Selasa, 16 Februari 2016

Cerita Sex Nakal Penuh Nafsu 1st

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Nakal Penuh Nafsu 1st. Pengalaman pertama yang aku alami dengan cewek terlebih dahulu perkenalkan namaku Ari umurku 24 tahun dan aku baru habis di wisuda, dan kejadian ini terjadi beberapa minggu yang lalu, aku pun masih ingat betul setiap per adegannya mungkin agak panjang ceritaku ini tapi semoga pembaca setia bisa menyelesaikan sampai tamat.

Cerita Dewasa Nakal Penuh Nafsu 1st

Cerita Sex Perawan, ngentu perawan, tempek perawan, perawan ngesex, perawan dientot, kentu perawan, perawan kentu, perawan hot, cerita perawan
Cerita Mesum Nakal Penuh Nafsu 1st
Waktu itu memang kebetulan orangtua dan kakak saya ada resepsi keluarga di Jakarta yang cukup lama, sehingga saya kebagian tugas untuk menjaga rumah kakak saya yang kosong. Saya sudah lupa hari apa waktu mengenal gadis itu tapi yang jelas sehari setelah mereka semua berangkat ke Jakarta.

Hari sudah menjelang siang waktu saya baru saja bangun tidur, setelah mandi saya bergegas berangkat pulang ke rumah (rumah orangtua) untuk makan pagi, karena saya malas untuk masak sendiri di sini (tempat kakak), sedangkan di rumah orangtua kini hanya tinggal pembantu saja yang menyiapkan semua sarapanku.

Selesai sarapan, seperti biasa saya duduk santai di teras depan rumah sambil membaca koran Jawa Pos, memang semenjak lulus kuliah keseharian saya cuman santai saja sambil cari peluang kerja, maklumlah lagi Krismon. Paling-paling tiap hari rutinitas saya cuma surfing Internet di rumah, atau main game, atau juga nonton film VCD kalau kebetulan sohib saya pinjam dari rental.

Terus terang mungkin saya ini tergolong maniak seks, soalnya nggak bosen-bosennya rasanya surfing masalah seks di Internet (Bubblegumtv, babylon-x, dll). Saya selalu terangsang dengan segala liputan seks, saya selalu membayangkan kepingin senggama dengan bintang-bintang wanita cantik seperti yang ada di VCD atau perempuan cantik yang kebetulan saya temui di mal atau plaza

Padahal selama saya pacaran atau bergaul dengan wanita nggak pernah namanya cium bibir, pegang paha atau buah dada apalagi sampai petting atau senggama. Yaah, paling-paling cuma pegang tangan, saling peluk, nggak lebih, swear!

Nggak tahu yaah, tapi rasanya waktu bersama mereka, saya justru malah kasihan sekali dan sayang, nggak kepingin melukai perasaan mereka, soalnya kalau sudah nafsu saya ngeri kalau lupa diri. Ngeri kalau dituntut nikah nantinya. Nah, sampai akhirnya saya putus dengan pacar saya dan lulus kuliah, saya belum dapat gantinya juga sampai sekarang.

Saking asyiknya baca koran nggak terasa hari sudah semakin siang dan saya tak menyadari itu sampai akhirnya ada suara cekikikan menggodaku, "Cowoook..", saya agak kaget dan melihat siapa yang ngomong tadi, eeh ternyata ada serombongan 3 orang perempuan anak sekolah yang lewat depan rumahku.

Mungkin lagi pulang sekolah pikirku, aahh sialan ternyata yang menggodaku masih anak SMP, kelihatan dari rok seragamnya yang berwarna biru tua. Tapi iseng kuperhatikan wajah mereka satu persatu, cewek yang pertama biasa saja, yang kedua nggak cakep juga, tapi cewek yang ketiga eiits... mukanya manis juga, mirip salah satu vokalis bening, entah siapa namanya.

Alamak kupikir, ia tersenyum manis kepadaku dan kubalas senyumannya. mm... manis sekali dia walau masih SMP tapi tubuhnya cukup besar dan bongsor dibanding kedua temannya yang agak kurus. Ia berjalan bersama kedua temannya sambil cekikikan dan saling berbisik.

Wah, laku juga aku sama anak SMP pikirku, mungkin tampangku masih imut-imut. Sepeninggal mereka saya jadi nggak bisa tenang, teringat terus sama cewek SMP yang paling manis tadi. Anehnya, hanya memikirkannya saja tanpa terasa batang penisku mulai cenut-cenut persis kalau aku sedang nonton BF, tegang. Ampuun pikirku, aku kok terangsang sama anak SMP kenal saja nggak.

Tiba-tiba saja timbul pikiranku untuk bercinta dengannya, gila pikirku. Saya berusaha untuk menghilangkan pikiran kotor tersebut tapi toh tetap saja nggak bisa melupakan bayangan wajahnya. Baiklah, dalam hati akhirnya aku berniatan untuk berkenalanan dengan cewek SMP tadi besok siang, mudah-mudahan saja dia lewat sini lagi pikirku.

Keesokan harinya, sejak pagi aku sudah nongkrong di teras depan rumah nungguin dia, sambil baca koran sesekali aku melihat keluar pagar jangan-jangan dia sudah lewat. Lama sekali aku menunggu dia, khawatir kalau-kalau dia nggak lewat sini lagi. Tapi akhirnya kurang lebih jam setengah satu siang (hampir putus asa), kulihat ada seorang cewek anak SMP tentunya mulai melewati jalan depan rumah.

Segera aku meloncat dari kursi dan melongok keluar pagar, sambil pura-pura membuang bekas sobekan koran ke tempat sampah dan aku melirik ke samping, apa memang benar dia yang lewat. Eiits, ternyata benar, mana pulang sendirian lagi, sungguh kebetulan sekali pikirku.

Alamak manis sekali dia, kulitnya putih mulus lagi, wajahnya imut-imut sekali karena memang masih ABG, hidungnya kecil bangir lucu sekali, sedang rambutnya lurus panjang sebahu. Tubuhnya walaupun agak kecil tapi tidak kurus dan kelihatan seksi sekali, dan yang gemesi gundukan bulat di dadanya itu yang kelihatan agak besar dibanding tubuhnya yang kecil sehingga kelihatan sekali seragam sekolahnya itu agak mendesak ke depan di bagian dadanya. "Waah... nih cewek nyahoo juga buat ngesex", pikirku ngeres.

Dia agak kaget waktu melihatku tiba-tiba nongol keluar pagar, dan dia sedikit salah tingkah sewaktu merasa dirinya kuperhatikan. Untung saja dia nggak tahu pikiranku yang ngeres, kalau tahu bisa-bisa dia lari ngibrit barangkali. Sambil tersenyum manis kusapa dia.

"Hai... dik, pulang sekolah yaach.., sapaku seramah mungkin sambil tersenyum. Ia mendelik kaget mungkin tak menyangka aku akan menyapanya."

"Ehi, iya Mas .." katanya. Kelihatan sekali dia gugup waktu menjawab pertanyaanku. Mungkin saja dia malu soalnya kemarin ia sempat menggodaku, rasain!

"Kok pulangnya sendirian sih dik, temennya mana yang kemaren?" aku pura-pura polos.

"Eeh i..itu a..anu Mas.. saya pulang dulu Mas..." jawabnya makin gugup. Langkahnya jadi ragu untuk terus. Aku pun segera beranjak berdiri di depannya. Kesempatan pikirku.

"oooh... jadi sendirian nih.. sekolahnya dimana sih dik..?" pura-puraku terus.

"Itu di situ Mas... SMP Setia Budi." Dia semakin salah tingkah melihatku berdiri di hadapannya, sekaligus menghadang langkahnya.

"Ooo... SMP Setia Budi yang di depan situ yaach.... memangnya kelas berapa sih dik.." tanyaku terus memanfaatkan kesempatan.

"Mmph a..anu anu kelas dua Mmas..", jawabnya sedikit malu. Wajahnya sedikit memerah, namun jadi semakin manis saja kelihatannya. Bibirnya yang merah dan mungil tersenyum malu sambil memperlihatkan giginya yang putih.

"Iiih.. adik ini kok kelihatannya malu-malu sih, memangnya adik nggak suka bicara sama saya yaach", pancingku.

"Ooh... nnngg.. nggaak kok Mas..." jawabnya sambil tersenyum manis. Makin berani nih anak, bagus pikirku.

"Mmh... Mas boleh kenal nggak sama adik", pancingku kemudian.

"mm..." Ia nggak menjawab, tapi senyumnya semakin manis dan kedua tangannya saling meremas sambil diluruskan ke bawah tersipu malu.

"mm.. mm.. mm.."

"Kok cuman mm.. saja sih he.. he.. ya sudah deh kalau nggak boleh, Mas khan cuman nanya kalau..."

"mm... Aufa Mas", tiba-tiba ia memotong ucapanku sambil tersenyum manis tentunya.

"Ooo... Aufa toh, namanya bagus banget yaa..., oya kenalin deh namaku Ari", sahutku sembari kuulurkan tanganku kepadanya. Semula ia agak ragu, namun akhirnya ia meraih tangan kananku. Kujabat erat tangannya yang agak mungil, halus sekali cing, kaya tangan cewekku dulu.

"Mas Ari rumahnya di sini yaach..." tanyanya makin berani.

"Iyaa... memangnya kenapa?"

"Nggak kok, nggak pernah kelihatan sih Mas?"

"Kamu juga nggak pernah kelihatan, kok nanya?" candaku. Ia tertawa kecil, aku pun ikut tertawa.

Begitulah, tidak usah banyak cerita pembaca sekalian, semenjak itu aku dan dia semakin akrab dan setiap hari selalu janji ketemu di depan rumahku. Biasanya selepas pulang sekolah, aku pasti mengajaknya mampir dulu ngobrol di rumahku dulu, yang ternyata memang ia masih tetanggaku sendiri yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumahku.

Karena kebetulan rumahku sedang kosong hanya pembantuku saja yang tinggal sementara orangtuaku sendiri belum pulang, hal ini seakan menjadikan momen bagiku untuk lebih mengakrabinya. Walaupun usiaku dan dia berbeda sangat jauh, karena dia masih 14 tahun namun itu bukan menjadi masalah bagi kami untuk saling bertukar pikiran.

Ternyata dia malah kupikir terlalu dewasa untuk seusia dia, hal itu terbukti waktu pada hari kelima semenjak aku mengenalnya, hari itu Sabtu sepulang sekolah sengaja aku menjemputnya pulang dari sekolahnya.

Aufa tampak kaget melihatku berada di depan sekolah, namun kemudian ia jadi gembira sekali sewaktu kubilang aku ingin menjemputnya dan mengajaknya jalan-jalan. Ia mengenalkanku pada teman-teman ceweknya yang lain, tapi mana aku peduli wong temannya masih kelihatan bau kencur semua he.. he... Akhirnya setelah aku mengantarnya pulang berganti baju, dan sekedar berbasa-basi bersilat lidah dengan mamanya

Aku segera cabut membawanya ngeloyor keliling kotanaik motorku. Namun itu cuma basa-basiku saja, karena nggak sampai setengah jam, lalu ia kuajak pulang ke tempat kakakku yang memang juga kosong. Rencanaku memang sebelum orangtuaku pulang bersama saudara laki-lakiku, aku ingin lebih bebas berkencan ria dengan Aufa.

Pertimbanganku di rumah orangtua karena tempatnya di kampung yang ramai selain itu juga ada pembantu, jadi nggak enak dong kalau mengajak Aufa ngobrol di kamarku misalnya, bisa-bisa aku kena lapor orangtua, sedang tempat kakakku ada di daerah perumahan yang relatif sangat sepi karena memang penghuninya banyak yang kosong. Sehingga dengan demikian aku bisa bebas berbuat apa saja bersama Aufa.

Terus terang seminggu ini memang pikiranku lagi suntuk dan buntu, hal ini selalu terjadi bila nafsu seks-ku tak terlampiaskan. Maklum saja biasanya aku selalu ber-o-i-nani-keke bila terangsang, namun semenjak aku mengenal Aufa, aku jadi malas untuk berbuat hal memalukan itu, aku jadi ingin merasakan seks sesungguhnya yang selama ini aku belum pernah merasakannya sama sekali.

Kini kesempatan itu seolah telah datang, yang semestinya semenjak dulu aku lakukan. Aku menyesal kenapa dulu tak kuajak saja pacarku untuk ngesex, toh ia pasti mau melakukannya, karena pacarku sangat mencintaiku.

Sekaranglah saatnya aku harus melepaskan fantasi-fantasi semu itu. Aku tahu walaupun masih SMP Aufa telah naksir berat padaku, akupun begitu padanya walaupun hanya sekedar sebatas sayang padanya. Aku belum bisa mencintainya, karena bagaimanapun juga ia masih sangat muda dan ia tentu belum paham arti cinta sesungguhnya.

Bagiku ia hanya sekedar tempat berbagi suka dan canda. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang ketika kami berdua sampai di perumahan TS (singkatan) di sebelah utara kawasan kota Malang (Belimbing), tempat kakak laki-lakiku tinggal yang sedang kosong itu. Setelah menutup pagar depan, segera kuajak Aufa yang langsung menggelayut manja di sampingku untuk masuk ke dalam rumah.

Melihat ulahnya yang menggemaskan itu tanpa terasa batang penisku cenut-cenut mulai ereksi lagi. Aku segera memeluk tubuh bongsornya yang seksi itu dan dengan sedikit bernafsu segera kusosor saja pipinya yang putih mulus itu dengan bibirku. Aufa sangat terkejut melihat ulahku, ia segera menepiskan pipinya dari bibirku, aku jadi nggak enak dibuatnya.

"Eeeh.. Mas Ari... kok gitu sih ..." Aufa memandangku sambil melotot seakan menghakimiku. Namun aku dapat segera mengendalikan diri, sambil tersenyum manis aku segera meraih tangannya dan kutarik masuk ke dalam rumah.

Setelah menutup pintu terasa sekali di dalam suasana agak remang-remang karena memang pagi tadi sebelum balik ke rumah orangtua, gorden sengaja tak kubuka untuk jaga-jaga saja, sapa tahu ada maling.

Sambil tetap kupegang tangannya erat-erat, kutatap wajah manisnya yang sangat innocen itu, wajahnya masih cemberut dan kelihatan marah, tapi aku tahu bagaimanapun juga selama 5 hari ini aku sudah yakin kalau ia naksir berat kepadaku dan pasti ia sangat sayang kepadaku. Ini merupakan senjata utamaku untuk mendapatkan dirinya.

Sambil tetap tersenyum manis aku berkata padanya. "Aufa... itu tadi berarti Mas Ari sayaang sama Aufa, apa nggak boleh Mas Ari ngasih sun sayang?" rayuku.

"Mm.. Mas Ari gitu sih", Aufa seakan tetap merajuk kepadaku, ia menarik lepas tangannya dari genggamanku dan berjalan menuju ke sofa ruang tamu. Badannya yang hanya setinggi bahuku itu digoyangkan kesal

Sedangkan pinggulnya yang bulat kelihatan seksi sekali karena ia memakai celana ketat dari kain yang cukup tipis berwarna putih sehingga bentuk bokongnya yang bulat padat begitu kentara, goyangan pinggulnya sangat... sangat menawan dan bahkan saking ketatnya biasanya celana dalamnya sampai kelihatan sekali berbentuk segitiga. Pantatnya yang bulat serasi dengan kedua pahanya yang seksi, sedang kedua kakinya kelihatan agak kecil, maklum masih ABG tapi menawan sekali pokoknya.

O.. iya sekedar pembaca tahu, saat itu yang saya tidak bisa lupa ia mengenakan baju kaos putih ketat dan polos sehingga aku dapat melihat jelas bentuk payudaranya yang walaupun tidak sebesar punya pacarku dulu, namun kelihatan sangat kencang sekali, bundar seperti buah apel tapi tentu saja lebih besar dari itu

Kaosnya yang cukup tipis membuat behanya yang mungil terpampang jelas sekali dan juga berwarna putih, begitu pula dengan celana panjangnya yang juga ketat berwarna putih kecoklatan sampai ke mata kaki. Pokoknya baju dan celana yang ia kenakan benar-benar nge-trend dan seksi sekali, sehingga terus terang justru kelihatan jadi sangat merangsang sekali,

Itulah yang salah satu aku khawatirkan saat ngeluyur ke plaza tadi. Banyak sekali orang-orang laki-laki tentunya menatap gemas ke tubuh Aufa, karena selain ia putih dan manis sekali, postur tubuhnya yang mulai berkembang mekar dengan pakaian seperti itu pasti bikin jakun laki-laki naik turun.

Malahan aku tadi sempat sewot karena ada seorang bapak setengah umur yang kebetulan lewat di samping kami di plaza sempat memelototi tubuh Aufa dari atas sampai ke bawah. Memang saat itu Aufa benar-benar pamer body, nyahoo deh pokoknya.

Aku saja sempat tegang di plaza tadi gara-gara cewekku itu apalagi orang lain. Aufa menghempaskan pantatnya di sofa, aku menyusulnya segera dan duduk rapat di sampingnya, kupandangi wajahnya dari samping seolah-olah masih marah, bibirnya yang mungil kelihatan basah dan ranum berwarna kemerahan tanpa lipstik. mm.... ingin rasanya aku mengecup dan mengulum bibirnya yang menawan itu.

"Aufa sayang..." rayuku semakin nekat.

"Mas Ari boleh khan cium bibir kamu, say..."

"iiih... Mas Ari ahh..." Aufa semakin merajuk, tapi aku tahu pasti itu hanya sekedar pura-pura. Aku jadi semakin berani dan bernafsu.

"Aufa sayang, terus terang... mm... hari ini Mas Ari kepingin bersama Dik Aufa, Mas Ari ingin memberikan rasa kasih sayang Mas sama Dik Aufa, asal Dik Aufa mau memberikan apa yang Mas inginkan, maukan sayang?"

Tanpa aku sadari kata-kata itu meluncur begitu saja, antara kaget dan heran dengan ucapanku sendiri seolah-olah ada setan lewat yang memaksaku untuk mengatakan itu.

Sementara itu mata Aufa membelalak kaget ke arahku, mukanya yang manis malah jadi kelihatan lucu. Bibirnya yang mungil merah merekah dan tampak basah.

"Maasss..." Hanya kata itu yang diucapkannya, selanjutnya ia hanya memandangku lama tanpa sepatah katapun. Aku mengambil inisiatif dengan menggenggam erat dan mesra kedua belah tangan mungilnya yang halus mulus.

"Dik Aufa sayang... percayalah apapun yang Mas katakan, itu bentuk rasa cinta dan kasih sayang Mas sama kamu say, percayalah... Mas menginginkan bukti cintamu sekarang", Selesai berkata begitu nekat kudekatkan mukaku ke wajahnya yang amat manis itu, dengan cepat aku mengecup bibirnya dengan lembut.

Ah, bibirnya begitu hangat dan lembut, terasa nikmat dan maniss, mm... hidung kami bersentuhan lembut sehingga nafasnya kudengar sedikit kaget, namun Aufa sama sekali tak memberontak, kukulum bibir bawahnya yang hangat dan lembut, kusedot sedikit, mm nikmat, baru pertama kali ini aku mengecup bibir perempuan, enaakk ternyata.

Limadetik kemudian, kulepaskan kecupan bibirku dari bibir Aufa. Aku ingin melihat reaksinya, ternyata saat kukecup tadi ia memejamkan kedua belah matanya, dengan mata redup ia memandangku sedikit aneh namun wajah manisnya begitu mempesonaku, bibir mungilnya yang kukecup tadi masih setengah terbuka dan basah merekah.

"Bagaimana sayang... kau bersediakah? demi aku cintamu", rayuku sambil menahan nafsu birahi yang menggelora.

Tanpa Aufa sadari batang penisku sudah tegang tak terkira, sakitnya terpaksa kutahan sekuatnya, karena posisi batang penisku sebelum ereksi ke arah bawah dan aku tak sempat membetulkannya lagi tadi saat kukecup bibir Aufa, sehingga begitu yang seharusnya dalam keadaan bebas mengacung ke atas kini hanya bisa mendesak-desak ke bawah tanpa bisa bergerak ke atas.

Cenut.. cenut.. cenut... sakit rasanya. Aku berusaha mengecup bibirnya lagi karena aku tak tahan dengan nafsuku sendiri, namun dengan cepat Aufa melepaskan tangan kanannya dari remasanku, dadaku ditahannya dengan lembut.

Mulutku yang sudah kepingin nyosor bibirnya lagi jadi tertahan,

"Mass..." Aufa berbisik lirih, tatapannya kelihatan sedikit takut dan ragu.

"Aufa sayang... percayalah sama Mas", hanya kalimat itu yang terucap selanjutnya aku bingung sendiri mau ngomong apa, pikiranku sudah buntu oleh nafsu."

"Tapi mass, Aufa takut Mas",

"Takut apa sayang, katakanlah", bisikku kembali sambil kuraih tangannya kembali ke dalam genggamanku, sementara tanpa sadar kubasahi bibirku sendiri tak sabar ingin mengecup bibir mungilnya lagi.

"A...aanu, Aufa takut Mas Ari nanti meninggalkan Aufa", bisiknya sedikit keras di telingaku, tatapannya tampak semakin ragu. Kugenggam kuat kedua tangannya lalu secepat kilat kugerakkan mukaku kedepan dan "Cuuupp.." kukecup sekilas bibirnya sambil berujar,

"Aufa sayangku, Mas Ari terus terang tidak bisa menjanjikan apa-apa sama kamu tapi percayalah Mas Ari akan membuktikannya kepadamu, Mas akan selalu sayang sama Dik Aufa", bujukku untuk lebih meyakinkannya.

"Tapi Mas..." bisiknya masih ragu. Aku tersenyum, nih cewek kuat juga mentalnya, nggak langsung terbawa nafsu. Dulu pacarku saja baru kupeluk sebentar pasrahnya sudah setengah mati, kalau aku minta keperawanannya pasti dikasihnya, aku yakin itu.

"Aufa... percayalah, apa Mas perlu bersumpah sayang, kita memang masih baru beberapa hari kenal sayang tapi percayalah yakinlah sayang kalau Tuhan menghendaki kita pasti selalu bersama sayang", rayuku menenangkan perasaannya.

"Lalu kalau Aufa... sampai ha.. hhaamil gimana mass?" ujarnya sembari menatapku takut-takut dalam keraguan. Dalam hati aku tersentak kaget, nih cewek kok tahu yah kalau maksud sebenarku memang ingin bersebadan dengannya. Kebetulanlah pikirku, nggak perlu aku berpura-pura lagi.

"Aah, jangan khawatir sayang, Mas akan bertanggung jawab semuanya kalau Dik Aufa sampai hamil oleh Mas yah Mas pasti mengawini Dik Aufa secepatnya, bagaimana sayang?" bisikku semakin tak sabar.

Batang penisku makin cenut-cenut selain sakit karena salah posisi juga terasa makin membesar saja, bayangkan saja aku merasa sudah tinggal selangkah lagi keinginanku terpenuhi, bayangan tubuh mulus, telanjang bula, pasrah, siap untuk diperawani, siap untuk digagahi, masih ABG lagi, ahh alamak seandainya.

Tanganku bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meremas jemari tangan kini mulai meraba ke atas menelusuri dari pergelangan tangan terus ke lengan sampai ke bahu lalu kuremas lembut. Kupandangi gundukan bulat menantang bak buah apel Malang dari balik baju kaosnya yang ketat, BH putihnya yang kecil menerawang kelihatan penuh terisi oleh daging lunak yang sangat merangsang.

Jemari tanganku gemetar menahan keinginan untuk menjamah dan meremas gundukan payudara montoknya itu. ooohh... dan kulirik Aufa, ternyata ia masih memandangku penuh keraguan namun aku yakin dari tatapan mataku ia pasti bisa melihat betapa diriku telah dilanda oleh nafsu birahi yang menggelora siap untuk menerkam dirinya

Menjamah tubuhnya, meremas dan pada akhirnya pasti akan menggeluti dirinya luar dalam sampai puas. Aku berusaha tetap tersenyum, namun bisikan setan-setan burik di belakangku seakan menggelitik telingaku untuk berbuat lebih nekat, ayo... Ar perkosa saja, jangan tunggu lama-lama, hik.. hik... hik.., begitulah kira-kira yang kudengar.

Sialan pikirku, sedemikian ngeresnya otakku kah? Lalu kulihat bibir Aufa bergerak perlahan,

"Mas... Mas Ari harus janji dulu sebelum..." ia tak melanjutkan ucapannya.

"Sebelum apa sayang, katakanlah", bisikku tak sabar. Kini jemari tangan kananku mulai semakin nekat menggerayangi pinggulnya yang sedang mekar itu, ketika jemariku merayap ke belakang kuusap belahan pantatnya yang bundar lalu kuremas gemas. Aduuh Mak, begitu lunak, hangat dan padat.

"aahh... Mas", Aufa merintih pelan. Batang penisku makin cenat-cenut tak karuan, sakitnya nggak bisa diceritakan lagi, begitulah kalau salah posisi, mana tegangnya sudah nggak terkontrol lagi. Sementara setan-setan burik di belakangku mulai berjoget dangdut, terlenaa.... kuterlenaa... persis kayak suara Ike Nurjanah.

"Iiih.. Mas aah mmas.. Aufa rela menyerahkan semuanya asal Mas Ari mau bertanggung jawab nantinya", Aufa berbisik semakin lemah, saat itu jemari tangan kananku bergerak semakin menggila, kini aku bergerak menelusup ke pangkal pahanya yang padat berisi, dan mulai mengelus gundukan bukit kecil bukit kemaluannya. Kuusap perlahan dari balik celananya yang amat ketat.

Dua detik kemudian kupaksa masuk jemari tanganku di selangkangannya itu dan kini bukit kecil kemaluannya itu telah berada dalam genggaman tanganku. Aufa menggelinjang kecil, saat jemari tanganku mulai meremas perlahan terasa empuk hangat dan lembut.

Kudekatkan mulutku kembali ke bibir mungilnya yang tetap basah merekah hendak menciumnya, namun kembali Aufa menahan dadaku dengan tangan kanannya, "eeehh Mas.. berjanjilah dulu Mas", bisiknya di antara desahan nafasnya yang mulai sedikit memburu. Kena nih cewek, pikirku menang.
"Oooh... Aufa sayang... Mas berjanji untuk bertanggung jawab, aahh.... Mas menginginkan keperawananmu sayang.. katakanlah", ucapku semakin ngawur dan bernafsu.

Sementara jemari tanganku yang sedang berada di sela-sela selangkangan pahanya itu mulai gemetar hendak meremas gundukan bukit kemaluannya lagi, satu... dua... ti..., setan-setan burik di belakangku mulai ramai ngoceh seakan memberiku aba-aba,

"Ba.. baiklah Mas, Aufa percaya sama Mas Ari", bisiknya lemah.

"Jadi...?" bisikku kurang yakin.

"hh.... lakukanlah mass... Aufa milik Mas seutuhnya.. hh.."

Teng... teng... teng... hatiku bersorak girang seakan tak percaya, kaget campur haru, begitu besar pengorbanannya dengan perkataannya itu.

Tetapi sungguh aku tak pernah menyangka bahwa hari ini aku akan melakukan perbuatan yang mestinya sangat terlarang. Aku tahu nuraniku mengatakan ini sungguh sangat berdosa besar tetapi apalah artinya kalau nafsu telah menguasai dan mengungkungku saat itu, aku lupa diri

Dan aku tak peduli akibat selanjutnya nanti, yang terpikirkan saat itu aku ingin segera menjamah tubuh Aufa, merasakan kehangatannya, memesrainya sekaligus merenggut dan merasakan nikmat keperawanannya sampai nafsuku terlampiaskan.

"Benarkah..? ooh.. Aufa sayanggg... cuppp cuppp..." Secepat kilat bibir mungilnya yang hangat merekah kembali kukecup dan kukulum nikmat. Kuhayati dan kurasakan sepehuh perasaan kehangatan dan kelembutan bibirnya itu, kugigit lembut, kusedot mesra, mm nikmat. Hidung kami bersentuhan lembut dan mesra.

Dengus nafasnya terdengar memburu saat kukecup dan kukulum bibirnya cukup lama, bau harum nafasnya begitu sejuk di dadaku. kupermainkan lidahku di dalam mulutnya, persis seperti yang dilakukan para bintang film Vivid, dan dengan mesra Aufa mulai berani membalas cumbuanku dengan menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya.

Aah... terasa nikmat dan manis saat kedua lidah kami bersentuhan, hangat dan basah. Lalu kukecup dan kukulum bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Terdengar suara kecapan-kecapan kecil saat bibirku dan bibirnya saling beradu mengecup mesra. Tak disangka Aufa dapat membalas semua kecupan dengan bergairah pula.

"aah.. Aufa sayang... kau pintar sekali, kamu pernah punya pacar yaach?" tanyaku curiga. Mukanya yang manis kelihatan sayu dan tatapan matanya tampak mesra, sambil bibirnya tersenyum manis ia menyahutiku.

"Mm... Aufa belum pernah punya pacar Mas, ini ciuman Aufa yang pertama kok Mas", sahutnya polos.

"Kok ciumanmu pintar sekali, jangan-jangan Dik Aufa sering nonton film porno yaa?" godaku. Aufa tersenyum malu, dan wajahnya pun tiba-tiba bersemu merah, ia menundukkan mukanya, malu.

"I...iya Mas... beberapa kali di video", sahutnya terus terang sambil tetap menundukkan muka. Aku tersenyum lega, ternyata ia masih real virgin, belum pernah ada cowok yang menyentuhnya selain aku. Waah... betapa beruntungnya aku.

Setan-setan burik di belakangku bersorak girang menambah gairahku. "Dik Aufa sayang, kamu nggak kecewa khan karena Mas benar-benar sangat menginginkan keperawananmu sayang?" tanyaku cuek. Ia mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis.

"Aufa serahkan apa yang bisa Aufa persembahkan buat Mas Ari, Aufa ikhlas, lakukanlah Mas kalau Mas benar-benar menginginkannya", sahutnya lirih.

"Horeee... asyiik Ar... sikat sekarang, wes ewes ewes sampai bablas", teriak setan-setan burik di belakangku. Jemari tangan kananku yang masih berada di selangkangannya mulai bergerak menekan ke gundukan bukit kemaluannya yang masih perawan itu lalu kuusap-usap ke atas dan ke bawah dengan gemas.

Aufa memekik kecil dan mengeluh lirih, kedua pelupuk matanya dipejamkan rapat-rapat, sementara mulutnya yang mungil meringis lucu, wajahnya yang manis nampak sedikit berkeringat. Kuraih kepalanya dalam pelukanku dengan tangan kiri dan kubisikkan kata-kata mesra di telinganya. Kucium rambutnya yang harum.

"Ooohmm... mm... masss", bisiknya lirih.

"Enaak sayang kuusap-usap begini", tanyaku bernafsu.

"hh... iiyyaa mass", bisiknya polos. Astaga dia sudah nafsu nih pikirku dalam hati. Jemariku yang nakal kini bukan cuma mengusap tapi mulai meremas bukit kemaluannya dengan sangat gemas.

"Aakkhh... sakit Mas aawww..." Aufa memekik kecil dan tubuhnya terutama pinggulnya menggelinjang keras. Kedua pahanya yang tadi menjepit pergelangan tangan kananku direnggangkan. Kuangkat wajah dan dagu Aufa ke arahku, matanya masih terpejam rapat

Namun mulutnya sedikit terbuka sehingga giginya yang putih kentara jelas. Aku merengkuh tubuhnya agar lebih merapat ke badanku lalu kembali kukecup dan kucumbu bibirnya dengan bernafsu. Tangan kirinya meraih pinggangku dan memegangi kemejaku kuat-kuat.

Puas mengusap-usap bukit kemaluannya, kini jemari tangan kananku bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal pahanya terus ke atas menelusuri pinggangnya yang kecil ramping tapi padat, sambil terus mengusap kurasakan ujung jemariku mulai berada di kaki pegunungan apelnya yang sebelah kiri. Dari balik baju kaosnya yang ketat aku dapat merasakan betapa padat gunung apelnya itu.

Aku mengelus perlahan di situ lalu mulai mendaki perlahan, satu... dua... tiga.. jemari tanganku seketika meremas kuat buah dadanya yang seperti apel itu saking gemasnya. Empuk dan kenyal tapi terasa padat. Seketika itu pula Aufa melepaskan bibirnya dari kuluman bibirku. Mulutnya memekik kesakitan,

"aawww... Mas Ar sakitt... jangan keras-keras dong meremasnya", protes Aufa sambil tetap tersenyum manis. Bibirnya tampak sangat basah sedikit berliur. Maklum waktu kucumbu tadi air liurku sengaja kubasahkan ke bibirnya.

Habisnya nikmat sekali rasa bibirnya kalau basah. Kini secara bergantian jemari tanganku meremas kedua buah dadanya dengan lebih lembut. Aufa menatapku dengan senyumnya yang mesra. Ia membiarkan tanganku menjamah dan meremas-remas kedua buah dadanya sampai puas. Hanya sesekali ia merintih dan mendesah lembut bila aku meremas susunya sedikit keras.

Kami saling berpandangan mesra, kupandangi sepuasnya wajah manisnya, sampai akhirnya aku sudah tak kuat lagi menahan desakan batang penisku yang sudah tegang, aku takut alat vital kesayanganku itu bisa patah gara-gara salah posisi. "Auuggghh.." aku menjerit lumayan keras. Aku meloncat berdiri. Aufa yang tadinya sedang menikmati remasanku pada buah dadanya jadi ikutan kaget.

"Eeehh... kenapa Mas?"

"Aahh anu sayang... punya Mas sakit nih", sahutku sambil buru-buru kubuka celana panjangku di hadapannya. Aku tak peduli, toh bagaimanapun dia pasti melihat juga nanti alat kelamin kesayanganku itu.

Sruuut.... celana panjangku melungsur ke bawah, sementara Aufa yang tak menyangka aku berbuat demikian hanya memandangku dengan terbelalak kaget. Cuek... daripada batang penisku kram nggak bisa bergerak mending kubuka saja sekalian CD-ku dan "Tooiiing", batang penisku yang sudah tegang itu langsung mencuat dan mengacung keluar mengangguk-anggukan kepalanya naik turun persis burung kutilang kalau sedang menari-nari.

"aawww... Mas Ari jorok", Aufa menjerit kecil sambil memalingkan mukanya ke samping. Jemari kedua tangannya di tutupkan ke mulut dan wajahnya. "He... he..." aku terkekeh geli batang meriamku sudah kelihatan tegang berat, urat-urat di permukaan batang penisku sampai menonjol keluar semua.

Kepala penisku terasa cenut-cenut melepas kebebasan setelah kurang lebih 1 jam terpenjara di dalam CD-ku yang sempit dan sumpek, maklum CD-ku memang sejak kemarin belum kuganti jadi baunya yaa... tahu sendirilah.

Batang penisku ini nggak panjang-panjang benar kok cuma sekitar 14 centi-lah kurang sedikit, tapi yang membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip punya bintang film Tarzan-X Rocco Siffredi, montok dan berurat, diameternya aku nggak pernah ngukur tapi yang jelas cukup memuaskanlah buat ngesex kupikir.

Sementara Aufa masih menutup muka tanpa bersuara, kukocok batang penisku dengan tangan kananku, "Uuuaahh... nikmatnya", sambil melepaskan ketegangan urat-urat yang menonjol keras di permukaan batang penisku akibat tergencet CD-ku tadi. Batang penisku itu tampak berkeringat basah, mungkin karena hawa di dalam CD-ku yang panas atau mungkin karena CD-ku yang belum kuganti.

Ketika tanganku yang kupakai ngocok tadi kucium. Wweeeghh... huuuekkk, baunya ampun... sialan pikirku.

"Aufa sebentar yaa... Mas mau cuci punya Mas dulu yaa... bau nih soalnya", sahutku tanpa kupedulikan dirinya lagi, aku segera ngibrit ke belakang, batang penisku yang sedang "ON" tegang itu jadi terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sana ke mari ketika aku berlari.

Aku geli sendiri sekaligus tak sabar ingin segera kembali ke hadapannya lagi. Dalam kamar mandi segera kubasahi rudal patriotku dengan air dingin. Wiihh... dingin saat kepala rudalku kusiram air dari cebok, lalu kuambil sabun Claudia mengandung hand body yang masih baru kubuka tadi pagi dan kusabuni batang penisku sampai bersih mulai dari 2 butir telurku sampai kepala penisku yang semakin tambah ereksi saja.

Teng... teng... teng rasanya aliran darah yang mengalir makin banyak ke batang penisku. Aduuh... maak, geli-geli nikmat saat air yang bercampur sabun itu kuusapkan dan kukocok-kocokkan ke batang penisku itu. Ngeres pikirku, dan aku mulai membayangkan sebentar lagi batang penisku yang masih perjaka ini akan berjuang untuk menembus liang vagina milik Aufa yang sempit dan hangat,

Merobek selaput dara keperawanannya dan bersarang di dalam vaginanya lalu kugesekkan keluar masuk sampai penisku ejakulasi dan memuntahkan air mani sepuasnya, aahh nikmatnya. Apalagi aku yakin selama satu minggu ini aku tak ber-onani-keke.

Waah.. bisa muncrat banyak sekali nih, mm.. teng... teng...teng, batang penisku bergerak naik turun sendiri. Lho... aku geli sendiri melihatnya. Lalu segera kubasuh lagi rudal patriotku dengan air sampai bersih, dan sebelum kubasuh sempat pula kucukur beberapa helai rambut kemaluanku dengan Gillette biar agak lebih ganteng sedikit, sebab aku khawatir Aufa ogah melihat bulu kemaluanku yang amat sangar saking lebatnya.

Lagian kalau bulu kemaluanku sedikit kanlebih asyik waktu merasakan jepitan liang vagina milik Aufa nantinya. Aku ngibrit keluar dari kamar mandi sambil setengah berlari kembali ke ruang tamu. Seperti tadi batang penisku kembali terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sanakemari.

Di ruang tamu kulihat kekasihku Aufa masih terduduk di atas sofa dan begitu melihatku keluar berlari tanpa pakai celana jadi terkejut lagi melihat batang penisku yang sedang tegang bergerak manggut-manggut naik turun.

"aawww..." teriaknya kembali sembari mulut dan mukanya ditutup lagi dengan kedua jemari tangannya. Aku tersenyum senang penuh nafsu yang ingin meledak rasanya.


Melihat tubuhnya yang masih memakai baju dan celana ketat itu aku jadi gemas kepingin segera melucutinya satu persatu sampai bugil. Aahh... aku ingin segera menyetubuhinya saja rasanya. Tapi aku berusaha menahan diri, itu tidak adil, aku ingin kami berdua harus bisa merasakan kenikmatan yang sama.

Aku tidak mau terjadi... nantinya salah satu merasa rugi. kalau aku sih pasti puass tapi bagaimana dengan Aufa? Dia pasti kesakitan nanti saat kusetubuhi karena dia masih perawan. Waah... aku harus merangsangnya dulu sampai dia orgasme sebelum kuperawani, perkara nanti saat kusetubuhi dia bisa orgasme lagi yah bagus bisa sama-sama puas. Waahh, ini benar-benar detik-detik yang mendebarkan dan menegangkan.

Satu perjaka dan satunya perawan. Sama-sama belum punya pengalaman seks selain cuma pakar di bidang film-film BF. Ingin rasanya hatiku bersorak saking nggak percayanya bahwa hari ini kesempatan emas itu telah datang tanpa kurencanakan sebelumnya.

"Iiihh... Dik Aufa... takut apa sih, kok mukanya ditutup begitu", tanyaku geli.

"Itu Mas, punya Mas", sahutnya lirih.

"Lhoo... katanya sudah sering nonton film BF kok masih takut, Dik Aufa kan pasti sudah lihat di film itu kalau alat vital punya cowok itu bentuknya gini, nah ini yang asli dik, the real thing sayang", sahutku geli. Dalam hati nih cewek barangkali kepingin tahu bagaimana rasanya digampar pakai penis cowok,
"Iya... m..Mas, tapi punya Mas mm besar sekalii", sahutnya masih sambil menutup muka.

"Yaach... ini sih kecil dik dibanding di film nggak ada apa-apanya, itu khan film barat, punya mereka jauh lebih gueedhee... kalau punya Mas kan ukuran orang Indonesia sayang, ayo sini dong punya Mas kamu pegang sayang, ini kan milik Dik Aufa juga", sahutku nakal.

"Iiih... malu aah Mas, jorok."

"Alaa.. malu-malu sih sayang, Mas Ari yang telanjang saja nggak malu sama kamu, masa Dik Aufa yang masih pakaian lengkap malu, ayo dong sayang punya Mas dipegang biar Dik Aufa bisa merasakan milik Dik Aufa sendiri", sahutku sembari kuraih kedua tangannya yang masih menutupi muka, pada mulanya dia menolak sambil memalingkan wajahnya ke samping, namun setelah kurayu-rayu akhirnya mau juga kedua tangannya kubimbing ke arah selangkanganku, namun kedua matanya masih dipejamkan rapat.

Dalam hati malu-malu tapi mau, jangan-jangan kalau sudah diberi, batang penisku malah diobok-obok, Joshua kali ngobok-obok air. Jantungku berdegup kencang juga saat melakukan itu, soalnya bagaimanapun juga seumur hidup belum pernah aku telanjang di depan cewek sambil mempertontonkan alat vitalku sendiri, apalagi sampai dipegang-pegang segala.

Bersambung....

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil

Cerita Sex Menjerit Histeris

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Menjerit Histeris. Kangenku sama tempt kelahiranku kota kembang, bentar lagi aku mau pulang ke Indonesia teriakan supir angkotnya yang bikin kangen hehehe apalagi masakan khas Indonesia juga, aku berkesempatan pulang karena tidak ada lagi ikatan sekolah, tahun ini aku lulus kuliah dan tak mungkin aku lanjut hidup di luar negeri sana, mendingan duduk di kantor dan bekerja disini.

Cerita Dewasa Menjerit Histeris

 Cerita Sex Pasangan Sange, ngentot Pasangan Sange, tempek Pasangan Sange, Pasangan Sange ngesex, Pasangan Sange dientot, kentu Pasangan Sange, Pasangan Sange hot, cerita Pasangan Sange
Cerita Mesum Menjerit Histeris
Anyways, ini terjadi ketika umurku 21 tahun. Setamat kuliah di US, aku sempat kerja part time beberapa bulan. Aku belum menginginkan pekerjaan yang tetap disebabkan oleh alasan kepingin istirahat. Personal status pada waktu itu; sudah punya pacar, seorang pria bernama Venis (not with the P, but V) kepada siapa aku telah mempersembahkan milikku yang paling berharga, namun kini rasanya aku inginkan hubungan ini berakhir.

Yang namanya spiritual, emotional, intellectual connection itu tidak terasa di antara kami, mungkin yang eksis cuma intellectual. Paling sulit memang mendapat restu dari Venis untuk pergi jauh darinya berbulan-bulan.

Sudah kukatakan kepadanya bahwa aku perlu "break" (hei! aku perlu membuka kesempatan bagi pria-pria lain untuk mendekatiku dong). Tapi dia tidak setuju. Ya sudah, aku tinggal saja.

Keberangkatanku agak mengharukan. Rasa kehilangan itu ada, terhadap kekasih yang aku tinggal (Venis adalah lelaki yang mengisi hatiku setelah Ade, some of you may already know the history with him). Entah apa yang akan terjadi jika aku balik lagi ke negeri ini, akan bersama lagikah kami? Aku sempat meneleponnya waktu transit di Changi untuk menyatakan kerinduanku.

Tapi, perasaan galauku lenyap begitu aku melihat Mama menjemputku di bandara Cengkareng. Ketika aku keluar dari bandara, suasana jauh berbeda. Wuihh! gerahnya kota ini. (dan... belum apa-apa sudah lihat cowok kece di restoran!)

Pertama-tama yang kulakukan setiba di Bandung yaitu merayu Mama sampai dia membelikan mobil untukku. Pada mulanya dia memang memenuhi permintaanku, tapi yang dikabulkan; Charade, yang mesinnya cuma 1000cc itu! Kontan aku protes keras.

"Maaa, sing baleg atuh. Masa Khristi disuruh bawa mobil sekecil itu sih? Mana aman? Ditubruk orang langsung mati deh berikut penumpangnya. Di Amrik mobil Khristi ampir 3000cc!" Permintaanku memang macam-macam, perlu yang otomotis pula,

"Sini kan di mana-mana macet melulu, entar betis Khristi gede sebelah gimana?!" Aku masih merengek-rengek. Banyak pertentangan yang keluar dari mulut Mama yang dinamakan "issues", mengenai jalan di Indonesia yang sempit-sempit, bahwa dia juga mesti pinjam uang sana sini, bahwa Papa kurang setuju.

Ya sudah deh, aku mengalah, habis anak Mama sih. Akhirnya aku dapat mobil Honda Civic, yang kalau tidak salah nama resmi Indonesianya "Genio". Lumayan walaupun bukan brand new, aku cukup puas, otomatis lagi.

Dengan modal mobilku ini, aku jalan-jalan kesana kemari sendiri, sambil mengenali kembali jalan dan tempat yang sudah lupa-lupa ingat. Aku tidak suka disupiri, not my style. Well, dengan bekal pengalaman nyetir di Amerika, aku nekat keluyuran di jalan-jalan yang sempit dan tidak beraturan itu,

Kadang ditemani kadang tidak menghindari lalu lintas yang ramai polisi sebab aku tidak punya SIM (akhirnya tertangkap ketika ada razia). Aku menemui beberapa teman lama, mengunjungi sanak saudara, keluar masuk pusat-pusat perbelanjaan, fitness, dan lain sebagainya.

Ada juga beberapa tawaran pekerjaan datang dari kenalan. Aku tolak dengan halus. Hmph! dalam hati aku bersungut-sungut, yang benar saja, untuk apa aku kerja di sini, kalau mau cari duit tentunya aku akan cari pekerjaan di negeri Paman Sam.

Kadang-kadang aku kesepian tidak ada teman di siang hari, kawan-kawanku ternyata sibuk semua, entah sibuk benaran atau pura-pura. Biarlah, mereka dan aku memang susah menyambung lagi. Aku hanya memiliki sepupu yang dari dulu dekat denganku dan dua teman dekat.

Seharusnya kakak laki-lakiku bertanggung jawab, aku ingin dia mengenalkanku pada teman laki-lakinya dan harapanku salah satu dari (mereka) keluar sebagai "the perfect guy", supaya aku kecantol padanya dan tidak usah balik lagi ke US. Sialnya, sampai sekarang yang dia kenalkan cuma satu, dan aku tidak berminat.

Pernah ketika pergi dengan segerombolan kawan-kawan yang lain, aku bertemu kakak kelasku yang pernah aku taksir dulu. Selama tiga tahun di SMP aku memperhatikannya! Entah dia mengetahui hal ini atau tidak, tapi hhhh... lemas aku ketika melihatnya lagi sekarang, yang jelas dia jauh dari apa yang kubayangkan, sangat mengecewakan, tsk, tsk, tsk! Kelihatannya hidup yang susah telah merubah manusia.

Di belakang rumah kami di daerah Sukajadi, Mama membuka bisnis sendiri yang oke punya. Mama memang hebat. Dia terlatih untuk memanfaatkan banyak hal dalam segala ketidakmampuannya, terutama di saat-saat Papa "kurang" bertanggung jawab.

Dia telah mampu me-manage beberapa unit di belakang rumah kami dan memutarnya menjadi tempat kost, yang sekarang jumlah kamarnya ada dua puluh buah, semuanya senantiasa terisi. Penghuninya melebihi 25 orang, ada beberapa kamar yang dihuni dua orang.

Mereka umumnya terdiri dari pria dan wanita berusia 17-27 tahun, bekerja atau kuliah, belum nikah. Ada beberapa jenius yang kuliah di perguruan tinggi terkenal, banyak yang sudah tinggal di sini bertahun-tahun, malah ada yang ketemu jodoh di sini dan menikah lalu pindah keluar untuk membina rumah tangganya sendiri. Macam-macam orang dari seluruh pelosok negara Indonesia.

Lama-lama tinggal di rumah, aku jadi mengenali penghuni kost di belakang. Kebanyakan dari mereka tidak ada di rumah di siang hari. Tapi menjelang sore, ruang dapur, beberapa ruang duduk, ruang tamu, bahkan di lorong-lorong yang tidak tersedia kursi pun menjadi semarak. Mereka sibuk makan, masak, ngobrol, main kartu, masuk-masuk kamar orang lain dan sok menjadi tuan rumah di kamar sendiri.

Aku menjadi akrab dengan beberapa dari mereka, salah satunya adalah Randy. Kami memanggilnya Duren. Duren hanya beberapa bulan lebih tua dariku, asal Jakarta, di Bandung bekerja sambil kuliah, orangnya paling ngocol.

Wajahnya biasa-biasa saja, tapi bodinya oke banget, pantatnya terlihat padat berisi (later I found out bukan cuma pantatnya yang padat berisi). Setiap hari dia cuma ngantor beberapa jam dan selebihnya lebih sering di rumah.

Dialah yang sering kuajak menemaniku keluyuran. Katanya dia sudah kost di sini sejak aku pulang tahun lalu. Yang lainnya adalah Donat, pelesetan dari Doni, penghuni terlama di sana, umur 23-24, tampan, kulitnya putih sekali, otaknya super encer, sayangnya agak pemalu.

Menurutku dia benar-benar pemalu. Kami senang sekali menggodanya dan "menodong" makanan di kamarnya.

Well, masih banyak lagi tenant-tenant (pria atau wanita) yang lucu atau "bagus", tapi umumnya sudah punya pasangan. Seperti Fendi dan Tikno yang pacarnya manis dan imut. Tentunya aku tidak punya niat apa-apa terhadap mereka, sampai pada suatu hari.

Malam Minggu, rumahku sepi, adik dan kakakku pergi, Papa keluar kota, Mama barangkali arisan. Adikku yang perempuan (masih ABG) kencan dengan pacarnya, hmmm... entah dia masih perawan atau tidak. Aku sendiri lebih memilih duduk di kamar baca novel.

Teman kakakku tadi menelepon mengajakku keluar, tapi aku malas. Terakhir aku keluar bersama dia minggu kemarin. Bukan salahnya memang kalau di acara itu salah satu ban mobilnya tertusuk paku sehingga acara date kami jadi berantakan, setengah jam dia harus berutak-utik dengan ban menyebabkan tangan serta bajunya hitam-hitam.

Well, guess what? Another incident. Baru dua hari yang lalu, aku dibonceng motor oleh seorang temanku yang lain dalam rangka cari makan malam. Tahu-tahu setelah makan, datang ide gila.

Bukannya pulang, kami berputar haluan ke Lembang, hanya berbaju lengan pendek tanpa jaket. Selain badan beku kedinginan, motor pun ngadat dalam perjalanan pulang, di tempat sepi lagi (sampai ngeri aku).

Adaapa sih antara aku dengan mobil/motor teman-temanku? Tapi yah, sedikit banyak inilah sebabnya aku memilih diam di rumah yang tenang. Bosan baca buku, aku menghampiri cermin besar lemariku. Aku menatap wajahku sendiri, lalu tersenyum menunjukkan sederetan gigi putih, terlihat olehku senyumku sendiri yang menawan, yang ampuh memikat hati lawan jenisku.

Bahkan gynekolog-ku yang tampan namun sudah berumur memandangku dengan sungguh-sungguh dan berkata, "Khristi, you have a really pretty smile!" Aku lepaskan setiap potong pakaianku, lalu kulihat bayanganku di sana.

Wajahku memang cantik, tidak sedikit orang yang bilang begitu. Tubuhku yang cukup tinggi semampai terlihat jauh dari buruk. Aku harus bersyukur dengan pemberian yang ini, aku bisa makan apa saja yang aku suka sebanyak-banyaknya, tidak perlu diet, dan bentuk tubuhku tetap langsing (olahraga tetap diperlukan tentunya).

Aku melarikan tangan dan jariku dari leher ke dada, berputar di bukit dada, kedua tanganku meremasi buah dadaku dan desahan-desahan lirih mulai keluar dari mulutku. Aku jadi terbawa nafsuku sendiri.

Aku berjalan mendekati jendela-jendela besar yang terbuka. Angin malam bertiup memasuki kamarku, namun justru terasa sejuk sekali menerpa kulitku. Aku duduk bertengger di salah satu jendela itu. Kaki kanan di bagian dalam kamar dan kaki kiri terjuntai bebas di luar.

Di jendela inilah aku sering memuaskan diriku sendiri, menggunakan vibrator yang berbentuk kemaluan Venis (hadiah dari Venis tentunya) dan melakukan solo seks disaksikan genting-genting rumah dan langit nan biru, dan kadang-kadang kucing yang lewat mengejutkanku (atau mungkin juga oleh penghuni kost yang kebetulan melongokkan kepalanya keluar?).

Malam itu yang kubayangkan adalah Riko, cowok kece yang sempat mengejarku di masa kuliah, namun kutolak karena aku sudah bersama Venis. Hmm... minggu depan aku akan ke Jakarta menemuinya.

Beberapa menit kemudian, berahiku yang tadi menggebu-gebu mereda. Aku berpakaian kembali celana pendek jeans yang lusuh, kaos putih tak berlengan serta kemeja kedodoran, tanpa pakaian dalam sama sekali.

Aku ambil semua uang Rupiahku di dompet, lalu turun menuju belakang rumah. Jam-jam begini di malam Minggu, tentunya beberapa cowok-cowok yang kost sedang berjudi. Aku akan ikut main kali ini. Selama ini aku hanya nonton, pernah iseng-iseng aku sampaikan bahwa aku ingin ikut serta, mereka tidak mengijinkan.

Ini memang sudah menjadi aktivitas rutin di sini. Kadang mereka berjudi nonstop sampai Senin pagi, akhirnya bolos kerja. Kadang, yang memiliki pekerjaan tidak sungkan menghabiskan seluruh upah sebulannya dalam satu malam.

Benar-benar edan! yang kalah dan uangnya ludes tentunya harus berhenti main, kecuali ada yang meminjamkan. Tetapi sebaliknya, lain dengan yang kualami di Las Vegas, yang menang tidak bisa keluar begitu saja, dia harus main sampai semua sepakat permainan berakhir.

Ada empat orang yang sedang main; Randy alias Duren, Tikno dan Fendi yang masing-masing menarik namun sudah punya pacar, Jojon yang berduit dan agak gemuk; dan seorang yang cuma nonton; Tompel alias Thomas yang berkacamata dan tertua umurnya. As you can see, semua cowok-cowok yang single diberikan nickname. Donat yang pemalu bersama dua orang lain ada di ruang satu lagi sedang nonton TV, mereka tidak pernah ikut-ikut judi.

Aku menempatkan pantatku di kerumunan orang itu. Huh! Bau sekali! Semua perokok, kecuali Duren, dan mereka dengan seenaknya meniupkan asapnya kemana saja dengan cuek bebek.

Sambil mengendus-endus di balik kemejaku mencoba menghirup udara yang lebih segar, aku mendongkol dalam hati. Aku sudah komplain satu dua kali, tapi tentu saja percuma. By the way, what is it with cigarettes and Indonesian people?

Setelah berbasa-basi, aku menyerukan, "Ikut main!" Beberapa cowok memandangku dan tersenyum, yang lain lebih konsentrasi ke kartu di tangannya. Eh, sialan, aku memang kurang dianggap, disangkanya aku anak kecil atau apa.

Aku berbisik ke Duren (yang lebih dekat denganku) bahwa aku serius ingin main. Dia yang biasanya baik pun tidak begitu peduli kali ini. Dasar! cowok-cowok bila sedang terbawa hobby memang begitu, hobby menjadi nomor satu, well... sebetulnya ini lebih mirip addiction, Tikno dan Fendi bahkan sebelum jam 10 malam telah memulangkan pacarnya masing-masing supaya bisa berjudi.

Kutunggu sebentar. Beberapa hanya melemparkan pandangannya padaku, terkadang ke arah tungkaiku yang tak tertutup. Kesal juga aku! Aku tanya lagi, "Ren, kenapa sih aku enggak boleh ikutan?"

"Jangan. Nanti Mama marah," katanya.

"Ini uangku sendiri."

Yang di kantong memang uangku sendiri, tapi aku melupakan bahwa Mama baru saja membelanjakan uangnya sendiri untuk mobilku.

"Ikutan! Kalah ya kalah! Aku nggak mau cuma duduk bengong!" tekatku.

Aku menanggalkan kemejaku dan mengeluarkan semua uangku.

Nah, sekarang semua cowok yang ada lima orang mengalihkan perhatiannya padaku. "Kartu baru, aku masuk!" Aku tahu mata mereka sempat menangkap dua tonjolan di dadaku yang mengacung di balik kaosku.

Ukurannya tidak besar memang, tapi cukup menggiurkan, who says they have to be big to be beautiful? Kaos putih polos yang pas di tubuhku (tidak ketat dan tidak juga kedodoran) seakan menunjuk ke mana exactly puting susuku terletak. Biar saja, aku memang bukan anak kecil lagi, pasti dengan begitu mereka takkan menolak aku main. Kalau masih menolak, aku akan pergi! Hayo! enggak rela kan?

Lima pasang mata lelaki di sekelilingku mulai sering melirikku. Pikiranku mulai nakal. Walaupun aku bukan penggemar group seks, berada di tengah lima laki-laki atraktif dan menjadi pusat perhatian mereka tak enggan membuat darahku naik.

Aku tergoda untuk makin menarik perhatian mereka. Sambil menunggu permainan itu berakhir, aku melipat kaki dan tanganku dengan gayaku yang khas, perlahan tapi pasti, memperlihatkan lipatan antara paha dan pantatku dan juga memperjelas bentuk buah dadaku.

Kini mereka tak malu-malu "menonton" aku. Aku tersenyum menang. Aku melarikan lidahku membasahi bibirku. Lalu sambil mengikat rambutku ke belakang membuat buntut kuda, perlahan-lahan aku membuka kedua pahaku dan menutupnya kembali; aku bikin scene seperti Sharon Stone di Basic Instinct di mana dia memamerkan bulu kemaluannya saat diinterogasi polisi-polisi.

Hmm... aku sangat menikmati wajah-wajah terkejut dan takjub di sekelilingku, lima pasang mata semua tertuju ke arahku, tak terhalangi meja karena tinggi meja tengah itu hanya selutut.

Aku yakin beberapa dari mereka sempat mengintip sesuatu di selangkanganku. Mungkin hanya sedikit bulu-bulu halus, mungkin juga bibir kemaluanku... entahlah, aku tidak pernah double check. Tapi hasilnya: Instant Erection.

Berkali-kali aku praktekan "show" ini di depan pacarku seorang; tapi kini di hadapan lima laki-laki strangers, oh...! sensasi yang muncul lima kali lebih nikmat. Imajinasiku mengalir dengan bebas... andai musik jazz di latar belakang diubah menjadi freestyle/house music, rasanya aku bisa menari-nari mempertunjukkan strip show.

Aku berdiri di tengah-tengah mereka menggantikan kartu-kartu menelanjangi diriku sendiri, sambil meliuk-liukkan pinggulku aku singkapkan kemolekan satu persatu anggota tubuhku dari yang "wajar-wajar saja" ke yang paling private, semuanya terungkap tidak menyisakan sedikitpun tanda tanya dalam imajinasi mereka.

Lalu berakhir dengan aku di atas meja disetubuhi mereka satu demi satu bergiliran, atau... tubuhku tak berpijak, terayun-ayun di udara sementara dipapah tangan-tangan kokoh sebagian dari mereka dan sebagian lagi bergerak memuaskanku.

Ahem... well, tidak sampai itu tentunya. Bahkan, bukan seperti biasanya aku begini, aku adalah orang yang lebih mengandalkan otakku untuk menarik perhatian cowok, ini adalah pertama kalinya aku berbuat kotor. Dari dulu aku memang anak remaja yang polos, sampai bertemu Venis. Dia telah banyak mengenalkan aku hal-hal yang baru.

Di tengah ruang itu kami hanya berbincang-bincang, sedikit ngeres. Menyegarkan memang, apalagi melihat batang kemaluan Tikno yang berdiri tegang dengan bebas, dia sama sekali tidak berusaha menutupi, berbeda dengan Jojon yang ngumpet-ngumpet membetulkan letak kemaluannya.

Hihihi... Walaupun duitku hampir ludes, aku sempat mengorek banyak dari mereka. Dengan gencar bertanya ini itu (mengenai topik-topik yang hanya pantas dibahas oleh orang dewasa), namun berkelit jika ditanya. Well, dari sini aku mendapat pengetahuan yang lumayan, termasuk terminologi seks Indonesia yang tak pernah kudengar sebelumnya.

Aku teringat Donat. Untung Donat sedang nonton TV di ruang lain. Laki-laki yang baik itu tentunya sudah pingsan jika melihat adegan tadi, atau mungkin kabur menjauh. Pernah satu kali aku mengenakan blouse v-neck yang menunjukkan sedikit bukit atas dadaku, dia sampai menelan ludah berkali-kali. Aku berani bertaruh dia tidak pernah menyentuh wanita seumur hidupnya. Seminggu kemudian. Di suatu hotel di Jakarta

Malam hari di atas ranjang, aku merenungkan Duren yang sedang berbaring di sofa, tidak berselimut atau berbantal. Dia tidak tega meninggalkanku sendiri menginap di hotel. Rencananya dia akan pulang ke rumah orang tuanya sendiri di Jakarta, tapi di menit-menit terakhir dia ingin menjagaku.

Kelihatannya dia mengkhawatirkan aku. Besok Riko, cowok yang ganteng itu akan datang menemuiku di hotel ini. Mungkin Duren takut Riko akan datang malam ini juga mengetahui bahwa aku sendirian. Mama memang mempercayakan aku kepada Duren.

Mulanya Mama menyuruhku menginap di rumah saudaranya kalau aku ingin jalan-jalan keliling Jakarta tapi aku tidak suka numpang-numpang di rumah orang lain.

Aku tertidur. Tengah malam jam 2 aku terbangun. Aku lihat Duren masih di sofa, sedang berusaha tidurkah? Kasihan dia, tentunya kedinginan. Kupikir dia baik sekali, rela kedinginan dan tidur di sofa, dan tidak sedikitpun keluhan keluar dari mulutnya. Cowokku sendiri tentunya akan protes keras disuruh tidur di sofa.

"Ren, matiin aja AC-nya," aku usul.

Dia bergerak memberi respon. Ternyata dia memang tidak bisa tidur.

"Engga usah Khris, nanti kamu kepanasan."

Aku memang benci kepanasan, dimana-mana aku selalu menyalakan AC.

"Tidurnya enggak nyaman ya?"

"Nggak papa kok."

Setelah kupikir-pikir, akhirnya aku menawarkan dia untuk tidur di sisiku. Tawaranku diterimanya. Duren tidak tidur, aku tahu. Kami berdua tidak bisa tidur. Aku sendiri tidak memikirkan akan kemungkinan yang bisa terjadi.

Selama ini aku dekat dengan Duren, kadang-kadang di saat-saat casual aku menempatkan tanganku di pahanya, atau tangannya memegang bahuku. Dia tidak pernah kurang ajar, bahkan setelah kami berjudi bersama minggu lalu.

Tapi tiba-tiba kesunyian itu pecah, Duren menindihku, menyerbu leher dan wajahku dengan ciumannya yang bertubi-tubi. Dia mendesah, "Napasmu membuat aku tidak bisa tidur." Ciumannya enak sekali, panas dan penuh bara, terasa lain dari yang pernah kurasakan.

Memang aku kaget, tapi setelah kaget itu hilang, aku tidak menolak meskipun tidak juga membalas. Tangannya menyerbu dada, pinggang dan pantatku. Aku merasakan tonjolan keras di celananya menekan-nekan tubuhku. Sshhhh... tak tahan aku tidak menyentuhnya, tanganku menyusup ke dalam celana pendeknya dan meremas bagian itu dan melepasnya kembali.

Ciumannya turun ke dadaku sambil berusaha menelanjangi bagian itu. "Oh... jangan Ren, jangan ke sana," aku mempertahankan bajuku sambil menggelinjang geli.

Duren berdiri melepas semua baju dan celananya sendiri, lalu tangannya beralih dengan cepat memelorotkan celana pendekku tanpa sempat kucegah. "Ren! tolong jangan lakukan," aku memohon. Ciumannya memang sedap, tapi aku tidak sudi disetubuhinya. Duren kembali mencumbu bagian wajahku.

Aku mulai berpikir. Apa yang sedang kulakukan? Selama ini hanya ada satu pria yang pernah menyetubuhiku. Dia adalah kekasihku sendiri. Setelah mendapatkan hatiku, dia harus berjuang keras berbulan-bulan untuk mendapatkan tubuhku.

Lantas, siapa orang di hadapanku ini? Kenal juga baru-baru ini. Tidak bisa! aku menjerit. Ren, pergi kau. Aku tidak sehina itu. Aku dorong tubuhnya kuat-kuat. Kakiku menendang-nendang di udara. Rupanya nafsu Duren yang sudah tinggi mengalahkan segala-galanya.

Dengan segenap tenaganya, dia menekan tubuhku, berhasil mengoyakkan celana dalamku dan mengarahkan batang kemaluannya ke arah liang kemaluanku. Belasan kali dia mengarahkan, belasan kali pula aku mengelak. Akhirnya di saat aku lelah, dia keluar sebagai pemenang.

Dia menghunjami tubuhku dengan barangnya yang besar. Besar dan panjang sekali. Aku tak berdaya. Hatiku sakit, kewanitaanku perih. Aku hanya memejamkan mata dan menangis.

Semenit kemudian, dia berkata, "Jangan khawatir, aku akan bertanggungjawab." Heran, kubuka mataku. Nyatanya dia sudah selesai.

Aku berbaring lama sambil berpikir. Apakah Duren sudah menumpahkan air maninya di dalam tubuhku? Rasanya terlalu cepat. Tapi dia bilang dia akan tanggung jawab? Apa maksudnya? Hah! maksudnya kalau aku hamil? Apaan? Aku tidak mau dinikahinya sekalipun aku hamil.

Sekolahnya belum selesai dan kerja pun belum mapan. Suara "Maaf" terdengar sayup-sayup. "You used me," desisku.

Setelah kurasakan tenagaku kembali, aku berdiri, memakai celanaku. Lalu ke dekat pintu memungut sepatuku yang bertumit 10 senti. Bukan tumit lancip yang mampu melubangi kepala Duren, tapi cukup keras untuk membuat tubuhnya biru-biru. Dengan histeris, aku menyerangnya dengan sepatu itu. "Kalau pacarku tau, dia akan terbang ke sini dan menembakmu."

So, inilah permulaan dari segalanya. Pertama kalinya aku mengkhianati kekasihku yang jauh. Berkhianatkah aku? Aku memang sudah berniat meninggalkannya. Ini pula awal aku merubah banyak hal dalam hidupku.

Aku memang bertemu Riko di pagi harinya sementara Duren pulang ke rumahnya. Riko... dia orang yang "lain", tampan dan simpatik, kuakui aku pernah menyukainya. Umurnya sudah 25, punya bisnis sendiri di ITC Roxy Mas.

Dua tahun yang lalu dia muncul dalam hidupku dan mendekatiku, tapi harus kujauhi karena Venis telah masuk dulu. Alasan aku menemuinya kali ini adalah memberikan kesempatan untuk membuktikan masih adakah chemistry itu. Akan tetapi, mau apa lagi sekarang? Semangatku sudah putus.

Hari-hariku berikutnya... aku malu mengakuinya setelah apa yang dilakukannya terhadapku, aku menjalin hubungan yang lebih dekat dan intim bersama Duren. Perbuatan yang tidak bisa kubanggakan. But we had fun together, just for the sex and lust, no love not great sex, but good enough for the time being.

Tinggal di atap yang sama. ML di setiap kesempatan datang. Di kamarnya. Di kamarku. Di kamar mandi. Di atap rumah. Di pinggir jalan raya di dalam mobilku. Bahkan di boncengan motornya.

Akibatnya harus kutanggung sendiri. Kami tidak pernah menggunakan protection. Aku ternyata hamil beberapa saat kemudian. Lucky me, aku bisa mendeteksi hal ini awal sekali. Duren sama sekali tidak bertanggung jawab.

Dari mana dia punya uang untuk berbuat apa-apa, apalagi dia termasuk penjudi. Pernah terbayang di benakku aku menjadi istrinya, hidup dalam kemiskinan, walaupun mungkin the sex could be great. Untung akal sehatku masih bekerja.

Aku mengambil langkah untuk menggugurkan janinku pada tahap kehamilan yang cukup dini. Ini merupakan dosa terbesar dalam hidupku: mengakhiri hidup sebuah janin karena ulahku sendiri.

Bukan itu saja. Duren tidak pernah punya kekasih selulus SMA, kadang- kadang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, dia berhubungan dengan perempuan bayaran di Saritem. Rasa takut akan terhinggap penyakit STD menghantuiku berbulan-bulan setelah perpisahan kami.

Akhirnya aku mendapat keberanian untuk ke lab untuk mengecek diri. Hoping for the best and expecting the worst...? no, no, actually, I couldn't even expect anything, I was just hoping and hoping and praying to my god. Bahagia sekali ketika hasil test HIV itu keluar negatif. Sejak insiden itu aku bersumpah kepada diri sendiri bahwa aku tidak akan pernah gegabah lagi.

Semoga cerita di atas bisa dapat menjadi contoh pelajaran buat pembaca. Ummm... gimana ya? nyata atau tidaknya kisah ini adalah rahasiaku sendiri, persis seperti kisah-kisahku yang sebelumnya... dan yang akan dating.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil 

Senin, 15 Februari 2016

Cerita Sex Bercumbu Bareng Tante

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Bercumbu Bareng Tante. Cuaca kelihatannya cerah dengan matahari yang bersinar tapi kok tiba tiba hujan langsung turun, semua orang langsung pada berteduh yang saat itu sedang menikmati senja, keramaian langsung hilang, gerimis meningkat dan hujan deras, didepanku ada seorang awanita yang mengangkat jemuran yang banyak,

Cerita Dewasa Bercumbu Bareng Tante

cerita sex tante, cerita hot tante, cerita tante hot, cerita hot tante tante, kumpulan cerita tante hot, cerita x tante, cerita tante tante hot, cerita sesk tante, cerita hot tante montok, cerita hot tante muda, kumpulan cerita hot tante, cerita tante haus, cerita ml tante tante, cerita hot tante cantik
Cerita Mesum Bercumbu Bareng Tante
Kelihatannya kurang mengantisipasi akibat baru bangun tidur. Masih memakai piyama.

"Ragil, bantuin Tante dong!"

Tanpa bicara aku membantunya. Sprei, kelambu, baju, t-shirt, dan ...ih, pakaian dalam.

"Bawa ke mana, Tante?"

"Sekalian ke dalam aja!"

Tante Imas berjalan di depanku. Menaiki tangga hingga lantai dua. Aku cukup puas menikmati irama pinggulnya yang kukira agak dibuat-buat. Saat menghadap ke arah terang, siluet tubuhnya jelas membayang. Seakan telanjang. Kami masuk ke rumahnya. Tante Imas menggeletakkan jemuran di sudut kamarnya, akupun mengikutinya.

"Makasih ya? Kamu mau minum apa, Ka?" tanyanya yang langsung menghentikan maksudku untuk langsung pulang.

"Apa aja deh, Tante. Asal anget."

Kurebahkan diri di sofanya. Hmm, lumayan nyaman. Tante Imas belum mempunyai anak. Yang kutahu, suaminya, Om yang tak kutahu namanya itu hanya sekali-kali pulang. Dengar-dengar pekerjaanya sebagai pelaut. Ha ha, pelaut. Di mana mendarat, di situ membuang jangkar. Sinis sekali aku.
"Om belum pulang, Tante?" tanyaku basa-basi sambil menerima teh hangat.

"Belum, nggak tentu pulangnya. Biasanya sih, hari Minggu. Tapi hari Minggu kemarin nggak pulang juga."

"Tante nggak kemana-mana?"

"Mau kemana, paling cuma di rumah saja. Kalau ada Ombaru pergi-pergi."

"Eh, kamu nggak ada keperluan lain, kan?"

"Nggak, Tante," jawabku. Mau apa aku di rumah, sendirian, di tengah hujan yang semakin lebat begini.

"Temenin Tante ya. Ngobrol."

Kamipun terlibat dalam obrolan yang biasa saja. Sekedar ingin tahu kehidupan masing masing. Dari ucapannya, kutahu bahwa suaminya bernama Om Iwan. Jarang pulang. Yang cukup membuat darahku berdesir agak cepat adalah daster itu.

Seakan aku bisa melihat dua titik di dadanya, yang timbul tenggelam ketika kami bercengkrama. Tangan Tante Imas cukup atraktif. Entah sengaja atau tidak sering menyentuh tanganku, atau mampir di pahaku. Makin lama duduknya pun semakin dekat. Hingga...
"Ragil, mau nonton film nggak? Tante punya film bagus nih."

Wah untunglah. Rumahku tidak mempunyai vcd player. Tante Imas menyalakan TV lalu memasang film. Dan, astaga ternyata dia benar tidak memakai BH dan celana dalam. Aku bisa melihatnya jelas karena dia cukup lama berdiri menyamping, cahaya TV membuat gaun tidurnya menjadi selaput transparan.

Bentuk payudara beserta putingnya beserta rambut di pangkal paha. Aku lebih ternganga lagi karena film itu XXX. Kembali Tante Imas duduk di sampingku, malahan lebih dekat lagi. Tangannya mengusap-usap lenganku dengan lembut.

"Filmnya bagus ya?" Bisiknya pelan.

Namun terdengar di telingaku bagaikan rayuan. Aku tak mampu menjawab karena bibir bawahku menahan ekstasi yang kuat. Entah apa yang harus kulakukan kini. Mataku tak lepas dari wanita yang merintih di film itu, yang sudah distel suaranya pelan.

Tante Imas menggenggam pergelangan tanganku. Dan, astaga. Dibawanya tanganku ke payudaranya. Didiktenya tangan ini ke daerah yang tak pernah diraRagiln sebelumnya. Begitu pula tangan kiriku. Kini masing-masing telapak tangan itu memegang rata masing-masing pasangannya, payudara.

Pandanganku masih ke arah TV. Aku tak berani menatap wajah Tante Imas. . Tak pernah aku impikan hal ini terjadi. Sementara di TV desahan si gadis yang menghadapi dua batang penis makin membuat hot suasana.

"Ragil, hadap sini dong," ujarnya manja.

Kuhadapkan wajahku. Kulihat tatapan pengharapan di sana. Wajah Tante Imas cukup cantik, dengan kulit putih dan senyuman manis yang menghiasinya. Aku masih memegang payudara itu, hanya memegang dengan daster yang melapisinya.

Ah, tak terasa daster itu. Hanya payudara besar ini fokus pikiranku. Tanganku masih canggung, sementara ada sesuatu yang mulai menggeliat di bawah sana.

Tiba-tiba dia menghentikanku, dengan cara yang sempurna. Tangannya merengkuhku dalam pelukan, sementara bibirnya mencium lembut. Payudaranya menghimpit dadaku. Membuat dadaku berdetak hingga aku merasa bisa mendengarnya.

Ciumannya nikmat. Beda sekali sekali dengan apa yang ada di TV. Seakan ingin mengaliri dengan hangat jiwanya. Kami berciuman lama sekali, tak terasa tanganku ikut mendekapnya makin erat. Kulepaskan dekapanku untuk mulai mengontrol diri kembali. Berakhirlah sesi ciuman itu.

"Kenapa Ragil? Kamu marah ya?" tanyanya pelan.

Tapi sialan, suara-suara di TV itu kembali mengacaukanku. Melumpuhkanku lagi dalam birahi.
"Maafin Tante ya? Tante..." Wajah itu mengeluarkan prana iba untuk dikasihi.

Dia kembali menciumku, cukup hangat. Namun tak sehangat tadi kurasa. Akupun tak mengharap ciuman kasih sayang, karena dariku juga tinggal nafsu. Ciuman-ciuman itu pindah ke leher dan telinga. Ah, tak pernah kubayangkan bahwa daerah ini lebih membuatku bergidik. Akupun menirunya. Kami saling menciumi leher, bahkan Tante Imas sempat mencium keras.

"Aduh, Tante..."

Dia lalu tersenyum dan berdiri. Perlahan dia melepas daster itu, mulai dari tangannya. Satu demi satu tangan daster itu terlepas. Daster melorot, tertahan sebentar di bulatan payudaranya yang besar. Dia menarik ke bawah lagi daster itu. Terlihat payudara, tanpa BH. Putih, bulat, besar, dengan puting susu berwarna merah muda. Mulutku menganga kagum seakan ingin memakannya. Aku menelan ludah.

Diturunkannya lagi. Aku menikmati satu persatu sajian pemandangan itu. Perutnya putih dengan pinggang yang ramping. Pusarnya menjadi penghias di sana. Daster itu tertahan di pinggangnya. Oh, pantatnya menahan.

Aku semakin berdebar, ingin mempercepat proses itu, aku ingin segera melihat kemaluannya. Diturunkan lagi, dan ah... vagina itu muncul juga. Dihiasi rambut berbentuk segitiga yang tak begitu lebat. Bibir vaginanya merah segar, sedikit basah. Untuk pertama kalinya aku melihat wanita bugil. Dengan senyumnya, bangga membuatku tergakum-kagum.

"Sekarang, kamu juga buka ya?" perintahnya manja.

Aku membuka tshirtku. Tante Imas membuka celanaku, Lepas jinsku, tapi Tante Imas tak segera membukanya. Dia jongkok lalu menjilati penisku dari luar celana dalam. Tampak noda basah sperma yang makin ditambah oleh air ludah.

Penis itu makin membesar dalam celana dalam, rasanya tak enak kerena tertahan. Segera kubuka dan ...hup keluarlah batang kemaluan diikuti dua bolanya. Tante Imas mengecupnya, si penis tampak membesar. Semakin tegaknya penis diikuti dengan jilatan-jilatan lidah. Uff, enak sekali.

Kini gantian tangannya yang bekerja. Pertama dirabanya semua bagian penis, lalu mulai mengocoknya. Setelah kira-kira telah utuh bentuknya, tegak dan besar, dimasukkannya ke dalam mulut. Tante Imas memandang ke atas, wajahnya berseri-seri .

"Teruskan Tante."

Lidah Tante Imas menjilat-jilat, kadang menggelitik penisku. Lalu mulai memaju mundurkan mulutnya, seakan sebuah vagina menyetubuhi penis. Ini hebat sekali. Sekitar 15 menit permainan itu berlangsung, hingga...

"Tante, saya mau ke-luar..." kataku terengah-engah.

Tante Imas malah mempercepat kocokan mulutnya. Aku ikut memegang kepalanya. Dan keluarlah ia. Aku merasa ada 5 semprotan kencang. Tante Imas tidak melepasnya, ia menelannya.

Bahkan terus mengocok hingga habis spermanya. Lega rasanya tapi lemas badanku. Tante Imas berdiri, kemudian kami berciuman lagi.

"Sekarang gantian ya..."

Kini aku menghadapi payudara siap saji. Pertama kuraba-raba dengan kedua tanganku. Remasan itu kubuat berirama. Lalu aku mulai berkonsentrasi pada puting susu. Kutarik-tarik hingga payudaranya terbawa dan kulepaskan.

Hmm, bagaimana rasanya ya? Aku mulai menjilatinya. Enak. Jilatanku pada satu payudara sementara tangan yang lain meremas satunya. Ketika kuhisap-hisap putingnya, terasa makin mancung, mengeras, dan tebal puting itu. Kulakukan pula pada payudara satunya. Oh, ternyata jika wanita terangsang, yang ereksi adalah puting susunya. Kira-kira 5 menit aku melakukannya dengan nikmat.

Kemudian jilatanku turun, hingga vaginanya. Kucoba dengan jilatan-jilatan. Kusibakkan lagi rambut kemaluannya agar jilatan lebih sempurna. Ada seperti daging kecil yang menyembul. Yang kutahu, itu adalah klitoris. Kuhisap seperti menghisap puting susu, eh Tante Imas merintih.

"Hmm, Ragil, jangan dihisap. Geli. Tante nggak kuat."

Dan Tente Imas benar-benar lunglai. Tubuhnya rebah ke sofa. Dia terlentang dengan paha mengangkang memperlihatkan vagina terbuka dan payudara yang berputing tegak. Aku lanjutkan lagi kegiatan ini. Makin lama kemaluannya makin basah. Jilatan dan hisapanku makin bersemangat, sementara di sana Tante meremas-remas payudaranya sendiri menahan ektasi.

Tiba-tiba pahanya mendekap kepalaku dan ..serr seperti ada aliran lendir dari vaginanya. Otot liang itu berkontraksi. Inikah orgasme, hebat sekali, dan aku melihatnya dari dekat. Tak kusia-siakan lendir yang mengalir, kuhisap dan kutelan.

Rasanya lebih enak dari sperma. Tubuh Tante Imas yang bergoyang-goyang akhirnya tenang kembali. Jepitan pahanya mulai melemah namun penisku mulai ereksi lagi. Kucium mesra vaginanya seperti aku mencium bibirnya. Tante Iya tersenyum. Bibirnya berkata "Terima kasih," namun tak mengeluarkan suara.

Gambar di film itu merangsang kami. Wanita berpayudara besar terlentang diatas meja kantor. Diatasnya laki-laki dengan penis panjang dan besar menyetubuhi payudaranya. Tangan si wanita menekan payudaranya sendiri agar merapat, dan penis itu melewati celahnya.

Kupikir pasti asyik sekali. Aku menjilati dulu payudara Tante Imas, agar basah dan lengket. Tak lupa dengan hisapan-hisapan di putingnya. Setelah merasa cukup, aku duduk di muka payudara itu. Tante Imas merapatkan celah payudaranya.

Dia tersenyum senang. Aku mulai dengan pelan memasuki celah payudara, seakan itu adalah liang vagina. Uff, sensasinya luar biasa. Aku mulai memaju mundurkan penis dengan irama. Ujung penisku terlihat saat aku maju.

Kalau klimaks, pasti spermanya sampai ke wajah Tante. Tanganku ikut memegang payudara untuk menguatkan hujaman penis. Kadang aku menarik-narik puting susu. Aku mencium bibirnya, mengangkat paha di lehernya, kemudian menyerahkan lagi penisku.

Dihisap dan jilat lagi, seperti tak puas saja. Posisiku duduk tak enak. Aku tak bisa duduk karena akan menekan lehernya, tangankupun tak bisa memaju mundurkan kepalanya. Oh, ada sandaran tangan. Empuk lagi. Apalagi kalau bukan payudara. Sambil aku meremas-remasnya, penis seperti diremas-remas juga.

Tante Imas mengeluarkan kemaluanku sebentar, mengajak posisi 69. Hm, kupikir boleh juga. Maka aku berganti posisi lagi. Tubuhku menghadap Tante Imas, tapi saling berlawanan. Penisku di mulutnya, vaginanya di mulutku.

Sampai beberapa saat kami melakukan itu. Aku tak tahu apakah Tante mendapat orgasme lagi, tapi dia sempat diam mengulum penisku, pahanya menekan rapat kepalaku, tapi tak ada cairan yang keluar.
"Ragil, berhenti dulu deh." serunya.

Padahal aku sedang asyik dengan posisi ini. Tante Imas berdiri menuju ke dapur. Rupanya dia minum air dingin. Tante Imas datang. Membawa dua gelas air es dan menyodorkan dua tablet yang kuduga obat kuat. Kami meminumnya satu-satu. Tante memperhatikanku lalu melihat film itu.

"Kita bercumbu beneran, yuk," ajaknya.

"Di bathtub yuk."

Dia memegang kemaluanku seperti memegang tanganku, untuk mengajak dengan menggandeng penis itu. Kami ke kamar mandinya. Bathtub-nya cukup besar, Kami mulai lagi. Di bawah shower itu berpelukan sambil meraba dan menyabuni.

Nikmat sekali menyabuni payudaranya, senikmat disabuni penisku. Tak ada yang terlewatkan, termasuk vagina dan anus. Ketika air mulai penuh, kami berendam. Airnya tak diberi busa. Nyaman sekali. Lalu kami mulai saling merangsang, meninggikan tensi kembali. Tante Imas mengocok penisku dalam air, sementara aku meraba-raba vaginanya.

Tak berapa lama dia duduk di pinggiran bathtub. Kelihatannya dia ingin vaginanya dijilat. Aku merangkak menjilatinya. Cairannya mulai keluar lagi.

"Pakai tangan juga dong," pintanya lanjut.

Aku menuruti saja. Kukocok dengan telunjuk kananku. Kucoba telunjuk dan jari tengah, semakin asyik. Tangan kiriku mengusap klitorisnya. Tante memejamkan matanya menahan nikmatnya. Sebelum berlanjut lebih jauh, Tante menghentikan. Membalik badannya menjadi menungging dan membuka pantatnya.

Ternyata dari tadi aku belum mengeksplorasi daerah anus. Akupun mencobanya. Kujilat anusnya, reaksi Tante mendukung. Kujilat-jilat lagi, dari anus hingga vagina. Lalu kocoba masukkan dua jariku lagi ke vaginanya dan mengocoknya. Lidahku menjilat-jilat lagi.

Daerah pantat yang menggembung berdaging kenyal seperti payudara. Akupun suka. Tante Imas menunjukkan reaksi seperti akan orgasme lagi. Desahannya mulai keras.

"Ragil, Tante mau keluar lagi nih. Cepat! Pakai penismu. Ayo masukin penismu. Cumbu Tante, Ragil," jeritnya tertahan putus-putus.

Astaga, dirty talk sekali. Membuat aku makin terangsang. Aku siapkan penisku, walau agak bingung karena tak ada pengalaman. Tante Imas mengocok vaginanya sendiri sambil menungguku memasukkan penis. Penis sudah kuarahkan ke vagina.

"Tante, nggak bisa masuk, nih," tanyaku bingung.

"Tekan saja yang kuat. Tapi pelan-pelan."

Aku ikuti sarannya, tetap saja susah. Dasar pemula. Jadinya penisku hanya merangsang mulut vagina saja, mengggosok klitoris, tapi itu malah membuat Tante makin terangsang.

"Ayo masukkan, Tante sudah hampir keluar,"

Dengan tenaga penuh aku coba lagi. Dan, berhasil. Kepala penisku bisa masuk walau sempit sekali. Tante Imas bergoyang untuk meraRagiln gesekan karena klimaksnya semakin dekat. Ketika aku coba masukkan lebih dalam lanjut pantat Tante bergoyang hebat. Otot vaginanya seperti meremas-remas. Penisku yang walau baru kepalanya saja menikmati remasan vagina ini. Dan Tantepun orgasme. Setelah itu dia jatuh dan berbaring dalam bathtub. Aku sudah melepaskan penisku.

"Tante, maafin saya ya," kataku agak menyesal.

Aku belum memasukkan seluruh penisku dalam vaginanya saat dia orgasme.

"Nggak apa-apa. Kepala penisnya sudah nikmat, koq. Ayo kita coba lagi. Sekarang penis kamu mau dikulum, nggak?" Tak usah bertanya. Ganti aku yang duduk di tepi bathtub".

Tante merangkak dan mengulum penisku. Ah, pose seperti ini membuat aku nyaman, seakan aku yang punya kuasa. Di ujung tubuh yang merangkak itu ada pantat.

Wah, empuknya seperti payudara. Akupun menjamah dan meremas-remasnya. Kadang aku membandingkan dengan satu tangan tetap meremas pantat, tangan yang lain meremas payudara. Kenikmatan ganda. Kelihatannya Tante juga menikmati sekali.

Ombak berdebur kecil di bathtub itu. KuraRagiln penisku mulai megeluarkan tanda akan klimaks. Tumben cukup lama sekali aku bertahan. Mungkin karena obat yang diberikan Tante. Kuhentikan gerakan Tante, kuanggukkan kepalaku ke wajahnya yang masih mengulum penisku. Tante berdiri, aku mengikutinya.

Tante membuka vaginanya, aku mengarahkan penisku. Kugosok-gosokkan ke vaginanya. Kutemukan klitosinya. Seperti puting susu, kumasukkan klitoris itu ke dalam lubang penisku. Rangsangannya kuat, sampai-sampai Tante mau jatuh lagi seperti ketika klitorisnya kuhisap kuat-kuat.

Ok, sekarang aku mulai memasukkan penisku. Tante Imas menggenggam penisku, mengarahkan agar bisa masuk. Aku seperti orang bodoh yang harus diajari untuk melakukan gerakan yang kupikir semua laki-laki juga bisa. Ternyata tidak mudah. Dengan susah payah akhirnya kepala penisku masuk.

Seperti tadi, kucoba goyang maju mundur untuk membuatnya siap melanjutkan misinya. Suasana begitu sepi, mungkin sudah malam. Tapi hujan masih menetes satu-satu. Sunyi. Saat itu, tiba-tiba ada ketukan di pintu rumah. Tok...tok...tok... Dan kami diam seperti hendak dipotret saja,

"Imas...Imas, ini aku. bukain pintu dong...", teriak seorang laki-laki.

Kami bagai tersambar geledek, mematung dalam badai. Hujan tadi berlanjut menjadi badai akibat suara itu.

"Mas Iwan...", bisik Tante Imas pelan. Penisku langsung lemas, keluar begitu saja dari vagina yang telah susah payah berusaha dijebolnya.

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Aku akan berpura-pura..."

"Kalau aku?"

"Sembunyi saja." "Dimana?" Kata-kata kami meluncur cepat nyaris tak bersuara. Kami berusaha berfikir. Agak sulit, karena sedari tadi hanya menggunakan nafsu.

"Imas, kamu tidur ya? Bukain dong," suara Om Iwan seakan detik-detik bom waktu yang siap meledak. Wajah Tante Imas sedikit cerah.

"Aku ada akal..."

"Gimana?" tanyaku tak sabar.

"Kamu di sini saja dulu. Jangan keluar sebelum kupanggil."

Tante Imas merendam lagi dirinya dalam bathtub, kemudian keluar. Aku menutup pintu kamar mandi, tidak terlalu rapat agar bisa melihat keadaan. Kulihat Tante Imas membawa pakaianku dan menengelamkannya dalam tumpukan jemurannya.

Mengelap lagi sofa dengan dasternya, melemparkan daster itu ke tumpukan jemuran. Kemudian membuka pintu.

Apa yang dilakukannya? Dia sudah gila? Aku bisa mati jika suaminya tahu kami telah berbuat. Belum sih, tapi hanpir menyetubuhi istrinya. Lalu? {Adakah mantra untuk menghilang? Aku takut menghadapi kenyataan Saat ini Di tempat ini Dalam keadaan ini Dengan apa yang telah kulakukan}

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil 

Minggu, 14 Februari 2016

Cerita Dewasa Menggarap Temannya Ella

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Menggarap Temannya Ella. Siang hari saat aku menelpon temanku yang bernama Ella, karena suntuk gak ada acara langsung aja aku pegang Hp dan mencari kontaknya Ella aku sms lama balesnya, langsung aku telepon dia.

Cerita Dewasa Menggarap Temannya Ella

 cerita sex three some, cerita gangbang hot, cerita bokep terlengkap, cerita cerita sange, cerita ngentub, cerita baru panas, cerita 3 some, cerita thresome, cerita tresome
Cerita Mesum Menggarap Temannya Ella

“Hai Ella..”

“Ohh ya gimana man, apa kabrnya”

“ya nasibku baiku la hhehe(dengan ketawa) lha kamu sekarang dimana nih”

“ohh sekarang aku sedang maen ke tempat kostnya temanku , kalau gak ada acara maen kesini aja man” teman temanku pengen kenelan ama kamu katanya”

"Ehmm.. di daerah mana?" tanyaku.

"Daerah Radio Dalam, dateng ya sekarang"

"Ok deh nanti kalau aku dah deket aku telpon ya" kataku

"Ok aku tunggu ya, jangan lupa siapin diri, hehehe..", katanya lagi

"Lho, emang aku mau diapain?", tanyaku penasaran

"Mau diperkosa rame-rame siap nggak?"

"Siapa takut..", jawabku sekenanya

Lalu aku pun meluncur ke arah Radio Dalam dan sekitar 15 menit akupun sampai di tempat yang telah dijanjikan.

"Hallo Ella, aku dah di depan nih..", kataku

"Ok aku keluar ya, sabar.."

Lalu munculah seorang gadis yang sangat seksi tingginya sekitar 175 dengan berat sekitar 55 kg, woww.. buah dadanya lebih besar dari pada punya Ella. Lalu dia menghampiri mobilku dan mengetuknya.

"Iya, ada apa?", jawabku dengan mataku yang tak lepas dari buah dadanya yang montok itu.

"Firman ya..", kata dia.

"Iya", kataku.

"Aku Ranggi temennya Ella yuk masuk yuk..", katanya dengan senyum nakalnya.

"Oh.. yuk", jawabku agak sedikit tergagap.

Wah, bakal ada pesta besar nih pikirku dalam hati. Sesampai dikamarnya aku disambut dengan pelukan dan ciuman oleh Ella dan aku diperkenalkan kepada 3 temennya yang lain yang satu bernama Dita, Ayu dan Kiki. Dan harus kuakui mereka bertiga tidak kalah menggiurkannya dengan si Ranggi.

Tiba-tiba Ella membuka omongan yang bagiku sifatnya hanya basa-basi dan kemudian diteruskan oleh teman-temannya dan lama-kelamaan omongan kami berlanjut ke arah selangkangan.

Dan tiba-tiba dari arah belakang ada yang memelukku saat aku akan menengok, dengan cepatnya Ranggi mencium bibirku dengan liarnya, maka akupun tak kalah bernafsunya aku balas dengan liarnya pula.

Dan ternyata yang memelukku dari belakang adalah Ella dia terus menciumi leherku dan terus turun ke bawah mencoba membuka bajuku sementara aku masih saja berciuman dengan Ranggi.

Ketika bajuku dilepaskan oleh Ella tiba-tiba ada tangan yang membuka celanaku termasuk celana dalamku maka langsung saja adekku yang telah tegang sedari tadi keluar dari sarangnya.

Dan seketika itu juga "Adekku" langsung dilahap dengan liarnya setelah aku lihat ternyata Dita dengan ganasnya sedang mengulum kemaluanku.

Saat aku sedang diserang oleh tiga wanita ini aku sempat mencari kemana Ayu dan Kiki ternyata mereka ada di sofa dekat situ dan keduanya sudah telanjang bulat dan aku lihat Kiki sedang menjilati vagina Ayu dan Ayu pun mendesah-desah dan meliuk-liukan badannya diatas sofa tersebut sementara aku sendiri sedang kewalahan menangani seranga dari tiga wanita ini, maka aku tidak memperhatikannya.


Langsung saja aku buka baju Ranggi yang terdekat dengan aku dan ketika Ranggi sedang membuka seluruh bajunya aku tarik Dita keatas dan kami pun berciuman sementara itu Ella menggantikan posisi Dita mengulum kemaluanku.

Begitu pula dengan Dita aku buka bajunya dan posisinya digantikan oleh Ella sedangkan posisi Ella digantikan oleh Ranggi, wow.. ternyata kuluman Ranggi lebih enak dari pada Ella dan Dita sampai akhirnya aku merebahkan diri di ranjang yang berada disitu.

Ella setelah melepas bajunya langsung saja memgang kemaluanku dan diarahkannya ke liang vaginannya yang ternyata sudah basah sedari tadi setelah pas maka diturunkan pantatnya perlahan-lahan hingga akhirnya..

Bless.., "Aah..", desah Ella.

Sementara Ella sedang asiknya menaik turnkan pantatnya diatasku, maka aku tarik Ranggi keatasku dan aku menjilati vaginanya.

"Ahh.. enak Man terus Man ohh.." desah Ranggi.

"Ahh.. ohh.sst" desah Ella yang bersahut-sahutan dengan Ranggi dan Ayu.

"Ohh.. yess lick my pussy Man ohh yess sst" racau Ranggi ketika klitorisnya aku hisap-hisap.

Sementara itu aku tarik pula si Dita dan aku masukan jari tengahku ke liang vaginanya sehingga membuat Dita meracau dan meliuk-liukan badannya.

"Ohh yes Man enak Man dalem lagi Man ohh.." racau Dita.

Sementara setelah berada dalam posisi seperti selama kurang lebih 15 menit akhirnya Ella menggenjotnya semakin cepat dan mengerang.

"Ahh.. Man aku keluar Man ah.." desah Ella dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang disampingku dan ternyata tanpa aku sadari dibawahku sudah ada si Ayu yang dengan cepatnya langsung melumat kemaluanku maka aku pun menggeliat menahan nikmat hisapan Ayu dan Ranggi segera turun dari mulutku dan memasukan kemaluanku ke vaginanya dan langsung digoyangkannya naik turun dan kadang memutar.

Sementara Dita tidak mau kehilangan kesempatan maka dia menyodorkan vaginannya ke mulutku dan akupun menjilati dan mengihisap-hisap vaginanya.

Setelah 5 menit aku jilati vagina nya maka tubuh Dita mengejang dan dia berteriak, "Man ahh.. aku keluar Man.. ah.." sambil menekan vaginanya ke mulutku langsung saja aku menghisap vaginanya kuat-kuat dan aku merasakan mengalir deras cairan dari vaginanya yang langsung aku sedot dan aku telan habis.

Setelah Dita merebahkan diri di sampingku ternyata Kki juga tidakmau ketinggalan dia menaiki aku dan kembali aku disodorkan vagina ke 3 siang ini yang langsung aku lumat habis baru aku memulai menjilati vagina Kiki Ranggi yang masih bergoyang diatasku akhirnya mengerang kuat.

"Man aku keluar Man ah.. sst ahh.." racaunya.

Terasa sekali cairanya mengalir deras mambahasi kemaluanku dan seketika itu pula ubuhnya melemas dan menggelimpang disampingku dan ternyata Kiki sudah tidak tahan dan langsung menurunkan tubuhnya ke bawah dan memasukan penisku ke vaginanya dan..

"Ahh.. sst ahh.. Man mentok Man.. ah.." desahnya.

Sedangkan Ayu yang sedari tadi hanya melihat sambil masturbasi sendiri aku tarik keatasku dan aku jilat dan hisap vaginannya

"Ohh yess ohh lick it honey oh.." desah Ayu.

Setelah 10 menit Kiki diatasku dan menggoyangkan pinggulnya akhirnya dia pun mengalami klimaks.

Sementara aku sendiri yang sedari tadi belum keluar karena tidak konsentrasi maka setelah Kiki rebah di sampingku maka aku membalikan badan hingga Ayu berada di bawahku dan perlahan-lahan aku masukan penisku ke vaginanya terasa sangat sempit, ketika kepala penisku mulai menyeruak masuk hingga Ayu berteriak.

"Ahh.. pelan-pelan Man sakit"

Maka perlahan-lahan aku masukan lagi setelah setengahnya masuk aku diamkan sebentar agar vagina Ayu terbiasa karena aku melihat Ayu mengerenyitkan dahinya menahan sakit setelah Ayu tenag maka aku sorong pantatku dan akhirnya seluruh penisku berada dalam vagina Ayu

"Ahh Man sakit ah.." desah Ayu.

Dan perlahan-lahan Ayu mulai menggoyangkan pinggulnya maka aku pun menggenjot pantatku keluar masuk. Terasa semppit sekali vagina Ayu dan ketika aku melirik kebawah aku melihat ada teesan darah keluar dari vaginanya yang akhirnya baru aku ketahui bahwa memang Ayu yang termuda diantara semuanya dia baru masuk SMU kelas 1 dan hanya dia yang masih perawan.

"Ahh.. sst.. terus Man enak Man oh.. dalam lagi Man.." racau Ayu.

Maka aku menarik Ayu kepinggiran tempat tidur dengan posisi kakinya berada di bahu aku sementara aku berdiri memang Ayu tidak kelihatan seperti anak baru masuk SMU dengan tingginya sekitar 170 dan buah dadanya berukuran 36 B.

Setelah 10 menit aku menggenjot Ayu akhirnya dia pun mengerang.

"Man aku keluar Man ohh.. Man.."

Namun aku tidak perduli aku terus menggenjot Ayu karena aku sendiri mengejar klimaks ku, setelah itu aku balikan tubuh Ayu sambil terus menggenjotnya hingga akhirnya Ayu berada dalam posisi menungging dan aku terus menggenjotnya dari belakang sambil meremas buah dadanya 36Bnya yang mengayun-ayun.

Ketika aku sedang menggenjot dari arah bawah belakang aku merasakan ada yang menjilati buah pelirku dan ternya Ranggi sudah bangun lagi sehingga setelah 10 menit aku menggenjot Ayu dari belakang dia pun mengalami orgasme kembali.

"Ahh Man aku keluar lagi Man ah.." dan seketika itu tubuhnya benar-benar melemas melihat kondisinya yang seperti itu maka aku tidak tega dan langsung aku tarik Ranggi untuk mengangkang dan aku tusukan penisku ke vaginanya dan Ranggi dengan posisi dibawah mendesah-desah seperti orang yang kepedasan.

"Ahh.. Man terus Man.. esst enak Man terus Man oh.." racaunya.

"Enak Mel, aah.. esst ahh", racauku tidak karuan karena merasakan sedotan-sedotan di vagina Ranggi yang kata orang-orang 'empot ayam'.

Maka dengan semangatnya aku menggenjot Ranggi dan setelah 10 menit Ranggi berkata, "Man aku mau keluar Man.. Man ahh"

"Ntar Ngiiiii gue juga mau keluar barengan ya ahh" kataku.

Akhirnya, "Man gue nggak kuat Man ah..", ser.. ser.. ser.., terasa deras sekali semprotan Ranggi.

"Ahh gue juga Ngiii ah..", crot.. crot.. crott.., akhirnya akupun orgasme bersamaan.

Akhirnya Kamipun ketiduran dengan posisi aku diatas Ranggi. Kira-kira aku tertidur 15 menit tiba-tiba aku merasakan penisku dijilat-jilat dan dihisap-hiasap setelah aku membuka mataku ternyata Dita sedang mengulum penisku.

Maka seketika itu juga aku langsung meracau, "Ah.. ohh.. enak Dit terus Dit"

Tapi Dita tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada dia langsung naik keatas tubuhku dan memasukkan penisku ke liang vagiannya, memang dari 'peperangan' tadi hanya Dita yang belum merasakan penisku maka ketika yang lain lain sedang tidur Dita memanfaatkan momen tersebut sebaik-baiknya.

Terus dia menggoyangkan pinggulnya.

"Ahh.. esst enak Man ah.."

Aku pun merasakan keenakan dengan goyangan Dita karena goyangannya benar-benar seperti penari ular dia memutar-mutarkan pantatnya diatas penisku. Lama dia melakukan itu hingga akhirnya kami keluar bersamaan.

"Ahh Man enak Man ayo Man keluarin barengan ohh.."

Akhirnya, "Dit aku mau keluar ahh ohh crot.. crot.."

Kami pun lemas dan Dita menciumku bibirku mesra "Makasih ya Man, enak lho bener yang Ella bilang" katanya.

"Emang Ella bilang apa?" tanyaku penasaran.

"Kontolku kamu enak, kamu bisa bikin ceweq ketagihan nanti lagi ya" katanya.

Aku hanya tersenyum dan memeluk dia.

Akhirnya aku pun menginap disitu dan kami ber-enampun melakukannya berulang kali. Kadang aku mengeluarkan spermaku di dalam vagina Ranggi, Ayu ataupun yang lainnya secara bergantian. Hingga sekarang pun kami masih sering melakukan kadang satu lawan satu, kadang three some, ataupun langsung berenam lagi.


Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil 

Sabtu, 13 Februari 2016

Cerita Sex Melakukan dengan Ibu Guru

Hasrat Sex Menyediakan konten khusus cerita dewasa berupa : sex tante hot, cerita abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot janda horny disertai foto bugil – Melakukan dengan Ibu Guru. Disekolahku ada salah satu guru yang cantik dan supel jika memberikan pelajaran kepada muridnya namanya Ibu Miya beliau berumur 25 tahuhn kulitnya yang bersih dan putih dengan body yang langsing dia sekarang menjanda karena suaminya meninggal dari kecelakaan, siswa yang diajar oleh ibu Miya selalu senang karena saat dia mengajar pakaian atasnya selalau terbuka sehingga terlihat jelas tali BHnya.

Cerita Dewasa Melakukan dengan Ibu Guru

cerita sex Guru, cerita guru terbaru, cerita guru ngentot, kumpulan cerita guru ngentot, cerita hot ngentot, cerita nyata guru ngentot, koleksi cerita guru ngentot, kumpulan cerita ngentot terbaru
cerita mesum melakukan dengan ibu guru
Pagi itu sekitar jam delapan lewat kami sudah dipulangkan karna akan ada rapat guru. Aku agak kesal karna pelajaran kedua matematika artinya aku gak bisa ngeliat pemandangan indah hari ini, dan untuk menghilangkan suntuk aku pun pergi main ketempat kawanku. Aku masih tak tahu aku akan dapat rejeki nomplok.

Sekitar jam sembilan lewat aku pergi pulang, dan pada saat lewat sekolah aku melihat Bu Miya sedang menunggu angkot, aku pun mengajaknya

" mari saya antar Bu " ajakku tanpa berharap dia mau

" tapi rumah ibu agak jauh ko " ia mencoba menolak

" gak pa-pa kok bu, gak enak sama guru PPKN " candaku

setelah berpikir sebentar akhirnya ia mau " iya deh tapi ibu pegangan ya soalnya ibu pernah jatuh dari motor "

" silahkan Bu " setelah itu kau menjalnkan motorku dengan kecepatan sedang.

Tangan Bu Miya yang berpegangan pada pahaku menyebabkan reaksi pada penisku, apalagi jika mengerem pada lampu merah aku merasa ada sesuatu yang empuk menekan dari belakang.

Sampai dirumahnya yang agak berjauhan dengan rumah-rumah yang lain aku disuruh masuk dulu. Dan ketika sudah duduk di sofa empuk Bu Miya bicara

"ibu ganti baju dulu ya ko "

setelah itu ia masuk kamar dan menutup pintu mungkin karna kurang rapat sehingga pintu itu terbuka lagi sedikit. Entah setan mana yang masuk kekepala ku sehingga aku memberanikan diri untuk mengintip ke dalam.

Di dalam sana aku bisa melihat bagaimana Bu Miya sedang membuka satu persatu kancing bajunya dan setelah kancing terakhir ia tidak langsung menanggalkan bajunya, tapi itu sudah cukup membuat napasku membuat nafasku memburu karna kau bisa melihat kalau sepasang dadanya yang besar seperti hendak melompat keluar.

Karna terlalu asyik pintu itupun terbuka lebar. Aku kaget dan hanya bisa mematung karna ketakutan. Bahkan penisku langsung mengkerut.

Melihat aku, Bu Miya tidak terlihat kaget dan tetap membiarkan bajunya terbuka. Setelah itu ia mendekati aku

" kamu sering ngeliat BH ibu kan " tanyanya didekat telingaku

" i..iya Bu " jawabku ketakutan.

" kalau gitu ibu kasih kamu hukuman " lalu ia menarikku dan didudukkan ditepi tempat tidur.

" sekarang kamu baring tutup mata dan jangan gerak kalo teriak boleh aja " katanya dengan suara nafas yang agak memburu.

Aku pun menurut karna merasa bersalah. Lalu ia membuka retsleting celana sekolahku menurunkan CDnya dan mengelus-elus penisku dengan lembut, setelah penisku tegak lagi dia berjongkok dan menjilatinya.

"auh.. uh.. uuh .." rintihku menahan kenikmatan semantara Bu Miya sibuk dengan aktivitasnya

"ah .. mmhh.. Bu stop bu" rintihku karna aku merasa seperti mau meledak

Dia tak menjawab, malah semakin hebat menyedot penisku. Tubuhku semakin mengejang dan tanpa bisa kubendung lagi, muncratlah cairan putih itu dan aku langsung terduduk sambil berpegangan pada tepi ranjang.

Rasanya seperti sedang melayang, ia telan habis spermaku sementara aku masih terduduk kaku, malu takut dan senang bercampur jadi satu. Bu Miya lalu berdiri dan tersenyum

"gimana..lebih enak dari pada cuman liat khan..?" sambil kedua tangannya menjambak rambutku
"iya Bu enak sekali" jawabku mulai berani sambil ikut berdiri.

Setelah wajah kami berhadapan ia menciumku dengan lembut, lalu membimbingku duduk ditempat tidur. Kami berpelukan dan Miya kembali menciumku, lalu melumat bibirku sementara tangannya menanggalkan seluruh pakaian ku

Dengan tangkas aku mengimbangi gerakan tangan itu sehingga akhirnya kami sama sama tanpa pakaian. Bedanya aku telanjang bulat sementara Miya masih memakai BH hitamnya karna memang sengaja tak ku lepas.

Miya melepaskan ciuman dibibirku lalu mengarahkan kepala ku kebawah yaitu payudaranya, aku segera melepas BH nya dan mulai meremas-remas dadanya, sekali-sekali aku puntir putingnya sehingga ia melenguh panjang.

Puas meraba aku lalu menyapu seluruh dadanya dengan lidahku dan menyedot ujung putingnya sambil digigit-gigit sedikit. Hasilnya hebat sekali Miya bergoyang sambil meracau dengan kata-kata yang tak jelas. Setelah itu Miya berdiri sehingga aku berhadapan dengan vaginanya

Wangi yang baru pernah kucium itu membuatku bertambah panas sehingga kujilati semua permukaan vaginanya yang sudah banjir itu.

Setelah itu Miya merebahkan diri di ranjang tangannya mendekap kepalaku pahanya dibuka. Sehingga memudahkan aku menjilat dan memasukkan lidahku kedalam vaginanya dan menggigit-gigit bagian daging yang merah jambu. Sehingga tubuh Miya semakin mengejang hebat

"sshh.. aahh.. terus ko" pintanya diikuti desah nafasnya.

Sekitar lima menit ku sapu vaginaya aku melepaskan dekapan pada kepalaku dan kembali mengulum bibirnya. Ia lalu meraih penisku

"masukkan ya ko udah gak tahan" katanya dengan terengah dan membimbing penisku menerobos goa miliknya yang tek pernah lagi merasakan penis semenjak suaminya meninggal.

Aku merasakan kenikmatan yang kebih hebat dibandingkan saat dimasukkan kemulutnya.

"slep..slep..slep" kuputar-putar didalam sambil mengikuti goyangan pantat Miya. sambil kupompa bibir kami terus berperang dan tanganku meraba dan meremas payudaranya dan sekali kali memuntir putingnya.

"uh..ah..mm..ssh..terus ko..mmh" desahnya sambil meremas pantatku.

Penisku terasa semakin menegang dan vaginanya semakin hebat berdenyut memijit penisku, tak terasa sudah sepuluh menit kami "bergoyang".

"ooh ..mmh.. ah udah gak kuat.. biarin aja di situ ko mmh .." rintih Miya terpejam.

Akupun semakin memperdalam tusukanku dan mempercepat tempo karna juga merasakan sesuatu yang akan keluar.

"sshh..aarrgghh" jeritnya sambil mencengkram punggungku,

"aahh..aahh" desahku pada saat yang bersamaan sambil mulutku menyedot kedua puting susunya kuat-kuat secara bergantian.

Air maniku muncrat bertepatan dengan air hangat yang terasa memandikan penisku didalam vaginanya.Kami menikmati puncak orgasme sampai betul-betul habis, baru aku mencabut penisku setelah sangat lelah dan bebaring di sebelahnya sambil meremas dadanya pelan-pelan.

Kemudian dia menindihku dari atas dan bertanya "gimana hukuman dari aku ko ..?"

"enak Bu hukuman terenak didunia makasih ya"

"ibu yang terima kasih udah lama ibu bendung hasrat, hari ini dan seterusnya ibu akan tumpahkan kekamu semuanya" sambil mencium ku.

Setelah istirahat beberapa waktu kami kembali melanjutkan aktivitas itu tentu saja dengan tehnik dan gaya yang berbeda-beda. Tak terhitung berapa kali aku melakukannya sewaktu SMA yang jelas jika aku pulang kesana pasti kami melakukan lagi dan lagi.

Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil