...ahh...ahhh..terus sayang..aku sudah hampir keluarhh..ahh..ahhh.."

Dan tak berapa lama akupun segera merasakan penisku jadi hangat karena cairan dari vaginanya sebagai tanda dia sudah sampai puncak orgasmenya.Badannya yang tegang tadi mulai lemas.Aku masih saja menggenjot vaginanya dan akhirnya akupun merasakan sesuatu yang hendak keluar.

Penisku kubenamkan dalam-dalam kedalam vaginanya.Dan spermaku pun keluar membasahi liang vaginanya.Aku tertelungkup lemas dengan nafas tidak beraturan.

Dia juga begitu lemas dan nafasnya juga tidak beraturan.Aku lalu mencabut penisku dari vaginanya dan telentang sambil menarik nafas panjang.Aku memejamkan mataku.Walaupun sudah keluar tapi penisku masih ngaceng.Mbak Vania,Clara dan Azni mendekat dan mereka bergantian menghisap penisku dan menelan sisa-sisa spermaku.Aku merasakan nikmatnya hisapan mereka bergantian.

Mereka bertiga akhirnya merebahkan badannyadisampingku.Lama kami terdiam karena kelelahan.Akhirnya Azni berkata,

"Gimana Bu..?Enakkan penisnya Galih..?"

Ibunya berkata,"Wah..Galih...kamu memang luar biasa.penismu besar,kuat...wah...enak sekali..."
Aku menjawab,

"Kalian juga sangat enak sekali.vagina kalian terasa meremas-remas penisku.Aku juga sangat suka dengan payudara kalian yang montok-montok ini."kataku sambil meremas-remas payudara mereka bergantian.

Akhirnya aku tidak diperbolehkan pulang dan harus menginap malam itu.Kami kembali main bergantian.Aku kembali main sama mbak Vania,Clara ,Azni dan ibunya.Sungguh aku merasa sangat terpuaskan saat itu.

Aku bisa menikmati tubuh mereka,tubuh kakak Azni,tubuhnya sendiri dan tubuh ibunya.Aduh sangat enak sekali.Apalagi kulit tubuh mereka putih semua,maklum karena mereka adalah orang cina turunan.Apalagi payudara mereka sangat montok dan vaginanya juga bisa memijit-mijit penisku.

Setelah hari itu,tiap kali aku main ke sana,kalau baru sampai di rumah Azni,aku selalu meremas-remas payudara mereka bergantian.Kadang-kadang aku langsung melucuti pakaian mereka dan langsung menghisap payudara mereka bergantian.

Mereka pun sangat senang dengan caraku waktu aku datang itu.Kadang-kadang kalau baru datang,aku langsung membuka celanaku dan menyodorkan penisku kedalam mulut Azni,Clara ibunya atau mbak Vania.Mereka pun sangat senang sekali.Sehingga tiap kali aku datang kesana pasti main dengan mereka bergantian.

Kadang-kadang Azni,Clara,mbak Vania atau ibunya juga memperkenalkan aku dengan teman-temannya dan akupun sering juga main dengan teman-teman mereka.Aku bilang pada mereka,kalau mau mengundang teman untuk main harus yang bersih.

Rata-rata teman-teman mereka itu adalah wanita yang tidak bisa dipuaskan oleh suaminya.Ada salah satu temannya yang mau memberiku bayaran,tapi aku menolaknya karena aku melakukannya dengan suka sama suka.Karena aku sangat suka seks.


Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Cerita Sex Diah Masih Polos 2st

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Diah Masih Polos 2st. Lalu Pak Dadi menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat bibir kemaluan Astri yang merah merekah menantang kejantanan Pak Dadi.

Cerita Dewasa Diah Masih Polos 2st

 Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Diah Masih Polos 2st
Sebelum memasukkan batang kemaluannya, Pak Dadi mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kemaluan Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kemaluan suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap bertempur.

Dengan perlahan batang kemaluan Pak Dadi dimasukkan ke dalam liang kemaluan Astri, terlihat Astri merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara, kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba buah dadanya.

Memang beradunya batang kemaluan Pak Dadi dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering dilakukannya. Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat tubuh Nanang semakin Panas dingin, entah sudah berapa menit lamanya Tante Rani memainkan kemaluan Nanang yang sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di belakangnya ada orang yang sedang memegang kemaluannya.

"Tante, kapan Tante datang", suara Nanang perlahan karena takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh dari tempat tidur Pak Dadi. Tangan Tante Rani terus menggandeng Nanang menuju ruang tengah sambil tangannya menyusup pada kemaluan Nanang yang sudah menegang sejak tadi.

Sesampainya di ruang tengah, Nanang duduk di tempat yang tadi diduduki Tante Rani, sementara Tante Rani tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal paha Nanang dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang kemaluan Nanang yang sudah menegang.

"Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi malu.

Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante ini, juga kena marah." Tante Rani memberikan nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada diantara kedua selangkangan Nanang terus digesek-gesek ke batang kemaluan Nanang.

"Tante tahu kamu sekarang sudah besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi kamu pura-pura tidak mau," goda Tante Rani,

"Dan kamu sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip kemesraan Pak Dadi," nasehat-nasehat itu terus terlontar dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya digesek-gesekkan pada batang kemaluan Nanang.

Nanang semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada diluar batas kemanusiaan.

"Tante jangan gitu dong, nanti saya jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai tahu." Mendengar elakan Nanang, Tante Rani malah tersenyum, "Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak memberitahunya."

Gila, dalam pikiraanku mana mungkin aku memberitahu Oomku. Gerakan kepala Tante Rani semakin menjadi ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang terawat dengan bersih terlihat merekah.

Bukit kemaluan Tante Rani terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat seperti kemaluan gadis seumur Diah.

Nanang sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante Rani. Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan selalu memberikan kebutuhan hidupnya.

Tanpa disadari tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar sehingga kepala batang kemaluan Nanang terangkat dengan bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lebut dan putih itu. Melihat Keberhasilanya itu Tante Rani membalikkan badan dan sekarang Tante Rani telungkup di atas sofa dengan kemaluannya yang merekah segaja diganjal oleh bantal sofa.

Tangan Tante Rani terus memainkan batang kemaluan Nanang dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. "Aduh punya kamu ternyata besar juga," bisik Tante Rani mesra sambil terus memainkan batang kejantanan Nanang dengan kedua tangannya.

"Masa kamu tega sama Tante dengan tidak memberikan reaksi apa pun Riee," bisik Tante Rani dengan nafas yang berat. Mendengar ejekan itu hati Nanang semakin berontak dan rasanya ingin menelan tubuh molek di depannya bulat-bulat dan membuktikan pada tantenya itu bahwa saya sebetulnya bisa lebih mampu dari Pak Dadi.

Mulut Tante Rani yang merekah telah mengulum batang kemaluan Nanang dengan liarnya dan terlihat badan Tante Rani seperti orang yang tersengat setrum ribuan volt.

"Ayoo doong Riee, masa kamu akan menyiksa Tante dengan begini... ayo dong gerakin tanganmu.

" Kata-kata itu terlontar sebanyak tiga kali. Sehingga tangan Nanang semakin berani menyentuh pantatnya yang terbuka. Dengan sedikit malu-malu tapi ingin karena sudah sejak tadi batang kemaluan Ari menegang. Nanang mulai meraba-saba pantatnya dengan penuh kasih sayang.

Mendapakan perlakuan seperti itu, Tante Rani terus semakin menggila dan terus mengulum kepuyaan Nanang dengan penuh nafsu yang sudah lama dipendam. Sedotan bibir Tante Rani yang merekah itu seperti mencari sesuatu di dalam batang kemaluan Nanang.

Mendapat serangan yang sangat berapi-api itu akhirnya Nanang memutar kaki kirinya ke atas sehingga posisi Nanang dan tantenya seperti huruf T.

Tangan Nanang semakin berani mengusap-usap pinggul tantenya yang tersingkap dengan jelas. Daster tantenya yang sudah berada di atas pinggulnya dan kemaluan tantenya dengan lincah menjepit bantal kecil sofa itu.

"Ahkkk, nikmat.." Tantenya mengerang sambil terus merapatkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu sambil menghentikan sementara waktu kulumannya. Ketika ia merasakan akan orgasme.

"Nanang... Tante sudah tidak tahan lagi nich.." diiringi dengan sedotan yang dilakukan oleh tantenya itu karena tantenya ternyata sangat mahir dalam mengulum batang kemaluannya sementara tangannya dengan aktif mempermainkan sisi-sisi batang kemaluan Nanang sehingga Nanang dibuatnya tidak berdaya.

"Aduh . aduh.. Tante nikmat sekalii..." erang tantenya semakin menjadi-jadi. Hampir tiga kali Tante Rani merintih sambil mengerang. "Aduuh Rieee.. terus tekan-tekan pantat Tante.." desah Tante Rani sambil terus menggesek-gesekkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu.

Nanang meraba kemaluan tantenya, ternyata kemaluan Tante Rani sudah basah oleh cairan-cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

"Nanange... nah itu terus Riee.. terus.." erang Tante Rani sambil tidak henti-hentinya mengulum batang kemaluan Nanang.

"Kamu kok kuat sekali Riee," bisik tante rRni dengan nafas yang terengah-engah sambil terus mengulum batang kemaluan Nanang. Tante Rani setengah tidak percaya dengan kuluman yang dilakukannya karena belum mampu membuat Nanang keluar sperma.

Nanang berguman, "Belum tahu dia, ini belum seberapa. Tante pasti sudah keluar lebih dari empat kali terbukti dengan bantal yang digunakan untuk mengganjal liang kewanitaannya basah dengan cairan yang keluar seperti air hujan yang sangat deras."

Melihat batang kemaluan Nanang yang masih tegak Tante Rani semakin bernafsu, ia langsung bangkit dari posisi telungkup dengan berdiri sambil berusaha membuka baju Nanang yang masih melekat di badannya.

"Buka yaa Sayang bajunya," pinta Tante Rani sambil membuka baju Nanang perlahan namun pasti. Setelah baju Nanang terbuka, Tante Rani membuka juga celana pendek Nanang agar posisinya tidak terganggu.

Lalu Tante Rani membuka dasternya dengan kedua tangannya, ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di depan Nanang. Melihat dua gunung yang telah merekah oleh gesekan sofa dan liang kewanitaan tantenya yang merah ranum akibat gesekan bantal sofa, Ari menelan ludah. Ia tidak membayangkan ternyata tantenya mempunyai tubuh yang indah. Ditambah lagi ia sangat terampil dalam memainkan batang kemaluan laki-laki.

Masih dengan posisi duduk, tantenya sekarang ada di atas permadani dan ia langsung menghisap kembali batang kemaluan Nanang sambil tangannya bergantian meraba-raba sisi batang kemaluan Nanang dan terus mengulumnya seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen dengan penuh gairah.

Dengan bantuan payudaranya yang besar, Tante Rani menggesek-gesek payudaranya di belahan batang kemaluan Nanang. Dengan keadaan itu Nanang mengerang kuat sambil berkata, "Aduh Tante.. terus Tante.." Mendengar erangan Nanang, Tante Rani tersenyum dan langsung mempercepat gesekannya.

Melihat Nanang yang akan keluar, Tante Rani dengan cepat merubah posisi semula dengan mengulum batang kemaluan dengan sangat liar. Sehingga warna batang kemaluan Nanang menjadi kemerah-merahan dan di dalam batang kemaluannya ada denyutan-denyutan yang sangat tidak teratur.

Nanang menahan nikmat yang tiada tara sambil berkata, "Terus Tante.. terus Tante..", Dan Nanang pun mendekap kepala tantenya agar masuk ke dalam batang kemaluannya dan semprotan yang maha dahsyat keluar di dalam mulut Tante Rani yang merekah.

Mendapatkan semburan lahar panas itu, Tante Rani kegirangan dan langsung menelannya dan menjilat semua yang ada di dalam batang kemaluan Nanang yang membuat Nanang meraung-raung kenikmatan. Terlihat dengan jelas tantenya memang sudah berpengalaman karena bila sperma sudah keluar dan batang kemaluan itu tetap disedotnya maka akan semakin nikmat dan semakin membuat badan menggigil.

Melihat itu Tante Rani semakin menjadi-jadi dengan terus menyedot batang kemaluan Nanang sampai keluar bunyi slurp..., slurp..., akibat sedotannya. Setelah puas menjilat sisa-sisa mani yang menempel di batang kemaluan Nanang, lalu Tante Rani kembali mengulum batang kejantanan Nanang dengan mulutnya yang seksi.

Melihat batang kemaluan Nanang yang masih memberikan perlawanan, Tante Rani bangkit sambil berkata, "Gila kamu Rieee.. kamu masih menantang tantemu ini yaah.. Tante sudah keluar hampir empat kali kamu masih menantangnya.

" Mendengar tantangan itu, Nanang hanya tersenyum saja dan terlihat Tante Rani mendekat ke hadapan Nanang sambil mengarahkan liang kewanitaannya untuk melahap batang kemaluan Nanang. Sebelum memasukkan batang kemaluan Nanang ke liang kewanitaannya, Tante Rani terlebih dahulu memberikan ciuman yang sangat mesra dan Nanang pun membalasnya dengan hangat.

Saling pagut terjadi untuk yang kedua kalinya, lidah mereka saling bersatu dan saling menyedot. Tante Rani semakin tergila-gila sehingga liang kewanitaannya yang tadinya menempel di atas batang kemaluan Nanang sekarang tergeser ke belangkang sehingga batang kemaluan Nanang tergesek-gesek oleh liang kewanitaannya yang telah basah itu.

Mendapat perlakuan itu Nanang mengerang kenikmatan. "Aduuh Tante..." sambil melepaskan pagutan yang telah berjalan cukup lama.

"Clepp..." suara yang keluar dari beradunya dua surga dunia itu, perlahan namun pasti Tante Rani mendorongnya masuk ke lembah surganya. Dorongan itu perlahan-lahan membuat seluruh urat nadi Nanang bergetar.

Mata Tante Rani dipejamkan sambil terus mendorong pantatnya ke bawah sehingga liang kewanitaan Tante Rani telah berhasil menelan semua batang kemaluan Nanang. Tante Rani pun terlihat menahan nikmat yang tiada tara.

"Nanangee..." rintihan Tante Rani semakin menjadi ketika liang senggamanya telah melahap semua batang kemaluan Nanang. Tante Rani diam untuk beberapa saat sambil menikmati batang kemaluan Nanang yang sudah terkubur di dalam liang kewanitaannya.

"Riee, Tante sudah tidak kuat lagi... Sayang.." desah Tante Rani sambil menggerakan-gerakkan pantatnya ke samping kiri dan kanan. Mulut tantenya terus mengaduh, mengomel sambil terus pantatnya digeser ke kiri dan ke kanan.

Mendapatkan permainan itu Nanang mendesir, "Aduh Tante... terus Tante.." mendengar itu Tante Rani terus menggeser-geserkan pantatnya. Di dalam liang senggama tantenya ada tarik-menarik antara batang kemaluan Nanang dan liang kewanitaan tantenya yang sangat kuat, mengikat batang kemaluan Nanang dengan liang senggama Tante Rani. Kuatnya tarikan itu dimungkinkan karena ukuran batang kemaluan Nanang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan milik Om Budiman.

Goyangan pantatnya semakin liar dan Nanang mendekap tubuh tantenya dengan mengikuti gerakannya yang sangat liar itu. Kucuran keringat telah berhamburan dan beradunya pantat Tante Rani dengan paha Nanang menimbulkan bunyi yang sangat menggairahkan, "Prut.. prat.. pret.." Tangan Nanang merangkul tantenya dengan erat.

Pergerakan mereka semakin liar dan semakin membuat saling mengerang kenikmatan entah berapa kali Tante Rani mengucurkan cairan di dalam liang kewanitaannya yang terhalang oleh batang kemaluan Nanang.

Tante Rani mengerang kenikmatan yang tiada taranya dan puncak dari kenikmatan itu kami rasakan ketika Tante Rani berkata di dekat telingan Nanang. "Nanangee..." suara Tante Rani bergetar, "Kamu kalau mau keluar, kita keluarnya bareng-bareng yaaah". "Iya Tante..." jawab Nanang.

Selang beberapa menit Nanang merasakan akan keluar dan tantenya mengetahui, "Kamu mau keluar yaaa." Nanang merangkul Tante Rani dengan kuatnya tetapi kedua pantatnya masih terus menusuk-nusuk liang kewanitaan Tantenya, begitu juga dengan Tante Rani rangkulanya tidak membuat ia melupakan gigitannya terhadap batang kemaluan Nanang.

Sambil terus merapatkan rangkulan. Suara Nanang keluar dengan keras, "Tanteee.. Tanteee.." dan begitu juga Tante Rani mengerang keras, "Rieee...". Sambil keduanya berusaha mengencangkan rangkulannya dan merapatkan batang kemaluan dan liang kewanitaannya sehingga betul-betul rapat membuat hampir biji batang kemaluan Nanang masuk ke dalam liang senggama Tante Rani.

Akhirnya Nanang dan Tante Rani diam sesaat menikmati semburan lahar panas yang beradu di dalam liang sorga Tante Rani. Masih dalam posisi Tante Rani duduk di pangkuan Nanang. Tante Rani tersenyum, "Kamu hebat Nanang seperti kuda binal dan ternyata kepunyaan kamu lebih besar dari suaminya dan sangat menggairahkan."

"Kamu sebetulnya sudah tahu keinginan Tante dari dulu ya, tapi kamu berusaha mengelaknya yaa.." goda Tante Rani. Nanang hanya tersenyum di goda begitu. Tante Rani lalu mencium kening Nanang. Kurang lebih Lima menit batang kemaluan Nanang yang sudah mengeluarkan lahar panas bersemayam di liang kewanitaan Tante Rani, lalu Tante Rani bangkit sambil melihat batang kemaluan Nanang.

Melihat batang kemaluan Nanang yang mengecil, Tante Rani tersenyum gembira karena dalam pikirannya bila batang kemaluannya masih berdiri maka ia harus terus berusaha membuat batang kemaluan Nanang tidak berdiri lagi.

Untuk menyakinkannya itu, tangan Tante Rani meraba-raba batang kemaluan Nanang dan menijit-mijitnya dan ternyata setelah dipijit-pijit batang kemaluan Nanang tidak mau berdiri lagi.

"Aduh untung batang kemaluanmu Rieee... tidak hidup lagi," bisik Tante Rani mesra sambil berdiri di hadapan Nanang, "Soalnya kalau masih berdiri, Tante sudah tidak kuat Rieee" lanjutnya sambil tersenyum dan Duduk di sebelah Nanang. Sesudah Tante Rani dan Nanang berpanutan mereka pun naik ke atas dan masuk kamar-masing-masing.

Pagi-pagi sekali Nanang bangun dari tempat tidur karena mungkin sudah kebiasaannya bangun pagi, meskipun badannya ingin tidur tapi matanya terus saja melek. Akhirnya Nanang jalan-jalan di taman untuk mengisi kegiatan agar badannya sedikit segar dan selanjutnya badannya dapat diajak untuk tidur kembali karena pada hari itu Nanang tidak ada kuliah.

Kebiasaan lari pagi yang sering dilakukan diwaktu pagi pada saat itu tidak dilakukannya karena badannya terasa masih lemas akibat pertarungan tadi malam dengan tantenya.

Lalu Nanang pun berjalan menuju kolam, tidak dibanyangkan sebelumnya ternyata Tante Rani ada di kolam sedang berenang. Tante Rani mengenakan celana renang warna merah dan BH warna merah pula. Melihat kedatangan Nanang.

Tante Rani mengajaknya berenang. Nanang hanya tersenyum dan berkata, "Nggak ah Tante, Saya malas ke atasnya." Mendapat jawaban itu, Tante Rani hanya tersenyum, soalnya Tante Rani mengetahui Nanang tidak menggunakan celana renang.

"Sudahlah pakai celana dalam aja," pinta Tante Rani. Tantenya yang terus meminta Nanang untuk berenang. Akhirnya iapun membuka baju dan celana pendeknya yang tinggal melekat hanya celana dalamnya yang berwarna biru.

Celana dalam warna biru menempel rapat menutupi batang kemaluan Nanang yang kedinginan. Loncatan yang sangat indah diperlihatkan oleh Nanang sambil mendekati Tante Rani, yang malah menjauh dan mengguyurkan air ke wajah Nanang.

Sehingga di dalam kolam renang itu Tante Rani menjadi kejaran Nanang yang ingin membalasnya. Mereka saling mengejar dan saling mencipratkan air seperti anak kecil. Karena kecapaian, akhinya Tante Rani dapat juga tertangkap. Nanang langsung memeluknya erat-erat, pelukan Nanang membuat Tante Rani tidak dapat lagi menghindar.

"Udah akh Nanang.. Tante capek," seru mesra Tante Rani sambil membalikkan badannya. Nanang dan Tante Rani masih berada di dalam genangan kolam renang. "Kamu tidak kuliah Rieee," tanya Tante Rani.

"Tidak," jawab Nanang pendek sambil meraba bukit kemaluan Tante Rani. Terkena rabaan itu Tante Rani malah tersenyum sambil memberikan ciuman yang sangat cepat dan nakal lalu dengan cepatnya ia melepaskan ciuman itu dan pergi menjauhi Nanang. Mendapatkan perlakuan itu Nanang menjadi semakin menjadi bernafsu dan terus memburu tantenya. Dan pada akhirnya tantenya tertangkap juga.

"Sudah ah... Tante sekarang mau ke kantor dulu," kata Tante Rani sambil sedikit menjauh dari Nanang.

Ketika jaraknya lebih dari satu meter Tante Rani tertawa geli melihat Nanang yang celana dalamnya telah melorot di antara kedua kakinya dengan batang kemaluannya yang sudah bangkit dari tidurnya.

"Kamu tidak sadar Nanang, celana dalammu sudah ada di bawah lutut.." Mendengar itu Nanang langsung mendekati Tante Rani sambil mendekapnya.

Tante Rani hanya tersenyum. "Kasihan kamu, adikmu sudah bangun lagi, tapi Tante tidak bisa membantumu karena Tante harus sudah pergi," kata Tante Rani sambil meraba batang kemaluan Nanang yang sudah menegang kembali.

Mendengar itu Nanang hanya melongo kaget. "Akhh, Tante masa tidak punya waktu hanya beberapa menit saja," kata Nanang sambil tangannya berusaha membuka celana renang Tante Rani yang berwarna merah.

Mendapat perlakuan itu Tante Rani hanya diam dan ia terus mencium Nanang sambiil berkata, "Iyaaa deh.. tapi cepat, yaa.. jangan lama-lama, nanti ketahuan orang lain bisa gawat."

Tante Rani membuka celana renangnya dan memegangnya sambil merangkul Nanang. Batang kemaluan Nanang langsung masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Rani yang sudah dibuka lebar-lebar dengan posisi kedua kakinya menempel di pundak Nanang.

Beberapa detik kemudian, setelah liang kewanitaan Tante Rani telah melahap semua batang kemaluan Nanang dan dirasakannya batang kemaluan Nanang sudah menegang. Tante Rani menciumnya dengan cepat dan langsung mendorong Nanang sambil pergi dan terseyum manis meninggalkan Nanang yang tampak kebingungan dengan batang kemaluannya yang sedang menegang.

Mendapat perlakuan itu Nanang menjadi tambah bernafsu kepada Tante Rani, dan ia berjanji kalau ada kesempatan lagi ia akan menghabisinya sampai ia merasa kelelahan. Lalu Nanang langsung pergi meninggalkan kolam itu untuk membersihkan badannya.

Setelah di kamar, Nanang langsung membuka semua bajunya yang menjadi basah itu, ia langsung masuk kamar mandi dan menggosok badan dengan sabun. Ketika akan membersihkan badannya, air yang ada di kamar mandinya ternyata tidak berjalan seperti biasanya.

Dan langsung Nanang teringat akan keberadaan kamar Diah. Nanang lalu pergi keluar kamar dengan lilitan handuk yang menempel di tubuhnya. Wajahnya penuh dengan sabun mandi. "Diah.. Diah.. Diah.." teriak Nanang sambil mengetuk pintu kamar Diah. "Masuk Kak Nanange, tidak dikunci." balas Diah dari dalam kamar.

Didapatinya ternyata Diah masih melilitkan badan dengan selimut dengan tangannya yang sedang asyik memainkan kemaluannya. Permainan ini baru didapatkannya ketika ia melihat adegan tadi malam antara kakaknya dengan Nanang dan kejadian itu membuat ia merasakan tentang sesuatu yang selama ini diidam-idamkan oleh setiap manusia.

"Ada apa Kak Nanang," kata Diah sambil terus berpura-pura menutup badannya dengan selimut karena takut ketahuan bahwa dirinya sedang asyik memainkan kemaluannya yang sudah membasah sejak tadi malam karena melihat kejadiaan yang dilakukan kakaknya dengan Nanang.

"Anu Diah.. Kakak mau ikut mandi karena kamar mandi Nanang airnya tidak keluar." Memang Diah melihat dengan jelas bahwa badan Nanang dipenuhi oleh sabun tapi yang diperhatikan Diah bukannya badan tapi Diah memperhatikan diantara selangkangannya yang kelihatan mencuat.

Iseng-iseng Diah menanyakan tentang apa yang mengganjalnya dalam lilitan handuk itu. Mendengar pertanyaan itu niat Nanang yang akan menerangkan tentang biologi ternyata langsung kesampaian dan Nanang pun langsung memperlihatkannya sambil memengang batang kemaluannya,

"Ini namanya penis.. Sayang," kata Nanang yang langsung menuju kamar mandi karena melihat Diah menutup wajahnya dengan selimut.

Melihat batang kemaluan Nanang yang sedang menegang itu Diah membayangkan bila ia mengulumnya seperti yang dilakukan kakaknya.

Keringat dingin keluar di sekujur tubuh Diah yang membayangkan batang kemaluan Nanang dan ia ingin sekali seperti yang dilakukan oleh kakaknya juga ia melakukannya. Mata Diah terus memandang Nanang yang sedang mandi sambil tangan terus bergerak mengusap-usap kemaluannya.

Akhirnya karena Diah sudah dipuncak kenikmatan, ia mengerang akibat dari permainan tangannya itu telah berhasil dirasakannya .Dengan beraninya Diah pergi memasuki kamar mandi untuk ikut mandi bersama Nanang. Melihat kedatangan Diah ke kamar mandi, Nanang hanya tersenyum. "Kamu juga mau mandi Yun," kata Nanang sambil mencubit pinggang Diah.

Diah yang sudah dipuncak kenikmatan itu hanya tersenyum sambil melihat batang kemaluan Nanang yang masih mengeras.

"Kak boleh nggak Diah mengelus-elus barang itu," bisik Diah sambil menunjuknya dengan jari manisnya. Mendengar permintaan itu Nanang langsung tersenyum nakal, ternyata selama ini apa yang diidam-idamkannya akan mendapatkan hasilnya.

Dalam pikiran Nanang, Diah sekarang mungkin telah mengetahui akan kenikmatan dunia. Tanpa diperintah lagi Nanang langsung mendekatkan batang kemaluannya ke tangan Diah dan menuntun cara mengelus-elusnya. Tangan Diah yang baru pertama kali meraba kepunyaan laki-laki itu sedikit canggung, tapi ia berusaha meremasnya seperti meremas pisang dengan tenaga yang sangat kuat hingga membuat Nanang kesakitan.

"Aduh.. jangan keras-keras dong Diah, nanti batang kemaluannya patah." Mendengar itu Diah menjadi sedikit kaget lalu Ari membatunya untuk memainkan batang kemaluannya dengan lembut.

Tangan Diah dituntunnya untuk meraba batang kemaluan Nanang dengan halus lalu batang kemaluan Nanang didekatkan ke wajah Diah agar mengulumnya. Diah hanya menatapnya tanpa tahu harus berbuat apa.

Lalu Nanang memerintahkan untuk mengulumnya seperti mengulum ice crem, atau mengulumnya seperti mengulum permen karet. Diperintah tersebut Diah langsung menurut, mula-mula ia mengulum kepala batang kemaluan Nanang lalu Diah memasukkan semua batang kemaluan Nanang ke dalam mulutnya. Tapi belum juga berapa detik Diah terbatuk-batuk karena kehabisan nafas dan mungkin juga karena nafsunya terlalu besar.

Setelah sedikit tenang, Diah mengulum lagi batang kemaluan Nanang tanpa diperintah sambil pinggul Diah bergoyang menyentuh kaki Nanang. Melihat kejadian itu Nanang akhirnya menghentikan kuluman Diah dan langsung mengangkat Diah dan membawanya ke ranjang yang ada di samping kamar mandi.

Sesampainya di pinggir ranjang, dengan hangat Diah dipeluk oleh Nanang dan Diah pun membalas pelukan Nanang. Bibir Diah yang polos tanpa liptik dicium Nanang dengan penuh kehangatan dan kelembutan.

Dicium dengan penuh kehangatan itu Diah untuk beberapa saat terdiam seperti patung tapi akhirnya naluri seksnya keluar juga, ia mengikuti apa yang dicium oleh Nanang. Bila Nanang menjulurkan lidahnya maka Diah pun sama menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Nanang.

Dengan permainan itu Diah sangat menikmatinya apalagi Nanang yang bisa dikatakan telah dilatih oleh kakaknya yang telah berpengalaman.

Kecupan Diah kadang kala keluar suara yang keras karena kehabisan nafas. "Pek.. pek.." suara bibir Diah mengeluarkan suara yang membuat Nanang semakin terangsang. Mendengar suara itu Nanang tersenyum sambil terus memagutnya.

Tangan Nanang dengan terampil telah membuka daster putih yang dipakai Diah. Dengan gerakan yang sangat halus, Nanang menuntun Diah agar duduk di pinggir ranjang dan Diah pun mengetahui keinginan Nanang itu. Bibir Diah yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagut Nanang dengan posisi Diah tertindih oleh Nanang. Tangan Diah terus merangkul Nanang sambil bukit kemaluannya menggesek-gesekkan sekenanya.

Lalu Nanang membalikkan tubuh Diah sehingga kini Diah berada di atas tubuh Nanang, dengan perlahan tangan Nanang membuka BH putih yang masih melekat di tubuh Diah. Setelah berhasil membuka BH yang dikenakan Diah, Nanang pun membuka CD putih yang membungkus bukit kemaluan Diah dilanjutkan menggesek-gesekkan sekenanya.

Erangan panjang keluar dari mulut Diah. "Auuu..." sambil mendekap Nanang keras-keras. Melihat itu Nanang semakin bersemangat. Setelah Nanang berhasil membuka semua pakaian yang dikenakan Diah, terlihat Diah sedikit tenang iapun kembali membalikkan Diah sehingga ia sekarang berada di atas tubuh Diah.

Nanang menghentikan pagutan bibirnya ia melanjutkan pagutannya ke bukit kemaluan Diah yang telah terbuka dengan bebas. Dipandanginya bukit kemaluan Diah yang kecil tapi penuh tantangan yang baru ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang kecil-kecil. Kaki Diah direnggangkan oleh Nanang. Pagutan Nanang beganti pada bibir kecil kepunyaan Diah.

Pantat Diah terangkat dengan sendirinya ketika bibir Nanang mengulum bukit kemaluan kecilnya yang telah basah oleh cairan. Harum bukit kemaluan perawan membuat batang kemaluan Nanang semakin ingin langsung masuk ke sarangnya tapi Nanang kasihan melihat Diah karena kemaluannya belum juga merekah.

Jilatan bibir Nanang yang mengenai klitoris Diah membuat Diah menjepit wajah Nanang. Semburan panas keluar dari bibir bukit kemaluan Diah. Diah hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang baru pertama kali didapatkanya.

Lalu Nanang merasa yakin bahwa ini sudah waktunya, ditambah lagi batang kemaluannya yang sudah telalu lama menengang. Nanang menarik tubuh Diah agar pantatnya pas tepat di pinggir ranjang. Kaki Diah menyentuh lantai dan Nanang berdiri diantara kedua paha Diah.

Melihat kondisi tubuh Diah yang sudah tidak menggunakan apa-apa lagi ditambah dengan pemandangan bukit kemaluan Diah yang sempit tapi basah oleh cairan yang keluar dari bibir kecilnya membuat Nanang menahan nafas.

Nanang berdiri, dan batang kemaluannya yang besar itu diarahkan ke bukit kemaluan Diah. Melihat itu Diah sedikit kaget dan merasa takut Diah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Melihat gejala itu Nanang hanya tersenyum dan ia sedikit lebih melebarkan paha Diah sehingga klitorisnya terlihat dengan jelas.

Ia menggesek-gesekkan batang kemaluannya di bibir kemaluan Diah. Sambil menggesek-gesek batang kemaluan, Nanang kembali mendekap Diah sambil membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Melihat Nanang yang membuka tangannya, Diah langsung merangkulnya dan mencium bibir Nanang. Pagutan pun kembali terjadi, bibir Diah dengan lahapnya terus memagut bibir Nanang.

Suara erangan kembali keluar lagi dari mulut Diah. "Aduhh... Kaak..." erang Diah sambil merangkul tubuh Nanang dengan keras.

Nanang meraba-raba bukit kemaluan Diah dengan batang kemaluannya setelah yakin akan lubang kemaluan Diah, Nanang mendorongnya perlahan dan ketika kepala kejantanan Nanang masuk ke liang senggama Diah. Diah mengerang kesakitan, "Kak.. aduh sakit, Kak..."

Mendengar rintihan itu, Nanang membiarkan kepala kemaluannya ada di dalam liang senggama Diah dan Nanang terus memberikan pagutannya. Kuluman bibir Diah dan Nanang pun berjalan lagi. Dada Nanang yang besar terus digesek-gesekkan ke payudara Diah yang sudah mengeras.

Diah yang menahan rasa sakit yang telah bercampur dengan rasa nikmat akhirnya mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk menghilangkan rasa sakit di liang senggamanya dan itu ternyata membantunya dan sekarang menjadi tambah nikmat.

Kepala kemaluan Nanang yang besar baru masuk ke liang kewanitaan Diah, tapi jepitan liang kemaluan Diah begitu keras dirasakan oleh batang kemaluan Nanang.

Sambil mencium telinga kiri Diah, Nanang kembali berusaha memasukkan batang kemaluannya ke liang senggama Diah. "Aduh.. aduh.. aduh.. Kak," Mendengar rintihan itu Nanang berkata kepada Diah. "Kamu sakit Diah," bisik Nanang di telinga Diah. "Nggak tahu Kaak ini bukan seperti sakit biasa, sakit tapi nikmat.."

Mendengar penjelasan itu, Nanang terus memasukkan batang kemaluannya sehingga sekarang kepala kemaluannya sudah masuk semua ke dalam liang senggama Diah. Batang kemaluan Nanang sudah masuk ke liang senggama Diah hampir setengahnya.

Batang kemaluannya sudah ditelan oleh liang kemaluan Diah, kaki Diah semakin diangkat dan tertumpang di punggung Nanang. Tiba-tiba tubuh Diah bergetar sambil merangkul Nanang dengan kuat.

"Aduhhh..." dan cairan hangat keluar dari bibir kemaluan Diah, Nanang dapat merasakan hal itu melalui kepala kemaluannya yang tertancap di bukit kemaluan Diah. Lipatan paha Diah telah terguyur oleh keringat yang keluar dari tubuh mereka berdua.

Mendapat guyuran air di dalam bukit kemaluan itu, Nanang lalu memasukkan semua batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Diah. Dengan satu kali hentakan. "Preeet..." Diah melotot menahan kesakitan yang bercampur dengan kenikmatan yang tidak mungkin didapatkan selain dengan Nanang.

"Auh.. auh.. auh.." suara itu keluar dari mulut kecil Diah setelah seluruh batang kejantanan Nanang berada di dalam lembah kenikmatan Diah. "Kak, Badan Diah sesak, sulit bernafas," kata Diah sambil menahan rasa nikmat yang tiada taranya.

Mendengar itu lalu Nanang membalikkan tubuh Diah agar ia berada di atas Ari. Mendapatkan posisi itu Diah seperti pasrah dan tidak melakukan gerakan apapun selain mendekap tubuh Nanang sambil meraung-raung kenikmatan yang tiada taranya yang baru kali ini dirasakannya.

Diah dan Nanang terdiam kurang lebih lima menit. "Diah, sekarang bagaimana badanmu," kata Nanang yang melihat Diah sekarang sudah mulai menggoyang-goyangkan pantatnya dengan pelan-pelan.

"Udah agak enakan Kak," balas Diah sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan serangan itu Nanang langsung mengikuti gerakan goyangan itu dan goyangan Nanang dari atas ke bawah.

Lipantan-lipatan kehangatan tercipta di antara selangkangan Diah dan Nanang. Sambil menggoyangkan pantatnya, mulut Diah tetap mengaduh, "Aduhhh..." Merasakan nikmat yang telah menyebar ke seluruh badannya. Tanpa disadari sebelumnya oleh Nanang.

Diah dengan ganasnya menggoyang-gonyangkan pantatnya ke samping dan ke kiri membuat Nanang kewalahan ditambah lagi kuatnya jepitan bukit kemaluan Diah yang semakin menjepit seperti tang yang sedang mencepit paku agar paku itu putus.

Beberapa menit kemudian Nanang memeluk badan Diah dengan eratnya dan batang kemaluannya berusaha ditekan ke atas membuat pantat Diah terangkat. Semburan panas pun masuk ke bukit kemaluan Diah yang kecil itu. Mendapat semburan panas yang sangat kencang, Diah mendesis kenikmatan sambil mengeram, "Aduhh... aduh.. Kak.."

Selang beberapa menit Nanang diam sambil memeluk Diah yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat. Setelah badannya merasa sudah agak baik, Nanang membalikkan tubuh Diah sehingga sekarang tubuh Diah berada di bawah Nanang.

Batang kemaluan Nanang masih menancap keras di lembah kemaluan Diah meskipun sudah mengeluarkan sperma yang banyak. Lalu kaki Diah diangkat oleh Nanang dan disilangkan di pinggul. Nanang mengeluarkan batang kemaluannya yang ada di dalam liang senggama Diah.

Mendapat hal itu mata Diah tertutup sambil membolak-balikkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu dengan perlahan memasukkan lagi batang kemaluannya ke dalam liang senggama Diah, turun naik batang kemaluan Nanang di dalam liang perawan Diah membuat Diah beberapa kali mengerang dan menahan rasa sakit yang bercampur dengan nikmatnya dunia.

Tarikan bukit kemaluan Diah yang tadinya kencang pelan- pelan berkurang seiring dengan berkurangnya tenaga yang terkuras habis dan selanjutnya Nanang mengerang-erang sambil memeluk tubuh Diah dan Diah pun sama mengeluarkan erangan yang begitu panjang, keduanya sedang mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya.

Nanang mendekap Diah sambil menikmati semburan lahar panas dan keluarnya sperma dalam batang kemaluan Nanang dan Diah pun sama menikmati lahar panas yang ada dilembah kenikmatannya. Kurang lebih lima menit, Nanang memeluk Diah tanpa adanya gerakan begitu juga Diah hanya memeluk Nanang.

Dirasakan oleh Nanang bahwa batang kemaluannya mengecil di dalam liang kemaluan Diah dan setelah merasa batang kemaluannya betul-betul mengecil Nanang menjatuhkan tubuhnya di samping Diah. Nanang mencium kening Diah. Diah membalasnya dengan rintihan penyesalan, seharusnya Nanang bertanggung jawab atas hilangnya perawan yang dimiliki Diah.

Mendengar itu Nanang hanya tersenyum karena memang selama ini Nanang mendambakan istri seperti Diah ditambah lagi ia mengetahui bila hidup dengan Diah maka ia akan mendapatkan segalanya. Nanang mengucapkan selamat bobo kepada Diah yang langsung tertidur kecapaian dan Nanang langsung keluar dari kamar Diah setelah Nanang menggunakan pakaiannya kembali.

Nanang masuk ke dapur, didapatnya tantenya sedang dalam keadaan menungging mengambil sesuatu. Terlihat dengan jelas celana merah muda yang dipakai tantenya. Tante Rani dibuat kaget karena Nanang langsung meraba liang kewanitaannya yang terbungkus CD merah muda sambil menegurnya. "Tante sudah pulang," tanya Nanang.

Sambil melepaskan rabaan tangannya di liang kewanitaan tantenya. Lalu Nanang membuka kulkas untuk mencari air putih. "Iya, Tante hanya sebentar kok. Soalnya Tante kasihan dengan burung kamu yang tadi Tante tinggalkan dalam keadaan menantang," jawab Tante Rani sambil tersenyum.

"Bagaimana sekarang Nanang burungnya, sudah mendapatkan sarang yang baru ya.." Mendapat ejekan itu, Nanang langsung kaget.

"Ah Tante, mau cari sangkar di mana," jawab Nanang mengelak.

"Nanang kamu jangan mengelak, Tante tau kok.. kamu sudah mendapatkan sarang yang baru jadi kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak kamu akan Tante laporkan sama Oom dan kedua orang tuanmu bahwa kamu telah bermain gila bersama Diah dan Tante."

Mendengar itu, Nanang langsung diam dan ia akan menikahi Diah seperti yang dijanjikanya. Mendengar hal itu Tante Rani tersenyum dan memberikan kecupan yang mesra kepada Nanang sambil meraba batang kemaluan Nanang yang sudah tidak kuat untuk berdiri.

Melihat batang kemaluan Nanang yang sudah tidak kuat berdiri itu Tante Rani tersenyum. "Pasti adikku dibuatnya KO sama kamu yaa... Buktinya burung kamu tidak mau berdiri," goda Tante Rani. "Ahh nggak Tante, biasa saja kok."

Tante Rani meninggalkan Nanang, sambil mewanti-wanti agar menikahi adiknya. Akhirnya pernikahan Diah dengan Nanang dilakukan dengan pernikahan dibawah tangan atau pernikahan secara agama tetapi dengan tanpa melalui KUA karena Diah masih dibawah umur.

Tamat

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil